Showing posts with label Budi Buah. Show all posts
Showing posts with label Budi Buah. Show all posts

Thursday, May 30, 2013

Budidaya Buah Naga Hitam

Pada umumnya buah naga dibudidayakan dengan cara stek atau penyemaian biji. Syarat tumbuh buah naga hitam secara umum sama dengan budidaya buah naga jenis lainnya. Buah naga hitam dapat tumbuh baik di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Keadaan lahan dan iklim di Indonesia sangat cocok untuk budidaya buah naga hitam ini. Jenis tanah yang cocok untuk mendukung budidaya adalah tanah yang gembur, porous (tidak becek), banyak mengandung bahan organik dan mengandung unsur hara, dengan pH tanahnya sekitar 5-7. Buah naga hitam, peka terhadap kekeringan dan akan membusuk bila kelebihan air, untuk itu penyiraman dan penyinaran matahari harus dipastikan cukup untuk mempercepat proses pembungaan.

SYARAT TUMBUH
  • Buah Naga atau Dragon Fruit tumbuh baik dalam keadaan sinar matahari langsung (intensitas cahaya matahari 70-80 %,
  • Curah hujan 60 mm/bln atau 720 mm/th. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman buah naga akan maksimal pada ketinggian 0 - 350 meter dpl;
  • Tanah dalam keadaan porositas tinggi;
  • Suhu udara yang ideal bagi tanaman 26-36°C dan kelembaban 70-90%;
  • Derajat keasaman tanah bersifat alkalis 6,5-7

JENIS BUAH NAGA
Buah Naga atau Dragon Fruit mempunyai 3 jenis dengan karakter batang dan buah yang berbeda-beda. Jenis-jenis buah yang dikenal mayarakat antara lain :

1. Buah Naga Putih (Hylocereus undatus)
Buah naga putih batangnya berwarna hijau lebih muda,     menggelembung dan bergerigi, ujung batang meruncing, bentuk buah     bulat agak lonjong, kulit buah merah bertitik, daging buah putih,     tekstur lunak, bertabur biji kecil-kecil dengan berat 500-600 gr/buah.

2. Buah Naga Merah (Hylocereus costariansis)
Buah naga merah batangnya berwarna hijau tua, bergerigi rata,     ruas berduri menonjol, bentuk buah bulat mirip buah nanas,  kulit     buah berwarna merah bersisik, sedangkan daging buah berwarna     merah, tekstur lunak, bertabur biji kecil, berat buah 400-500 gr/buah.

3. Buah Naga Kuning (Selenicereus megalanthus)
Buah naga kuning batangnya berwarna hijau tua, bergerigi     agak jarang, bentuk buahnya bulat agak lonjong, warna kulit buah kuning penuh tonjolan di     sekujur tubuh buah, daging buah berwarna putih, tekstur lunak bertabur biji, sedangkan berat     buah 300-400 gr/buah

PERSIAPAN LAHAN
  1. siapkan pancang atau tiang penopang, bisa menggunakan tiang dari kayu atau beton dengan ukuran 10 cm x 10 cm dengan tinggi 2 meter, yang ditancapkan ke tanah sedalam 50 cm. 
  2. Ujung bagian atas dari tiang penyangga diberi ban penyangga untuk penopang cabang tanaman (sulur). Persiapkan juga lubang tanam dengan jarak tanam 2,5 m x 2,5 m, sehingga dalam 1 hektar terdapat sekitar 1.600 lubang tanam penyangga. 
  3. Disekeliling pancang/pohon penyangga dibuat 3-4 lubang tanam dengan jarak sekitar 30 cm dari pancang penyangga. Lubang tanam diberi pupuk kandang masak sebanyak 5-10 kg dicampur dengan tanah atau  dapat juga dengan pupuk kandang (sapi, kambing, ayam) dan pasir kasar secukupnyaagar bersifat poros dengan perbandingan 1:1:1, lalu campuran diaduk sampai homogen (rata).


Pada umunya buah naga diperbanyak dengan cara stek dan penyemaian biji. Batang tanaman berukuran 20 cm di tanam dalam polibag dengan media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Setelah bibit berumur 3 bulan bibit siap dipindah/ditanam di lahan.


PROSES PEMELIHARAAN
Proses pemeliharaannya agar tanaman tumbuh tegak dan teratur mengikuti tiang pancang, perlu diikat dengan menggunakan kawat alumunium, tali rafia atau tali lainnya. Pada tahap awal-awal penanaman, tanaman disiram 1-2 hari sekali. Harus diperhatikan agar air tidak kurang dan juga tidak berlebihan, satu lubang tanam biasanya diberi 4-5 liter air.

Selain itu juga Pemeliharaan mencakup penyulaman, pengaturan letak cabang tiap pengikatan cabang/batang, pengairan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pemangkasan dan seleksi calon buah.

1. Penyulaman
Penyulaman dilakukan seminggu setelah tanam, stek-stek yang rusak/mati dicabut lalu     diganti dengan stek baru seperti penanaman pertama.

2. Pengaturan letak cabang/pengikatan cabang/batang
Setiap pertumbuhan batang/cabang setinggi 10-20 cm harus dilakukan pengikatan minimal 2 hari sekali, pengikatan jangan terlalu kencang agar batang tidak patah dan luka,

3. Pengairan
Pengairan dilakukan 2 minggu sekali dengan bantuan selang, kemudian air digenangi di sekitar tanaman, bisa digunakan sistem pengelepan (pada musim kemarau panjang);

4. Pemupukan
Cara pemberian pupuk disesuaikan dengan keadaan lahan. Pemupukan dasar diberikan sebelum penanaman, pemupukan susulan diberikan 3 bulan kemudian, yakni dengan bokhasi dosis 4     kg/lubang, selanjutnya 6 bulan sekali dengan dosis yang sama.
Pupuk natural hitam diberikan tiap dua minggu sekali dengan dosis 1 sendok teh tiap pohon. Juga diberi pupuk bunga yang terbuat dari destilasi air seni sapi tiap dua minggu sekali dengan dosis 10 cc per 1 liter air/pohon. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah memangkas cabang yang tidak produktif atau kerdil.

5. Pengendalian hama dan penyakit
Hama yang menyerang tanaman buah naga adalah bekicot dan semut merah. Pengendaliannya     dengan pembersihan dan penyemprotan curan 2 cc/liter air
Penyakit yang menyerang tanaman biasanya dipangkal batang dan fusarium. Pengendaliannya     dengan menggunakan ridhomil 2 cc/liter dan benlate 2 gr/liter. Penyemprotan bisa dilakukan 2     minggu     sekali;

6. Pemangkasan
Pada tanaman buah naga, ada 2 jenis pemangkasan yaitu pemangkasan tunas atau cabang dan     pemangkasan ujung cabang;

7. Seleksi Calon Buah
Agar menghasilkan buah yang optimal maka seleksi calon buah perlu dilakukan dengan     menghilangkan calon buah yang tidak optimal.

MASA PANEN
Masa panen dilakukan setelah 10 bulan sejak bibit ditanam, tanaman akan mulai berbunga dan berbuah. Sekitar 50 hari sejak bunga mekar, buah siap dipanen dengan ciri warna kulit merah mengkilap, jumbai atau sisik berubah warna dari hijau menjadi kemerahan. Musim panen raya buah naga pada bulan Oktober tiap tahun. Panen buah naga berturut-turut bisa dilakukan 6 sampai 7 bulan ke depan setelah bulan November.

Pada tahun pertama, 1 pancang/tiang penopang berisi 4 pohon buah naga bisa menghasilkan buah seberat 4 kg atau sekitar 6-7 ton buah naga untuk lahan seluas 2.500 m2 selama 6 sampai 7 bulan. (Rata-rata tiap bulan bisa dipanen 1 ton). Pada tahun berikutnya hasil panen bisa dua kali lipatnya, dan umur produktif tanaman buah naga ini berkisar antara 15-20 tahun.

Setelah panen, buah naga terlebih dahulu disortir berdasarkan ukuran buahnya. Pengemasan menggunakan kardus berisi sekitar 20 kg buah naga. Selanjutnya buah naga hitam yang telah dikemas tersebut dipasok ke Supermarket dan toko buah. Untuk harga buah naga hitam biasa dijual dengan kisaran Rp 40.000,. – Rp 50.000,. /kg nya.

Sumber :
  1. epetani.deptan
  2. agri-tani
Semoga bermanfaat.

Thursday, May 23, 2013

Teknik Budidaya Tanaman Buah Manggis


I. SEJARAH SINGKAT 
Manggis merupakan tanaman buah berupa pohon yg berasal dari hutan tropis yg teduh di kawasan Asia Tenggara, yaitu hutan belantara Malaysia atau Indonesia. Dari Asia Tenggara, tanaman ini menyebar ke daerah Amerika Tengah & daerah tropis lainnya seperti Srilanka, Malagasi, Karibia, Hawaii & Australia Utara. Di Indonesia manggis disebut dengan berbagai macam nama lokal seperti manggu (Jawa Barat), Manggus (Lampung), Manggusto (Sulawesi Utara), Manggista (Sumatera Barat). 


II. JENIS TANAMAN 

Klasifikasi botani pohon manggis adalah sebagai berikut: 

o Divisi : Spermatophyta 
o Sub divisi : Angiospermae 
o Kelas : Dicotyledonae 
o Keluarga : Guttiferae 
o Genus : Garcinia 
o Spesies : Garcinia mangostana L 

Balai Penelitian Pohon Buah-buahan Solok merekomendasikan tiga klon manggis, yaitu: 
  1. Kelompok besar: panjang daun>20 cm; lebar>10 cm; ketebalan kulit buah>9 mm; diameter buah>6,5 cm; berat buah>140 gram; buah tiap tandan 1 butir. 
  2. Kelompok sedang: panjang daun 17-20 cm; lebar 8,5-10 cm; ketebalan kulit buah 6-9 mm; diameter buah 5,5-6,5 cm; berat buah 70-140 gram; buah tiap tandan 1-2 butir. 
  3. Kelompok kecil: panjang daun<17 cm; lebar<8,5 cm; ketebalan kulit buah<6 mm; diameter buah<5,5, cm; berat buah<70 gram; buah tiap tandan>2 butir. Klon yg dikembangkan adalah MBS1, MBS2, MBS3, MBS4, MBS5, MBS6 & MBS 7. 

III. MANFAAT TANAMAN 

Buah manggis dapat disajikan dlm bentuk segar, sebagai buah kaleng, dibuat sirop/sari buah. Secara tradisional buah manggis adalah obat sariawan, wasir & luka. Kulit buah dimanfaatkan sebagai pewarna termasuk utk tekstil & air rebusannya dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Batang pohon dipakai sebagai bahan bangunan, kayu bakar/ kerajinan. 


IV. SENTRA PENANAMAN 

Pusat penanaman pohon manggis adalah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jawa Barat (Jasinga, Ciamis, Wanayasa), Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Jawa Timur & Sulawesi Utara. 


V. SYARAT TUMBUH 

5.1. Iklim 
  1. Dalam budidaya manggis, angin berperan dlm penyerbukan bunga utk tumbuhnya buah. Angin yg baik tidak terlalu kencang. 
  2. Daerah yg cocok utk budidaya manggis adalah daerah yg memiliki curah hujan tahunan 1.500–2.500 mm/tahun & merata sepanjang tahun. 
  3. Temperatur udara yg ideal berada pada kisaran 22-32°C. 

5.2. Media Tanam 
  1. Tanah yg paling baik utk budidaya manggis adalah tanah yg subur, gembur, mengandung bahan organik. 
  2. Derajat keasaman tanah (pH tanah) ideal utk budidaya manggis adalah 5–7. 
  3. Untuk pertumbuhan tanaman manggis memerlukan daerah dengan drainase baik & tidak tergenang serta air tanah berada pada kedalaman 50–200 m 

5.3. Ketinggian Tempat 

Pohon manggis dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai di ketinggian di bawah 1.000 m dpl. Pertumbuhan terbaik dicapai pada daerah dengan ketinggian di bawah 500-600 m dpl. 


VI. PEDOMAN BUDIDAYA 
6.1. Pembibitan 

Pohon manggis dapat diperbanyak dengan biji/bibit hasil penyambungan pucuk & susuan. Pohon yg ditanam dari biji baru berbunga pada umur 10-15 tahun sedangkan yg ditanam dari bibit hasil sambungan dapat berbunga pada umur 5-7 tahun. 

1. 1) Persyaratan Benih 
  1. Perbanyakan dengan biji utk batang bawah Biji yg akan dijadikan benih diambil dari buah tua yg berisi 5-6 segmen daging buah dengan 1-2 segmen yg berbiji, tidak rusak, beratnya minimal satu gram & daya kecambah sedikitnya 75%. Buah diambil dari pohon yg berumur sedikitnya 10 tahun. 
  2. Untuk pembuatan bibit dengan cara sambungan diperlukan batang bawah & pucuk (entres) yg sehat. Batang bawah adalah bibit dari biji berumur lebih dari dua tahun dengan diameter batang 0.5 cm & kulitnya berwarna hijau kecoklatan. 

2. 2) Penyiapan Benih 
  1. Perbanyakan dengan biji utk batang bawah utk menghilangkan daging buah, rendam buah dlm air bersih selama 1 minggu (dua hari sekali air diganti) sehingga lendir & jamur terbuang. Biji akan mengelupas dengan sendirinya & biji dicuci sampai bersih. Celupkan biji kedalam fungisida Benlate dengan konsentrasi 3 g/L selama 2-5 menit. Keringanginkan biji di tempat teduh selama beberapa hari sampai kadar airnya 12-14%. 
  2. Pucuk untuk sambungan berupa pucuk (satu buku) yg masih berdaun muda berasal dari pohon induk yg unggul & sehat. Dua minggu sebelum penyambungan bagian bidang sayatan batang bawah & pucuk diolesi zat pengatur tumbuh Adenin/Kinetin dengan konsentrasi 500 ppm utk lebih memacu pertumbuhan. 

3. 3) Teknik Penyemaian Benih 
  1. Perbanyakan dengan biji dlm bedengan Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 100-120 cm dengan jarak antar bedengan 60-100 cm. Tanah diolah kedalam 30 cm, kemudian campurkan pasir, tanah & bahan organik halus (3:2:1) dengan merata. Persemaian diberi atap jerami/daun kelapa dengan ketinggian sisi Timur 150-175 cm & sisi Barat 10-125 cm. Benih ditanam di dlm lubang tanam berukuran 10 x 10 cm dengan jarak tanam 3 x 3 cm & jarak antar baris 5 cm pada kedalaman 0,5-1,0 cm. Tutup benih dengan tanah & selanjutnya bedengan ditutup dengan karung goni basah atau jerami setebal 3 cm. Persemaian disiram 1-2 kali sehari, diberi pupuk urea & SP-36 masing-masing 2 g/tanaman setiap bulan. Setelah berumur 1 tahun, bibit dipindahkan ke dlm polybag ukuran 20 x 30 cm berisi campuran tanah & kompos/pupuk kandang (1:1). Bibit ini dipelihara sampai berumur 2 tahun & siap ditanam dilapangan/dijadikan batang bawah pada penyambungan. 
  2. Penyemaian & pembibitan di dlm polybag berukuran 20 x 30 cm. Satu/dua benih disemai di dlm polybag 20 x 30 cm yg dasarnya dilubangi kecil-kecil pada kedalaman 0.5-1.0 cm. Media tanam berupa campuran tanah halus, kompos/pupuk kandang halus & pasir (1:1:1). Simpan polybag di bedengan yg sisinya dilingkari papan/bilah bambu agar polybag tidak roboh. Persemaian disiram 1-2 hari sekali & diberi urea & SP-36 sebanyak 2-3 g/tanaman setiap bulan. Bibit ini dipelihara sampai berumur 2 tahun & siap ditanam di lapangan atau dijadikan batang bawah pada penyambungan. 
  3. Perbanyakan dengan penyambungan pucuk : Adapun cara penyambungan pucuk adalah sebagai berikut: 
  • Potong bahan bawah setinggi 15-25 cm dari pangkal leher lalu buat celah di ujung batang sepanjang 3-5 cm. 
  • Runcingkan pangkal batang atas sepanjang 3-5 cm. 
  • Selipkan bagian runcing batang atas (pucuk) ke dlm celah batang bawah. 
  • Balut bidang pertautan batang bawah & atas dengan tali rafia. Pembalutan dimulai dari atas, lalu ikat ujung balutan dengan kuat. 
  • Tutupi hasil sambungan dengan kantung plastik transparan & simpan di tempat teduh. Setelah 2-3 minggu penutup dibuka & bibit dibiarkan tumbuh selama 3-4 minggu. Balutan dapat dilepas setelah berumur 3 bulan yaitu pada saat bibit telah bertunas. Setelah berumur 6 bulan bibit siap dipindahtanamkan ke kebun.
  • Selama penyambungan siram bibit secara rutin & siangi gulma. 

4. Perbanyakan dengan penyambungan susuan Adapun cara penyambungan susuan adalah sebagai berikut: 
  1. Pilih pohon induk yg produktif sebagai batang atas. 
  2. Siapkan batang bawah di dlm polibag & letakan di atas tempat yg lebih tinggi daripada pohon induk. 
  3. Pilih satu cabang (entres) dari pohon induk utk bahan cabang atas. Diameter cabang lebih kecil atau sama dengan batang bawah. 
  4. Sayat batang bawah dengan kayunya kira-kira 1/3-1/2 diameter batang sepanjang 5-8 cm. 
  5. Sayat pula cabang entres dengan cara yg sama. 
  6. Satukan bidang sayatan kedua batang & balut dengan tali rafia. 
  7. Biarkan bibit susuan selama 5 - 6 bulan. 
  8. Pelihara pohon induk & batang bawah di dlm polibag dengan intensif. 
  9. Susuan berhasil jika tumbuh tunas muda pada pucuk batang atas (entres) & ada pembengkakan (kalus) di tempat ikatan tali. 
  10. Bibit susuan yg baru dipotong segera disimpan di tempat teduh dengan penyinaran 30% selama 3-6 bulan sampai tumbuh tunas baru. Pada saat ini bibit siap dipindahtanamkan. 

6.2. Pengolahan Media Tanam 
  1. Persiapan : Penetapan areal utk perkebunan mangga harus memperhatikan faktor kemudahan transportasi & sumber air. 
  2. Pembukaan Lahan 
  • Membongkar tanaman yg tidak diperlukan & mematikan alang-alang serta menghilangkan rumput-rumput liar & perdu dari areal tanam. 
  • Membajak tanah utk menghilangkan bongkahan tanah yg terlalu besar.
3. Pengaturan Jarak Tanam : Pada tanah yg kurang subur, jarak tanam dirapatkan sedangkan pada tanah subur, jarak tanam lebih renggang. Jarak tanam standar adalah 10 m & diatur dengan cara: 
  1. segi tiga sama kaki. 
  2. diagonal. 
  3. bujur sangkar (segi empat). 

4. Pemupukan : Bibit ditanam di musim hujan kecuali di daerah yg beririgasi sepanjang tahun. Sebelum tanam taburkan campuran 500 gram ZA, 250 gram SP-36 & 200 gram KCl ke dlm lubang tanam & tutup dengan tanah. 

6.3. Teknik Penanaman 
1) Pembuatan Lubang Tanam 

Buat lubang tanam ukuran 50 x 50 cm sedalam 25 cm & tempatkan tanah galian tanah di satu sisi. Perdalam lubang tanam sampai 50 cm & tempatkan tanah galian di sisi lain. Keringanginkan lubang tanam 15-30 hari sebelum tanam. Kemudian masukkan tanah bagian dlm (galian ke dua) & masukkan kembali lapisan tanah atas yg telah dicampur 20-30 kg pupuk kandang. Jarak antar lubang 8 x 10 m atau 10 x 10 m dihitung dari titik tengah lubang. utk lahan berlereng perlu dibuat teras, tanggul & saluran drainase utk mencegah erosi. 

2) Cara Penanaman 

Dengan jarak tanam 10x 10 m atau 8 x 10 m diperlukan 100-125 bibit per hektar. Cara menanam bibit yg benar adalah sebagai berikut: 
  1. Siram bibit di dlm polybag dengan air sampai polibag dapat dilepaskan dengan mudah. 
  2. Buang sebagian akar yg terlalu panjang dengan pisau/gunting tajam. 
  3. Masukkan bibit ke tengah-tengah lubang tanam, timbun dengan tanah sampai batas akar & padatkan tanah perlahan-lahan. 
  4. Siram sampai tanah cukup lembab. 
  5. Beri naungan yg terbuat dari tiang-tiang bambu beratap jerami. Jika sudah ada pepohonan di sekitarnya, pohon-pohon ini bisa berfungsi sebagai pelindung alami. Pohon pelindung harus bersifat alami & mengubah iklim mikro, misalnya tanaman Albisia & Lamtoro. 

6.4. Pemeliharaan Tanaman 
1) Penyiangan 

Lakukan penyiangan secara kontinyu & sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pemupukan & penggemburanyaitu dua kali dlm setahun. 

2) Perempalan/Pemangkasan 

Ranting-ranting yg tumbuh kembar & sudah tidak berbuah perlu dipangkas utk mencegah serangan hama & penyakit. Gunakan gunting pangkas yg bersih & tajam utk menghindari infeksi & lapisi bekas pangkasan dengan ter. 

3) Pemupukan 

Jenis & dosis pemupukan anjuran adalah: 
  1. Pohon berumur 6 bulan dipupuk campuran urea, SP-36 & KCl (3:2:1) sebanyak 200-250 gram/pohon. 
  2. Pohon berumur 1-3 tahun dipupuk campuran 400-500 gram Urea, 650-700 gram SP-36 & 900-1000 gram KCl (3:1:2) yg diberikan dlm dua sampai tiga kali. 
  3. Pohon berumur 4 tahun & seterusnya dipupuk campuran urea, SP-36 & KCl (1:4:3) sebanyak 3-6 kg.pohon ditambah 40 kg/pohon pupuk kandang. Pupuk ditaburkan di dlm larikan/di dlm lubang-lubang di sekeliling batang dengan diameter sejauh ukuran tajuk pohon. dlm larikan & lubang sekitar 10-20 cm sedangkan jarak antar lubang sekitar 100-150 cm. 

4) Pengairan & Penyiraman 

Tanaman yg berumur di bawah lima tahun memerlukan ketersediaan air yg cukup & terus menerus sehingga harus disiram satu sampai dua hari sekali. Sedangkan pada pohon manggis yg berumur lebih dari lima tahun, frekuensi penyiraman berangsur-angsur dapat dikurangi. Penyiraman dilakukan pagi hari dengan cara menggenangi saluran irigasi atau disiram. 

5) Pemberian Mulsa 

Mulsa jerami dihamparkan setebal 3-5 cm menutupi tanah di sekeliling batang yg masih kecil utk menekan gulma, menjaga kelembaban & aerasi & mengurangi penguapan air. 


VII. HAMA & PENYAKIT 
7.1. Hama 

1) Ulat bulu 
Hama ini melubangi daun. 
Pengendalian: (1) menjaga sanitasi lingkungan & pemeliharaan tanaman yg baik; (2) penyemprotan insektisida Bayrusil 250 EC/Cymbush 50 EC dengan konsentrasi 0.1-0.2 %. 


7.2. Penyakit 
1) Bercak daun 
Penyebab: jamur Pestalotia sp., Gloesporium sp. & Helminthosporium sp. 
Gejala: bercak pada daun yg tidak beraturan berwarna abu-abu pada pusatnya (Pestalotia sp.), coklat (Helminthosporium sp.) & hitam pada sisi atas & bawah daun (Gloesporium sp.). 
Pengendalian: mengurangi kelembaban yg berasal dari tanaman pelindung, memotong bagian yg terserang & menyemprotkan fungisida Bayfidan 250 EC/Baycolar 300 EC dengan konsentrasi 0.1-0.2 %. 

2) Jamur upas 
Penyebab: Corticium salmonicolor Berk.et Br. 
Gejala: cabang/ranting mati karena jaringan kulit mengering. 
Pengendalian: memotong cabang/ranting, mengerok kulit & kayu yg terserang parah & mengolesi bagian yg dipotong dengan cat, atau disemprot dengan Derosal 60 WP 0.1-0.2 %. 

3)Hawar benang 
Penyebab: jamur Marasmius scandens Mass Dennis et Reid. 
Gejala: miselium jamur tumbuh pada permukaan cabang & ranting membentuk benang putih yg dapat meluas sampai menutupi permukaan bawah daun. 
Pengendalian: menjaga kebersihan & memangkas daun yg terserang. 

4) Kanker batang 
Penyebab: jamur Botryophaerisa ribis. 
Gejala: warna kulit batang & cabang berubah & mengeluarkan getah. 
Pengendalian: 
  1. perbaikan drainase, menjaga kebersihan kebun, pemotongan tanaman yg sakit; 
  2. penyemprotan fungisida Benlate utk kanker batang, Cobox atau Cupravit bagi penyakit lainnya. 
5) Hawar rambut 
Penyebab: jamur Marasmius equicrinis Mull. 
Gejala: permukaan tanaman manggis ditutupi bentuk serupa benang berwarna coklat tua kehitaman mirip ekor kuda. 
Pengendalian: sama dengan kanker batang. 

6) Busuk buah 
Penyebab: jamur Botryodiplodia theobromae Penz. 
Gejala: diawali dengan dengan membusuknya pangkal buah & meluas ke seluruh bagian buah sehingga kulit buah menjadi suram. 
Pengendalian: sama dengan kanker batang. 

7) Busuk akar 
Penyebab: jamur Fomes noxious Corner. 
Gejala: akar busuk & berwarna coklat. 
Pengendalian: sama dengan kanker batang 


VIII. PANEN 

8.1. Ciri & Umur Panen 
Tingkat kematangan sangat berpengaruh terhadap mutu & daya simpan manggis. Buah dipanen setelah berumur 104 hari sejak bunga mekar (SBM). Umur panen & ciri fisik manggis siap panen dapat dilihat berikut ini : 
  1. Panen 104 hari: warna kulit hijau bintik ungu; berat 80-130 gram; diameter 55-60 mm. 
  2. Panen 106 hari: warna kulit ungu merah 10-25%; berat 80-130 gram; diameter 55- 60 mm. 
  3. Panen 108 hari: warna kulit ungu merah 25-50%; berat 80-130 gram; diameter 55- 60 mm. 
  4. Panen 110 hari: warna kulit ungu merah 50-75%; berat 80-130 gram; diameter 55- 60 mm. 
  5. Panen 114 hari: warna kulit ungu merah; berat 80-130 gram; diameter 55-65 mm. 

Untuk konsumsi lokal, buah dipetik pada umur 114 SBM sedangkan utk ekspor pada umur 104-108 SBM. 

8.2. Cara Panen 

Pemanenan dilakukan dengan cara memetik/memotong pangkal tangkai buah dengan alat bantu pisau tajam. utk mencapai buah di tempat yg tinggi dapat digunakan tangga bertingkat dari kayu/galah yg dilengkapi pisau & keranjang di ujungnya. Pemanjatan seringkali diperlukan karena manggis adalah pohon hutan yg umurnya dapat lebih dari 25 tahun. 

8.3. Periode Panen 

Pohon manggis di Indonesia dipanen pada bulan November sampai Maret tahun berikutnya. 

8.4. Perkiraan Produksi 

Produksi panen pertama hanya 5-10 buah/pohon, kedua rata-rata 30 buah/pohon selanjutnya 600-1.000 buah/pohon sesuai dengan umur pohon. Pada puncak produksi, tanaman yg dipelihara intensif dapat menghasilkan 3.000 buah/pohon dengan rata-rata 2.000 buah/pohon. Produksi satu hektar (100 tanaman) dapat mencapai 200.000 butir atau sekitar 20 ton buah 


IX. PASCAPANEN 
  1. Pengumpulan : Buah dikumpulkan di dlm wadah & ditempatkan di lokasi yg teduh & nyaman. 
  2. Penyortiran & Penggolongan : Tempatkan buah yg baik dengan yg rusak & yg busuk dlm wadah yg berbeda. Lakukan penyortiran berdasarkan ukuran buah hasil pengelompokan dari Balai Penelitian Pohon Buah-buahan Solok yaitu besar, sedang & kecil. 
  3. Penyimpanan : Pada ruangan dengan temperatur 4-6 derajat C buah dapat tetap segar selama 40 hari sedangkan pada 9-12 derajat C tahan sampai 33 hari.

Penyakit Karat Daun pada Tanaman Kedelai

I. Pendahuluan
Penyakit karat kedelai tersebar luas di seluruh Indonesia. Adanya penyakit karat pada kedelai di Yogyakarta dan Surakarta sudah dilaporkan sejak tahun 1899 (Raciborski, 1990). 

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Phakopsora pachyrhizi berasal dari kelompok Basidiomycetes. Phakopsora pachyrizhy mempunyai uredium pada sisi bawah dan atas daun, coklat muda sampai coklat, bergaris tengah 100-200 µm, sering tersebar merata memenuhi permukaan daun. Parafisa pangkalnya bersatu, membentuk penutup yang mirip dengan kubah diatas uredium. Parafisa membengkok dan berbentuk gada atau mempunyai ujung membengkak, hialin atau berwarna jerami dengan ruang sel sempit. Ujungnya berukuran 7,5-15µm dengan panjang 20-47µm. Uredium bentuknya mirip dengan gunung api kecil yang dibentuk di bawah epidermis, jika dilihat dari atas berbentuk bulat atau jorong. Di pusat bagian uredium yang menonjol berbentuk lubang yang menjadi jalan keluarnya urediospora. Urediospora membulat pendek, bulat telur atau jorong, hialin sampai coklat kekuningan, dengan dinding tebal yang hialin dan berduri halus. 

Menurut Sudjono (1984) pada daun pertama kedelai muda dapat terjadi dua macam bercak, yaitu yang mempunyai halo berwarna coklat dan yang tidak. Gejala tampak pada daun, tangkai, dan kadang-kadang pada tangkai. Awalnya terjadi bercak-bercak kecil coklat kelabu atau bercak yang sedikit demi sedikit berubah menjadi coklat atau coklat tua. Bercak karat terlihat sebelum bisul-bisul (pustul) pecah. Bercak tampak bersudut-sudut karena dibatasi oleh tulang daun di dekat terjadinya infeksi (Semangun, 1991). Pada umumnya serangan terjadi pada permukaan bawah daun dan serangan awal biasanya terjadi pada daun-daun bawah yang kemudian berkembang ke daun yang lebih atas. Penyakit karat kedelai biasanya mulai menyerang pada saat tanaman berumur 3-4 minggu setelah tanam. 

II. Fakor Penyebab Penyakit 
Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit adalah suhu optimum untuk perkecambahan uredospora adalah 15-25 C. pada kedelai infeksi paling banyak terjadi pada suhu 20-25 C dengan embun selama 10-12 jam; pada suhu 15-17 C diperlukan embun selama 16-18 jam. Masa berembun terpendek untuk terjadinya infeksi pada suhu 20-25 C adalah 6 jam, sedang pada suhu 15-17 C adalah 8-10 jam. Infeksi tidak terjadi bila suhu lebih tinggi dari 27,5 C. Bakal uredium mulai tampak 5-7 hari setelah inokulasi, dan pembentukan spora terjadi 2-4 hari kemudian (Holliday, 1980). Penyakt karat yang lebih berat terjadi pada pertanaman kedelai musim hujan (Sudjadi, 1979). Selain itu, jenis-jenis kedelai memiliki tingkat kerentanan yang berbeda-beda. 
Ketahanan satu jenis kedelai terhadap karat juga bervariasi tergantung dari lokasi pengujian. Antara umur panjang dengan ketahanan dan antara umur pendek (genjah) dengan kerentanan terdapat korelasi positif. Ketahanan ternyata bersifat dominan dan ditentukan oleh dua gen mayor. 

III. Dampak Penyakit
Akibat serangan cendawan ini proses fotosintesis terganggu karena daun tidak berfungsi sebagaimana fungsinya dapat menurunkan hasil produksi sebesar 20-80 %. Penurunan hasil bisa mencapai 100% bila varietas yang ditanam rentan terhadap karat daun dan dibudidayakan sewaktu musim hujan dalam keadaan cuaca yang lembab serta tanaman dalam kondisi tergenang. 

Penyebaran penyakit karat daun ini melalui spora yang diterbangkan oleh angin, melalui tanah, air dan tanaman inang. Patogen ini tidak dapat bertahan di dalam biji karena termasuk cendawan obligat dan tidak dapat ditularkan melalui benih. 

IV. Teknik Pengendalian
Beberapa pengendalian yang direkomendasikan yaitu penggunaan varietas yang tahan terhadap penyakit ini, yaitu varietas Wilis, Merbabu, Raung, Dempo, Krakatau, Tampomas dan Cikurai, perendaman benih dalam larutan fungisida Benlate T 20, pengendalian secara kimia dengan menggunakan fungisida misalnya Alto 100 SL, pengendalian dengan menggunakan pestisida nabati, misalnya ekstrak mimba yang dapat menekan pertumbuhan jamur dan dipakai untuk tindakan preventif pada tahap awal gejala penyakit serta pengaturan jarak tanam dan perlakukan budidaya tanaman secara benar. 

Sumber

Teknik Budidaya Tanaman Timun (Cucumis Sativus L)

I.  PENDAHULUAN
Mentimun, timun, atau ketimun (Cucumis sativus L.); suku labu-labuan atau Cucurbitaceae) merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah yang dapat dimakan. Buahnya biasanya dipanen ketika belum masak benar untuk dijadikan sayuran atau penyegar, tergantung jenisnya. Mentimun dapat ditemukan di berbagai hidangan dari seluruh dunia dan memiliki kandungan air yang cukup banyak di dalamnya sehingga berfungsi menyejukkan. Potongan buah mentimun juga digunakan untuk membantu melembabkan wajah serta banyak dipercaya dapat menurunkan tekanan darah tinggi. 


II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1 - 26,7)°C dan tidak banyak hujan. Ketinggian optimum 1.000 - 1.200 mdpl.

2.2. Media Tanam
Tanah gembur, banyak mengandung humus, tata air baik, tanah mudah meresapkan air, pH tanah 6-7.


III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan.
  1. Siapkan tanah halus yang telah dicampur pupuk kandang dan masukkan polybag.
  2. Rendam benih menggunakan Regent red sekitar ±15 menit.
  3. Peram selama 12 jam. Setiap benih yang berkecambah dipindahkan ke polibag sedalam 0,5-1 cm.
  4. Polybag dinaungi plastik bening dan bibit disiram dua kali sehari.
  5. Setelah berumur 12 hari atau berdaun 3-4 helai, bibit dipindahkan ke kebun.

3.2. Pengolahan Media Tanam
  1. Bersihkan lahan dari gulma, rumput, pohon yang tidak diperlukan.
  2. Kemudian tanah di olah baik menggunakan bajak atau cangkul,
  3. Berikan kalsit/dolomit (pH tanah <6>)
  4. Tanah yang sudah diolah tadi dibuat guludan dengan tinggi 50 cm, lebar 120 cm, jarak antar guludan 40 cm. Pemakaian mulsa plastik disarankan untuk mendapat hasil yang lebih baik.

3.3. Penanaman
  1. Siram bibit dalam polibag dengan air
  2. Keluarkan bibit bersama medianya dari polibag.
  3. Tanamkan bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar batang.-

3.4. Pemeliharaan Tanaman
  1. Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang baik.
  2. Bersihkan gulma (bisa bersama waktu pemupukan).
  3. Pasang ajir pada 5 hst ( hari setelah tanam ) untuk merambatkan tanaman.
  4. Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3 minggu setelah tanam pada pagi atau sore hari.

Pengairan dan Penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30 menit. -Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.

3.5. Pemupukan:

Pupuk dasar diberikan 4 - 7 hari sebelum tanam, yaitu SP - 36 20 g/tan. Dan ZK plus 10 g/ tanaman.


3.6. Hama dan Penyakit
3.6.1. Hama

a. Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver).
Kumbang daun berukuran 1 cm dengan sayap kuning polos. Gejala : merusak dan memakan daging daun sehingga daun bolong; pada serangan berat, daun tinggal tulangnya. Pengendalian Semprot dengan Fastac dengan kosentrasi : 2 ml/l air

b. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
Ulat ini berwarna hitam dan menyerang tanaman terutama yang masih muda. Gejala: Batang tanaman dipotong disekitar leher akar.pengendalian dengan Ripcord kosentrasi 2ml/l air.

c. Lalat buah (Dacus cucurbitae Coq.)
Lalat dewasa berukuran 1-2 mm. Lalat menyerang mentimun muda untuk bertelur, Gejala: memakan daging buah sehingga buah abnormal dan membusuk. Pengendalian : Natural METILAT atau dengan perangkap petrogenol.

d. Kutu daun (Aphis gossypii Clover)
Kutu berukuran 1-2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Gejala: menyerang pucuk tanaman sehingga daun keriput, kerititing dan menggulung. Kutu ini juga penyebar virus. Pengendalian : semprot dengan Rampage Kosentarasi 0,5 ml/l air.


3.6.2. Penyakit
a. Busuk daun (Downy mildew)
Penyebab : Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menginfeksi kulit daun pada kelembaban udara tinggi, temperatur 16 - 22°C dan berembun atau berkabut. 
Gejala : daun berbercak kuning dan berjamur, warna daun akan menjadi coklat dan busuk. Pengendalian : semprot dengan Acrobat atau Cabrio Top.

b. Penyakit tepung (Powdery mildew)
Penyebab : Erysiphe cichoracearum. Berkembang jika tanah kering di musim kemarau dengan kelemaban tinggi. 
Gejala : permukaan daun dan batang muda ditutupi tepung putih, kemudian berubah menjadi kuning dan mengering. 
Pengendalian : semprot dengan Acrobat atau Cabrio Top.

c. Antraknose
Penyebab : cendawan Colletotrichum lagenarium Pass. 
Gejala: bercak-bercak coklat pada daun. Bentuk bercak agak bulat atau bersudut-sudut dan menyebabkan daun mati; gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udara lembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah jambu. 
Pengendalian : Semprot dengan Fungisida berbahan aktif Mancozeb atau simoksanil.

d. Bercak daun bersudut
Penyebab : cendawan Pseudomonas lachrymans. Menyebar pada saat musim hujan. 
Gejala : daun berbercak kecil kuning dan bersudut; pada serangan berat seluruh daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering dan berlubang. 
Pengendalian : Semprot dengan Fungisida berbahan aktif Mancozeb atau simoksanil.

e. Virus
Penyebab : Cucumber Mosaic Virus, CMV, Potato virus mosaic, PVM; Tobacco Etch Virus, TEV; otato Bushy Stunt Virus (TBSV); Serangga vektor adalah kutu daun Myzus persicae Sulz dan Aphis gossypii Glov. 
Gejala : daun menjadi belang hijau tua dan hijau muda, daun berkerut, tepi daun menggulung, tanaman kerdil. 
Pengendalian: dengan mengendalikan serangga vektor dengan Insektisida/akarisida Rampage, mengurangi kerusakan mekanis, mencabut tanaman sakit dan rotasi dengan famili bukan Cucurbitaceae.

f. Kudis (Scab)
Penyebab : cendawan Cladosporium cucumerinum Ell.et Arth. Terjadi pada buah mentimun muda. 
Gejala : ada bercak basah yang mengeluarkan cairam yang jika mengering akan seperti karet; bila menyerang buah tua, terbentuk kudis yang bergabus. 
Pengendalian : Fungisida Cabriotop atau Antracol.

g. Busuk buah
Penyebab : cendawan (1) Phytium aphinadermatum (Edson) Fizt.; (2) Phytopthora sp., Fusarium sp.; (3) Rhizophus sp., (4) Erwinia carotovora pv. Carotovora. Infeksi terjadi di kebun atau di tempat penyimpanan. 
Gejala :
  1. Phytium aphinadermatum: buah busuk basah dan jika ditekan, buah pecah; 
  2. Phytopthora: bercak agak basah yang akan menjadi lunak dan berwarna coklat dan berkerut;
  3. Rhizophus: bercak agak besah, kulit buah lunak ditumbuhi jamur, buah mudah pecah; (4) Erwinia carotovora: buah membusuk, hancur dan berbau busuk. 

Pengendalian: dengan menghindari luka mekanis, penanganan pasca panen yang hati-hati, penyimpanan dalam wadah bersih dengan suhu antara 5 - 7 derajat C. Pengendalian dengan menggunakan Fungisida Acrobat,Daconil atau fungisida lain yang sudah direkomendasi.

3.7. Panen
Ciri dan Umur Panen
Buah mentimun muda lokal untuk sayuran, asinan atau acar umumnya dipetik 2-3 bulan setelah tanam, mentimun hibrida dipanen 42 hari setelah tanam Mentimun Suri dipanen setelah matang.

Cara Panen
Buah dipanen di pagi hari sebelum jam 9.00 dengan cara memotong tangkai buah dengan pisau tajam.

Periode Panen
Mentimun sayur dipanen 5 - 10 hari sekali tergantung dari varitas dan ukuran/umur buah yang dikehendaki.

Sumber:
  • Balai Pengendalian Tanah, Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman, " Budidaya Tanaman Timun (Cucumis Sativus)", Bogor 2008

Teknik Budidaya Tanaman Jagung


I.  PENDAHULUAN
Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. Upaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3).


II. SYARAT PERTUMBUHAN
Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl



III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
A. Syarat benih
Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam).

B. Pengolahan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.

C. Pemupukan





Waktu 

Dosis Pupuk Makro (per ha) 




Dosis POC
NASA 

Urea (kg)

TSP (kg)

KCl (kg)

Perendaman benih
-

--
2 - 4 cc/ lt air

Pupuk dasar
1208025

20 - 40 tutup/tangki
( siram merata )


2 minggu
---

4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram)


Susulan I (3 minggu)
115

-55

-

4 minggu
---

4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram )


Susulan II (6minggu)
115--

4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram )


Catatan : akan lebih baik pupuk dasar menggunakan SUPER NASA dosis ± 1 botol/1000 m2 dengan cara :
- alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.- alternatif 2 : 1 gembor (10-15 lt) beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 m bedengan.


D. Teknik Penanaman1. Penentuan Pola TanamanBeberapa pola tanam yang biasa diterapkan :a. Tumpang sari ( intercropping ),melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.

b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ),
dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.

c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ):
pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.

d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) :
penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.


2. Lubang Tanam dan Cara Tanam
Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang). Panen <>E. Pengelolaan Tanaman

1. Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.


2. PenyianganPenyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

3. PembumbunanPembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.

4. Pengairan dan PenyiramanSetelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.



F. Hama dan Penyakit
1. Hama
a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. 

Pengendalian: 
(1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. 
(2) tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan. 
(3) Sanitasi kebun. 
(4) semprot dengan PESTONA

b. Ulat Pemotong
Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. 
Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). 

Pengendalian: 
(1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; 
(2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); 
(3) Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.


2. Penyakit
a. Penyakit bulai (Downy mildew) 
Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. 

Gejala: 
  1. umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; 
  2. umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; 
  3. pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. 
Pengendalian: 
(1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; 
(2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; 
(3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; 
(4) Preventif diawal tanam dengan GLIO



b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. 
Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. 

Pengendalian: 
(1) pergiliran tanaman. 
(2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; 
(3) Prenventif diawal dengan GLIO



c. Penyakit karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. 
Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. 

Pengendalian: 
(1) mengatur kelembaban; 
(2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; 
(3) sanitasi kebun; 
(4) semprot dengan GLIO.



d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. 
Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. 

Pengendalian: 
(1) mengatur kelembaban; 
(2) memotong bagian tanaman dan dibakar; 
(3) benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA .


e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. 
Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. 

Pengendalian: 
  1. menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; 
  2. GLIO di awal tanam.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.


G. Panen dan Pasca Panen 1. Ciri dan Umur PanenUmur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.

2. Cara PanenPutar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.

3. PengupasanDikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.

4. PengeringanPengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.


5. Pemipilan
Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.


6. Penyortiran dan PenggolonganBiji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.

Sumber :
  • Balai Pengendalian Tanah, Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman, " Budidaya Tanaman Jagung", Bogor 2008
  • Menegristek, TTG Budidaya Pertanian "Jagung", http//www.ristek.go.id, 2008
  • dan berbagai sumber lainya