Showing posts with label fermentasi pakan kambing. Show all posts
Showing posts with label fermentasi pakan kambing. Show all posts

Wednesday, November 20, 2013

Ternak Kambing Tanpa Ngarit - Mudah, Murah dan Efektifnya Membuat Pakan Fermentasi Jerami Padi Untuk Ternak Kambing

CARA FERMENTASI JERAMI UNTUK MAKANAN TERNAK DOMBA/KAMBING

BAHAN DAN UKURAN:

• 1000 Kg  : jerami padi , dipilih yang sudah kering
• 20-25 Lt      : tetes bila tidak ada dapat diganti gula yang dilarutkan
• 6-7 Lt          : Probiotik, bila di daerah belum ada dapat diganti dengan EM4.
• 5-6 Kg         : Urea untuk menambah kandungan protein makanan ( 4-6% dr total jerami )
• 250-300 Lt. : Air untuk melarutkan probiotik dan tetes/15Lt untuk jerami basah

PERALATAN:
• Silo tempat untuk fermentasi jerami dapat berupa tembok semen, bis semen, drum sesuai kemampuan dan jumlah ternak
• Alat pemotong sabit atau sejenisnya atau bisa menggunakan mesin pencacah jerami
• Ember atau timba, gembor, terpal plastik atau karung plastik

CARA MEMBUAT
  1. Sediakan silo dari bis beton disusun dua atau tiga, bila memakai drum bagian dalam supaya dicat agar tidak berkarat
  2. Jerami kering atau bahan-bahan kering yang telah ada dipotong-potong dengan ukuran kurang lebih 25 cm sejumlah isi silo yang ada
  3. Larutkan tetes dan urea serta probiotik dengan air menjadi satu sesuai perbandingan bahan-bahan di atas.
  4. Siapkan terpal plastik untuk alas menjcampur antara jerami dengan campuran tets starbio dan air.
  5.  Jerami padi yang sudah dipotong ditaruh di atas terpal sedikit demi sedikit sambil disiram larutan air tetes dan starbio sesuai perbandingan di atas sampai merata dan jerami kelihatan basah.
  6. Setelah jarami benar-benar telah disiram rata dengan larutan tersebut, jerami dimasukkan ke dalam silo sedikit demi sedikit sambil dimampatkan/diinjak-injak supaya padat.
  7. Setelah mampat (padat) silo ditutup hingga rapat betul
  8. Setelah 7 hari jerami tersebut baru dapat mulai diberikan pada ternak kambing sesuai dengan kebutuhan dan selama bahan tersebut belum habis setelah mengambil bahan dari silo supaya ditutup kembali dengan rapat
  9. Penempatan silo supaya terhindar dari genangan air, terhindar dari terik matahari dan air hujan tidak boleh masuk ke dalam silo

CARA MEMBERIKAN:
  •  Pemberian diberikan dua kali pagi dan sore dengan ukuran: bobot kambing x 3% pakan kering (jerami yang telah difermentasi)
  •  Ditambah makan tambahan berupa katul yang baik (kualitas I) sebanyak 0,5 kg/ekor

KETERANGAN:
  •  Apabila waktu petama kali tenak diberi pakan fermentasi tersebut tidak langsung mau supaya dilatih sedikit demi sedikit sampai mau makan dengan lahap
  •  Agar ternak kambing cepat gemuk perlu diberi makan lain yang kadar proteinnya tinggi seperti pemberian katul konsentrat
  •  Air minum supaya tetap tersedia (jangan sampai telat), ada baiknya airnya diberikan garam.


Tuesday, August 20, 2013

Menentukan Umur Kambing Berdasarkan Gigi Kambing

Kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat. Pemeliharaannya yang mudah dan relatif sederhana serta peluang pengembangan yang tinggi menarik minat peternak baik dalam skala kecil di Pedesaan maupun yang telah diusahakan secara komersial untuk memilih ternak kambing sebagai ternak unggulan untuk dibudidayakan. Hal tersebut merupakan peluang yang harus didukung oleh semua pihak dalam upaya pengembangan ternak kambing khususnya dan pengembangan peternakan pada umumnya.


Ternak kambing dapat dibudidayakan sebagai usaha budidaya kambing potong maupun kambing perah. Kedua jenis ini jika dikembangkan memiliki peluang pasar yang tinggi. Daging kambing merupakan daging yang digemari oleh masyarakat, baik untuk dikonsumsi dalam bentuk sate, gulai maupun jenis makanan lain yang digemari oleh masyarakat. Mengkonsumsi daging kambing menurut sebagian besar masyarakat juga dapat meningkatkan stamina, sehingga dapat melancarkan aktivitas pekerjaan sehari-hari. Sebagian besar penduduk Indonesia yang beragama Islam semakin mendukung dikembangkannya usaha kambing ini, karena setiap hari raya kurban dibutuhkan ternak kambing dalam jumlah banyak.


Selain dibudidayakan sebagai kambing potong, ternak kambing juga sangat potensial untuk dikembangkan menjadi budidaya kambing perah. Saat ini permintaan susu kambing semakin meningkat seiring dengan semakin sadarnya masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi susu. Susu kambing meskipun memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan susu sapi, akan tetapi masyarakat tetap banyak yang mencarinya untuk dikonsumsi. Hal tersebut dikarenakan, susu kambing memiliki keunggulan dalam meningkatkan stamina, menjaga kesehatan tubuh dan dapat juga digunakan sebagai obat maupun manfaat-manfaat lain yang belum dilakukan penelitian lebih lanjut. Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan kambing yang saat ini sering dibudidayakan sebagai kambing perah. Oleh karena itu, harga kambing PE umumnya lebih mahal dibandingkan dengan kambing yang lain.


Gigi merupakan bagian yang berada di rongga mulut yang berguna untuk mengunyah makanan. Ternak juga sama halnya dengan manusia, yaitu mempunyai gigi yang membantu dalam proses pencernaan pakan. Pada ternak kambing, ada hal yang unik, yaitu gigi mengalami keterasahan dan erupsi secara kontinyu dengan karakteristik tertentu, sehingga gigi pada kambing dapat digunakan untuk menduga umur kambing jika tidak adanya catatan reproduksi maupun kelahiran dari kambing tersebut.


Jika kita amati perkembangan gigi seri pada kambing, akan dijumpai adanya gigi awal yang umumnya kita sebut dengan gigi seri susu. Setelah beberapa waktu gigi seri susu akan berubah menjadi gigi seri permanen dan gigi seri permanen ini akan mengalami keterasahan pada umur-umur tertentu, sehingga dapat digunakan untuk menduga umur ternak kambing. Edey (1993) mengemukakan bahwa susunan gigi seri permanen pada kambing yang sudah dewasa, yaitu sepasang gigi seri sentral, sepasang gigi seri lateral, sepasang gigi seri intermedial, sepasang gigi seri sudut pada rahang bawah, tiga gigi premolar dan tiga gigi molar.


Lebih lanjut Frandson (1993) menyatakan bahwa pendugaan umur kambing berdasarkan gigi seri yaitu sebagai berikut: (1) Jika pada kambing telah tumbuh sepasang gigi seri susu sentral, kambing berumur 1 hari sampai 1 minggu; (2) Sepasang gigi seri susu lateral, kambing berumur 1 – 2 minggu; (3) Sepasang gigi seri susu intermedial, kambing berumur 2 – 3 minggu; (4) Sepasang gigi seri susu sudut, kambing berumur 3 – 4 minggu; (5) Sepasang gigi seri susu sentral digantikan oleh sepasang gigi seri permanen sentral, kambing berumur 1 – 1,5 tahun; (6) Sepasang gigi seri susu lateral digantikan sepasang gigi seri permanen lateral, kambing berumur 1,5 – 2,5 tahun; (7) Sepasang gigi seri susu intermedial digantikan sepasang gigi seri permanen intermedial, kambing berumur 2,5 – 3,5 tahun; (8) Sepasang gigi seri susu sudut digantikan sepasang gigi seri permanen sudut, kambing berumur 3,5 – 4 tahun.


Friday, August 16, 2013

Kompos Kotoran Kambing Cocok Untuk Semua Tanaman

Limbah merupakan bahan yang timbul setelah proses produksi selesai, yang umumnya dibuang. Limbah kandang dan tanaman dapat berbentuk padar, cair maupun gas. Demikian halnya limbah yang dihasilkan dari ternak kambing/domba berupa air kencing yang menyengat akan dapat menimbulkan polusi bau, kotoran mencemari lingkungan sekitarnya dan masih banyak masalah sosial yang ditimbulkan.

Sebetulnya bila dimanfaatkan secara baik kotoran kambing tersebut bukan merupakan polusi justru merupakan suatu penghasilan yang bisa menghasilkan kompos (pupuk organic) yang berkualitas bila diolah dengan teknologi pengolahan menggunakan decomposer (Biostarter) bahkan menghasilkan uang yang tidak sedikit nilainya.

Pengolahan Limbah Inthil


Petani kita umumnya menggunakan pupuk kandang secara langsung, hal ini tanpa disadari pupuk tersebut masih banyak kelemahannya. Kelemahan tersebut antara lain terdapat bibit gulma, hama dan penyakit serta diperlukan dalam jumlah yang cukup besar. Agar dihasilkan pupuk organic yang berkualitas baik dan hemat dalam pemakainya, pupuk kandang (inthil) perlu diolah atau dilakukan dekomposisi dalam kondisi tertentu yang dapat dilakukan secara biologis dengan menggunakan mikroba tertentu.

Karakteristik inthil berbentuk butiran-butiran kecil, tingkat kadar air yang rendah merupakan factor yang penting dalam hal mudah dalam pengolahan dan kualitas kompos lebih baik dibanding dengan ternak yang lain, seperti sapi maupun kerbau.

Prinsip Pembuatan Kompos

Prinsip pengomposan atau composting adalah proses merubah limbah organic menjadi pupuk organic secara biologis dibawah kondisi yang terkontrol. Tujuan pengomposan limbah ternak melalui kondisi yang terkontrol adalah untuk membuat keseimbangan porses pembusukan bahan organic dalam limbah, mengurangi bau ,membunuh  biji-biji gulma dan organisme pathogen sehingga menjadi pupuk yang sesuai dengan lahan pertanian. Apabila kondisi tidak atau kurang terkontrol akan terjadi pembusukan sehingga timbul bau yang menyengat, timbul cacing dan insekta.

Membuat Kompos Dengan Biostater

Biostater yang dapat digunakan untuk pembuatan kompos sudah banyak beredar dimasyarakat dengan bermacam-macam merk dagang dengan dosis dan bahan yang bermacam-macam namun sama dalam hal tujuan yaitu untuk mempercepat proses dekomposisi.

Kompos yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik, dosis penggunaan pada tanaman lebih hemat dibanding pupuk kandang tanpa diolah dahulu.

Kompos inthil yang dihasilkan memberikan nilai tambah pengusahaan ternak karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan tanpa pengomposan.

Bahan :

Bahan yang diperlukan dalam pembuatan limbah inthil kambing / domba, antara lain :

1. Inthil kambing / domba            : 1.000 kg

2. Bio starter stardec                  :     2,5 kg

3. Serbuk gergaji                        :    100 kg

4. Abu sisa pembakaran             :      50 kg

5. Kapur tohor / gamping            :      50 kg

6. Pupuk urea                            :     2,5 kg

7. Pupuk SP-36                         :     2,5 kg

8. Air secukupnya

*) Bahan-bahan tersebut boleh dikurangi sesuai ketersediaan didaerah tersebut. Minimal dapat digunakan bahan berupa kotoran dan stardec, namun semakin lengkap bahan yang digunakan semakin baik kualitas kompos yang dihasilkan.

Cara Pembuatan Kompos :
  1. Tiap bahan dibagi menjadi 6 – 8 bagian
  2. Kotoran inthil ditumpuk dengan ketinggian 25 – 30 cm.
  3. Ditaburkan biostarter, serbuk gergaji, abu dan kapur masing-masing 1 bagian sambil disiram air untuk kelembaban.
  4. Ulangi tumpukan kedua seperti no. 3 begitu seterusnya sehingga semua bahan habis.
  5. Tumpukan dibuat denganetinggian minimal 1,5 m.
  6. Tumpukan dibawah naungan untuk menghindari adanya sinar matahari langsung dan air hujan
  7. Untuk menjaga suhu dan suplai oksigen, tumpukan dibalik sekali tiap minggu
  8. Untuk menjaga kelembaban 60 %, saat membalik tumpukan dilakukan penyiraman dengan air menggunakan gembor
  9. Pada minggu ke 5 pupuk siap digunakan.

Pengemasan

Setelah kompos jadi maka selanjutnya bisa dipakai untuk memupuk tanaman, namun apabila dijual dikemas terlebih dahulu agar kelihatan praktis dan lebih rapi. Tiap kemasan berbeda-beda sesuai dengan permintaan pasar, biasanya bobot kompos tiap kemasan antara lain : 3 kg (plastic), 5 kg (plastic), 10 kg (karung) dan 25 kg (karung).

http://pertanian.slemankab.go.id


Tuesday, August 13, 2013

Ternak Kambing Tanpa Ngarit - Pengolahan Jerami Padi Guna Meningkatkan Kesejahteraan Peternak Kambing


Pakan kasar masih menjadi pakan utama ternak ruminansia di Indonesia.  Salah satu pakan kasar yang tersedia melimpah adalah jerami, terutama jerami padi.  Hal ini karena jerami padi merupakan limbah pertanian tanaman pangan sebagian besar penduduk Indonesia.

Produksi jerami padi dapat mencapai 12-15 ton/hektar tiap panen tergantung lokasi dan varietasnya. Jerami ini bisa digunakan untuk pakan kasar 2-3 ekor sapi dewasa sepanjang tahun.
Penggunaan jerami untuk pakan baru berkisar 31-39% dan 7-16% untuk industri. Dari keseluruhan produksi jerami, sebagian besar masih dibakar dan dikembalikan ke tanah.  Efek negatif dari pembakaran adalah polusi lingkungan, mempengaruhi ekologi tanah dan hilangnya bahan organik
Komposisi kimia jerami padi meliputi bahan kering 71,2%, protein kasar 3,9%, lemak kasar 1,8%, serat kasar 28,8%, BETN 37,1% dan TDN 40,2%.  Kandungan lignin jerami berkisar 6-7% dan silikatnya 13%. Ternak yang hanya mendapatkan jerami saja sebagai pakannya akan memiliki produktivitas rendah.

Untuk digunakan sebagai pakan, jerami sebaiknya diolah lebih dahulu.  Pengolahan jerami bisa berupa amoniasi, hidrolisis dengan alkali maupun dengan fermentasi menggunakan mikrobia tertentu.

1.  Amoniasi Jerami
a.  Pengertian
Amoniasi merupakan cara pengolahan kimia dengan menggunakan amonia untuk meningkatkan daya cerna bahan pakan berserat sekaligus meningkatkan kadar N (proteinnya).
Amoniasi biasanya dilakukan pada bahan pakan asal limbah pertanian seperti berbagai jenis jerami dan bahkan juga pada kulit kopi, tergantung pada potensi daerahnya.

b. Tujuan
Pembuatan amoniasi bertujuan meningkatkan kualitas jerami yang rendah kandungan nutrisinya, menjadi jerami yang kandungan nutrisinya memadai dan daya cernanya tinggi.

c.  Proses
Jerami merupakan bagian tanaman yang telah tua yang memiliki kandungan lignin dan silikat yang menyebabkan daya cerna ternak ruminansia terhadap jerami rendah.  

Amoniasi jerami padi adalah proses pengolahan jerami padi menggunakan amonia (misalnya urea) sebagai sumber amonia dengan pemeraman pada kondisi anaerob.  Proses ini merubah tekstur jerami menjadi lunak dan rapuh sehingga mudah dicerna. Peningkatan kandungan protein juga terjadi pada jerami amoniasi karena peresapan nitrogen dari urea. Proses ini juga menghilangkan aflatoksin/ jamur dalam jerami.  Amonia dapat menyebabkan perubahan komposisi dan struktur dinding sel sehingga membebaskan ikatan antara lignin dengan selulosa dan hemiselulosa sehingga bisa dicerna oleh mikrobia rumen. Amonia akan terserap dan berikatan dengan gugus asetil dari bahan pakan dan bisa dimanfaatkan oleh mikrobia rumen.

Penggunaan urea dibatasi 4-6% karena pada penggunaan <3% amonia tidak mampu memecah ikatan lignin. Pada penggunaan > 6% amonia akan terbuang karena jerami tidak sanggup menyerapnya jadi secara ekonomi tidak menguntungkan.

Proses amoniasi bisa dilakukan dengan cara basah dan cara kering. Proses dengan cara basah menggunakan larutan urea sedangkan cara kering urea langsung ditaburkan pada jerami. Dengan cara kering 3-4 kg urea digunakan untuk 100 kg jerami. Pada pembuatan skala besar, jerami dimampatkan kotak kotak cetakan . Selanjutnya jerami dimasukkan dalam wadahnya (sejenis dengan silo) sambil ditaburi urea atau larutannya.

Penggunaan urea didasari pertimbangan ekonomis dan juga lebih ramah lingkungan.  Sebenarnya sumber amonia lain seperti gas amonia bisa digunakan. Disini jerami yang telah dimasukkan ke dalam wadah tertutup disemprot dengan gas amonia.

d.     Kualitas
Untuk menghasilkan jerami amoniasi yang berkualitas, maka dibutuhkan bahan yang berkualitas pula. Bahan dasar dari pembuatan jerami amoniasi ini adalah jerami padi yang tersisa setelah pemanenan. Jerami padi yang akan diamoniasi harus memenuhi beberapa kriteria yaitu jerami harus dalam kondisi kering, tidak boleh terendam air sawah atau pun air hujan, dan harus dalam keadaan baik (tidak busuk atau rusak).

Jerami yang telah diamoniasi memiliki tekstur lunak dan rapuh, berwarna coklat tua, berbau amonia dan tidak berjamur.  Jika dilakukan analisa proksimat maka kandungan protein kasarnya lebih dari 6%.

e.      Penggunaan
Hasil amoniasi harus diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak.  Tujuannya adalah untuk menghilangkan amoniak dalam jerami. Untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama, jerami amoniasi harus dijemur atau dikeringkan 2-3 hari. Setelah kering jerami dapat disimpan dibawah tempat teduh atau atap. Jangan sampai terkena air hujan karena akan mengakibatkan pembusukkan. Jerami yang sudah kering dapat disimpan selama selama 6 – 12 bulan tanpa penurunan kualitas.

Bila cuaca tidak memungkinkan untuk penjemuran, jerami amoniasi tidak perlu dikeluarkan dari wadahnya.  Keluarkan sesuai kebutuhan dan angin anginkan sebelum diberikan pada ternak.
Jerami amoniasi merupakan pakan yang miskin mineral.  Ada baiknya pemberiannya disertai dengan pemberian mineral secara teratur.

2. Hidrolisis Jerami
Perlakuan lain untuk memperbaiki kualitas jerami dilakukan dengan hidrolisis  dengan larutan basa.  Larutan basa bisa dibuat dengan NaOH atau CaO. Apabila jerami direndam dalam larutan alkali, maka ikatan antara lignin dan selulosa dan hemiselulosa dinding sel akan terhidrolisa sehingga karbohidrat akan lebih tersedia bagi microorganisme dalam rumen. Perlakuan dengan alkali juga meningkatkan tingkat konsumsi.

Awalnya proses ini dilakukan di Jerman saat perang dunia I, jerami direndam selama 1 hingga 2 hari dalam larutan NaOH (kaustik soda/soda api) 15-30 g/l dan kemudian dicuci untuk menghilangkan residu alkalinya.

Proses ini meningkatkan daya cerna jerami tetapi sebagian nutrien larut saat pencucian. Kemudian dikembangkan metode kering dengan kandungan NaOH 10-40g/l. Daya cerna jerami meningkat, dari 0,4 menjadi 0,5-0,7.

Alkali lain yang juga efisiennya adalah kapur ( CaO 60% dan MgO 1.3%).  Kapur sebanyak 40 gram dilarutkan dalam 10 liter air digunakan untuk merendam 1 kg jerami selama kurang lebih 48 jam (2 hari). Kemudian jerami dicuci dengan 5 liter air dan dikeringkan dengan sinar matahari. Hasil penelitian Saadullah dkk (1981) ini meningkatkan kecernaan bahan kering jerami dari 38 menjadi 49%. Jika pemberiannya pada domba disertai 10% molasses dan 2% urea dalam ransum, maka kecernaan ransum menjadi 54%.

3.  Fermentasi Jerami
Selain proses kimia, degradasi ikatan kimia pada jerami juga bisa dilakukan dengan fermentasi.  Fermentasi adalah suatu cara pengawetan yang menggunakan mikrobia tertentu untuk menghasilkan asam atau komponen lainnya yang dapat menghambat mikrobia perusak lainnya.

Cara melakukan fermentasi jerami adalah dengan menambahkan bahan yang mengandung mikrobia proteolitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik.  Mikrobia tersebut kita kenal dengan sebutan probiotik. Campuran berbagai mikro organisme tersebut berguna untuk mempercepat proses pemecahan serat jerami padi, sehingga mudah dicerna oleh ternak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jerami yang telah difermentasi dengan mikrobia secara umum menunjukkan peningkatan kualitas.  Protein meningkat dari 4,23% menjadi 8,14% dan juga disertai penurunan serat kasar.

Pembuatan fermentasi jerami dilakukan pada tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Dimana untuk kapasitas 10 ton dapat dibuat bangunan dengan ukuran 4 x 5 m. Lantai dasar dapat dibuat dari semen atau tanah yang dipadatkan dan ditinggikan dari tempat sekitarnya, tanpa dinding. Bahan bangunan menggunakan kayu atau bambu. Untuk atap dapat berupa seng atau bahan yang tersedia di tempat. Jarak lantai ke atap 3 m.

Hasil fermentasi jerami yang baik ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Ø  Baunya khas
Ø  Warnanya kuning agak kecoklatan
Ø   Teksturnya lemas(tidak kaku)
Ø   Tidak busuk dan tidak berjamur

Fermentasi bisa juga dipadukan dengan amoniasi. Starter yang digunakan  urea dan probiotik.
Jerami yang telah difermentasi bisa diberikan sebagai pakan kasar bagi ternak kambing 2-4 kg/ekor/hari  dengan penambahan konsentrat 1% dari berat badan ternak. Hasil penelitian di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa pertambahan berat badan kambing yang diberi jerami fermentasi lebih tinggi dibandingkan kambing yang diberi rumput lapangan. dengan menggunakan cara-cara di atas maka para peternak kambing sudah tidak perlu tiap hari ngarit atau mencari pakan, karena dengan pengolahan jerami dengan benar, maka peternak kambing bisa ternak kambing tanpa ngarit






Cara Cerdas Dalam Usaha Penggemukan Kambing


Ternak Kambing adalah hewan ruminansia kecil yang hidupnya membutuhkan pakan yang berasal dari hijauan seperti rumput-rumputan, daun-daunan, sisa hasil pertanian.

Kemampuan beradaptasi yang cukup baik membuat ternak tersebut begitu mudah berkembang hampir diseluruh wilayah Jawa. Namun demikian keberadaan ternak kambing dalam keluarga petani belumlah memberi penghasilan yang baik bila faktor-faktor panca usaha ternak kambing seperti : pemilihan bibit yang baik, pemberian pakan yang memenuhi gizi dan pencegahan terhadap penyakit belum dilaksanakan secara maksimal.

JENIS KAMBING
Jenis Kambing yang tersebar luas di wilayah Jawa Timur adalah kambing kacang dan kambing peranakan etawah. Kedua jenis kambing tersebut sangat cocok dipelihara di wilayah lahan kering dan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Beberapa waktu lalu telah diperkenalkan jenis kambing yang baru yaitu kambing Boer yang merupakan jenis pedaging. Jenis ini sudah disiap untuk diperkenalkan di masyarakat Banyuwangi dengan program inseminasi buatan.

PEMILIHAN BIBIT KAMBING
Menentukan calon bibit kambing betina ataupun jantan sebagai calon bibit untuk keperluan budidaya perlu dipenuhi kriteria antara lain : Memiliki kemampuan pertambahan berat badan yang cepat dan konversi pakan makanan yang baik. Memiliki sifat genetic yang baik untuk menghasilkan keturunan kembar dalam satu kali melahirkan. Sedangkan untuk ciri karakteristik dapat dilihat mata yang bersinar cerah, tajam, tidak cacat tubuh, bulu halus dan mengkilat. Ciri khusus betina harus memiliki sifat keibuan, umur kurang dari 3 tahun, putting susu berjumlah dua dan sama besar. Sedangkan untuk pejantan memiliki sifat mengawinkan cukup besar, buah zakar berjumlah dua dan sama besar serta umur kurang dari 3 tahun.

PAKAN
Ternak kambing dalam kehidupannya memerlukan pakan hijau-hijauan seperti rumput, bungkil kedelai, daun-daunan, sisa produksi pertanian, dedak, dan lain-lain. Komposisi masing-masing sangat tergantung pada kebutuhan ternak, yaitu antara kambing menyusui, pemacek, dan dewasa berbeda. Untuk kambing dewasa kebutuhan makanan 10% dari berat badannya, dimana kebutuhannya yaitu ¾ bagian berupa rumput dan hijauan segar, ¼ bagian terdiri dari daun-daunan. Untuk kambing pemacek kebutuhan makanan hamper sama, akan tetapi peru ditambahkan dedak padi halus sebanyak 200-250 gram. Untuk kambing bunting menjelang melahirkan komposisi makanan untuk hijauan lebih banyak yaitu 3/5 bagian dan 2/5 bagian daun-daunan dan hijauan harus seimbang dan perlu ditambahkan dedak halus padi sebanyak 200-250 gram. Dewasa ini banyak peternak kambing menggunakan cara fermentasi jerami untuk pemunuhan kebutuhan pakan kambing. Fermentasi pakan ternak memang ditempuh guna memaksimalkan pakan kambing dan membuat para peternak semakin mudah dalam budidaya ternak kambing karena frekuensi dalam mencari pakan hijauannya semakin sedikit, bahkan banyak peternak kambing yang tanpa ngarit.

PERKAWINAN
Kambing betina dewasa yang sudah siap kawin umumnya berusia antara 6-8 bulan. Tanda birahinya antara lain : Gelisah, ribut dan nafsu makan menurun. Mencoba untuk menaiki ternak lainnya. Menggerak-gerakkan ekornya. Bagian vulva memerah, bila diraba terasa hangat. Keluar sedikit lendir bening kambing betina dewasa dikawinkan paling bagus berumur 10 bulan, dan jantan sebagai pemacek berumur 1 tahun. Waktu yang tepat untuk mengawinkan kambing pada pertengahan birahi yaitu 12-18 jam sejak birahi pertama muncul.

Selain menggunakan pejantan pemacek, dapat juga kambing betina dikawinkan dengan menggunakan metode kawin suntik (Inseminasi Buatan). Tujuannya adalah untuk menghasilkan keturunan yang mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Untuk saat ini kawin suntik (IB) kambing dapat menggunakan jenis kambing peranakan Etawah (PE).

KANDANG
Pembuatan kandang kambing diupayakan harus memiliki sirkulasi udara yang cukup bagus dan dijaga tingkat kebersihannya. Untuk budidaya kambing, kandang yang bagus adalah jenis panggung, karena akan memberikan kenyamanan pada ternak dan terjaga kebersihannya.

PENGOLAHAN USAHA
Pada umumnya pengelolaan usaha ternak kambing dapat dilakukan secara tradisional maupun secara intensif. Untuk menghindari kerugian dalam usaha, langkah pertama harus ditempuh harus membiasakan dengan memperbaiki managemen usaha, yaitu selalu melakukan pencatatan setiap kejadian mengenai ternaknya. Langkah selanjutnya adalah dengan melihat pangsa pasar. Waktu penjualan ternak kambing yang bagus adalah bila ternak telah berusia 12-18 bulan, dan berat badannya tidak bertambah lagi.

PENYAKIT
Salah satu hal yang penting dalam usaha ternak kambing adalah memperhatikan kesehatan ternak. Sanitasi kandang dan lingkungan merupakan cara termudah untuk mencegah terjadinya kejadian penyakit. Adapun kejadian penyakit yang paling sering adalah kembung (tympani), kudis (scabies), diare dan sebagainya. Untuk pertolongan pertama dapat menggunakan obat-obatan tradisional dan untuk selanjutnya dapat menghubungi petugas kesehatan terdekat.


Sumber :epetani.deptan.go.id








INFO BISNIS KULINER

BISNIS RECEHAN.....HASIL JUTAAN


Monday, August 12, 2013

Jerami Fermentasi, Pakan Pengganti Hijauan


" Kelompok Peneliti Fakultas Kedokteran Hewan melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan reproduksi dan aplikasi hasil diseminasi teknologi tepat guna berupa

pemanfaatkan jerami fermentasi atau fermentasi jerami sebagai pakan kambing. Kegiatan program pendampingan peningkatan kualitas dan kapasitas ternak ini diterapkan pada kelompok ternak "Sidodadi", dusun Kepuh kulon, Wirokerten, Banguntapan, Bantul.

Dr. drh. Yanuartono, MP mengatakan pemanfaatan pakan jerami fermentasi ditujukan untuk membantu peternak yang kesulitan mendapatkan pakan hijauan di saat musim kemarau. Selain itu, petani diajak untuk memanfaatkan limbah jerami yang melimpah saat musim panen padi tiba. "Yang terpenting peternak tidak mengalokasikan waktunya lagi untuk mencari rumput, dan bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk bekerja lainnya," kata Yanuar, ditemui dalam sela-sela penyuluhan, Jumat (3/8).

Dia menerangkan pembuatan pakan fermentasi dibuat dengan cara cukup sederhana. Mencampur jerami kering dengan polar dengan perbandingan 10 : 2, serta ditambahkan air secukupnya. Campuran jerami dan polar ini dimasukkan ke dalam tabung untuk dilakukan fermentasi selama satu minggu. "Pakan fermentasi ini siap dipanen, ditandai dengan aroma yang harum dan tekstur tidak berubah " katanya.

Pakan ini menurut Yanuar mempercepat penyerapan sari makanan dalam tubuh kambing. Pasalnya, kambing membutuhkan waktu fermentasi terhadap seluruh makanan yang ditampung di dalam rumen. "Justru pakan alternative ini, fermentasi sudah dilakukan lebih dulu," katanya.

Drh. Erif Maha Nugraha, dalam penyuluhan kepada 23 peternak menerangkan jumlah pemberian pakan pada kimbing tiap harinya minimal 10 persen dari total berat badan. Bila pakan yang diberikan kurang dari 10 persen maka akan berisiko mengganggu sistem kesehatan reproduksi kambing. "Jika pemberian pakan susah, yang rusak sistem reproduksinya," kata dosen bagian Obsgin FKH UGM ini.

Hartono, 35 tahun, salah satu peternak, mengatakan hasil pendampingan yang dilakukan dari peneliti FKH UGM tersebut sudah berjalan selama tiga tahun. Beberapa hasil pemanfaatan teknologi tepat guna sudah dimanfaatkan langsung oleh peternak. Diantaranya pemeriksaaan kesehatan rutin, pemanfaatan limbah kotoran ternak untuk diolah menjadi biogas dan pupuk organik. "Biogas sudah kita manfaatkan untuk dapur kandang ternak," katanya.

Sementara untuk pakan fermentasi baru mulai dikenalkan. Menurutnya pakan tersebut dinilai cukup membantu dalam pemberian pakan alternatif ternaknya."Ternyata ternak suka dan lahap, kini saya rutin membuatnya," katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

sumber : UGM.ac.id