Showing posts with label budidaya kambing. Show all posts
Showing posts with label budidaya kambing. Show all posts

Sunday, September 22, 2013

Potensi Bulu Kambing dan Hambatannya dalam Pengembangan sebagai Produk Industri


Bulu Kambing

Bulu adalah rambut pendek dan lembut pada tubuh binatang yang mempunyai fungsi salah satunya untuk menyimpan panas badan dan melindungi kulit dari sinar matahari. Bulu kambing merupakan salah satu hasil samping pemotongan kambing. Bulu kambing setelah pemotongan masih banyak yang di buang begitu saja tanpa dimanfaatkan lebih lanjut. Jika tidak dimanfaatkan, bulu kambing ini dapat menjadi limbah yang mungkin bisa menimbulkan pencemaran lingkungan karena proses penguraian bulu kambing di dalam tanah lama.


Pemanfaatan Bulu Kambing


Bulu kambing sebenarnya dapat dimanfaatkan lebih lanjut sebagai bahan baku produk industri. Saat ini, bulu kambing digunakan oleh sebagian kecil masyarakat misalnya dibuat karpet atau sajadah, sebagai benang pancing, serta biasanya bersama kulit dibuat frame kaligrafi dan samak bulu. Kebanyakan karpet atau permadani dibuat di negara Timur Tengah. Bulu kambing juga dapat dipintal dan dijadikan bahan baku tekstil seperti wool. Menurut Ernawati et al. (2008), serat bulu kambing biasanya dicampur dengan wool untuk mendapatkan efek khusus, misalnya untuk menambah keindahan, kadang juga dipakai untuk keperluan khusus, seperti untuk sikat. Serat bulu kambing yang biasa digunakan berasal dari serat mohair. Kegunan serat mohair diantaranya yaitu untuk kain berbulu (selimut), untuk pakaian musim panas, untuk kain rajut dan untuk kain penutup kursi dan permadani.
Bagi masyarakat suku Badui Arab, Persia, dan Anatolia, permadani menjadi benda yang sangat penting dalam kehidupan mereka, seperti untuk membuat tenda untuk melindungi diri dari badai pasir dan alas lantai yang nyaman bagi rumah tangga. Selain itu, permadani pun digunakan untuk menjadi hiasan dinding atau pembatas ruangan. Bahkan juga, di pakai sebagai selimut, tas, dan pelana kuda. Permadani pada dasarnya digunakan di dunia Islam sebagai alas lantai masjid dan rumah-rumah. Tak jarang, permadani pun digunakan sebagai hiasan dinding di istana-istana raja pada zaman keemasan Islam. Para seniman permadani Muslim pada zaman kejayaan Islam biasanya menggunakan bulu domba (wool), kambing, atau bulu unta sebagai bahan pembuatan permadani (Suara Media, 2009). Karpet yang terbuat dari serat alami atau hasil buatan tangan memang memberi nilai lebih. Menguatkan aksen lebih mewah, namun tetap natural. Sementara itu, bahan karpet yang menjadi incaran kaum papan atas yakni karpet berbahan sutra dan wool dari bulu domba, kambing, dan unta. Harga masing-masing karpet berbeda, tergantung jenisnya. Karpet dengan bahan wool dari bulu domba, kambing, dan unta atau sutra pintalan jauh lebih mahal dibandingkan dengan hasil buatan pabrik. Karpet handmade lebih unik dan berbeda. Di Jakarta, misalnya, karpet buatan tangan dibanderol seharga Rp 2 juta hingga ratusan juta rupiah (Sari, 2009).


Potensi Produksi Perbulan di Jawa Tengah


Hampir 60% populasi kambing yang berkembang di Indonesia terdapat di Pulau Jawa. Berdasarkan Ditjen Bina Produksi Peternakan tahun 2000, dari 15.209.720 ekor kambing di seluruh Indonesia, sekitar 8.783.890 ekor kambing berada di Pulau Jawa. Populasi kambing di Indonesia rata-rata meningkat 2,2-4,3% pertahunnya (Mulyono dan Sarwono, 2009). Berdasarkan Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan tahun 2004, populasi kambing di Jawa Tengah 2.985.845 ekor, Jawa Barat 1.304.433 ekor, D.I Yogyakarta 243.417 ekor, Jawa Timur 2.357.900 ekor, dan di Bali 62.014 ekor. Dalam 10 tahun ke depan diperkirakan populasi ternak ini akan meningkat menjadi 30-35 juta ekor. Sebagian besar usaha peternakan kambing ditujukan untuk memenuhi permintaan produksi daging. Pada tahun 2002, produksi daging kambing sekitar 50.991 ton atau setara dengan pemotongan sebanyak 3.642.214 ekor atau sekitar 27,92 % dari populasi. Produksi daging kambing pada tahun 2000-2004 cenderung terus meningkat, tetapi populasinya mengalami penurunan sebesar 2,28 persen pada tahun 1998 s/d 2002 (dari 13.342.074 ekor menjadi 13.044.938 ekor) (Anonim, 2010).
Salah satu jenis kambing yang ada di Jawa Tengah yaitu kambing peranakan Etawa sejumlah sekitar 300.000 ekor (pada bulan Juli 2010) yang dibudidayakan di Kaligesing, Purworejo (Biro Humas Provinsi Jawa Tengah, 2010). Ciri kambing PE antara lain berukuran besar, serta bobot dewasa rata-rata 40-45 kg (Mulyono dan Sarwono, 2009). Bulu tumbuh panjang di bagian leher, pundak, punggung dan paha, bulu paha panjang dan tebal. Warna bulu ada yang tunggal, putih, hitam dan coklat, tetapi jarang ditemukan. Kebanyakan terdiri dari dua atau tiga pola warna, yaitu belang hitam, belang coklat, dan putih bertotol hitam. Jenis kambing di Indonesia yang lain yang dapat dimanfaatkan bulunya yaitu kambing gembrong yang terdapat di Pulau Bali. Ciri khas dari kambing ini adalah berbulu panjang. Panjang bulu sekitar berkisar 15-25 cm, bahkan rambut pada bagian kepala sampai menutupi muka dan telinga. Rambut panjang terdapat pada kambing jantan, sedangkan kambing Gembrong betina berbulu pendek berkisar 2-3 cm (Pamungkas et al., 2009). Bobot badan kambing dewasa sekitar 32-45 kg (Mulyono dan Sarwono, 2009).
Berdasarkan keterangan diatas dapat diasumsikan jika berat bulu yang dihasilkan setiap pemotongan satu ekor kambing 3% dari bobot badan, bobot badan kambing PE rata-rata 42,5 kg, peningkatan populasi pertahun 3,25%, tiap pemotongan sekitar 27,92%, maka selama satu tahun pemotongan dapat dihasilkan bulu kambing dari kambing Peranakan Etawa di Jawa Tengah sebesar kurang lebih 3% x 42,5 kg x (27,92% x 309.750) = 110.265 kg. Jadi dalam 1 bulan kira-kira dapat dihasilkan 9.189 kg. Jika bulu kambing ini dapat dimanfaatkan mungkin bisa dihasilkan sekitar 3 buah karpet yang berukuran sedang.


Hambatan dalam Pengembangan sebagai Produk Industri


Hambatan dalam pengembangan produk bulu kambing misalnya dalam pembuatan karpet salah satunya yaitu keterbatasan modal, SDM belum terampil mengolah bulu kambing menjadi produk karpet, alat pemintal benang masih sedikit dan sederhana, ketersediaan bahan baku yang relatif sedikit sehingga ketersediaan benangnya terbatas, serta waktu pembuatannya yang lama. Hal tersebut menyebabkan harganya menjadi sangat mahal. Selain itu, masih sedikit atau belum ada pengusaha yang bergerak di bidang ini. Padahal terdapat banyak RPH di Jawa Tengah sehingga perlu pemasok di tiap kabupaten dan minimal ada 1 perusahaan yang menangani.


Proses Pengolahan Bulu Kambing


Cara pengolahan bulu kambing pada prinsipnya hampir sama dengan pengolahan bulu domba. Tahap-tahap pengolahan bulu kambing menurut Saleh (2004) meliputi:
1. Pencukuran bulu. Bulu kambing dicukur dengan gunting, kemudian hasil guntingan bulu dikumpulkan.
2. Penyortiran yaitu memisahkan bulu dari kotoran (feses), rumput, ranting, tanah dan lain-lain.
3. Pencucian. Pencucian bulu dilakukan tiga tahap, yaitu :
a. Perendaman. Bulu direndam dalam air selama 12 jam (satu malam), kemudian dibilas.
b. Pencucian dengan deterjen dilakukan dengan cara melarutkan 100 gram deterjen ke dalam 10 liter air kemudian merendam bulu selama 15 menit. Setelah itu diangkat dan dibilas dengan air bersih.
c. Pencucian dengan desinfektan, yaitu dengan melarutkan desinfektan (lisol atau densol) sebanyak 100 cc ke dalam 10 liter air. Kemudian mencelupkan bulu yang sudah dicuci dengan deterjen ke dalam larutan desinfektan. Setelah itu diangkat, diperas dan langsung dijemur.
4. Penjemuran. Bulu dihamparkan (tipis saja) di atas meja penjemuran dan dijemur selama 1-2 hari pada waktu yang cerah.
5. Pemisahan, dilakukan dengan cara menyobek-nyobek bulu yang masih menggumpal dengan kedua tangan sampai bulu menjadi terurai. Apabila gumpalan bulu tersebut sulit diuraikan, maka digunting dan dibuang saja.
6. Penyisiran, bulu diletakkan di atas sisir kemudian sisir diputar-putar sampai bulu tersebut terbentuk lembaran-lembaran tipis.
7. Pemintalan. Bulu yang sudah disisir dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam lubang benang alat pintal. Kemudian memutar roda dengan kaki terus menerus sampai terbentuk helai-helai benang. Setiap dua helai benang dipintal/digabung menjadi benang.
8. Pemutihan. Benang hasil pintalan perlu diputihkan, caranya dengan merebus air 2 liter sampai mendidih lalu masukkan 2 sendok (± 10 ml) H2O2 dan 2 sendok deterjen. Kemudian didihkan lagi dan memasukkan benang yang akan diputihkan, diaduk-aduk sampai berbusa (± 5 menit). Setelah itu diangkat dan dibilas dengan air sampai bersih, lalu dijemur.
9. Pewarnaan. Pewarnaan benang menggunakan pewarna tekstil, sesuai dengan warna yang diinginkan. Caranya dengan mencampurkan 10 liter air + 0,3 liter biang cuka + pewarna. Merebus benang dalam campuran pewarna tersebut selama 1 jam, lalu diangkat dan ditiriskan. Kemudian benang dicuci sekali lagi dan terakhir dikeringkan.
10. Pembuatan design. Design disesuaikan dengan barang kerajinan yang akan dibuat (misalnya: karpet, tas, hiasan dinding). Menggambar ukuran dan motif yang diinginkan, kemudian menentukan warna-warna pada motif yang diinginkan.
11. Penenunan.


Simpulan


Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa bulu kambing sebenarnya sangat potensial untuk dijadikan produk industri, misalnya karpet. Oleh karena itu perlu pengembangan produk industri dari bulu kambing secara optimal supaya mendapatkan keuntungan lebih, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain itu, perlu mengolah produk dari bulu kambing ini dengan sebaik-baiknya supaya dihasilkan produk yang berkualitas dan tidak kalah dengan produk impor. Namun, banyak hambatan dalam mengembangkan bulu kambing ini sebagai produk industri, seperti keterbatasan modal, SDM belum terampil, keterbatasan alat dan masih sederhana, ketersediaan bahan baku yang relatif sedikit sehingga ketersediaan benangnya terbatas, waktu pembuatannya yang lama, serta sedikit atau belum ada pengusaha yang bergerak di bidang ini.


Daftar Pustaka


Anonim. 2010. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kambing-Domba. (http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/files/0107L_KADO.pdf). Diakses tanggal 17 April 2011.
Biro Humas Provinsi Jawa Tengah. 2010. Wamentan Luncurkan Kambing Kaligesing. (http://promojateng-pemprovjateng.com/). Diakses tanggal 17 April 2011.
Ernawati, Izwerni, dan W. Nelmira. 2008. Tata Busana untuk SMK Jilid 2. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. (http://ictsleman.ath.cx/pustaka/bse/04_SMK-MAK/kelas11_smk_tata_busana_ernawati.pdf). Diakses tanggal 17 April 2011.
Mulyono, S. dan B. Sarwono. 2009. Penggemukan Kambing Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Pamungkas, F. A., A. Batubara, M. Doloksaribu, dan E. Sihite. 2008. Petunjuk Teknis Potensi Beberapa Plasma Nutfah Kambing Lokal Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Departemen Pertanian Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih, Sumatera Utara. (http://lolitkambing.litbang.deptan.go.id/juknisplasmanutfah.pdf). Diakses tanggal 17 April 2011.
Saleh, E. 2004. Teknologi Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. Program Studi Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara. (http://digilib.usu.ac.id). Diakses tanggal 17 April 2011.
Sari. I. 2009. Permadani Tak Sekadar Alas Kaki. (http://www.tempointeraktif.com). Diakses tanggal 17 April 2011.
Suara Media. 2009. Permadani, Buah Karya Peninggalan Kesenian Islam. (http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/7476-permadani-buah-karya-peninggalan-kesenian-islam.html). Diakses tanggal 17 April 2011.


sumber : alifahmj.blogspot.com

Monday, September 2, 2013

Limbah Pasar Untuk Pakan Kambing

Sampah merupakan limbah yang mempunyai banyak dampak pada manusia dan lingkungan antara lain kesehatan, lingkungan, dan sosial ekonomi. Salah satu sampah atau limbah yang banyak terdapat di sekitar kota adalah limbah pasar.

Limbah pasar merupakan bahan-bahan hasil sampingan dari kegiatan manusia yang berada di pasar dan banyak mengandung bahan organik.

Selama ini pengolahan sampah organik hanya menitikberatkan pada pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos, padahal sampah dapat dikelola menjadi bahan bakar/sumber energi dan pakan ternak yang baik. Hal ini akan lebih bernilai ekonomis dan lebih menguntungkan. Bila sampah organik langsung dikomposkan maka produk yang diperoleh hanya pupuk organik.

Namun bila diolah menjadi pakan, sampah tersebut dapat menghasilkan daging pada ternak dan pupuk organik dari kotoran ternak. Dengan demikian nilai tambah yang diperoleh akan lebih tinggi sekaligus dapat memecahkan pencemaran lingkungan dan mengatasi kekurangan pakan ternak.

Membuat pakan dari sampah antara lain dapat dimulai dari pemisahan sampah organik dan anorganik, dilanjutkan dengan pencacahan, fermentasi, pengeringan, penepungan, pencampuran dan pembuatan pellet.

sampah pasar yang banyak mengandung bahan organik adalah sampah-sampah hasil pertanian seperti sayuran, buah-buahan dan daun-daunan serta dari hasil perikanan dan peternakan.

Limbah sayuran adalah bagian dari sayuran atau sayuran yang sudah tidak dapat digunakan atau dibuang. Limbah buah-buahan terdiri dari limbah buah semangka, melon, pepaya, jeruk, nenas dan lain-lain sedangkan limbah sayuran terdiri dari limbah daun bawang, seledri, sawi hijau, sawi putih, kol, limbah kecambah kacang hijau, klobot jagung, daun kembang kol, ampas kelapa parut dan masih banyak lagi limbah-limbah sayuran lainnya.

Namun yang lebih berpeluang digunakan sebagai bahan pengganti hijauan untuk pakan ternak adalah limbah sayuran karena selain ketersediaannya yang melimpah, limbah sayuran juga memiliki kadar air yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan limbah buah-buahan sehingga jika limbah sayuran dipergunakan sebagai bahan baku untuk pakan ternak maka bahan pakan tersebut akan relatif tahan lama atau tidak mudah busuk.

Apakah mudah mendapatkan limbah pasar berupa sayuran organik ? memang tidak mudah, yang jelas harus koordinasi dengan penjual sayur-sayuran, kalau diizinkan alangkah idealnya kalau kita sediakan plastik besar atau pembungkus sampah tersebut, sehingga pedagang sayurnya pun tidak keberatan atau tidak perlu mengeluarkan modal lagi untuk beli tempat sampah sayurnya. Kita pun harus konsisten untuk mengambil sampah tersebut, karena kalau tidak konsisten pasti akan ditegur oleh penjual sayurnya, karena penjual sayurnya harus membuang sendiri sampahnya. Hal lain yang perlu disiapkan adalah kendaraan untuk mengangkut sampah organik dari pasar tersebut ke lokasi peternakan kambing.

Salah satu sampah organik yang banyak adalah ampas kelapa dari tukang penjual santan kelapa, apabila dalam 1 pasar terdapat 3 penjual santan kelapa saja, dipastikan kita akan mendapatkan 3 karung ampas kelapa seukuran 40kg, berarti 120kg ampas parutan kelapa, lumayan kan ..

Berangkat dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengolahan limbah sayuran pasar dengan benar, bisa digunakan secara maksimal untuk mensupport pakan pokok atau bahkan bisa digunakan sebagai pakan kambing khususnya pada penggemukan kambing.


Bali Mbangun Desa

Kota besar.... benar benar memberikan harapan, impian besar kepada banyak orang khususnya mereka yang tinggal di desa bahkan di pelosok kampung pun berbondong-bondong ingin mengadu nasib ke kota besar. Entah sampai kapan fenomena ini akan terus berlangsung di negeri Indonesia tercinta ini.

Kota besar yang sebenarnya secara luas daerahnya tidak besar itu akhirnya terisi oleh ribuan bahkan jutaan orang, akhirnya, macet melanda, polusi dimana-mana, kejahatan merajalela, pengangguran tidak terhindarkan karena sangat banyak orang desa hijrah ke kota tanpa skill apapun, alias hanya bonek  (bondo nekat), modal pas pasan, ijazah seadanya, sungguh memilukan.

Desa tidak menarik lagi, desa yang luas, lahan pertanian yang sangat potensial, berbagai potensi ternak yang sungguh sangat luar biasa, hasil tambang yang melimpah ruah, akhirnya tidak ada yang memaksimalkan. Di desa mayoritas hanya terdapat orang tua, kemudian akan muncul pertanyaan : mengapa desa kehilangan anak-anak nya ? kenapa desa hanya menjadi batu loncatan saja, kenapa desa sungguh-sungguh hanya sekedar dijadikan tujuan mudik saja ? kenapa orang-orang tidak tertarik meraih sukses dengan tetap tinggal di desa ?

Andai pemerataan pembangunan, pemerataan teknologi bisa dengan cepat masuk ke semua pelosok-pelosok desa di Indonesia, saya yakin, yang namanya urbanisasi bisa dikurangi. Salah besar kalau orang men cap bekerja di kota besar pasti sukses, tidak semuanya sukses, bukti sederhana, banyaknya orang yang tinggal di pinggir kali Ciliwung, di pemukiman kumuh, yang memang tidak beruntung karena nyata-nyatanya skill mereka terbatas sehingga tidak bisa mendapatkan penghidupan yang layak.

Apa yang akan terjadi kalau pemerintah dengan sangat serius, sungguh-sungguh, tidak korupsi, benar-benar mengabdi kepada rakyat kecil ? jawabannya adalah "KESEJAHTERAN". Pemerintah bisa menseriusi bidang pertanian, bidang peternakan, bidang perkebunan, bidang UKM kreatif, pembangunan padat karya, dll.

Baik saya akan coba ambil satu topik saja yaitu mengenai peternakan, spesifiknya mengenai ternak kambing. Kenapa kambing ? seperti kita ketahui bersama, kambing adalah hewan komoditi yang setiap saat dibutuhkan dan dikonsumsi masyarakat Indonesia, khususnya ketika Hari Raya Qurban. Dalam 1 desa rata-rata 50% warganya memelihara kambing, namun apa yang terjadi, apakah mereka sudah sejahtera ? pasti kita tahu semua jawabannya adalah belum.

Kenapa memelihara kambing belum bisa membuat masyarakat desa menjadi sejahtera ? simple jawabannya, diantaranya adalah :
  1. Tidak banyak masyarakat desa yang menseriusi memelihara kambing, seolah-olah hanya dijadikan hewan piaraan seperti ayam kampung saja dan karena melimpahnya pakan hijauan jadi sayang kalau tidak ada yang memanfaatkan
  2. Belum banyak contoh peternak kambing yang sudah sukses, karena tipikal orang desa adalah baru ikut bergerak kalau sudah ada yang sukses, itupun masih setengah hati melangkahnya.
  3. Kurangnya tenaga penyuluh lapangan dari pemerintah, sehingga penyuluh lapangan yang hanya beberapa orang, terpaksa melayani puluhan desa.
  4. Kurangnya arahan untuk pembentukan kelompok ternak kambing, sehingga menghambat informasi mengenai potensi usahanya, cara atau teknik ternak terbaru, link atau jalur penjualan-penjualan kambing dan pemanfaatan terpadu berbagai limbah peternakan kambing.
  5. Kurangnya informasi perkembangan teknik-teknik budidaya kambing yang baru yang diterima oleh para penduduk kampung. Sebenarnya banyak informasi informasi yang dasyat yang bisa di dapat melalui internet, namun apa daya... infrastruktur belum masuk kampung, kalaupun di kampung ada warnet... bisa dipastikan 90% akan diisi anak-anak kecil yang main game online. Coba kita bayangkan kalau semua peternak kambing tahu kalau jerami fermentasi dan fermentasi gedebog pisang bisa digunakan untuk pakan yang luar biasa, dijamin semua kambing akan gemuk-gemuk, dan tentu saja harganya mahal.
  6. Biasanya yang lebih sukses adalah pedagang kambing, bukan murni peternaknya, kenapa bisa terjadi seperti itu ? karena trading kambing di kalangan peternak kampung ya hanya di pasar hewan atau malah di samperin ama bakul kambing. 
Saya sangat berharap sekali ada uluran tangan yang tulus dari pemerintah, dari perusahaan BUMN, perusahaan swasta nasional yang dengan suka rela, mengalokasikan dananya, mengalokasikan CSR nya untuk peternak kambing di kampung di seluruh Indonesia. Tidak lupa juga disediakan berbagai tenaga penyuluhan ternak kambing yang lebih modern, dibuatkan pelatihan-pelatihan mengenai pengolahan daging kambing, disediakan pabrik-pabrik pengolahan daging kambing yang bisa diekspor atau minimal pemerintah Indonesia tidak perlu impor daging kambing. Semoga semua peternak kambing di kampung bisa sejahtera di tahun-tahun mendatang.


    Tuesday, August 20, 2013

    Cara Mengetahui Pubertas Pada Kambing Betina

    Artikel berikut membahas tentang pubertas pada kambing betina, yang berguna bagi Anda yang mempunyai bisnis budidaya ternak kambing

    A. Pubertas

    Pubertas adalah usia ketika binatang mencapai kemampuan untuk melepaskan gamet dan memanifestasikan perilaku seksual urutan lengkap. Usia pubertas merupakan parameter yang sangat penting untuk kesuksesan peternakan. Hewan yang mencapai pubertas lebih awal memberikan produktivitas lebih tinggi.

    kambing betina termasuk hewan yang mengalami siklus polyestrus yaitu hewan yang aktivitas seksualnya  hanya selama musim tertentu saja dan tidak  dapat berkembang biak selama sisa tahun. kambing memiliki siklus estrus yang teratur. Sebuah siklus estrus yang lengkap termasuk perkembangan telur (ovum) di ovarium, menyiapkan rahim untuk kehamilan, periode penerimaan terhadap jantan (periode estrus), dan berakhir dengan pelepasan telur dari ovarium (ovulasi). Dalam siklus estrus kambing ada beberapa peluang bagi kambing tersebut untuk hamil selama musim kawin tunggal.

    B. Masa Pubertas Kambing Betina

    Pubertas kambing betina ditandai dengan ovulasi yang pertama. Pubertas tampaknya tergantung pada berat badan kambing tersebut. Kebanyakan anak kambing betina akan mencapai pubertas pada saat mereka telah mencapai 50 – 70%  dari berat badan mereka.

    C. Faktor Yang Mempengaruhi Pubertas Pada kambing Betina

    Faktor genetik hewan.
    Keturunan persilangan mencapai pubertas lebih awal dibandingkan dengan bibit lokal. Susu keturunan eksotis mencapai Pubertas di 12 – 15 bulan. Keturunan lokal mencapai pubertas pada usia 18 – 24 bulan. Kawin sedarah akan memperpanjang masa pubertas, seleksi perkembangbiakan harus dilakukan untuk memperoleh bibit yang unggul.


    Faktor nutrisi.
    Pada hewan yang kekurangan makanan atau nutrisi maka pubertas hewan tersebut akan tertunda. Pada hewan yang nutrisi nya tercukupi maka pubertas dicapai lebih awal. Ketika anakan mencapai bobot  55-60% dari
    berat tubuh dewasa, maka hewan tersebut telah mencapai masa pubertas.

    Musim Lahir.
    Contoh, 2 kambing, A & B lahir di bulan Januari dan April masing-masing. Waktu yang diperlukan untuk kambing mencapai pubertas adalah 6 bulan, kambing A tidak dapat mencapai pubertas pada bulan Juni karena, pada bulan Juni merupakan musim panas.Sedangkan B kambing lahir pada bulan April akan mencapai pubertas pada bulan September, yang merupakan musim berkembang biak bagi kambing yang diperkirakan pada bulan September tersebut kaya akan pakan untuk anak hewan tersebut.

    Musim kawin

    Musim kawin kambing juga mempengaruhi pubertas. Ketika musim kawin terjadi banyak ternak yang terangsang baik itu yang sudah dewasa maupun yang belum dewasa sekalipun. Sehingga kondisi tersebut dapat mempercepat pubertas pada ternak yang belum dewasa terutama dewasa kelaminnya.

    Faktor yang mempengaruhi musim kawin antara lain :

    - Lamanya siang hari

    Biasanya ternak akan sering ovulasi pada malam hari sehingga pada siang hari sebelumnya ternak tersebut menunjukan tanda-tanda birahi yang dapat merangsang pejantan untuk mengawininya.

    - Mekanisme hormonal

    Sistem kerja hormon yang normal atau tidak mengalami gangguan akan mempengaruhi keinginan untuk kawin dari ternak bila mekanisme hormonal ini terganggu maka akan menghambat atau mempengaruhi tingkat kawin dari suatu ternak.

    - Suhu.

    Di musim panas atau suhu terlalu tinggi akan menunda masa pubertas, karena suhu yang terlalu panas akan menyebabkan stres pada hewan sehingga rasio pertumbuhan rendah dan pubertas akan tertunda.


    Manajemen.
    Ketika hewan jantan dan betina disimpan bersama-sama kemudian pubertas datang lebih awal, hal itu disebabkan karena penglihatan dan visualisasi. Begitu juga sebaliknya.


    Faktor-faktor lain

    Contoh faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi pubertas antara lain :

    Jenis ternak yang dipelihara,jantan atau betina semua,jenis peternakan nya dan lain-lain.


    D. Siklus Estrus kambing

    Rata-rata siklus estrus kambing adalah 17 hari. Namun, biasanya ada varisi dalam siklus tersebut hal ini dikarenakan adanya perbedaan ras dan individu kambing tersebut. Dalam spesies ternak lainnya telah menemukan bahwa meskipun ada variasi diantara individu kambing yang berbeda, namun panjang siklus untuk kambing relatif konstan. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti stres lingkungan,kekurangan gizi, dan cuaca dapat mengganggu keteraturan siklus estrus tersebut.

    E. Estrus

    Estrus adalah bagian dari siklus estrus. Fase ini adalah fase ketika betina siap untuk menerima jantan. Lama estrus biasanya berlangsung selama 24 sampai 36 jam. Estrus memiliki tahapan yang berbeda, ditandai dengan kesiapan para kambing betina untuk menerima jantan, menyiapkan diri untuk dinaiki jantan dan untuk kawin. Tahap ini berlangsung  antara 10 – 12 jam. Lama estrus dipengaruhi oleh :

    - Genetik

    - Tahap musim kawin (cenderung lebih pendek pada awal dan akhir musim)

    - Hadirnya jantan (mungkin pendek ketika ram hadir)

    - Usia (mungkin lebih pendek untuk anak domba betina)

    Tidak seperti banyak spesies ternak lainnya, kambing betina cenderung menunjukkan tanda-tanda perilaku dan fisik yang sangat sedikit. Dalam beberapa kasus, kambing betina mungkin lebih gelisah daripada biasanya, vulva mungkin terlihat sedikit membengkak dan mungkin ada debit lendir dari vagina. Namun, tanda-tanda  estrus sulit untuk dideteksi jika jantan  tidak hadir.


    F.Fase Siklus Birahi

    Siklus birahi dibagi dalam empat(4) fase yaitu :

    1. FASE PROESTRUS

    2. FASE ESTRUS

    3. METESTRUS

    4. FASE DIESTRUS


    - Fase Proestrus

    Fase proestrus merupakan fase sebelum estrus dimana folikel de Graaf tumbuh dibawah pengaruh FSH sebagai persiapan pelepasan ovum dari ovarium. Ciri-cirinya antara lain : terjadi peningkatan pertumbuhan silia tuba fallopii,vascularisasi mucosa uteri dan vascularisasi epitel vagina. Servik mensekresikan mukosa tebal dan berlendir, mukosa yang kental menjadi terang dan transparan dan menggantung pada vagina diakhir proestrus.

    - Fase Estrus

    periode setelah proestrus ini adalah ditandai dengan timbulnya keinginan kelamin untuk kawin, betina menerima pejantan untuk berkopulasi. Selain hal itu, terjadi pematangan folikel de Graaf, tuba fallopii menegang dan ujungnya (fimbrae) merapat ke folikel, uterus memberikan reaksi kemudian servik mengendor dan tampak sekali tanda-tanda birahi. Pada masa akhir esrus ini terjadi ovulasi.

    - Fase Metestrus

    Merupakan fase pasca estrus. Pada fase ini corpus luteum berkembang dibawah pengaruh hormone LH. Corpus Luteum menghasilkan hormone progesterone yang berfungsi menghambat sekresi FSH sekaligus menghambat perkembangan folikel de Graaf sehingga tidak terjadi estrus. Ciri-cirinya antara lain : Ephitelium pada carunculae terjadi hiperemis yaitu haemorhagi kapiler dan terjadi pendarahan proestrus atau menstruasi.

    - Fase Diestrus

    Merupakan periode terakhir siklus estrus. Pada masa ini corpus luteum menjadi matang dan pengaruh progesteron menjadi sangat nyata. Servik kembali menutup, lender vagina lengket dan uterus mengendor. Pada fase inilah perkembangan folikel primer dan sekunder mulai terjadi, sedangkan folikel de Graff tidak akan terjadi setelah fse diestrus berakhir.

    - Fase Anestrus

    Selain fase utama diatas, dalam siklus estrus juga dikenal fase anestrus. Fase ini ditandai dengan ovarium dan saluran kelamin yang tenang dan tidak berfungsi. Aktivitas folikuler pada ovarium berkembang tetapi pematangan folikel dan ovulasi jarang terjadi. Selama periode anestrus, fase diesrus berlangsung pendek, corpus luteum menjadi matang dan uterus  mengendor kecil lalu cerviks merapat,mukosa vagina dan serviks pucat.

    Lama berlangsungnya siklus estrus :

        Fase Proestrus :  3 – 5 hari
        Fase Estrus    :  12 – 24 jam
        Fase Metestrus : 3 – 5 hari
        Fase Diestrus  : 13 hari

    Menurut konsep lain, siklus estrus dibagi menjadi 2(dua) tahap. Yaitu :

        Fase   folikuler (Proestrus dan birahinya)
        Fase luteal (Metestrus dan Distrus)


    G. Hormon Yang berpengaruh Pada Pubertas Hewan Betina

    Ada 3 hormone penting dalam masa pubertas betina ini, hormone ini adalah

    - Estradiol

    - FSH

    - LH

    Pada masa pubertas ini terjadi perubahan-perubahan pada hormon tersebut yaitu :

    Estradiol.Estradiol disekresikan cukup dini yaitu ketika masih janin ketika  dalam rahim. Yakni pada hari ke-60 kehamilan. Sekresi Estradiol pada kambing yaitu pada usia 30 – 50 hari. Estradiol merupakan sumber jaringan interstisial dalam ovarium dalam kehidupan janin. Estradiol ini menjadi tidak efektif setelah lahir.

    Setelah kelahiran estradiol dihasilkan setelah sekresi  FSH dan LH.  Sekresi berhenti sebelum 1 bulan (sebelum kelahiran) pada kambing. Setelah kelahiran FSH dan LH disekresikan ditingkat rendah  1 bulan pada kambing. Periode rendahnya tingkat FSH dan LH ini disebut periode bayi. Lalu hewan masuk kedalam periode prepubertal dimana tingkat FSH dan LH mulai meningkat.

    Ada 2 alasan kenapa FSH dan LH meningkat.
    Steroid memiliki efek pada hipotalamus dalam  periode bayi yang terbalik
    Respon terhadap reseptor GnRH pada hipofisis rendah dalam periode bayi yang juga meningkat.

    ► 2 minggu kambing memiliki 1 per 6 frekuensi denyut jam sedangkan 8
    minggu kambing frekuensi pulsa adalah 5 per 6 jam.

    Tanda-tanda eksternal jika estrus :
    1. Penurunan konsumsi pakan oleh hewan betina
    2.  Penurunan produksi susu
    3. Hewan akan gelisah
    4. Peningkatan suhu tubuh
    5. Liar pada kambing
    6. Berdiri untuk siap dinaiki jantan (tanda yang sangat kuat)
    7. Intensitas buang air kecil meningkat
    8. Vulva akan bengkak dan hyperemic
    9. Mukosa dari vagina akan basah dan juga hyperemic
    10. Mucus keluar dari vagina

    H.    Ovulasi

    Ovulasi ( pelepasan sel telur (s) dari ovarium) umumnya terjadi di dekat akhir periode estrus (~ 24 jam setelah birahi ). Sel telur (s) akan memasuki saluran tuba, dan secara bertahap (~ 72-96 jam setelah ovulasi ) akan memasuki rahim. Estrus sesuai dengan waktu optimal untuk kawin, memungkinkan untuk waktu perjalanan sperma dan telur ke saluran tuba. Pembuahan telur oleh sperma umumnya terjadi ketika telur di tuba falopi. Telur mampu dibuahi sekitar 10 sampai 25 jam setelah ovulasi.

    Seperti kambing yang sering mengalami kelahiran kembar, lebih dari satu telur dapat dilepaskan selama estrus dalam  periode yang sama. Meskipun tidak semua ovum (telur) yang dikeluarkan akan dibuahi, ada kemungkinan lebih besar ,beberapa kehamilan jika tingkat ovulasi tinggi. Tingkat ovulasi tergantung pada:
    • genetik : Sebagian besar keturunan  (persilangan) ~ rata 1,5 ovum / estrus. Beberapa sangat produktif, seperti Finnsheep, rata-rata 3 butir ovum / estrus.
    • Umur: tingkat Ovulasi cenderung meningkat dengan usia, usia maksimum pada 3 sampai 6 tahun, dan umumnya terjadi penurunan  kualits pada domba betina tua.
    • Gizi.

    I. Kehamilan

    Setelah pembuahan, telur yang dibuahi (s) bergerak melalui tuba falopi menuju rahim. Perkembangan  embrio akan tetap berada di rahim selama kehamilan. Uterus pada kambing betina terdiri dari dua tabung melingkar (tanduk) yang bergabung di garis tengah untuk membentuk bagian utama (tubuh) dari rahim. Anak kambing berkembang di tanduk rahim. Janin akan tetap berada di tanduk yang sama di seluruh kehamilan.

    Plasenta (ari-ari) terdiri dari serangkaian lapisan membran yang berkembang dari embrio. Bahkan dengan anak kambing tunggal plasenta akan memperluas untuk mengisi seluruh rahim. Permukaan plasenta yang terdekat ke permukaan rahim akan  mengembangkan struktur lampiran (kotiledon). Dalam struktur jaringan janin dan ibu bertemu, yang memungkinkan perpindahan nutrisi ke janin.

    Serviks mencegah mikrorganisme memasuki rahim dan merugikan embrio. Leher rahim, yang terletak di persimpangan rahim dan vagina, adalah band otot jaringan yang tetap erat dan ditutup selama kehamilan. Sebuah blok lendir tebal dibentuk selama kehamilan untuk sepenuhnya  leher rahim, melindungi janin dan rahim dari infeksi.

    lama  rata-rata kehamilan panjang kambing adalah 147 hari atau kira-kira lima bulan. Lama kehamilan dapat bervariasi dalam beberapa minggu, tergantung pada:
    • Genetik (awal jatuh tempo, keturunan produktif cenderung memiliki kehamilan lebih pendek)
    • Umur kambing (panjang kehamilan meningkat dengan bertambahnya usia)
    • Jenis kelamin janin (kambing jantan cenderung lebih dari anak kambing betina)
    • Musim (kambing musim semi dilakukan lebih dari kambing jatuh)

    kambing betina yang stres (gizi buruk, penyakit subklinis dll) dapat bereaksi dengan resorbing janin mereka (es). Ini berarti bahwa membran janin diserap kembali ke dalam sistem kambing betina itu. Resorpsi kemungkinan jika kondisi lingkungan yang dirasakan oleh kambing betina yang akan beresiko untuk pengembangan kambing atau jika ada resiko untuk kelangsungan hidup kambing tersebut.

    Dalam kasus janin kembar, satu dapat diserap sementara kambing yang lain dipertahankan. Resorpsi cenderung terjadi di awal kehamilan. Setelah tahap tertentu kehamilan materi  janin tidak dapat diserap kembali oleh kambing betina dan masalah di kemudian hari pada kehamilan cenderung menghasilkan aborsi (membran janin yang dikeluarkan dari rahim). Jika anak kambing betina mati sementara di dalam dan tidak diserap atau dibatalkan, kambing betina dengan cepat akan teracuni oleh janin dan akan mati jika anak-anak kambing tidak dihilangkan.

    J. Kelahiran

    Tahapan selanjutnya adalah proses kelahiran si anak kambing tersebut.


    K. Postpartum

    Ini adalah periode setelah kambing betina melahirkan, termasuk involusi uterus (pemulihan dari kehamilan) dan dimulainya kembali kegiatan reproduksi. Involusi uterus umumnya selesai dalam beberapa bulan setelah beranak. Interval ke ovulasi postpartum pertama akan bervariasi tergantung dari waktu beranak .Jika kambing betina selama musim kawin ovulasi postpartum pertama dapat
    berada dalam 20 hari, meskipun biasanya hal ini tidak akan menjadi siklus subur. Seperti halnya musim, faktor lainnya seperti menyusu dengan kambing, berkembang biak, gizi, dan  suhu lingkungan juga mungkin berpengaruh.


    Friday, August 16, 2013

    Cara Memotong Kambing Yang Benar

    Seringkali banyak pertanyaan, kapan sih saat terbaik untuk memotong kambing ? nah jawaban yang paling pas adalah ketika kambing berumur 8 bulan sampai 2 tahun. Pada umur tersebut pertumbuhan kambing telah mencapai ukuran sempurna. Daging kambing muda masih lunak, empuk dan berbau harum. Sebelum dipotong, kambing perlu mendapat perlakuan khusus agar daging yang dihasilkan mutunya baik. Adapun perlakuan sebagai berikut :

    • Kambing yang akan dipotong sebaiknya dipisahkan dengan kambing lain, yaitu di tempat yang tenang. Jika tercampur dengan kambing pejantan dan kambing betina, kambing potong akan tertular bau prengusnya. Kambing yang akan dipotong jangan diberi pakan selama 8-12 jam, cukup diberi minum yang banyak.
    • Sebelum pemotongan berlangsung, bulu kambing disikat dan dibersihkan dulu dengan cermat agar kotoran  yang melekat di badan leyap dan bulu yang rontok jatuh ke tanah.
    •  Alat-alat untuk pemotongan disiapkan, yaitu meja potong terbuat dari papan, panci untuk mengumpulkan darah, pisau tajam, tali, dan besi pengait.

    Setelah kegiatan tersebut dilakukan, selanjutnya adalah proses pemotongan kambing. Berikut ini cara memotong kambing yang benar


    1. Kambing yang akan dipotong ditidurkan di atas meja. Pada sisi meja, ada seorang yang membantu memegang kedua pasang kakinya. Usahakan kambing yang akan dipotong keadaannya setenang mungkin. Tekan kepala kambing dengan satu tangan, dan tangan lain mengarahkan ujung pisau pada tenggorokan di belakang rahang. Dengan sastu gerakan, mata pisau memotong pembuluh darah leher (urat nadi).
    2. Biarkan darah mengalir dan ditampung dalam ember atau panci. Setelah darah keluar habis, badan kambing ditelentangkan dengan dada dan perut menghadap ke atas.
    3. Dalam keadaan telentang, kulit perut ditoreh dan dibuka dengan ujung pisau yang tajam. Namun, harus dilakukan dengan hati-hati, agar lapisan selaput tipis yang terletak di bawah kulit tidak sobek atau berlubang.
    4. Leher hingga ujung leher dilukai dengan pisau, lalu kulit kulit kepala dikelupas. Kepala dipotong putus agar terpisah dari badan kambing. Kepala dicuci dengan air dingin. Setelah bersih, lidah dan otaknya dikeluarkan.
    5. Kulit dipotong kearah tulang dada, lalu kulit ditarik ke arah tulang dada dan leher. Dengan sebilah parang, tulang dada dipisahkan dari badan
    6. Potong bagian kaki depan dan kuliti sampai terlepas.
    7. Bagian dalam kaki belakang juga dikuliti.
    8. Kuliti keliling dubur, lalau lubang dubur diikat dengan tali, agar kotoran tidak menyembul keluar.
    9. Kaki belakang digantung dengan pengait. Dalam keadaan tergantung, kulit dikelupas dengan cara menekan kepalan tangan antara kulit dan dada, setelah itu antara kulit dan perut.
    10. Dari bahu bagian depan, kulit ditarik ke bawah
    11. Dari pertengahan tulang dada ke bawah di tekan ke belakang dengan mempergunakan kepalan tangan, maka seluruh kulit pun akan jatuh.
    12. Tubuh kambing yang sudah tak berkepala dan berkulit dibelah/dibuka selaput perutnya. Isi perut dikeluarkan. Pembedahan isi perut dimulai dari poros usus dubur. Poros usus dekat dubur diikat dengan tali yang kuat.
    13. Batang tenggorokan bagian sekat rongga dada dipotong. Dengan demikian semua isi rongga perut dan dada kambing jatuh bersamaan. Organ bagian dalam ini selanjutnya dibersihkan di tempat lain.
    14. Tongga perut dibersihkan dari sisa-sisa pembuluh darahnya. Selanjutnya karkas digantung untuk pelayuan.