Showing posts with label peternakan kambing. Show all posts
Showing posts with label peternakan kambing. Show all posts

Thursday, November 7, 2013

Perencanaan Usaha Budidaya Ternak Kambing

Usaha agribisnis mempunyai kontribusi besar bagi pembangunan di Indonesia. Sektor pertanian terbukti telah mampu eksis menghadapi krisis ekonomi yang menimpa bangsa Indonesia. Untuk itu pemerintah telah mencanangkan program revitalisasi pertanian dimana dengan harapan nantinya muncul produk-produk unggulan di satu produk unggulan di tiap desa.
Pada akhirnya akan tercipta lapangan kerja baru di perdesaan sehingga dapat mengurangi urbanisasi dari perdesaan.
Perencanaan adalah hal yang sangat penting dalam memulai usaha Peternakan. Perencanaan usaha akan membantu kita dalam melangkah dan membuat keputusan-.

Dengan perencanan yang matang kita bisa :
• Membayangkan (memproyeksikan) perjalanan usaha kita ke depan.
• Merancang pengelolaan sumberdaya yang ada : dana, lahan, tenaga kerja, dsb.
• Melakukan monitoring/pengawasan disaat usaha berjalan, apakah sesuai dengan rencana atau tidak, sehingga dapat diambil keputusan yang tepat.

Beberapa pertanyaan penting sebelum kita memulai beternak kambing adalah :

1. JENIS KAMBING YANG AKAN DIPELIHARA
Jenis ternak kambing yang akan kita pelihara tergantung beberapa faktor
Jenis peternakan kambing dilihat dari segi tujuannya dapat dibedakan :

a. Penggemukan (Fattening)
Yakni beternak yang tujuannya menggemukkan (membesarkan) tubuh kambing untuk meningkatkan berat badan saat penjualan. Program penggemukan ini biasanya dilakukan jika ada pasar yang telah ada atau dugaan kuat potensi pasar itu dapat diraih. Oleh karena itu penggemukan ini biasanya dilakukan peternak pada saat menjelang Hari Raya Kurban dimana kebutuhan akan kambing (jantan) sangat tinggi. Sedangkan penggemukan diluar momen tersebut sangat jarang ditemukan kecuali pada usaha peternakan yang telah mempunyai pasar tetap.

b. Pembiakan dari Bibit
Yakni beternak dengan memelihara induk dan pejantan yang tujuannya adalah menghasilkan anak, dibesarkan dan kemudian dijual. Biasanya tidak semua peternak memiliki pejantan, namun satu pejantan digilir dengan memberikan uang rokok kepada pemilik jantan sebagai penghargaan atas jasa pemeliharaan. Secara tidak langsung kebiasaan ini merupakan teknik peningkatan produktivitas jantan dan efisiensi biaya.
Usia anak yang dijual juga bervariasi, kadang anak lepas sapih, dari dan kebanyakan adalah penjualan saat kambing dewasa.

c. Peternakan Perbibitan (Penghasil Bibit/Breeding)
Yakni beternak dengan tujuan untuk menghasilkan kambing kualitas bibit. Usaha pembibitan ini jarang dilakukan oleh masyarakat karena memiliki persyaratan dan perlakuan khusus selama proses pemeliharaan berlangsung seperti kualitas induk dan pejantan yang bagus, proses seleksi anak, dan tata cara kawin harus memperhatikan silsilah yang baik.

JENIS PETERNAKAN DAN SKALA(BESAR/KECIL) YANG AKAN DIKEMBANGKAN?

1. Jenis Ternak
2. Jenis Peternakan dan skala yang akan dikembangkan

Sedangkan dari Skala Usaha, peternakan dapat dibedakan :

a. Peternakan Skala Rumah Tangga
Yakni usaha peternakan yang diusahakan oleh masyarakat disekitar rumah mereka, atau seringkali bergabung dengan bangunan rumah. Jumlah kambing yang dipelihara biasanya paling banyak 20 ekor.

b. Peternakan Skala Kecil
Yakni usaha peternakan yang lebih besar dari skala rumah tangga hingga jumlah 500 ekor. Biasanya peternakan ini dikembangkan karena memiliki pasar tetap.

c. Peternakan Skala Menengah
Yakni usaha peternakan dengan jumlah ternak antara 500-1000 ekor. Di Indonesia, usaha peternakan kambing skala menengah ini masih sangat minim jumlahnya.

d. Peternakan Skala Besar
Yakni usaha peternakan kambing dengan jumlah kambing diatas 1000 ekor. Skala ini asih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Kalaupun ada sifatnya hanyalah sebagai Holding Ground (conditioning phase) sebelum dilepas ke pasar. Sedangkan untuk jenis perbibitan, boleh dikatakan (hampir) tidak ada.


Perencanaan
Pemilihan Skala ini akan sangat berpengaruh terhadap :

a. Besarnya investasi
b. Teknik pengelolaan (manajemen) peternakan
c. Jaringan pasar yang harus dibentuk


DAYA DUKUNG DARI LINGKUNGAN

a. Lahan
Lahan diperlukan sebagai tempat pembangunan kandang, tempat menampung limbah baik kotoran (feses), air kencing (urine), dan mungkin sebagai lahan untuk menanam rumput.
Luas lahan yang diperlukan sangat tergantung dari jumlah ternak. Luas lahan akan bertambah jika ada program untuk penanaman rumput.

b. Iklim
masing-masing ternak mempunyai secara fisiologis memerlukan kondisi lingkungan yag tidak berbeda. Secara umum, kambing lokal Indonesia akan dapat berkembang dengan baik kisaran suhu 20-29 derajat celcius.
Jika pakan ternak sangat tergantung dengan pasokan hijauan, maka penting diperhatikan panjangnya musim hujan dan musim kemarau. Semakin pendek musim kemarau akan semakin baik.

c. Potensi Hijauan Makanan Ternak
Sumber HMT dapat dibagi dua yaitu rumput lapang (liar) dan rumput semaian (sengaja dipelihara).
Jika mengandalkan keberadaan rumput liar, penting diperhatikan populasi ternak yang mengkonsumsi rumput liar di wilayah tersebut. Umumnya Dinas Peternakan memiliki data tentang Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak ruinansia (KPPTR) dan Potensi Maksimum berdasarkan Sumber Daya Lahan (PMSL).
Jika ada program penanaman rumput, penting diperhatikan luasan lahan yang diperlukan, rotasi panen dan rotasi pemeliharaan.

d. Potensi Makanan Non Hijauan
Untuk memberikan makanan yang bervariasi dan mengurangi ketergantungan dari pakan hijauan, dapat juga diinventarisasi potensi pakan non hijauan, seperti onggok singkong.
Jika pasokan pakan non hijauan dari pembelian, maka penting diperhatikan hitungan ekonomisnya.

e. Keterampilan yang dimiliki SDM
Sangat penting diperhatikan keterampilan SDM dalam memelihara kambing, sebab kesalahan sedikit saja dalam pengelolaan dapat mengakibatkan ternak sakit, pertumbuhan kurang,bahkan resiko kematian. Untuk itu sebelum dijalankan, tenaga pengelola harus mendapatkan keterampilan yang cukup.

f. Dukungan Dana dan Sistem Kerjasama
Dana untuk memulai usaha ternak kambing tidak harus dari diri sendiri. Sangat dimungkinkan untuk melakukan kerjasama dengan orang lain dengan melakukan kerjasama kemitraan (syirkah)
Yang penting di dalam syirkah adalah akad yang dilakukan harus jelas. Mulai dari besarnya dukungan dana, patungan dana jika sama-sama mempunyai andil modal, sistem bagi hasilnya (persentase pembagian keuntungan) dan tanggung jawab masing-masing pihak atas resiko kegagalan.

4. Peluang Pasar

Di daerah-daerah pedesaan sebagian besar masyarakat menjual ternak kambingnya melalui pedagang pengumpul (blantik). Resikonya adalah harga yang tentu lebih rendah (bahkan tidak jarang ditekan) dari harga di pasar. Hal ini terjadi karena biasanya peternak tidak memiliki informasi tentang harga pasar, mekanisme penjualan di pasar, adanya jaringan pedagang kambing, dan kadang peternak tidak mau repot-repot ke pasar.
Namun diwaktu mendatang perlu diusahakan jaringan pemasaran bagi peternak agar manfaat yang diperoleh juga maksimal.
Paling tidak ada tiga aspek yang penting untuk diproyeksikan, yaitu :

1. Membuat proyeksi populasi ternak di kandang
Proyeksi ini dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan jumlah kambing dan berbagai jenis umurnya di waktu ke depan. Sehingga dapat diperkirakan kebutuhan sumberdaya pada selang waktu tertentu misalnya kapan harus menambah jumlah pakan, kapan menambah kandang, kapan perlu menambah tenaga kerja, dan kapan akan ada ternak yang dapat dipasarkan.
Asumsi yang harus dipenuhi untuk membuat proyeksi ini adalah :

a. Jumlah Induk dan Pejantan yang akan dipelihara
b. Asumsi harga beli dan harga jual
c. Waktu kawin betina setelah melahirkan
d. Koefisien kematian (mortalitas) dari anak
e. Koefisien Produksi betina per kelahiran

2. Membuat Proyeksi Aliran Kas (Cash Flow)
Yakni proyeksi pemasukan dan pengeluaran uang kas. Proyeksi ini penting untuk melihat periode pengeluaran dan pemasukan kas sehingga dapat dilakukan penjadualan kapan harus menyediakan uang dan kapan akan menerima uang.

3. Membuat Proyeksi Pemasaran
Yakni perkiraan kapan usaha peternakan yanng dijalankan akan menghasilkan produk yang siap dijual. Asumsi yang harus ada adalah produk apa, atau kambing umur berapa yang akan dijual.
Proyeksi ini akan lebih baik jika telah ada gambaran tujuan pemasaran, sehingga selama mas produksi (pemeliharaan) di kandang dapat dilakukan pendekatan kepada calon pembeli.

4. Membuat Proyeksi Laba Rugi
Yakni perkiraan selisih antara pendapatan dan biaya yang dikeluarkan selama berlangsungnya usaha. Dalam usaha skala rumah tangga, biasanya lemah di pencatatan dan bercampurnya antara uang dapur dan uang untuk usaha.

Sumber:www.kampoengternak.com

Tuesday, October 1, 2013

Penggemukan Kambing Milik Pak Yanto Owner PO Prayogo Jogja

Barikut ini adalah salah satu liputan dari peternakan kambing kepunyakan Bapak Yanto, pemilik PO Prayogo yang berada di jl. Godean, Jogjakarta. Andaikata para peternak kampung bisa meniru cara penggemukan kambing yang lebih modern seperti ini, pasti kesejahteraannya akan semakin meningkat.

 Peternakan kambing dewasa

 bentuk kandang panggung, kotoran dan air seni langsung terpisah


 Lokasi kandang kambing di garasi bus bagian belakang

 indukan kambing baru saja melahirkan

 kandang umbaran untuk kambing remaja

 sosok kambing Merino jantan, kira-kira beratnya 75kg



ini garasi bus pariwisata PO Prayogo, letak kandang ada di belakang bus

Sunday, September 22, 2013

Potensi Bulu Kambing dan Hambatannya dalam Pengembangan sebagai Produk Industri


Bulu Kambing

Bulu adalah rambut pendek dan lembut pada tubuh binatang yang mempunyai fungsi salah satunya untuk menyimpan panas badan dan melindungi kulit dari sinar matahari. Bulu kambing merupakan salah satu hasil samping pemotongan kambing. Bulu kambing setelah pemotongan masih banyak yang di buang begitu saja tanpa dimanfaatkan lebih lanjut. Jika tidak dimanfaatkan, bulu kambing ini dapat menjadi limbah yang mungkin bisa menimbulkan pencemaran lingkungan karena proses penguraian bulu kambing di dalam tanah lama.


Pemanfaatan Bulu Kambing


Bulu kambing sebenarnya dapat dimanfaatkan lebih lanjut sebagai bahan baku produk industri. Saat ini, bulu kambing digunakan oleh sebagian kecil masyarakat misalnya dibuat karpet atau sajadah, sebagai benang pancing, serta biasanya bersama kulit dibuat frame kaligrafi dan samak bulu. Kebanyakan karpet atau permadani dibuat di negara Timur Tengah. Bulu kambing juga dapat dipintal dan dijadikan bahan baku tekstil seperti wool. Menurut Ernawati et al. (2008), serat bulu kambing biasanya dicampur dengan wool untuk mendapatkan efek khusus, misalnya untuk menambah keindahan, kadang juga dipakai untuk keperluan khusus, seperti untuk sikat. Serat bulu kambing yang biasa digunakan berasal dari serat mohair. Kegunan serat mohair diantaranya yaitu untuk kain berbulu (selimut), untuk pakaian musim panas, untuk kain rajut dan untuk kain penutup kursi dan permadani.
Bagi masyarakat suku Badui Arab, Persia, dan Anatolia, permadani menjadi benda yang sangat penting dalam kehidupan mereka, seperti untuk membuat tenda untuk melindungi diri dari badai pasir dan alas lantai yang nyaman bagi rumah tangga. Selain itu, permadani pun digunakan untuk menjadi hiasan dinding atau pembatas ruangan. Bahkan juga, di pakai sebagai selimut, tas, dan pelana kuda. Permadani pada dasarnya digunakan di dunia Islam sebagai alas lantai masjid dan rumah-rumah. Tak jarang, permadani pun digunakan sebagai hiasan dinding di istana-istana raja pada zaman keemasan Islam. Para seniman permadani Muslim pada zaman kejayaan Islam biasanya menggunakan bulu domba (wool), kambing, atau bulu unta sebagai bahan pembuatan permadani (Suara Media, 2009). Karpet yang terbuat dari serat alami atau hasil buatan tangan memang memberi nilai lebih. Menguatkan aksen lebih mewah, namun tetap natural. Sementara itu, bahan karpet yang menjadi incaran kaum papan atas yakni karpet berbahan sutra dan wool dari bulu domba, kambing, dan unta. Harga masing-masing karpet berbeda, tergantung jenisnya. Karpet dengan bahan wool dari bulu domba, kambing, dan unta atau sutra pintalan jauh lebih mahal dibandingkan dengan hasil buatan pabrik. Karpet handmade lebih unik dan berbeda. Di Jakarta, misalnya, karpet buatan tangan dibanderol seharga Rp 2 juta hingga ratusan juta rupiah (Sari, 2009).


Potensi Produksi Perbulan di Jawa Tengah


Hampir 60% populasi kambing yang berkembang di Indonesia terdapat di Pulau Jawa. Berdasarkan Ditjen Bina Produksi Peternakan tahun 2000, dari 15.209.720 ekor kambing di seluruh Indonesia, sekitar 8.783.890 ekor kambing berada di Pulau Jawa. Populasi kambing di Indonesia rata-rata meningkat 2,2-4,3% pertahunnya (Mulyono dan Sarwono, 2009). Berdasarkan Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan tahun 2004, populasi kambing di Jawa Tengah 2.985.845 ekor, Jawa Barat 1.304.433 ekor, D.I Yogyakarta 243.417 ekor, Jawa Timur 2.357.900 ekor, dan di Bali 62.014 ekor. Dalam 10 tahun ke depan diperkirakan populasi ternak ini akan meningkat menjadi 30-35 juta ekor. Sebagian besar usaha peternakan kambing ditujukan untuk memenuhi permintaan produksi daging. Pada tahun 2002, produksi daging kambing sekitar 50.991 ton atau setara dengan pemotongan sebanyak 3.642.214 ekor atau sekitar 27,92 % dari populasi. Produksi daging kambing pada tahun 2000-2004 cenderung terus meningkat, tetapi populasinya mengalami penurunan sebesar 2,28 persen pada tahun 1998 s/d 2002 (dari 13.342.074 ekor menjadi 13.044.938 ekor) (Anonim, 2010).
Salah satu jenis kambing yang ada di Jawa Tengah yaitu kambing peranakan Etawa sejumlah sekitar 300.000 ekor (pada bulan Juli 2010) yang dibudidayakan di Kaligesing, Purworejo (Biro Humas Provinsi Jawa Tengah, 2010). Ciri kambing PE antara lain berukuran besar, serta bobot dewasa rata-rata 40-45 kg (Mulyono dan Sarwono, 2009). Bulu tumbuh panjang di bagian leher, pundak, punggung dan paha, bulu paha panjang dan tebal. Warna bulu ada yang tunggal, putih, hitam dan coklat, tetapi jarang ditemukan. Kebanyakan terdiri dari dua atau tiga pola warna, yaitu belang hitam, belang coklat, dan putih bertotol hitam. Jenis kambing di Indonesia yang lain yang dapat dimanfaatkan bulunya yaitu kambing gembrong yang terdapat di Pulau Bali. Ciri khas dari kambing ini adalah berbulu panjang. Panjang bulu sekitar berkisar 15-25 cm, bahkan rambut pada bagian kepala sampai menutupi muka dan telinga. Rambut panjang terdapat pada kambing jantan, sedangkan kambing Gembrong betina berbulu pendek berkisar 2-3 cm (Pamungkas et al., 2009). Bobot badan kambing dewasa sekitar 32-45 kg (Mulyono dan Sarwono, 2009).
Berdasarkan keterangan diatas dapat diasumsikan jika berat bulu yang dihasilkan setiap pemotongan satu ekor kambing 3% dari bobot badan, bobot badan kambing PE rata-rata 42,5 kg, peningkatan populasi pertahun 3,25%, tiap pemotongan sekitar 27,92%, maka selama satu tahun pemotongan dapat dihasilkan bulu kambing dari kambing Peranakan Etawa di Jawa Tengah sebesar kurang lebih 3% x 42,5 kg x (27,92% x 309.750) = 110.265 kg. Jadi dalam 1 bulan kira-kira dapat dihasilkan 9.189 kg. Jika bulu kambing ini dapat dimanfaatkan mungkin bisa dihasilkan sekitar 3 buah karpet yang berukuran sedang.


Hambatan dalam Pengembangan sebagai Produk Industri


Hambatan dalam pengembangan produk bulu kambing misalnya dalam pembuatan karpet salah satunya yaitu keterbatasan modal, SDM belum terampil mengolah bulu kambing menjadi produk karpet, alat pemintal benang masih sedikit dan sederhana, ketersediaan bahan baku yang relatif sedikit sehingga ketersediaan benangnya terbatas, serta waktu pembuatannya yang lama. Hal tersebut menyebabkan harganya menjadi sangat mahal. Selain itu, masih sedikit atau belum ada pengusaha yang bergerak di bidang ini. Padahal terdapat banyak RPH di Jawa Tengah sehingga perlu pemasok di tiap kabupaten dan minimal ada 1 perusahaan yang menangani.


Proses Pengolahan Bulu Kambing


Cara pengolahan bulu kambing pada prinsipnya hampir sama dengan pengolahan bulu domba. Tahap-tahap pengolahan bulu kambing menurut Saleh (2004) meliputi:
1. Pencukuran bulu. Bulu kambing dicukur dengan gunting, kemudian hasil guntingan bulu dikumpulkan.
2. Penyortiran yaitu memisahkan bulu dari kotoran (feses), rumput, ranting, tanah dan lain-lain.
3. Pencucian. Pencucian bulu dilakukan tiga tahap, yaitu :
a. Perendaman. Bulu direndam dalam air selama 12 jam (satu malam), kemudian dibilas.
b. Pencucian dengan deterjen dilakukan dengan cara melarutkan 100 gram deterjen ke dalam 10 liter air kemudian merendam bulu selama 15 menit. Setelah itu diangkat dan dibilas dengan air bersih.
c. Pencucian dengan desinfektan, yaitu dengan melarutkan desinfektan (lisol atau densol) sebanyak 100 cc ke dalam 10 liter air. Kemudian mencelupkan bulu yang sudah dicuci dengan deterjen ke dalam larutan desinfektan. Setelah itu diangkat, diperas dan langsung dijemur.
4. Penjemuran. Bulu dihamparkan (tipis saja) di atas meja penjemuran dan dijemur selama 1-2 hari pada waktu yang cerah.
5. Pemisahan, dilakukan dengan cara menyobek-nyobek bulu yang masih menggumpal dengan kedua tangan sampai bulu menjadi terurai. Apabila gumpalan bulu tersebut sulit diuraikan, maka digunting dan dibuang saja.
6. Penyisiran, bulu diletakkan di atas sisir kemudian sisir diputar-putar sampai bulu tersebut terbentuk lembaran-lembaran tipis.
7. Pemintalan. Bulu yang sudah disisir dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam lubang benang alat pintal. Kemudian memutar roda dengan kaki terus menerus sampai terbentuk helai-helai benang. Setiap dua helai benang dipintal/digabung menjadi benang.
8. Pemutihan. Benang hasil pintalan perlu diputihkan, caranya dengan merebus air 2 liter sampai mendidih lalu masukkan 2 sendok (± 10 ml) H2O2 dan 2 sendok deterjen. Kemudian didihkan lagi dan memasukkan benang yang akan diputihkan, diaduk-aduk sampai berbusa (± 5 menit). Setelah itu diangkat dan dibilas dengan air sampai bersih, lalu dijemur.
9. Pewarnaan. Pewarnaan benang menggunakan pewarna tekstil, sesuai dengan warna yang diinginkan. Caranya dengan mencampurkan 10 liter air + 0,3 liter biang cuka + pewarna. Merebus benang dalam campuran pewarna tersebut selama 1 jam, lalu diangkat dan ditiriskan. Kemudian benang dicuci sekali lagi dan terakhir dikeringkan.
10. Pembuatan design. Design disesuaikan dengan barang kerajinan yang akan dibuat (misalnya: karpet, tas, hiasan dinding). Menggambar ukuran dan motif yang diinginkan, kemudian menentukan warna-warna pada motif yang diinginkan.
11. Penenunan.


Simpulan


Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa bulu kambing sebenarnya sangat potensial untuk dijadikan produk industri, misalnya karpet. Oleh karena itu perlu pengembangan produk industri dari bulu kambing secara optimal supaya mendapatkan keuntungan lebih, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain itu, perlu mengolah produk dari bulu kambing ini dengan sebaik-baiknya supaya dihasilkan produk yang berkualitas dan tidak kalah dengan produk impor. Namun, banyak hambatan dalam mengembangkan bulu kambing ini sebagai produk industri, seperti keterbatasan modal, SDM belum terampil, keterbatasan alat dan masih sederhana, ketersediaan bahan baku yang relatif sedikit sehingga ketersediaan benangnya terbatas, waktu pembuatannya yang lama, serta sedikit atau belum ada pengusaha yang bergerak di bidang ini.


Daftar Pustaka


Anonim. 2010. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kambing-Domba. (http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/files/0107L_KADO.pdf). Diakses tanggal 17 April 2011.
Biro Humas Provinsi Jawa Tengah. 2010. Wamentan Luncurkan Kambing Kaligesing. (http://promojateng-pemprovjateng.com/). Diakses tanggal 17 April 2011.
Ernawati, Izwerni, dan W. Nelmira. 2008. Tata Busana untuk SMK Jilid 2. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. (http://ictsleman.ath.cx/pustaka/bse/04_SMK-MAK/kelas11_smk_tata_busana_ernawati.pdf). Diakses tanggal 17 April 2011.
Mulyono, S. dan B. Sarwono. 2009. Penggemukan Kambing Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Pamungkas, F. A., A. Batubara, M. Doloksaribu, dan E. Sihite. 2008. Petunjuk Teknis Potensi Beberapa Plasma Nutfah Kambing Lokal Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Departemen Pertanian Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih, Sumatera Utara. (http://lolitkambing.litbang.deptan.go.id/juknisplasmanutfah.pdf). Diakses tanggal 17 April 2011.
Saleh, E. 2004. Teknologi Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. Program Studi Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara. (http://digilib.usu.ac.id). Diakses tanggal 17 April 2011.
Sari. I. 2009. Permadani Tak Sekadar Alas Kaki. (http://www.tempointeraktif.com). Diakses tanggal 17 April 2011.
Suara Media. 2009. Permadani, Buah Karya Peninggalan Kesenian Islam. (http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/7476-permadani-buah-karya-peninggalan-kesenian-islam.html). Diakses tanggal 17 April 2011.


sumber : alifahmj.blogspot.com

Monday, September 2, 2013

Limbah Pasar Untuk Pakan Kambing

Sampah merupakan limbah yang mempunyai banyak dampak pada manusia dan lingkungan antara lain kesehatan, lingkungan, dan sosial ekonomi. Salah satu sampah atau limbah yang banyak terdapat di sekitar kota adalah limbah pasar.

Limbah pasar merupakan bahan-bahan hasil sampingan dari kegiatan manusia yang berada di pasar dan banyak mengandung bahan organik.

Selama ini pengolahan sampah organik hanya menitikberatkan pada pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos, padahal sampah dapat dikelola menjadi bahan bakar/sumber energi dan pakan ternak yang baik. Hal ini akan lebih bernilai ekonomis dan lebih menguntungkan. Bila sampah organik langsung dikomposkan maka produk yang diperoleh hanya pupuk organik.

Namun bila diolah menjadi pakan, sampah tersebut dapat menghasilkan daging pada ternak dan pupuk organik dari kotoran ternak. Dengan demikian nilai tambah yang diperoleh akan lebih tinggi sekaligus dapat memecahkan pencemaran lingkungan dan mengatasi kekurangan pakan ternak.

Membuat pakan dari sampah antara lain dapat dimulai dari pemisahan sampah organik dan anorganik, dilanjutkan dengan pencacahan, fermentasi, pengeringan, penepungan, pencampuran dan pembuatan pellet.

sampah pasar yang banyak mengandung bahan organik adalah sampah-sampah hasil pertanian seperti sayuran, buah-buahan dan daun-daunan serta dari hasil perikanan dan peternakan.

Limbah sayuran adalah bagian dari sayuran atau sayuran yang sudah tidak dapat digunakan atau dibuang. Limbah buah-buahan terdiri dari limbah buah semangka, melon, pepaya, jeruk, nenas dan lain-lain sedangkan limbah sayuran terdiri dari limbah daun bawang, seledri, sawi hijau, sawi putih, kol, limbah kecambah kacang hijau, klobot jagung, daun kembang kol, ampas kelapa parut dan masih banyak lagi limbah-limbah sayuran lainnya.

Namun yang lebih berpeluang digunakan sebagai bahan pengganti hijauan untuk pakan ternak adalah limbah sayuran karena selain ketersediaannya yang melimpah, limbah sayuran juga memiliki kadar air yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan limbah buah-buahan sehingga jika limbah sayuran dipergunakan sebagai bahan baku untuk pakan ternak maka bahan pakan tersebut akan relatif tahan lama atau tidak mudah busuk.

Apakah mudah mendapatkan limbah pasar berupa sayuran organik ? memang tidak mudah, yang jelas harus koordinasi dengan penjual sayur-sayuran, kalau diizinkan alangkah idealnya kalau kita sediakan plastik besar atau pembungkus sampah tersebut, sehingga pedagang sayurnya pun tidak keberatan atau tidak perlu mengeluarkan modal lagi untuk beli tempat sampah sayurnya. Kita pun harus konsisten untuk mengambil sampah tersebut, karena kalau tidak konsisten pasti akan ditegur oleh penjual sayurnya, karena penjual sayurnya harus membuang sendiri sampahnya. Hal lain yang perlu disiapkan adalah kendaraan untuk mengangkut sampah organik dari pasar tersebut ke lokasi peternakan kambing.

Salah satu sampah organik yang banyak adalah ampas kelapa dari tukang penjual santan kelapa, apabila dalam 1 pasar terdapat 3 penjual santan kelapa saja, dipastikan kita akan mendapatkan 3 karung ampas kelapa seukuran 40kg, berarti 120kg ampas parutan kelapa, lumayan kan ..

Berangkat dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengolahan limbah sayuran pasar dengan benar, bisa digunakan secara maksimal untuk mensupport pakan pokok atau bahkan bisa digunakan sebagai pakan kambing khususnya pada penggemukan kambing.


Tuesday, August 20, 2013

Menentukan Umur Kambing Berdasarkan Gigi Kambing

Kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat. Pemeliharaannya yang mudah dan relatif sederhana serta peluang pengembangan yang tinggi menarik minat peternak baik dalam skala kecil di Pedesaan maupun yang telah diusahakan secara komersial untuk memilih ternak kambing sebagai ternak unggulan untuk dibudidayakan. Hal tersebut merupakan peluang yang harus didukung oleh semua pihak dalam upaya pengembangan ternak kambing khususnya dan pengembangan peternakan pada umumnya.


Ternak kambing dapat dibudidayakan sebagai usaha budidaya kambing potong maupun kambing perah. Kedua jenis ini jika dikembangkan memiliki peluang pasar yang tinggi. Daging kambing merupakan daging yang digemari oleh masyarakat, baik untuk dikonsumsi dalam bentuk sate, gulai maupun jenis makanan lain yang digemari oleh masyarakat. Mengkonsumsi daging kambing menurut sebagian besar masyarakat juga dapat meningkatkan stamina, sehingga dapat melancarkan aktivitas pekerjaan sehari-hari. Sebagian besar penduduk Indonesia yang beragama Islam semakin mendukung dikembangkannya usaha kambing ini, karena setiap hari raya kurban dibutuhkan ternak kambing dalam jumlah banyak.


Selain dibudidayakan sebagai kambing potong, ternak kambing juga sangat potensial untuk dikembangkan menjadi budidaya kambing perah. Saat ini permintaan susu kambing semakin meningkat seiring dengan semakin sadarnya masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi susu. Susu kambing meskipun memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan susu sapi, akan tetapi masyarakat tetap banyak yang mencarinya untuk dikonsumsi. Hal tersebut dikarenakan, susu kambing memiliki keunggulan dalam meningkatkan stamina, menjaga kesehatan tubuh dan dapat juga digunakan sebagai obat maupun manfaat-manfaat lain yang belum dilakukan penelitian lebih lanjut. Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan kambing yang saat ini sering dibudidayakan sebagai kambing perah. Oleh karena itu, harga kambing PE umumnya lebih mahal dibandingkan dengan kambing yang lain.


Gigi merupakan bagian yang berada di rongga mulut yang berguna untuk mengunyah makanan. Ternak juga sama halnya dengan manusia, yaitu mempunyai gigi yang membantu dalam proses pencernaan pakan. Pada ternak kambing, ada hal yang unik, yaitu gigi mengalami keterasahan dan erupsi secara kontinyu dengan karakteristik tertentu, sehingga gigi pada kambing dapat digunakan untuk menduga umur kambing jika tidak adanya catatan reproduksi maupun kelahiran dari kambing tersebut.


Jika kita amati perkembangan gigi seri pada kambing, akan dijumpai adanya gigi awal yang umumnya kita sebut dengan gigi seri susu. Setelah beberapa waktu gigi seri susu akan berubah menjadi gigi seri permanen dan gigi seri permanen ini akan mengalami keterasahan pada umur-umur tertentu, sehingga dapat digunakan untuk menduga umur ternak kambing. Edey (1993) mengemukakan bahwa susunan gigi seri permanen pada kambing yang sudah dewasa, yaitu sepasang gigi seri sentral, sepasang gigi seri lateral, sepasang gigi seri intermedial, sepasang gigi seri sudut pada rahang bawah, tiga gigi premolar dan tiga gigi molar.


Lebih lanjut Frandson (1993) menyatakan bahwa pendugaan umur kambing berdasarkan gigi seri yaitu sebagai berikut: (1) Jika pada kambing telah tumbuh sepasang gigi seri susu sentral, kambing berumur 1 hari sampai 1 minggu; (2) Sepasang gigi seri susu lateral, kambing berumur 1 – 2 minggu; (3) Sepasang gigi seri susu intermedial, kambing berumur 2 – 3 minggu; (4) Sepasang gigi seri susu sudut, kambing berumur 3 – 4 minggu; (5) Sepasang gigi seri susu sentral digantikan oleh sepasang gigi seri permanen sentral, kambing berumur 1 – 1,5 tahun; (6) Sepasang gigi seri susu lateral digantikan sepasang gigi seri permanen lateral, kambing berumur 1,5 – 2,5 tahun; (7) Sepasang gigi seri susu intermedial digantikan sepasang gigi seri permanen intermedial, kambing berumur 2,5 – 3,5 tahun; (8) Sepasang gigi seri susu sudut digantikan sepasang gigi seri permanen sudut, kambing berumur 3,5 – 4 tahun.


Friday, August 16, 2013

Jenis Kambing Potong

Diperkirakan terdapat 300 bangsa kambing di seluruh dunia yang tersebar di daerah tropis maupun subtropics. Kambing-kambing tersebut dikelompokkan berdasarkan daerah penyebaran dengan disertai petunjuk produktivitas, karakteristik, dan potensinya. Biasanya bangsa kambing yang diternak untuk penghasil daging, kulit, dan bulu yang baik, hasil susunya sangat rendah.

Disebut kambing potong unggul bila memiliki cita rasa daging yang banyak disukai dan perkawinannya tak kenal musim sehingga produksi dagingnya dapat dikelola sepanjang tahun. Namun, yang lebih utama adalah sifatnya prolific (beranak kembar). Dengan jumlah anak per kelahiran yang selalu kembar, maka akan cepat menghasilkan populasi anak yang banyak. Jika pembesaran kambing potong disertai dengan manajemen pemeliharaan yang baik, produksi dagingnya pun akan lebih banyak
.
Berikut ini beberapa bangsa kambing yang potensial dikembangkan untuk ternak potong penghasil daging. Beberap di antaranya juga sebagai penghasil kulit dan bulu yang mahal harganya.

1. Kambing angora

Kambing angora asli berasal dari daerah Asia Tengah. Kambing ini merupakan persilangan antara Capra aegagrus dengan Capra fasconeri. Dipelihara terutama untuk produksi mohair yaitu bulu kambing yang halus selembut sutera dan daging. Meskipun merupakan penghasil bulu, kambing ini dapat pula dikembangkan menjadi ternak penghasil daging. Bobot kambing jantan dewasa sekitar 55 – 80 kg, sedangkan betina sekitar 35 – 45 kg. Kambing angora bisa hidup dengan baik di daerah tropic yang keadaannya kering.


2. Kambing achondroplastik

Ternak ini tergolong kambing kerdil berkaki pendek. Tingginya sekitar 50 cm, dan berat kambing dewasa sekitar 20 kg. penyebarannya terdapat di dekat jalur hutan  dan savana Afrika Barat dan Afrika Tengah. Kambing ini sangat baik diternakkan di daerah tropis yang berhawa lembap karena mudah sekali menyesuaikan diri dengan iklim setempat dan tahan terhadap trypanosomiasis.
Kambing kerdil ini merupakan kambing pedaging dengan mutu daging yang baik. Bila dipelihara dengan baik mudah sekali menghasilkan anak kembar dua atau tiga. Perkawinan hamper tak mengenal musim karena bisa terjadi sepanjang tahun. Namun, pertumbuhan tubuhnya lambat.



3. Kambing bari

Ternak ini tergolong kambing kecil. Banyak terdapat di daerah Sind (Pakistan). Kambing dewasa rata-rata beratnya 20 – 30 kg. Berat karkas 10 – 14 kg. Keunggulannya bersifat prolifik, yaitu setiap kelahiran biasanya beranak kembar 2 – 3 ekor. Meskipun kambing ini tergolong kecil, tetapi sangat cocok dikembangkan menjadi ternak kambing penghasil daging.

4. Kambing benggala hitam

Kambing benggala hitam tergolong kambing kecil. Kambing ini tersebar luas di Assam dan Bangladesh bagaian utara. Bobot dewasa kambing pejantan hanya sekitar 13 kg dan betina 9 kg. Kambing ini terkenal sebagai black bengal.
Kambing ini merupakan ternak penghasil daging dengan produksi susu yang sangat sedikit. Kambing ini menghasilkan dagingnya yang sangat enak, lezat, dan lunak. Potensinya sangat besar untuk dikembangkan sebagai kambing potong. Mutu kulitnya sangat bagus dan banyak digunakan bahan untuk membuat sepatu.

5. Kambing bligon

Kambing bligon atau gumbolo alias jawa randu merupakan keturunan kambing ettawa dengan kambing kacang. Namun, persentase darah kambing  kacang lebih tinggi, yaitu lebih dari 50%. Kambing ini memiliki moncong yang lancip, telinga tebal dan lebih panjang dari kepalanya, leher tidak bersurai, sosok tubuh terlihat tebal, dan bulu tubuhnya kasar.
Pemeliharaan kambing ini sangat mudah karena menyukai pakan jenis apa saja, termasuk rumput-rumputan lapangan. Selain itu, anak yang dilahirkan cepat besar sehingg sangat tepat kalau dipelihara untuk kambing potong. Jenis kambing ini banyak tersebar di pantai utara Jawa seperti Cirebon dan Semarang, juga banyak dipelihara di daerah Gunung kidul, Yogyakarta.


6. Kambing creolo

Kambing creolo merupakan ternak penghasil daging yang sangat popular di Amerika Latin dan Tengah. Memiliki kemampuan hidup di daerah yang sangat kering. Bulunya tipis, pendek, dan berwarna hitam atau cokelat, sering kali terdapat bercak-bercak putih. Tanduknya melengkung dan telinga pendek serata tegak. Kambing jantan memeliki janggut, sedangkan betina tidak memiliki janggut. Tinggi gumba jantan sekitar 75 cm dan betina sekitar 65 cm. Berat hidup kambing dewasa rata-rata 40-60 kg dengan tubuh yang gempal. Jumlah anak per kelahiran 1-2 ekor.

7. Kambing gaddi

Kambing ini disebut juga kambing dwiguna karena merupakan penghasil daging sekaligus bulu. Ia tergolong dalam kambing berambut panjang. Bisa menghasilkan 0,5-1 kg rambut kasar per ekor  dengan panjang 17-25 cm. Kambing gaddi dinamakan juga kambing himachal pradesh. Kambing ini banyak terdapat di daerah pegunungan India Utara dan Pakistan.

8. Kambing kacang

Kambing kacang merupakan kambing potong yang sangat prolifi, yaitu sering melahirkan anak kembar. Kelahiran kembar dua merupakan hal biasa. Bahkan, kadang-kadang melahirkan anak kembar tiga. Kambing ini dapat berkembang biak sepanjang tahaun sehingga sangat cocok dikembangkan untuk kambing potong.

a. Kambing kacang indonesia

Kambing kacang merupakan kambing local Indonesia yang tersebar luas terutama di Jawa. Kambing ini memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap pakan berkualitas rendah dan lingkungan ekstrem.

Kambing jantan dewasa memiliki tinggi sekitar 60-65 cm dengan bobot rata-rata 25 kg. untuk kambing betina dewasa memiliki tinggi sekitar 50-56 cm dengan bobot rata-rata sekitar 20 kg. Kambing betina pertama kali beranak pada umur 12 – 13 bulan. Namun, produksi susunya masih sedikit. Rata-rata bobot lahir kambing kacang sekitar 3,28 kg. Total bobot sapih (umur 90 hari) adalah 10,12 kg. Kemampuan hidup saat lahir adalah 100% dan kemampuan induk melahirkan anak kembar dua sekitar 52,2%, kembar tiga 2,6%, dan tunggal 44,9%.

Kambing kacang jantan muda mencapai dewasa kelamin mulai umur 20-23 minggu atau 135-173 hari. Kamibng betina mulai dewasa kelamin pada umur 153-454 hari atau rata-rata umur 307,72 hari. Angka pemotongan kambing kacang tergolong tinggi di Indonesia, terutama untuk produksi daging. Persentase karkasnya sekitar 44-51%..



b. Kambing kacang malaysia

Kambing kacang malaysia umumnya berwarana hitam, tetapi kadang-kadang terdapat beberapa bercak putih di tubuhnya. Tanduk berbentuk pedang melengkung ke atas dan belakang, baik pada kambing jantan maupun betina. Telinganya pendek dan tegak. Janggut terdapat pada yang jantan sangat jarang pada betina. Tinggi gumba jantan antara 60-65 cm dan betina sekitar 56 cm. bobot jantan dan betina dewasa rata-rata  25 kg dan 20 kg. Produksi susunya sedikit, sehingga lebih cocok dikembangkan menjadi ternak panghasil daging. Persentase karkasnya berkisar antara 44-51%.

c. Kambing kacang filipina

Kambing kacang filipina memiliki tinggi gumba rata-rata 50-60 cm dengan berat sekitar 30 kg. Tubuhnya berwarna hitam, cokelat, putih, atau campuran dair warna tersebut. Memiliki bulu kasar, berjanggut, dan bertanduk pedang. Beranak pertama kali pada umur 12-13 bulan dan biasanya melahirkan anak kembar dua.

d. Kambing kacang fiji

Kambing kacang fiji merupakan kambing kecil berbulu pendek. Bulunya berwarna kombinasi putih, hitam, cokelat, dan abu-abu. Jantan dan betina bertanduk, tetapi ada juga yang dungkul (tak bertanduk). Rata-rata tinggi gumba 58-66 cm. bobot jantan dan betina masing-masing  25 kg dan 20 kg. Interval beranak sekitar 262 hari. Kambing ini sering melahirkan anak kembar dua.

e. Kambing kacang marica

Kambing marica merupakan kambing kecil berbulu pendek yang terdapat di Sulawesi. Kambing ini memiliki penampilan yang mirip sekali dengan kambing kacang yang terdapat di Jawa. Namun, ukuran fisiknya lebih kecil dan tidak bertanduk.

9. Kambing Kashmir

Kambing ini tergolong ternak pegunungan. Sangat cocok hidup di daerah pegunungan Asia Tengah seperti Tibet, Mongolia Dalam, Kashmir, Iran, Turki, Kurdistan, Khirghizia, dan daerah sekeliling Rusia. Ia mampu hidup di daerah kering pada ketinggian 3.600-4.200 m dpl. Berat jantan dewasa sekitar 60 kg dan betina 40 kg untuk kambing asal Mongolia Dalam. Kambing ini merupakan keturunan langsung dari kambing liar Capra falconeri. Kambing gembrong yang terdapat di Bali diduga merupakan keturunan kambing Kashmir.

Kambing Kashmir yang berwarna putih dapat menghasilkan bulu 123 g/ekor/tahun. Kambing Kashmir hitam menghasilkan  bulu 175-200 g/ekor/tahun. Kambing putih bila dipelihara di tempat yang memiliki suhu tinggi atau rendah akan hidup merana. Namun, untuk kambing hitam lebih tahan dhidup di daerah ekstrem. Selain bulu, kambing ini juga menghasilkan daging dan kulit.

10. Kambing kerdil dan cina selatan

Kambing ini tergolong kambing kerdil daerah tropic lembap. Berat jantan dewasa sekitar 30 kg, sedangkan betina hanya 25 kg. Tergolong sebagai kambing pedaging karena hasil susunya sangat sedikit, yaitu hanya 0,5 kg per hari. Ternak ini sangat sering melahirkan anak kembar dua.

11. Kambing kecil afrika timur

Kambing kecil ini daerah Afrika Timur dan banyak dipelihara sebagai ternak penghasil daging dan kulit. Penampilannya mirip kambing kacang yang terdapat di Indonesia. Warna bulunya bermacam-macam, tetapi rata-rata berambut pendek. Tanduknya kecil. Berat kambing dewasa rata-rata 30 kg. Keunggulan kambing ini sangat prolific, yaitu sering melahirkan anak kembar.

12. Kambing maxoto

Kambing ini dikenal pula dengan sebutan kambing nungfing. Banyak diternak di Brazil bagian timur laut. Kambing ini diperkirakan berasal dari keturunan portugis charnequeiro varietas elentejo, yaitu kambing potong yang sangat populer di Portugis dan Spanyol. Kambing maxoto memiliki bulu berwarna cokelat mudah atau cokelat kelabu kuning dengna garis-garis hitam di punggung dan perut. Warna bulu muka dan kaki hitam. Hewan ini diternaka untuk diambil kulit dan dagingnya.

Berat kambing dewasa rata-rata 32 kg. Induk betina bisa melahirkan tiga kali dalam dua tahun dan hampir 90% selalu melahirkan kembar.

13. Kambing sahel

Kambing ini paling cocok dikembangkan di daerah padang pasir yang kering, seperti di Sudan dan Afrika Barat. Keunggulannya tahan panas dan lingkungan yang sangat kering seperti sabana di pinggiran Gurun Sahara. Kambing ini merupakan ternak penghasil daging dan kulit berkualitas tinggi disertai rambut yang pendek, tetapi halus.

14. Kambing salt range

Penyebaran kambing ini meliputi daerah barat laut Pakistan, Rawalpindi, dan Mianwali. Kambing ini unggul dalam menghasilkan daging dan bulu yang berambut panjang. Berat pejantan bisa mencapai 40 kg. Kambing salt range yang berumur satu tahun, berat karkasnya bisa mencapai 15-20 kg. hasil bulu per tahun mencapai 0,5-1 kg per ekor.

15. Kambing sirli

Jenis kambing ini banyak terdapat di daerah barat laut Pakistan. Penyebaran ternak terutama di daerah pegunungan berat kambing dewasa sektiar 35 kg. memiliki ukuran rambut panjang yang mencapai sekitar 25 cm.

16. Kambing somali

Kambing somali hampir semuanya berbulu putih halus. Kambing jenis ini tergolong sebagai penghasil daging dan kulit. Keunggulannya berkulit tipis, tetapi mutunya bagus. Berat kambing berkisar antara 20-30 kg. Kambing ini banyak terdapat di Somalia, Afrika Timur.

17. Kambing spanish

Kambing spanish atau La Mancha berasal dari Spanyol. Ternak ini memiliki ciri khas, yaitu telinganya sangat pendek atau hampir tidak berdaun telinga. Berat jantan dewasa sekitar 55-80 kg dan betina 35-40 kg. Warna bulu bermacam-macam dan berbulu pendek. Kambing ini sangat tangguh dan mampu beradaptasi terutama untuk produksi daging. Keunggulannya memiliki fisiologis reproduksi yang sangat khas, yaitu dapat berkembangbiak pada musim gugur hingga musim dingin dalam setahun. Hal ini memungkinkan kambing dapat beranak dan memproduksi daging sepanjang tahun di daerah subtropis

Tuesday, August 13, 2013

Obat Tradisional untuk Penyakit Kambing

Obat Tradisional untuk Penyakit Kambing

Ternak kambing atau domba merupakan ternak yang banyak dipelihara di pedesaan. Masalah yang sering dijumpai dan dirasakan oleh peternak adalah serangan penyakit yang sangat merugikan peternak karena dapat menghambat pertumbuhan, reproduksi, bahkan kematian ternak.

Bagi peternak kambing di pedesaan untuk mengobati ternak yang sakit sering mengalami kesulitan, karena keterbatasan persediaan obat ternak yang ada di toko obat ternak dan harga obat yang terlalu mahal, sehingga sulit terjangkau oleh peternak.

Untuk mengatasi hal tersebut, perlu pengobatan dengan cara lain yaitu dengan menggunakan obat tradisional kambing yang ada dan dapat dilakukan peternak serta harganya murah.
Namun demikian usaha pencegahan juga perlu dilakukan dengan menjaga kebersihan ternak dan lingkungannya, pemberian pakan yang cukup (kualitas dan kuantitas), bersih dan tidak beracun.

Ada beberapa  penyakit yang sering menyerang ternak kambing dan penyakit ini dapat diobati secara tradisional diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Scabies (Kudis)

Penyebab:

Parasit yang terdapat pada kotoran yang terjadi karena kandang kotor dan ternak tidak pernah dimandikan.

Tanda- tanda:


    Kerak – kerak pada permukaan kulit terutama kulit yang jarang bulunya
    Ternak selalu menggesekan bagian kulit yang terserang kudis
    Kerontokan bulu, kulit menjadi tebal dan kaku


Pengobatan :
  1. Dengan melaksanakan pencukuran bulu sekitar daerah terserang,
  2.  Mandikan ternak dengan sabun sampai bersih, kemudian jemur sampai kering.
  3.  Setelah kering dapat diobati dengan menggunakan:
a. Belerang dihaluskan, dicampur kunyit dan minyak kelapa, kemudian dipanaskan dan digosokkan          pada kulit yang sakit
b. Belerang dihaluskan dan dicampur dengan oli bekas dan digosok pada bagian kulit yang sakit.
c.  Kamper / kapur barus digerus, dicampur minyak kelapa dan dioleskan pada bagian kulit yang sakit.

Pencegahan:


    Ternak yang berpenyakit kudis tidak boleh bercampur dengan ternak yang sehat.
    Ternak yang baru dibeli harus bebas dari penyakit kudis
    Mandikan ternak dua minggu sekali.
    Bersihkan kandang seminggu sekali.


2. Belatungan ( Myasis )

Penyebab:

Luka daerah yang berdarah diinfeksi oleh lalat sehingga lalat berkembangbiak (bertelur) dan menghasilkan larva belatung.

Tanda-tanda:


     Adanya belatung yang bergerak-gerak pada bagian yang luka
     Bila belatungan pada kaki/teracak maka ternak terlihat pincang.


Pengobatan:


     Bersihkan luka dari belatung, kemudian obati dengan gerusan kapur barus atau tembakau.
     Luka dibungkus dengan kain/perban untuk melindungi dari terjadinya luka baru atau kotoran.
     Pada hari berikutnya luka dibersihkan, pengobatan diulang dan dibungkus kembali.
     Bila belatung sudah terbasmi, pemberian yodium tinctur dapat dipakai untuk    mempercepat   pertumbuhan


3. Cacingan

Penyebab:

Bermacam-macam cacing terjadi karena kandang yang kotor atau padang pengembalaan yang kotor.

Tanda-tanda:
- Kurus, bulu agak berdiri dan tidak mengkilap
- Sembelit atau mencret
- Lesu dan pucat
- Daerah rahang terlihat membengkak
- Mati mendadak

Pengobatan:


     Tepung buah pinang dicampur dengan nasi hangat dikepal-kepal kemudian dipaksakan untuk  dimakan ternak. Ternak dianjurkan untuk dipuasakan terlebih dahulu.
     Daun kelor yang tua dibakar, kemudian debunya dicampur air dan diminumkan. Pengobatan diulangi  satu minggu kemudian.


Pencegahan:

     Kandang dibuat panggung dan bersih
     Pengaritan rumput setelah panas yaitu pada jam 12.00-15.00 atau pengembalaan ternak pada siang  hari jam 10.00-15.00.
     Jangan menggembalakan ternak pada daerah rawa, sungai dan sawah.


4. Keracunan Tanaman

Penyebab:

Ternak memakan rumput-rumputan atau daun-daunan yang mengandung zat racun.

Tanda-tanda:


    Mati mendadak, mulut berbusa, kebiruan pada selaput lendir, pengelupasan kulit/eksim atau terjadi pendarahan.


Pengobatan:


     Cekoklah ternak dengan air kelapa muda.


Pencegahan:


    Tidak memberikan tanaman beracun atau menggembalakan ternak di daerah yang banyak tumbuh tanaman yang mengandung racun.

Sumber :epetani.deptan.go.id



Silahkan mampir ke website saya www.AngkringanNasiKucing78.com, dapatkan informasi mengenai bisnis murah beromzet jutaan

Monday, August 12, 2013

Jerami Fermentasi, Pakan Pengganti Hijauan


" Kelompok Peneliti Fakultas Kedokteran Hewan melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan reproduksi dan aplikasi hasil diseminasi teknologi tepat guna berupa

pemanfaatkan jerami fermentasi atau fermentasi jerami sebagai pakan kambing. Kegiatan program pendampingan peningkatan kualitas dan kapasitas ternak ini diterapkan pada kelompok ternak "Sidodadi", dusun Kepuh kulon, Wirokerten, Banguntapan, Bantul.

Dr. drh. Yanuartono, MP mengatakan pemanfaatan pakan jerami fermentasi ditujukan untuk membantu peternak yang kesulitan mendapatkan pakan hijauan di saat musim kemarau. Selain itu, petani diajak untuk memanfaatkan limbah jerami yang melimpah saat musim panen padi tiba. "Yang terpenting peternak tidak mengalokasikan waktunya lagi untuk mencari rumput, dan bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk bekerja lainnya," kata Yanuar, ditemui dalam sela-sela penyuluhan, Jumat (3/8).

Dia menerangkan pembuatan pakan fermentasi dibuat dengan cara cukup sederhana. Mencampur jerami kering dengan polar dengan perbandingan 10 : 2, serta ditambahkan air secukupnya. Campuran jerami dan polar ini dimasukkan ke dalam tabung untuk dilakukan fermentasi selama satu minggu. "Pakan fermentasi ini siap dipanen, ditandai dengan aroma yang harum dan tekstur tidak berubah " katanya.

Pakan ini menurut Yanuar mempercepat penyerapan sari makanan dalam tubuh kambing. Pasalnya, kambing membutuhkan waktu fermentasi terhadap seluruh makanan yang ditampung di dalam rumen. "Justru pakan alternative ini, fermentasi sudah dilakukan lebih dulu," katanya.

Drh. Erif Maha Nugraha, dalam penyuluhan kepada 23 peternak menerangkan jumlah pemberian pakan pada kimbing tiap harinya minimal 10 persen dari total berat badan. Bila pakan yang diberikan kurang dari 10 persen maka akan berisiko mengganggu sistem kesehatan reproduksi kambing. "Jika pemberian pakan susah, yang rusak sistem reproduksinya," kata dosen bagian Obsgin FKH UGM ini.

Hartono, 35 tahun, salah satu peternak, mengatakan hasil pendampingan yang dilakukan dari peneliti FKH UGM tersebut sudah berjalan selama tiga tahun. Beberapa hasil pemanfaatan teknologi tepat guna sudah dimanfaatkan langsung oleh peternak. Diantaranya pemeriksaaan kesehatan rutin, pemanfaatan limbah kotoran ternak untuk diolah menjadi biogas dan pupuk organik. "Biogas sudah kita manfaatkan untuk dapur kandang ternak," katanya.

Sementara untuk pakan fermentasi baru mulai dikenalkan. Menurutnya pakan tersebut dinilai cukup membantu dalam pemberian pakan alternatif ternaknya."Ternyata ternak suka dan lahap, kini saya rutin membuatnya," katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

sumber : UGM.ac.id







Mensinergikan Petani dan Peternak Dengan Usaha Penggemukan Kambing


Pengembangan bidang peternakan perlu mendapat perhatian serius mengingat permintaan daging belum dapat dipenuhi di dalam negeri. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya produktivitas ternak karena kualitas pakan yang sangat rendah. Selain, itu masih rapuhnya industri pakan di Indonesia, sehingga menyebabkan tingginya ketergantungan terhadap pakan yang berbahan baku impor.

Demikian yang disampaikan Inspektur Jenderal Departemen Pertanian Prof. Dr Ir Zaenal Bachruddin, M.Sc dalam Seminar Nasional "˜Kearifan Lokal dalam Penyediaan serta Pengembangan Pakan dan Ternak di Era Globalisasia ", Jumat (27/7) di Fakultas Peternakan UGM.

Menurut Zaenal, salah satu solusi yang ditawarkan adalah penerapan sistem integrasi tanaman ternak dengan melakukan sinergisme yang saling menguntungkan antara petani dan peternak.

"Petani bisa memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik, sebaliknya peternak memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak yang berasal dari limbah padi, jerami, jagung dan limbah kacang-kacangan," ujar Zaenal.

Zaenal memaparkan beberapa contoh sinerjisitas dalam penyediaan pakan melalui pertanian terpadu berbasis peternakan diantaranya, pemanfaatan pakan limbah jagung dan kedelai untuk ternak babi di Sumatera Utara, pemanfaatan lumpur sawit untuk pakan unggas yang dihasilkan melalui daur ulang biomas di Kalimantan Tengah, pembudidayaan jangkrik untuk pakan ikan dan burung dengan menggunakan pakan dari limbah wortel, daun pepaya dan jagung muda di Provinsi Riau, serta pembudidayaan keong emas untuk pakan itik yang diberi makanan berbasis ikan di Kalimantan Selatan.

Lebih jauh dikatakan oleh Zaenal, upaya untuk meningkatan inovasi penyediaan pakan ternak perlu dipertimbangkan aspek pemberdayaan berbagai sumberdaya yang tersedia di daerah-daerah.

"Hal ini dimaksudkan agar potensi yang ada ada di daerah tertentu dapat dipergunakan secara optimal sehingga dapat mengurangi risiko penggunaan dana yang berlebihan," tuturnya.

Prof Zaenal menekankan bahwa pengembangan inovasi penyediaan pakan ternak memiliki peranan strategis bagi masyarakat pedesaan, karena limbah ternak juga penghasil pupuk organik dan sangat baik untuk meningkatkan produksi pertanian. (Humas UGM)

sumber : UGM.ac.id






Friday, August 9, 2013

Menimba Sukses Dari Pemuda Jutawan Domba

Jakarta (ANTARA News) - Tahu tidak serial kartun Shaun The Sheep yang tokoh utamanya seekor domba yang lucu?  Di situ, Shaun dan kawan-kawan domba cerdik, berhasil menghibur tuan mereka bahkan pemirsanya.

Tapi bagaimana jika domba-domba itu membuat tuannya menjadi pengusaha sukses nan jutawan?

Adalah seorang mahasiswa Fakultas Tehnik dari Universitas Indonesia yang menjadi jutawan muda gara-gara domba-domba itu. Andi Nata namanya.

Dia digadang-gadangkan sebagai jutawan  dan pengusaha muda nan sukses. Umurnya baru kurang seperempat abad, tapi omset yang dikuasainya..wow..puluhan juta rupiah sebulan!

7 Januari lalu Andi barulah genap berusia 23 tahun.  Tapi usaha domba dimulainya pada 2008. Bermodalkan Rp8 juta, Andi memulai usahanya dengan membeli lima ekor kambing. Empat betina dan seekor jantan. Mulailah dia menjadi entrepreneur.

“Uang sebesar Rp8 juta itu saya boleh pinjam dari kerabat,” katanya.

Mengenang masa pahit yang mengawali kebangkitannya, Andi mulai bercerita kepada Antara News.

“Semua berawal ketika ayah saya mengalami kecelakaan dan membutuhkan biaya pengobatan sekitar Rp30 juta,” kenang Andi dengan mata menerawang masa lalu.

Biaya pengobatan ayahnya yang mahal, membuat Andi memutar otaknya dengan keras untuk mendapatkan biaya pengobatan sang ayah.

Kala itu, Andi yang baru saja masuk kuliah, sudah  mencari penghasilan sendiri dengan memberikan kursus privat kepada murid-murid SMA.  Ia membantu mereka belajar  Fisika dan Matematika, dua mata pelajaran yang dia kuasai dengan baik.

“Selama tiga bulan mengajar, saya pontang panting kurang tidur, saya menghasilkan sekitar Rp12 juta. Jelas itu tidak cukup untuk menutup biaya perawatan Ayah.”

Awalnya tak mulus

Pribadi Andi yang supel membawanya berkenalan dengan seorang peternak kambing dan domba. Si pengusaha asal Jawa Tengah inilah yang mengajari Andi cara beternak domba dan kambing.

Dari peternak yang tak mau ia sebutkan namanya itulah, Andi mendapat insipirasi untuk menjadi pengusaha domba dan kambing.

Lima ekor kambing yang Andi beli, 15 ekor anak kambing kemudian didapatkannya. “Saya hanya berusaha mengembangbiakan kambing-kambing saya,” katanya.

Awal usahanya tak berjalan mulus. Beberapa anak kambingnya mati.  Dia menduga, ini karena salah perawatan. Sisa kambing yang lain dia jual sebagai hewan kurban, menjelang Idul Adha.

Hasil penjualannya ia belikan lagi kambing dan domba yang lalu ia ternakkan. Kemudian, dia kembali jual. Begitu seterusnya, sampai Andi berhasil meraih omset yang kian waktu kian besar.

Demi meningkatkan usahanya, Andi bekerjasama dengan beberapa petani di Cirebon, Garut, Wonosobo dan beberapa wilayah lain di pulau Jawa.

Pendekatan-pendekatan kekeluargaan ia coba untuk menumbuhkan kesalingkepercayaan antara dia dan mereka.  Itu penting, katanya. Apalagi beberapa kali dia rugi hingga jutaan rupiah akibat dibohongi sejumlah petani rekanannya.

“Saya sering datang ke tempat petani-petani itu. Saya bawakan martabak. Yaah, hitung-hitung 'sogokan kecil' untuk meningkatkan persaudaran,” kata Andi, lalu tawa terkekeh geli.

Terus belajar

Jiwa muda yang menggebu dikelola dengan benar oleh Andi untuk dapat terus berusaha dan mengejar ketinggalan, baik dalam soal akademis maupun bisnis.

Sempat tertinggal dalam soal akademis, dia akhirnya mampu mengejar ketertinggalannya itu. Kini ia sudah hampir paripurna sebagai mahasiswa strata satu, bila berhasil merampungkan skripsinya.

Berhasil mengejar prestasi akademis, berhasil pula dalam berusaha.  Ia tak mau kalah dan pantang lagi merugi.

Ilmu usaha terus ditimbanya.  Berbagai lokakarya, kursus dan kuliah singkat dia ikuti. Kemampuannya dalam melobi dan bergaul juga menjadi salah satu rahasia kesuksesannya. “Bagi saya, percuma bila seorang pengusaha hanya pandai dalam berinovasi. Pengusaha juga harus pandai bergaul dan menjalin relasi."

Menurutnya, relasi dalam berusaha tak kalah penting dari tawaran inovasi.

Tak peduli dengan atau dari siapa belajar, Andi menyerap apa pun ilmu di sekelilingnya. Dari mantan manajer restoran cepat saji, hingga seorang ibu penjual gulai yang memberinya ide lain.

Dari si ibu, Andi mendapat ilham usaha katering untuk aqiqah atau acara-acara yang menginginkan menu gulai atau sate, serta kambing atau domba guling.

Kian makmur

Di usia 23 tahun, sudah 20 orang karyawan bekerja padanya.  Ini ditambah empat rumah, satu mobil pikap, satu mobil pribadi, dan lebih dari tujuh unit motor. 

Setiap tahun omsetnya semakin meningkat.

“Belajar dari kegagalan, jangan lalu putus asa. Belajar dan meningkatkan kemampuan diri itu penting demi mengembangkan usaha,” katanya.

Kemampuan bisnisnya itu diakui banyak pihak. Beberapa perusahaan besar memberinya penghargaan, sebagai pengusaha muda sukses dan inspiratif.

“Saya belum puas dengan apa yang saya capai. Saya masih ingin terus mengembangkan usaha, bukan hanya untuk saya, tapi untuk menambahkan peluang kerja,” kata Andi yang ingin usahanya membawa berkah bagi sebanyak mungkin orang.

“Target saya, tahun 2012 ini saya mampu mencapai omset hingga 5,4 miliar rupiah,” ujar Andi yang menamai perusahaannya Farm Maju Bersama.

Jumat kemarin, bersama 25 pengusaha muda lainnya, Andi dinobatkan sebagai wirausahawan muda terbaik dalam  Mandiri Young Technopreneur 2011. (*)

Editor: Jafar M Sidik


Andi Nata

Para pembaca yang budiman, silahkan mampir ke website saya ya di www.AngkringanNasiKucing78.com

CARA MEMILIH CALON BIBIT TERNAK DOMBA DAN KAMBING YANG BAIK

CARA MEMILIH CALON BIBIT TERNAK DOMBA DAN KAMBING YANG BAIK


Tanda – tanda ternak domba dan kambing jantan yang baik untuk dijadikan bibit yaitu :

-     Memiliki tubuh besar (sesuai umurnya), sehat, relatif panjang dan tidak cacat.

-     Memiliki dada dalam yang lebar, karena akan berpotensi menampung daging

-     Memiliki kaki lurus dan kuat.

-     Memiliki tumit yang tinggi.

-     Memiliki penampilan yang gagah.

-     Memiliki nafsu kawinnya yang aktif dan besar.

-     Memiliki buah zakar yang normal (2 buah yang sama besar dan kenyal).

-     Memiliki alat kelamin kenyal dan dapat berereksi.

-     Memiliki bulu yang bersih dan mengkilat.

-     Sebaiknya berasal dari keturunan yang kembar.







Sumber : http://epetani.deptan.go.id


Monggo sekalian mampir ke website saya ya : www.AngkringanNasiKucing78.com


Tuesday, July 30, 2013

Kambing Sekolah dan Sekolah Kambing

Mbekkkk...mbekk... hehhe hampir semua orang tua akan memperagakan suara kambing ke anaknya yang masih balita ( mungkin hanya orang kuayaa raya yang tidak mempraktekkan suara kambing, tau-tau dari lahir anaknya di kalungi gadget  ). Anak anak dari usia balita sudah mengerti mengenai kambing, mulai bentuk bulunya, tanduknya, suaranya bahkan tidak sedikit pula yang sudah pernah memberi makan kambing.


Apakah anak-anak balita khususnya yang berada di kota besar, yang dahulu pernah memberikan makan kambing sekarang mau berdekatan dan bergumul dengan kambing ??? kalau boleh jujur 90% akan menolak berdekatan dengan kambing dan 10% sisanya baru mau, itupun sebagian dengan terpaksa. 

Selain bau pesing air seni kambing, pengelolaan peternakan kambing yang masih tradisional, serta tidak adanya inovasi inovasi baru yang sering di up date di media masa yang membuat kambing beserta peternakannya di tinggalkan anak-anak muda Indonesia. Anak-anak muda ini hanya mau makan sajian kuliner dari kambing saja, seperti sate kambing, sop kambing, gulai kambing dll. Namun kalau menilik sejarah, sebagian besar generasi muda Indonesia,  mereka bisa sekolah karena orang tuanya memelihara kambing dan menjualnya untuk keperluan sekolah.

Kambing dimata para peternak adalah harta yang bisa berkembang, liquid dan tentu saja low cost. Kambing dijadikan modal untuk melakukan transaksi besar, misalnya untuk bayar biaya masuk sekolah, untuk nyunatin anak, untuk gelar hajatan nikahan anak, untuk dijual kalau anak mau merantau dll, dasyat kan ??? Posisi kambing sebenarnya sejajar dengan benda perhiasan seperti emas.

Apakah kambing bisa membantu anak-anak di Indonesia untuk terjamin masa depannya bahwa semua anak bisa bersekolah minimal sampai SMA-SMK ? jawaban saya adalah BISAAAAAA


Simpe.. YTH pak presiden, yang kebetulan saat ini dijabat Pak SBY tinggal memberikan perintah berupa kewajiban kepada kementrian pertanian dan peternakan, perusahaan BUMN, dan Perguruan Negeri fakultas peternakan untuk saling bersinergi membuat gerakan nasional yaitu 1 anak sekolah 1 kambing.

Boombastis.. ?? saya rasa masih realistis, memang tidak semua anak sekolah di Indonesia dalam 1 tahun akan mendapatkan 1 ekor kambing, namun pemerintah bisa membuat detailnya sebagai berikut
  1. Selama 5 taun kebelakang, melarang jagal kambing untuk memotong kambing betina, sehingga semua kambing betina apapun jenisnya bisa beranak terus, anaknya ini yang akan dihibahkan kepada anak sekolah yang belum menerima kambing.
  2. Setiap tahun semua perusahaan BUMN, perusahaan Menengah besar dan perusahaan PMA diwajibkan menyumbang 10 ekor kambing betina pertahun ke sekolahan. Perusahaan besar diwajibkan mengcover 3-5 sekolahan berarti 30-50 kambing pertahun, perusahaan menengah memberikan 20-30 kambing pertahun. Pemerintah sendiri secara khusus akan memberikan 1 ekor kambhing kepada siswa kelas 6 SD, kelas 3 SMP dan kelas 3 SMA yang bisa dijual ketika lulusa dan mau melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya.
  3. Pemerintah memerintahkan kepada PTN melalui para mahasiswa fakultas peternakannya untuk menciptakan berbagai inovasi dalam upaya perbaikan hasil peternakan kambing di tingkat masyarakat bawah sehingga bisa mengganti konsep beternak tradisional menjadi peternakan kambing  modern, efektif , murah biaya dan profitable.
  4. Pemerintah menjamin stabilitas harga daging kambing nasional dan memberantas percaloan kambing dan membuka kran ekspor daging kambing sehingga menjamin sektor pemasaran daging kambing.
  5. Pemerintah melalui aparat desa memberikan surat perjanjian antara wali anak sekolah dan pihak pemerintah desa yang isinya adalah penerima hibah kambing hanya boleh mengembangkan kambingnya dan menjual kambingnya untuk kepentingan sekolah, tidak boleh untuk kepentingan lainnya, bagi yang melanggar akan dikenai sanksi.
  6. Ketika pemerintah bisa mendistribusikan BLSM dan BLT, maka secara mekanismenya pemerintah juga bisa membagikan kambing kepada prioritas anak-anak yang membutuhkan biaya untuk sekolah. Akan sangat mendidik membagikan kambing sebagai modal hidup daripada hanya memberikan bantuan uang tunai yang terus terang menurut saya TIDAK MENDIDIK. 
  7. Pemerintah melalui dinas terkait, dengan intesfifnya memberikan pengetahuan melalui penyuluhan-penyuluhan rutin mengenai cara ternak kambing, pembuatan kandang kambing yang baik , cara penggemukan kambing yang cepat dan benar, informasi update mengenai harga kambing, dll. hal inilah yang selama ini jarang sekali di terima oleh para peternak kambing di kampung-kampung.

 Apabila ide di atas bisa terealisasi maka akan benar-benar terjadi yang namanya kambing untuk sekolah dan para pelajar akan sekolah mengenai bisnis kambing, pengangguran akan berkurang karena anak muda Indonesia mulai menyenangi berbisnis kambing.


Jangan sampai daging kambing adalah daging berikutnya yang akan di impor oleh pemerintah Indonesia setelah mengimpor daging sapi dari Australia.

Mari pintarkan anak Indonesia dengan cara beternak kambing.



Foto-foto di atas diambil dari Google, semoga pemilik foto ini tidak keberatan fotonya saya pajang di bloog ini.

Salam wirausaha
www.AngkringanNasiKucing78.com