Showing posts with label Budidaya Ulat Hongkong. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Ulat Hongkong. Show all posts

Tuesday, February 18, 2014

Budidaya Ulat Hongkong, Usaha Sampingan yang Menggiurkan

Mendengar nama ulat sebagian orang tentu akan merasa takut, jijik dan timbul asosiasi negatif lainnya. Tetapi kenyataannya membudidayakan ulat hongkong ternyata bisa mendatangkan penghasilan tambahan yang lumayan besar.

Ulat hongkong atau dalam bahasa lain dikenal dengan Meal Worm atau Yellow Meal Worm dapat ditemukan pada toko-toko pakan burung, reptil dan ikan, karena ulat hongkong biasa dipergunakan sebagai suplemen pakan hewan-hewan tersebut.

“Bisnis budidaya ulat hongkong sebenarnya cukup mudah dan tidak memerlukan tenaga dan modal yang besar karena yang diperlukan hanyalah ketelatenan dan bisa dilakukan di rumah,” ucap Anggi, Pedagang Ulat Hongkong di Cilaku Cianjur meyakinkan, Rabu (09/13).

Selain itu, budidaya ulat hongkong bisa dilakukan sebagai usaha sampingan yang menggiurkan. Usaha budidaya ulat Hongkong ini telah ditekuni oleh beberapa warga di daerah kota Besar di Pulau Jawa. Salah satunya di daerah Cianjur seperti Ciberegbeg, Pasir Kandang dan Cilaku. Dengan memanfaatkan sebagian ruangan dalam rumah, mereka menekuni usaha sampingan budidaya ulat hongkong.

Anggi juga menjelaskan bahwa dalam membudidayakan ulat hongkong ada beberapa tips yaitu siapkan kandang pemeliharaan berupa papan triplek, atau bisa dengan nampan plastic yang ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Jika memakai triplek atau papan sudut-sudut diberi lakban agar ulat tidak kabur.

“Selain itu, siapkan media pemeliharaan berupa campuran dedak halus dan ampas tahu kering yang bisa dibeli di toko pakan ternak,” ujarnya.

Telur ulat hongkong yang dibeli dari peternak kemudian dibudidayakan hingga menjadi serangga dan kemudian bertelur. Makanan ulat hongkong bisa diberikan limbah sayuran, timun, pepaya, jipang dan bahan makanan lainnya yang mengandung banyak air.

Kunci budidaya ulat hongkong ini adalah ketelatenan dalam melakukan pemeliharaan. Jika tidak teliti terkadang ada hama sejenis ulat hongkong yang berukuran lebih kecil menumpang hidup pada media.

Namun, ulat kecil ini bersifat kanibal dan memakan ulat-ulat yang lain sehingga produksi menurun. Biasanya ulat jenis ini datang dari media dedak halus dan dari lingkungan sekitar.

Hasil usaha sampingan budidaya ulat hongkong ini cukup lumayan. Apalagi sekarang membudidayakan hewan peliharaan seperti burung telah menjadi trend. Berhubung hewan tersebut dapat diadu atau diperlombakan dan dapat menghasilkan uang yang banyak apabila memenangkan pertandingan.

Ditambah lagi saat ini hampir tiap hari penjual memanen dan memasok ulat hongkong ke pedagang burung di pasar-pasar Burung. Sehingga menambah nilai jual dan beli ulat hongkong tersebut.

Ujang pecinta hewan peliharaan yaitu burung dari Ciberegbeg Cianjur mengatakan bahwa harga ulat hongkong cukup lumayan antara 25 ribu sampai 30 ribu per kilogram.

“Hanya saja harga tersebut tidak menjadi patokan karena itu hanya harga umumnya saja. Karena beda tempat beli beda pula harga jualnya,” ungkapnya saat diwawancara di waktu yang sama.

Sumber :
http://www.suakaonline.com/terkini/item/2138-budidaya-ulat-hongkong-usaha-sampingan-yang-menggiurkan.html

Tuesday, January 7, 2014

Laba Besar dari Budidaya Ulat Hongkong

Kebutuhan ulat HongKong untuk pakan hewan cukup besar. Sayangnya, budidaya ulat hongkong yang juga dikenal dengan sebutan meal worm ini masih terbatas. Apakah Anda tertarik menjajalnya?

Saat ini, mayoritas peternak ulat HongKong berdomisili di daerah Jawa Timur. Hari Wibowo, peternak ulat HongKong di Wajak, Jawa Timur mengatakan, budidaya ulat HongKong masih terpusat di Jawa Timur saja. "Padahal peluang bisnis budidaya ulat HongKong sangat besar," katanya.

Menurut Hari, pemanfaatan ulat HongKong sebagai pakan hewan tertentu sudah dimulai sejak 2009. Pada saat itulah dia mulai membudidayakan ulat HongKong.

Hari menuturkan, ulat HongKong memiliki kandungan protein sekitar 62%. Dengan kandungan yang tinggi, ulat HongKong menjadi alternatif pakan yang disukai para peternak burung, udang windu, ikan koi, arowana, bahkan landak mini. "Hingga 70% produksi ulat HongKong kami dipakai untuk pakan burung, terutama burung kicau," katanya seperti dilansir Surabaya Post.

Awalnya, Hari ingin mengekspor ulat HongKong. Pasalnya, kebutuhan ulat HongKong di luar negeri sangat tinggi. Bahkan, beberapa restoran di Eropa dan Amerika menyajikan menu ulat HongKong goreng.

Akan tetapi, karena dana terbatas, walaupun permintaannya sangat tinggi, produksi ulat HongKong Hari hanya bisa memenuhi permintaan di Jawa Timur dan Bali.

Hari memiliki empat kandang berukuran masing-masing 10 meter (m) x 20 m. Setiap kandang menampung sekitar 400 kotak yang terbuat dari papan. Kotak tersebut diisi sekitar 3 kilogram (kg) ulat HongKong. Setiap kandang bisa menghasilkan hingga 100 kg ulat setiap panen.

Harga ulat ini dibanderol Rp 30.000 per kg. Dalam sebulan Hari bisa menjual sebanyak 8 ton dengan omzet mencapai Rp 240 juta. Adapun laba bersihnya bisa mencapai 70%.

Sumber :
http://www.ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/laba-besar-dari-budidaya-ulat-hong-kong

Sunday, January 5, 2014

Mau Ternak Ulat Hongkong Cara Praktis?

Bagaimanapun, ulat hongkong atau mealworm sangat bermanfaat bagi burung kicauan dan juga hewan peliharaan lainnya. Pakan alami ini mengandung banyak protein dan kalori yang dibutuhkan burung. Cara penyajiannya juga bervariasi, ada yang diberikan ketika ulat masih berwarna putih, sedang ganti kulit, atau diberikan dalam bentuk ulat hongkong kering. Masih prospektifkah beternak ulat hongkong? Jawaban Om Kicau, sepanjang hobi burung kicauan masih lestari di Indonesia, beternak ulat hongkong tetap memiliki prospek cerah.

Anda bisa menentukan sendiri, apakah hasil dari beternak ulat hongkong (UH) hanya untuk memenuhi kebutuhan burung-burung piaraan di rumah dan / atau burung-burung dalam kandang penangkaran, atau ingin sebagian / semua hasil budidaya UH dijual ke konsumen.

Dalam artikel ini, diberikan materi budidaya untuk skala kecil. Kalau sudah menguasai skala kecil, pasti skala sedang maupun skala besar mudah dilakukan. Jadi, intinya menguasai dan mempraktikkan hal-hal yang mendasar dulu.

Sebelum memulai beternak, sebaiknya persiapkan beberapa bahan yang akan digunakan. Misalnya wadah tempat menyimpan ulat. Wadah ulat ini bisa menggunakan kontainer plastik, baik yang single maupun yang bersusun seperti laci.

Berikutnya, siapkan dedak atau bekatul yang menjadi media untuk berkembang biak dan bertelur bagi ulat hongkong tersebut. Dedak sekaligus berfungsi untuk mempertahankan kondisi kelembaban sehingga ulat hongkong tidak mudah mati.

Ulat hongkong yang akan diternakkan sebaiknya dipilih yang dewasa, dengan jumlah tergantung ukuran wadah atau kontainer plastik. Boleh juga menggunakan ulat hongkong yang sudah berubah menjadi kumbang (berwarna hitam).

Terakhir adalah mempersiapkan pakan untuk ulat-ulat ini. Ulat hongkong adalah larva yang memakan apa saja. Tetapi untuk tujuan ternak, dan menjaga agar ruangan tempat ia ditangkarkan tidak mudah berjamur, pakan yang diberikan dapat berupa sepotong roti, potongan kentang, atau potongan buah-buahan (terutama apel).

Setelah semua bahan sudah tersedia, sekarang kita berlanjut ke beberapa tahap berikut ini :

TAHAP PERTAMA

Masukkan dedak atau bekatul ke dalam wadah atau kontainer plastik, kemudian ratakan pada bagian dasarnya dengan tinggi / tebal lapisan sekitar 1/4 dari ketinggian wadah yang digunakan. Setelah itu, masukkan ulat-ulat yang akan dikembangbiakan. Jadi, dalam penjelasan ini, kita memulainya dari ulat hongkong dewasa, bukan langsung berupa kumbang.

Proses berkembang biak ulat menjadi kumbang membutuhkan waktu lama, dan butuh kesabaran untuk diperoleh hasil optimal. Karena itu, banyak juga yang memulai breeding dengan memasukkan UH yang telah berubah menjadi kumbang agar prosesnya lebih cepat.

Pakan yang diberikan bisa berupa potongan kentang atau potongan buah apel, meski UH bisa menyantap makanan apa saja. Pemberian apel dan kentang dimaksudkan untuk mencegah timbulnya jamur akibat bahan pakan terlalu banyak mengandung air (misalnya sayuran).

Selanjutnya, wadah / kontainer plastik bisa disimpan ditempat yang gelap dan hangat. Jangan lupa melakukan kontrol setiap hari, terutama untuk memeriksa ketersediaan pakan, sekaligus membersihkan sampah bekas makanan atau bekas kulit dari ulat hongkong.

TAHAP KEDUA

Setelah disimpan beberapa bulan (sekitar 90 hari), ulat-ulat akan berubah menjadi kepompong. Anda bisa tetap memelihara kepompong dalam wadah yang sama, bisa juga memindahkannya ke wadah / kontainer lain. Maksud pemindahan ini untuk menghindari ulat hongkong yang belum berubah jadi kepompong, karena UH terkadang akan memakan teman-temannya yang sudah jadi kepompong, terutama jika mereka kekurangan pakan. Jadi, jika tetap menggunakan wadah yang sama, pemberian pakan harus ditingkatkan jika.

Jika ingin memelihara kepompong dalam wadah / kontainer plastik yang baru, media yang digunakan tetap sama, yaitu dedak / bekatul, dengan ketebalan secukupnya (tipis saja). Dalam ke wadah / kontainer baru, tugas Anda cukup menunggu saja, karena kepompong tidak membutuhkan makanan apapun.

TAHAP KETIGA

Sekitar 10 hari kemudian, kepompong akan menunjukkan perubahan bentuk fisiknya menjadi serangga berwarna putih, yang sebenarnya merupakan calon kumbang. Dari hari ke hari, warna putih ini akan berubah menjadi cokelat. Silakan dikontrol terus sampai warna serangga menjadi hitam, dan itulah yang disebut kumbang (Tenebrio molitor).

Jika sudah menjadi kumbang, Anda bisa memberikan pakan berupa potongan buah-buahan atau potongan roti.

Pindahkan kumbang-kumbang ke wadah lain, yang sudah diisi dengan media dedak / bekatul. Perbandingannya, takaran 4 gelas berisi kumbang memerlukan dedak sebanyak 2 kg. Dalam wadah inilah, kumbang akan memulai proses reproduksinya, seperti kawin dan bertelur.

Jika sudah bertelur, tunggu sampai 10 hari, kemudian dilakukan pengayakan terhadap telur-telurnya. Saat mengayak, yang ikut terayak adalah telur dan dedak, namun kumbang tidak ikut terayak. Telur dan dedak dikembalikan ke wadah semula. Adapun kumbang dipindah ke wadah lain, dengan media dedak dan rasio yang sama seperti penjelasan sebelumnya (4 gelas kumbang membutuhkan 2 kg dedak).

Dalam wadah baru, kumbang akan bertelur kembali selama 10 hari. Silakan diayak kembali telur dan dedaknya, sedangkan para kumbang dipindah ke wadah baru. Demikian seterusnya, sampai kumbang sudah tidak bertelur lagi. Tanda kumbang sudah tak bertelur lagi adalah mati dengan sendirinya.

Bagaimana dengan telur-telur yang dipertahankan dalam wadah plastik? Mereka akan menetas menjadi larva, yang tidak lain adalah ulat hongkong. Sejak menetas, pakan yang diberikan kembali ke tahap pertama (potongan apel dan kentang). Biarkan sampai umur 50 hari. Saat itulah, ulat hongkong siap dipanen, untuk dipasarkan, atau digunakan sendiri, atau dijadikan lagi sebagai materi dalam beternak UH.


Sekarang kita lihat bagaimana siklus hidup ulat hongkong dalam berbagai bentuknya:

Dari penjelasan di atas, sebenarnya tenaga yang dicurahkan untuk beternak ulat hongkong relatif sedikit. Tugas kita hanya sekadar rajin memonitor perkembangannya, dan tentu saja harus sabar menunggu tahapan demi tahapan.

Semoga bermanfaat.

Sumber :
http://omkicau.com/2013/04/02/mau-ternak-ulat-hongkong-cara-praktis/

Saturday, January 4, 2014

Sukses Beternak Ulat Hongkong

Bagi pehobi atau penangkar burung kicauan, kehadiran ulat hongkong sebagai pakan alami sangat dibutuhkan meskipun sudah tersedia pelet pakan burung. Hal itu tidak lepas dari nutrisi yang dapat disediakan oleh ulat hongkong sebagai sumber energi untuk tumbuh dan berkembangbiak. Kadar protein ulat hongkong mencapai 48–56% dengan kandungan lemak berkisar 25–40%.

Saat ini kebutuhan ulat hongkong terus menanjak seiring meningkatnya jumlah pehobi burung kicauan. Survei bebeja.com di salah satu pasar burung terbesar di Jakarta Timur, Pasar Burung Pramuka, memperlihatkan volume penjualan ulat hongkong rata-rata mencapai 100–125 kg per hari. Jumlah itu meningkat 2–3% setiap tahun. Harga ulat hongkong saat ini berkisar Rp18.000–Rp21.000 per kg.

Kondisi itu menjadi peluang bagi peternak untuk membudidayakan ulat hongkong. Sayang sebagian besar peternak ulat hongkong masih berkutat pada urusan kandang dan ransum untuk ulat hongkong. Padahal ada hal penting lain yang menentukan besarnya produksi ulat hongkong yang patut diketahui lebih detil yakni mengetahui reproduksi kumbang Tenebrio molitor sebagai induk yang menghasilkan ulat hongkong.

Hal itu sering diabaikan lantaran banyak peternak masih kesulitan membedakan jenis kelamin sang kumbang. Sejatinya kumbang dapat dengan cepat diketahui perbedaannya meskipun menuntut kejelian. Perbedaan yang terlihat adalah di bagian ujung perutnya atau pada beberapa segmen terakhir dari perut. Kumbang betina memiliki sedikit pemisah di antara tiga bagian segmen perut paling ujung dan hampir tidak terlihat. Berbeda dibandingkan kumbang jantan yang memiliki membran intersegmental berwarna terang.

Nah kumbang Tenebrio molitor memiliki tiga tahapan perkawinan. Pada tahap pertama, kumbang jantan akan mengejar betina sampai sang betina kelelahan dan menyerah. Berikutnya kumbang jantan menaiki betina dan membengkokkan perut bagian belakangnya ke bawah untuk melakukan penetrasi. Pada tahap akhir kumbang jantan akan menyemprotkan sperma dalam perkawinan yang berlangsung pada kisaran waktu 50–120 detik itu. Kunci keberhasilan dari keturunan yang dihasilkan bermula dari perbandingan betina dan jantan. Betina yang kawin dengan lebih dari satu jantan memiliki dua keuntungan secara material dan genetik. Keuntungan material terlihat dari meningkatkan produktivitas betina seperti peningkatan jumlah atau ukuran telur. Secara genetik keragaman gen terjaga sehingga produktivitas berikutnya bisa stabil tanpa ada penyimpangan seperti cacat dan sebagainya.

Bila tidak mau repot peternak bisa membeli larva ulat hongkong di pasar burung. Biasanya pedagang menjual larva ulat berukuran 1–2 cm. Untuk menjadi kumbang ulat-ulat itu membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk menjadi kumbang. Yang perlu dicermati berdasarkan survei Burdett pada 1999, tidak disarankan untuk membeli ulat hongkong yang berukuran besar karena biasanya sudah mendapat perlakuan hormon untuk mencegah ulat-ulat itu berkembang menjadi kumbang. Ulat hongkong tersebut hanya akan mengalami pertambahan ukuran saja dan kalau pun berubah menjadi kumbang, akan sulit berbiak karena steril.

Kumbang ulat tepung biasanya ditempatkan pada wadah-wadah plastik atau pada kotak kayu berukuran 80 cm x 60 cm x 10 cm. Bagian atas kotak dibiarkan terbuka tetapi diberi lakban plastik agar larva maupun kumbang tidak keluar. Pakan yang diberikan adalah pakan ayam petelur sebanyak 1–3 cm dari dasar kotak. Pakan itu berfungsi pula sebagai media hidup sang ulat. Sebagai alternatif bisa dipakai campuran onggok, ampas tahu, dan tepung roti. Berikan pula sayuran seperti selada guna memenuhi kebutuhan air sang ulat.
Nah untuk media bertelur, biasanya diberi kapas setebal 1 cm atau potongan kayu yang berlubang. Bahan itu diletakkan di atas lapisan pakan. Di sanalah nantinya kumbang betina akan meletakkan telurnya. Pemindahan induk kumbang dilakukan setiap 10 hari sekali pada tempat yang berbeda sampai kumbang tersebut mati. Berikutnya setelah larva mulai terlihat, larva diayak dan dipisahkan dalam dua wadah untuk dipelihara. Pada saat pemeliharaan larva tersebut tidak lagi memerlukan kapas atau potongan kayu. Larva-larva yang dipelihara itu akan berubah menjadi pupa, selanjutnya kumbang. Setelah dewasa, kumbang-kumbang tersebut akan kawin dan menghasilkan telur.

Sumber :
http://www.bebeja.com/sukses-beternak-ulat-hongkong/

Thursday, January 2, 2014

Budidaya Ulat Hongkong

Bagi para pemilik burung berkicau, khususnya yang sering memberi pakan ulat sebagai Extra Fooding kepada burung berkicau piaraannya. Tentu anda tidak asing lagi dengan ulat Hongkong. Walaupun agak menjijikan, tapi peluang usaha budidaya ulat hongkong ini cukup menjanjikan. Pangsa pasar ulat hongkong sangat baik dan luas, mulai Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Mendengar nama ulat umumnya kita utamanya para wanita akan merasa takut, jijik dan berpandangan yang negatif lainnya. Tapi ternyata budidaya ulat hongkong dapat mendatangkan pendapatan tambahan yang lumayan besar.

Ulat hongkong atau dikenal juga dengan nama Meal Worm atau Yellow Meal Worm bisa dijumpai di toko toko pakan burung, reptil dan ikan, Pets Shop dan petcenter lainnya sebab ulat hongkong memang dipergunakan sebagai suplemen bagi pakan hewan hewan tersebut. Ulat hongkong dapat dipakai sebagai bahan makanan hewan baik dalam bentuk exstra fooding utuh maupun dalam bentuk pelet.

Usaha Rumahan budidaya ulat hongkong sebetulnya cukup mudah dan tidak membetulkan tenaga serta modal yang besar, disamping itu budidaya ulat hongkong juga dapat dilakukan sebagai usaha sampingan. Bisnis budidaya ulat Hongkong ini sudah banyak ditekuni oleh beberapa warga didaerah kota Besar di Pulau Jawa. Dengan memanfaatkan sebagian ruangan dalam rumah, mereka menekuni usaha rumahan budidaya ulat hongkong.

Hasil usaha rumahan budidaya ulat hongkong ini cukup menguntungkan, saat ini hampir setiap hari ulat hongkong di panen dan di pasok ke pedagang burung di pasar pasar burung maupun Pets shop. Harga ulat hongkong mencapai sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kg. Harga ulat hongkong pernah anjlok beberapa tahun yang silam sampai seharga 12 ribu per kg, ini di karenakan over produksi sebab banyaknya peternak ulat waktu itu. Tapi dalam beberapa tahun belakangan ini harga stabil di kisaran Rp20 - Rp30 ribu per kg.

Pedoman Budidaya Ulat Hongkong:

Bila ingin memulai usaha rumahan budidaya ulat hongkong, langkah langkahnya tidak sulit dan yang diperlu di butuhkan adalah ketelatenan, ketekunan, ingin berusaha sebab usaha rumahan dapat dilakukan di rumah. Berikut ini langkah langkah memulai usaha rumahan budidaya ulat hongkong.

1. Kita siapkan kandang untuk memelihara berupa papan triplek, atau dapat juga menggunakan nampan plastik. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Bila menggunakan triplek atau papan setiap sudut diberi lakban supaya ulat hongkong tidak kabur.

2. Kita siapkan media pemeliharaan dari campuran dedak halus atau Polard dengan ampas tahu kering, dapat kita beli di toko pakan.

3. Telur ulat hongkong yang dibeli dari peternak ulat hongkong lain, atau dapat juga membeli ulat hongkong di toko pakan hewan kemudian langsung dibudidayakan hingga menjadi serangga dan kemudian bertelur.

4. Pakan ulat hongkong dapat terdiri dari limbah sayuran, timun, pepaya,jipang dan bahan makanan lainnya yang mengandung banyak air.

5. Kunci usaha ulat hongkong ini adalah ketelatenan dan ketelitian dalam melakukan pemeliharaan. Bila kurang teliti terkadang ada hama sejenis ulat yang berukuran lebih kecil dari ulat hongkong menumpang hidup pada media, yang berbahaya ulat kecil ini bersifat kanibal dan memakan ulat-ulat hongkong yang lain sehingga produksi menurun. Umumnya ulat jenis ini datang dari media dedak halus dan dari lingkungan sekitar.

Tempat Budidaya Ulat Hongkong

Usahakan untuk tempat atau bangunan budidaya ini dibuat secara permanen atau terbuat dari tembok sekelilingnya. Tujuannya adalah supaya terhindar dari tikus atau hama semut. Atap terbuat dari enternit dan 95% bangunan tertutup. Lantai terbuat dari tembok atau ubin. Suhu sangat mempengaruhi pertumbuhan ulat. Usahakan suhu dalam ruangan tetap antara 29 – 30 derajat C dan selalu lembab, artinya tidak terlalu dingin juga tidak terlalu panas. Suhu ini adalah suhu terbaik untuk budidaya ulat hongkong.

Pemilihan Indukan Ulat Hongkong

Adapun langkah dalam pemilihan indukan ulat hongkong adalah sebagai berikut :
Serangga Tenebrio Molitor, Induk Ulat Hongkong

Ulat hongkong sesungguhnya merupakan fase larva dari serangga bernama latin Tenebrio Molitor. Serangga Tenebrio Molitor berwarna hitam dan merupakan serangga pemakan biji-bijian. Dalam Fase hidupnya serangga Tenebrio Molitor ini terdiri dari 4 siklus hidup , yaitu telur –> larva (ulat Hongkong) –> kepompong –> ulat dewasa atau Serangga. Siklus ini dapat berlangsung dalam waktu 3 sampai 4 bulan. Larva atau ulat hongkong ini akan mengalami pergantian kulit sebanyak 15 kali sebelum pada akhirnya berubah menjadi kepompong. Ketika berganti kulit inilah waktu yang tepat untuk diberikan kepada ikan hias, karena zat kitin yang terdapat pada kulit ulat hongkong tidak dapat dicerna oleh ikan.

1. Untuk memilih indukan ulat hongkong, usahakan tidak lebih dari 2 kg, supaya ulat yang jadi kepompong ukurannya dapat besar-besar (rata-rata panjang 15 mm dan lebar 4 mm). Sedangkan ulat hongkong dewasa dengan ukuran panjang rata-rata 15 mm, dan diameter rata-rata 3 mm akan mulai menjadi kepompong sekitar 7 hingga 10 hari lagi secara bergantian.

2. Pengambilan kepompong, pengambilan kepompong mesti dilakukan selama 3 (tiga) hari sekali, agar kepompong yang telah dipisah serta ditempatkan di dalam kotak tersendiri berubah menjadi kumbang secara serentak.

3. Pemilihan kepompong, pemilihan kepompong dilakukan tiga hari sekali, serta kepompong yang dipilih haruslah yang telah berwarna putih kecoklatan. Dan cara pengambilannya pun, mesti hati-hati jangan sampai lecet/cacat. Jika sampai lecet atau luka, maka kepompong akan mati busuk. Kepompong yang telah dipilih kita taruh di dalam kotak pemeliharan yang telah diberi alas koran. Kemudian, disebar sedemikian rupa. Jangan sampai bertumpuk, lalu ditutup kembali menggunakan kertas koran sampai rapat.

4. Kepompong akan menjadi kumbang, dalam usia mulai 10 hari. Dan jika sayap kumbang masih berwarna kecoklatan, jangan diambil dulu. Biarkan hingga berwarna hitam mengkilat, dan kumbang siap ditelurkan. Satu kotak peti, kita tebari kumbang sekitar 250 gram dan berikan kapas sebagai alas untuk bertelur yang sudah dibeberkan.

5. Pembibitan ini dibiarkan hingga 7 hari, dan diturunkan jika waktu tersebut datang. Kumbang yang telah terpisah dari kapas, diberi kapas baru lagi dan begitu seterusnya. Tingkat kematian pada kumbang ini, dapat mencapai 2 hingga 4 % sekali turun.

6. Kapas yang ada telurnya kita simpan dalam peti terpisah, telur akan mulai menetas sesudah 10 hari. Sesudah usia ulat mencapai 30 hari baru kita pisahkan dari kapasnya.

Pemberian Pakan

A. Pemberian Pakan untuk ulat bibit.
1. Untuk satu kotak beri makanan sekitar 500 gram, dengan interval waktu 4 hari sekali. Atau jika makanan sudah benar-benar bersih, dengan cara dikepal-kepal menjadi 3 bagian. Gunanya supaya kepompong yang ada, tidak tertimbun makanan karena apabila hal ini terjadi kepompong akan busuk.
2. Selain ampas tahu dan dedak, pakan sebaiknya dicampur dengan tepung tulang atau pur, tujuannya agar kepompong besar-besar.
3. Pemberian makanan untuk kumbang jangan terlalu banyak dan caranya disebar merata sekitar 100 gram sekali makan per 3 hari sekali.

B. Pemberian makan untuk ulat kecil.
1. Jika ulat masih ada dalam kapas, sebaiknya pemberian pakan dengan sayuran sesin, capcay atau selada cabut maksimal 4 lembar hingga habis, dan sayuran tersebut dijemur dulu agar setengah kering.
2. Jika pakan biasa, ukurannya 100 gram dan disebar tunggu hingga pakan itu habis, baru diberi lagi.
3. Jika ulat telah terpisah dari kapas, beri pakan sekitar 1 kg dengan cara dikepal dan sebagian disebar merata. Sedangkan untuk ulat kecil, satu kotak sekitar 2 kg dengan ukuran ulat panjang 6 mm dan diameternya 1,5 mm (umur 30 – 60 hari).
4. Untuk ulat dewasa (umur 60 – 90 hari), pemberian pakan 1,5 kg hingga dengan 2 kg per kotak, dengan cara dikepal dan disebar sedikit.

Penyakit Pada Ulat Hongkong

Ciri-ciri ulat hongkong yang terkena penyakit dan penanggulangannya:
1. Jika kulit ulat kuning kehitam-hitaman. Jangan terlalu banyak diberi makan dari daun-daunan, dan jangan terlalu banyak diberi dedak.
2. Ulat hongkong mati berwarna merah. Jika hal ini terjadi, maka pencegahannya adalah pemberian pakan tidak terlalu basah. Hal ini mesti segera diatasi karena penyakit ini selain menular menyerang dengan cepat.
3. Ulat hongkong mati berwarna hitam. Hal ini terjadi jika pemberian pakan disebar, biasanya terjadi pada ulat dewasa usia 1 sampai 3 bulan. Maka sebaiknya pemberian makanannya dilakukan secara dikepal-kepal.

Analisa Produksi

Kapasitas produksi dengan induk ulat dewasa 1 kg1. Dari pembibitan 1000 gram ulat dewasa usia 90 hari, maka keseluruhan kepompong yang akan dihasilkan adalah 900 gram secara bertahap dalam 10 kali pengambilan kepompong.
2. Dari 900 gram kepompong, maka akan dihasilkan 700 gram kumbang sehat dan siap bertelur, dengan tingkat kematian dari kepompong menjadi kumbang sekitar 2% setiap pengambilan kumbang.
3. Dari 1 kilogram ulat indukan, maka akan dihasilkan 33,1 kilogram ulat siap jual dengan rincian sebagai berikut: Target hasil tersebut, dapat dicapai apabila tingkat kematian kumbang hanya 1 % dan makanan terjamin, serta perkembangannya bagus.
4. Pakan untuk 1 kilogram induk sampai habis terjual: a. Ampas tahu 50 kg kering b. Dedak 5 kg
5. Penyusutan. Ampas tahu yang basah sesudah diperas akan menyusut, dari 25 kg basah menjadi 15 kilogram kering dengan kadar air 15%.

Sumber Refferensi
1. Ir Rohmad MMA; Jurusan Perternakan Fakultas Pertanian Universitas Islam Kidira - Kediri http://rohmatfapertanian.wordpress.com/2012/08/05/diktat-aneka-ternak-13-ulat-hongkong/
2. http://ukmkecil.com/budidaya-ternak/budidaya-ulat-hongkong