Pemberian Pakan Ikan Bandeng. Sesuai sifat bandeng termasuk hewan herbivora, maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di kolam. Tumbuhan yang disukai bandeng adalah lumut, ganggang dan klekap.
Menggulang kembali sebaiknya telah dilakukan persiapan lahan untuk kolam pembesaran karena akan sangat membantu ketersediaan pakan.
Untuk mempercepat pertumbuhan, perlu pakan buatan pabrik, dengan standar nutrisi agar tumbuh optimal dengan kadar protein .minimal 25 - 28 %.
Sebagai hewan herbivora, unsur tumbuhan dalam pakan memang sangat penting,. Oleh karena itu, sebaiknya bahan baku unsur protein harus didominasi dari sumber tumbuhan atau nabati dari tepung kedelai atau bungkil kacang tanah. Sebagai acuan pemberian pakan adalah : Jumlah pakan 5 - 7% dari berat badan. Waktu pemberian 3 - 5 kali sehari.
Penambahan NASA pada pakan buatan merupakan pilihan tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh bandeng. NASA mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin akan menambah kandungan nutrisi pakan. Dosis pencampuran NASA dengan pakan buatan adalah 2 - 5 cc/kg pakan dengan cara :
1. Timbang pakan sesuai dengan kebutuhan bandeng.
2. Basahi pakan dengan sedikit air agar pencampuran dengan NASA dapat merata.
3. Campurkan NASA sesuai jumlah pakan yang diberikan dengan dosis 2 - 5 cc/kg pakan.
4. Pakan siap untuk diberikan.
Pemberian pakan dengan menyebarkan secara merata pada seluruh areal kolam, agar seluruh bandeng dapat pakan. Diharapkan dengan pemberian pakan yang baik, ikan bandeng dapat tumbuh optimal untuk menunjang usaha budidaya bandeng. http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-bandeng.html
Showing posts with label Ikan Konsumsi. Show all posts
Showing posts with label Ikan Konsumsi. Show all posts
Thursday, May 2, 2013
Wednesday, April 17, 2013
Optimalkan Pembesaran Ikan Bandeng Dengan Menyiapkan Lahan Yang Tepat
Menyiapkan lahan untuk kolam pembesaran ikan bandeng sangat penting. Setelah dipelihara di kolam peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindah ke kolam pembesaran.
Tahap ini dilakukan sebelum memasukan air.
Mencangkul dan membalikan tanah
Bertujuan untuk membebaskan senyawa dan gas beracun sisa budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dari pakan maupun dari kotoran. Selain itu tanah menjadi gembur, aerasi akan berjalan dengan baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.
Pengapuran Lahan
Selama budidaya ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil yaitu pada pH 7 - 8. Untuk mengembalikan keasaman tanah lakukan pengapuran. Pengapuran juga menyebabkan bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup pada pH tersebut. Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON /ha atau 10 kg/100 m2.
Pemupukan
Fungsi utama pemupukan adalah memberi unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air terutama pada tanah-tanah yang tidak kedap air. Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat, karena TON mengandung unsur-unsur mineral penting asam organik dan yang utama memberi bahan-bahan yang diperlukan untuk peningkatan kesuburan lahan dan pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan TON adalah 5 botol/ha atau 25 gr/100 m2.
Pengelolaan air
Setelah dilakukan pemupukan dengan TON, air dimasukkan hingga setinggi 10 - 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm atau menyesuaikan dengan kedalaman kolam.
Setelah plankton tumbuh ditandai dengan warna air hijau dan kecerahan sedalam 30 - 40 cm, nener di kolam peneneran dipindah ke kolam pembesaran dengan hati-hati agar dapat menyesuikan dengan lingkungan baru.
Dengan menyiapkan lahan yang tepat diharap pembesaran ikan bandeng dapat optimal dan memperlancar usaha budidaya. http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-bandeng.html
Persiapan Lahan Kolam Pembesaran Ikan Bandeng
Tahap ini dilakukan sebelum memasukan air.
Mencangkul dan membalikan tanah
Bertujuan untuk membebaskan senyawa dan gas beracun sisa budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dari pakan maupun dari kotoran. Selain itu tanah menjadi gembur, aerasi akan berjalan dengan baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.
Pengapuran Lahan
Selama budidaya ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil yaitu pada pH 7 - 8. Untuk mengembalikan keasaman tanah lakukan pengapuran. Pengapuran juga menyebabkan bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup pada pH tersebut. Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON /ha atau 10 kg/100 m2.
Pemupukan
Fungsi utama pemupukan adalah memberi unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air terutama pada tanah-tanah yang tidak kedap air. Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat, karena TON mengandung unsur-unsur mineral penting asam organik dan yang utama memberi bahan-bahan yang diperlukan untuk peningkatan kesuburan lahan dan pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan TON adalah 5 botol/ha atau 25 gr/100 m2.
Pengelolaan air
Setelah dilakukan pemupukan dengan TON, air dimasukkan hingga setinggi 10 - 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm atau menyesuaikan dengan kedalaman kolam.
Pemindahan Nener Ikan Bandeng
Setelah plankton tumbuh ditandai dengan warna air hijau dan kecerahan sedalam 30 - 40 cm, nener di kolam peneneran dipindah ke kolam pembesaran dengan hati-hati agar dapat menyesuikan dengan lingkungan baru.
Dengan menyiapkan lahan yang tepat diharap pembesaran ikan bandeng dapat optimal dan memperlancar usaha budidaya. http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-bandeng.html
Friday, April 12, 2013
Cara Menyediakan Benih Bandeng Unggul Berkelanjutan Untuk Usaha Budidaya
Usaha menyediakan benih ikan bandeng secara berkelanjutan dengan mutu berkualitas baik dilakukan dengan sistem pembenihan intensif pada kolam khusus, yaitu kolam pematangan induk, pemijahan, peneneran dan pembesaran.
1. Bentuk normal, perbandingan panjang dan berat ideal
2. Ukuran kepala relatif kecil
3. Sunan sisik teratur, licin, mengkilat, tidak ada luka
4. Gerakan lincah dan normal
5. Umur antara 4 5 tahun
Merangsang pemijahan
Kematangan gonad dapat dipercepat dengan penggunaan hormone LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) melalui suntikan.
Pemijahan
Pemijahan adalah pencampuran induk jantan dan berina yang telah matang sel sperma dan sel telurnya, agar terjadi pengeluaran (ejakulasi) kedua sel tersebut. Setelah berada di air, sel sperma akan membuahi sel telur karena sistem pembuahan ikan terjadi di luar tubuh. Pemijahan dilakukan pada kolam khusus pemijahan.
Penetasan
Telur yang mengapung di kolam pemijahan menetas setelah 24 - 26 jam dari awal pemijahan. Telur yang telah menetas akan menjadi larva dan masih mempunyai cadangan makanan dari kuning telur induk, sehingga belum perlu diberi pakan hingga umur 2 hari.
Merawat benih Bandeng
Setelah berumur 9 hari larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan nener. Di kolam ini larva diberi pakan alami berupa plankton. Penumbuhan plankton dilakukan dengan pemupukan dan pengapuran. Pemupukan yang tepat adalah dengan pupuk TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) yang mengandung berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg, Ca, Mg, S, Cl dan lain-lain, juga dilengkapi dengan asam humat dan vulvat yang mampu memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air.
Waktu peneneran 8 minggu. Pakan yang diberikan berupa tepung dengan kadar protein 30%. Untuk menambah nutrisi pakan pencampuiran pakan dengan NASA dengan dosis 2 - 5 /kg pakan sangat diperlukan, karena NASA mengandung unsur-unsur mineral penting yaitu N,P,K,Mg,Fe,Ca,S dan lain-lain, vitamin, protein dan lemak untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan nener.
Semoga membantu para usaha budidaya menyediakan benih bandeng berkeanjutan dengan mutu baik. Setelah peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindah ke kolam pembesaran. teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-bandeng.html
Cara Memilih Induk Bandeng Unggul Dengan Ciri-ciri
1. Bentuk normal, perbandingan panjang dan berat ideal
2. Ukuran kepala relatif kecil
3. Sunan sisik teratur, licin, mengkilat, tidak ada luka
4. Gerakan lincah dan normal
5. Umur antara 4 5 tahun
Merangsang pemijahan
Kematangan gonad dapat dipercepat dengan penggunaan hormone LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) melalui suntikan.
Pemijahan
Pemijahan adalah pencampuran induk jantan dan berina yang telah matang sel sperma dan sel telurnya, agar terjadi pengeluaran (ejakulasi) kedua sel tersebut. Setelah berada di air, sel sperma akan membuahi sel telur karena sistem pembuahan ikan terjadi di luar tubuh. Pemijahan dilakukan pada kolam khusus pemijahan.
Penetasan
Telur yang mengapung di kolam pemijahan menetas setelah 24 - 26 jam dari awal pemijahan. Telur yang telah menetas akan menjadi larva dan masih mempunyai cadangan makanan dari kuning telur induk, sehingga belum perlu diberi pakan hingga umur 2 hari.
Merawat benih Bandeng
Setelah berumur 9 hari larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan nener. Di kolam ini larva diberi pakan alami berupa plankton. Penumbuhan plankton dilakukan dengan pemupukan dan pengapuran. Pemupukan yang tepat adalah dengan pupuk TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) yang mengandung berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg, Ca, Mg, S, Cl dan lain-lain, juga dilengkapi dengan asam humat dan vulvat yang mampu memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air.
Waktu peneneran 8 minggu. Pakan yang diberikan berupa tepung dengan kadar protein 30%. Untuk menambah nutrisi pakan pencampuiran pakan dengan NASA dengan dosis 2 - 5 /kg pakan sangat diperlukan, karena NASA mengandung unsur-unsur mineral penting yaitu N,P,K,Mg,Fe,Ca,S dan lain-lain, vitamin, protein dan lemak untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan nener.
Semoga membantu para usaha budidaya menyediakan benih bandeng berkeanjutan dengan mutu baik. Setelah peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindah ke kolam pembesaran. teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-bandeng.html
Thursday, March 21, 2013
Teknik Pemijahan Ikan Lele Dumbo Cara Alami
Teknik pemijahan Ikan Lele Dumbo dengan cara alami dapat dilakukan pada lahan sempit menggunakan sarana prasarana sederhana. Mengingat semakin berkembang usaha budidaya lele dengan kebutuhan benih makin meningkat.
Menyiapkan Media Pemijahan Lele
1. Menyiapkan bak pemijah, bak ukuran 2x3m dengan kedalaman 1 m. Bak dicuci dengan larutan permanganat dosis 1 sendok teh dicampur dengan 3 liter air atau 5 gr/m3 air.
2. Siapkan Kakaban, terbuat dari ijuk dibingkai dengan bambu.
3. Bak pemijahan diisi dengan air setinggi 40 cm mengunakan air dari PDAM.
Merawat Induk Lele
Induk lele yang akan dipijah harus diberi pakan yang baik agar dapat menghasilkan benih yang baik. Induk lele setiap hari diberi pakan daging bekicot atau ikan rucah. Pemberian pakan pagi dan sore dosis 10% dari berat badan. Bak penampungan induk dekat dengan bak pemijahan agar mudah menangkapnya. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, perawatan induk-induk dilakukan secara terpisah.
Memilih Induk Lele Siap Pijah
Ciri-ciri induk betina siap pijah adalah :
1. Bagian perut membesar dan lunak kalau diraba,
2. Dubur terlihat merah dan lubang pengeluaran telur lunak melebar,
3. Membuat gerakan mondar-mandir,
4. Bagian dubur merah dan lunak dan kalau diurut dari arah perut akan keluar cairan putih atau sperma.
1. Isi bak pemijahan dengan air setinggi 40 cm.
2. Pasang kakaban hingga menutupi 80% permukaan air. Lepaskan induk lele yang sudah dipilih dengan perbandingan 1 betina dan 2 jantan.
3. Proses pemijahan akan terjadi pada malam hari ditandai dengan adanya kejar-kejaran antara induk betina dan jantan mengitari kakaban.
4. Amati pada pagi hari, telur-telur sudah dilepas dan menempel pada seluruh permukaan kakaban.
Menetaskan Telur
1. Menyiapkan bak penetasan telur, bersihkan terlebih dahulu bak-bak dengan permangkanat.
2. Isi air penetasan setinggi 40 cm, pindahkan / angkat kakaban masukan kedalam bak yang sudah disiapkan.
3. Amati telur-telur tersebut setelah 24 jam dan telur-telur tersebut mulai menetas. Telur yang baik akan menetas sampai 35 jam. Anak ikan yang keluar dari telur masih sangat kecil dan lemah. Badan transparan dan kalau dilihat dengan microskop akan terlihat masih mengandung kuning telur. Telur-telur yang tidak terbuahi warna kuning susu dan tidak akan menetas serta akan membusuk. Telur-telur yang terbuahi terlihat kuning transparan dan akan menetas setelah 34 jam sampai 48 jam dikeluarkan oleh induk.
Pemeliharaan Larva
1. Menyiapkan bak untuk budidaya pakan alami berupa dapnia atau cacing rambut. Cacing rambut banyak dijual di kios-kios pedagang ikan hias.
2. Setelah telur lebih dari 48 jam dan sudah terlihat banyak yang menetas maka kakaban diangkat secara hati- hati.
3. Merawat larva, larva yang baru beberapa hari menetas kondisinya masih sangat lemah. Larva ini tidak memerlukan pakan tambahan sampai menunggu kandungan kuning telurnya habis. Kandungan kuning telur akan habis setelah menetas 7 hari. Untuk menjaga mortalitas tinggi pertu dipasang aerasi.
4. Memberi pakan larva. Setetah kandungan 7 hari, kandungan kuning telur sudah habis dan harus segera diberi pakan tambahan. Pakan pertama dapat diberi kuning telur diblender setiap pagi dan sore sebanyak satu butir per 5000 ekor benih. Cacing rambut dapat diberikan setelah 11 hari dan dapnia.
Panen Benih Ikan Lele
Panen benih lele bukan kegiatan akhir dari budidaya lele. Pemungutan hasil pertama dilakukan setelah benih berumur 17 sampai 21 hari (panjang t 2,5 cm). Pada ukuran tersebut benih lele sudah bisa ditebar pada petak pembesaran secara langsung atau ditebar pada tempat penampungan sambil menunggu pembeli.
Alat Panen Benih Lele berupa seser, ember, waring, kantong plastik, tali karet, tabung udara, mangkok kecil. Perhitungan hasil dilakukan secara manual. Untuk memilih benih agarseragam gunakan ember plastik berlubang-lubang. sumber:Warta Jaladri No. 03/01/05>gemawirausaha.blogspot.com/2010/12/pemijahan-lele-dumbo-secara-alami.html
Menyiapkan Media Pemijahan Lele
1. Menyiapkan bak pemijah, bak ukuran 2x3m dengan kedalaman 1 m. Bak dicuci dengan larutan permanganat dosis 1 sendok teh dicampur dengan 3 liter air atau 5 gr/m3 air.
2. Siapkan Kakaban, terbuat dari ijuk dibingkai dengan bambu.
3. Bak pemijahan diisi dengan air setinggi 40 cm mengunakan air dari PDAM.
Merawat Induk Lele
Induk lele yang akan dipijah harus diberi pakan yang baik agar dapat menghasilkan benih yang baik. Induk lele setiap hari diberi pakan daging bekicot atau ikan rucah. Pemberian pakan pagi dan sore dosis 10% dari berat badan. Bak penampungan induk dekat dengan bak pemijahan agar mudah menangkapnya. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, perawatan induk-induk dilakukan secara terpisah.
Memilih Induk Lele Siap Pijah
Ciri-ciri induk betina siap pijah adalah :
1. Bagian perut membesar dan lunak kalau diraba,
2. Dubur terlihat merah dan lubang pengeluaran telur lunak melebar,
3. Membuat gerakan mondar-mandir,
4. Bagian dubur merah dan lunak dan kalau diurut dari arah perut akan keluar cairan putih atau sperma.
Memijah Lele Dumbo
1. Isi bak pemijahan dengan air setinggi 40 cm.
2. Pasang kakaban hingga menutupi 80% permukaan air. Lepaskan induk lele yang sudah dipilih dengan perbandingan 1 betina dan 2 jantan.
3. Proses pemijahan akan terjadi pada malam hari ditandai dengan adanya kejar-kejaran antara induk betina dan jantan mengitari kakaban.
4. Amati pada pagi hari, telur-telur sudah dilepas dan menempel pada seluruh permukaan kakaban.
Menetaskan Telur
1. Menyiapkan bak penetasan telur, bersihkan terlebih dahulu bak-bak dengan permangkanat.
2. Isi air penetasan setinggi 40 cm, pindahkan / angkat kakaban masukan kedalam bak yang sudah disiapkan.
3. Amati telur-telur tersebut setelah 24 jam dan telur-telur tersebut mulai menetas. Telur yang baik akan menetas sampai 35 jam. Anak ikan yang keluar dari telur masih sangat kecil dan lemah. Badan transparan dan kalau dilihat dengan microskop akan terlihat masih mengandung kuning telur. Telur-telur yang tidak terbuahi warna kuning susu dan tidak akan menetas serta akan membusuk. Telur-telur yang terbuahi terlihat kuning transparan dan akan menetas setelah 34 jam sampai 48 jam dikeluarkan oleh induk.
Pemeliharaan Larva
1. Menyiapkan bak untuk budidaya pakan alami berupa dapnia atau cacing rambut. Cacing rambut banyak dijual di kios-kios pedagang ikan hias.
2. Setelah telur lebih dari 48 jam dan sudah terlihat banyak yang menetas maka kakaban diangkat secara hati- hati.
3. Merawat larva, larva yang baru beberapa hari menetas kondisinya masih sangat lemah. Larva ini tidak memerlukan pakan tambahan sampai menunggu kandungan kuning telurnya habis. Kandungan kuning telur akan habis setelah menetas 7 hari. Untuk menjaga mortalitas tinggi pertu dipasang aerasi.
4. Memberi pakan larva. Setetah kandungan 7 hari, kandungan kuning telur sudah habis dan harus segera diberi pakan tambahan. Pakan pertama dapat diberi kuning telur diblender setiap pagi dan sore sebanyak satu butir per 5000 ekor benih. Cacing rambut dapat diberikan setelah 11 hari dan dapnia.
Panen Benih Ikan Lele
Panen benih lele bukan kegiatan akhir dari budidaya lele. Pemungutan hasil pertama dilakukan setelah benih berumur 17 sampai 21 hari (panjang t 2,5 cm). Pada ukuran tersebut benih lele sudah bisa ditebar pada petak pembesaran secara langsung atau ditebar pada tempat penampungan sambil menunggu pembeli.
Alat Panen Benih Lele berupa seser, ember, waring, kantong plastik, tali karet, tabung udara, mangkok kecil. Perhitungan hasil dilakukan secara manual. Untuk memilih benih agarseragam gunakan ember plastik berlubang-lubang. sumber:Warta Jaladri No. 03/01/05>gemawirausaha.blogspot.com/2010/12/pemijahan-lele-dumbo-secara-alami.html
Tuesday, March 19, 2013
Cara Mengatasi Penyakit Ikan Lele
Hama dan penyakit pada budidaya ikan lele sangat beragam. Hama ukuran besar tampak secara kasat mata sepert kucing, ular, linsang. Kalau di area sawah hama lele seperti kodok, ucrit, burung pemakan ikan dan hewan-hewan lain. Penyakit ikan lele biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak kasat mata.
Penyakit pada ikan lele perlu penanganan berbeda-beda tergantung jenis penyakitnya. Untuk mengetahui jenis penyakit ikan lele, bisa dilihat dari gejala-gejala luar.
Meski lele termasuk ikan tahan hidup dalam air berkualitas buruk, tapi sanitasi air memegang peranan penting dalam menunjang kesehatan lele.
Penyakit mikroorganisme bersifat parasit hidup pada tubuh ikan lele. Mikroorganisme ini biasanya berupa virus, bakteri, jamur, dan protozoa ukuran kecil.
1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron.
Gejalai : Warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air.
Pencegahan : Lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik.
Pengobatan : Melalui makanan antara lain pakan dicampur Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.
2. Penyakit tuberculosis disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum
Gejalanya : Tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.
Pengendalian : Perbaiki kualitas air dan lingkungan kolam.
Pengobatan : Dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.
3. Penyakit karena Jamur / Cendawan Saprolegnia.
Penyebab : Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.
Gejala : Ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.
Pengendalian : Benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit.
4. Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis)
Penyebab : Parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis.
Gejala :
(1) Ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air;
(2) Terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang;
(3) Ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.
Pengendalian : Air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.
Pengobatan : Dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.
5. Penyakit cacing Trematoda
Penyebab : Cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.
Gejala : Insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.
Pengendalian :
(1) direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit;
(2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;
(3) menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ±30 menit;
(4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit;
(5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ±10 menit.
6. Parasit Hirudinae
Penyebab : Lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.
Gejala : Pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.
Pengendalian : Selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah.
Penyakit ikan lele biasanya terjadi karena lingkungan air yang tidak baik, misalnya tercemar oleh zat-zat berbahaya, terlalu padat dan perubahan suhu drastis. Pada kondisi demikian daya tahan ikan lele menurun dan mudah terserang penyakit.
Penyakit ikan lele bisa juga berasal dari bibit lele sudah membawa penyakit dari asalnya, hanya belum menunjukkan gejala sakit saat ditebar. Untuk itu perlu berhati-hati dalam memilih bibit lele.
Cara lain mengatasi penyakit ikan lele adalah mengkarantina ikan lele sakit pada kolam khusus yang telah diberi garam ikan, selain dengan pengobatan-pengobatan diatas. dari : galeriukm.web.id/unit-usaha/perikanan/mengenal-dan-mengatasi-penyakit-pada-ikan-lele
Penyakit pada ikan lele perlu penanganan berbeda-beda tergantung jenis penyakitnya. Untuk mengetahui jenis penyakit ikan lele, bisa dilihat dari gejala-gejala luar.
Meski lele termasuk ikan tahan hidup dalam air berkualitas buruk, tapi sanitasi air memegang peranan penting dalam menunjang kesehatan lele.
Penyakit mikroorganisme bersifat parasit hidup pada tubuh ikan lele. Mikroorganisme ini biasanya berupa virus, bakteri, jamur, dan protozoa ukuran kecil.
Beberapa penyebab penyakit pada ikan lele antara lain:
1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron.
Gejalai : Warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air.
Pencegahan : Lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik.
Pengobatan : Melalui makanan antara lain pakan dicampur Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.
2. Penyakit tuberculosis disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum
Gejalanya : Tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.
Pengendalian : Perbaiki kualitas air dan lingkungan kolam.
Pengobatan : Dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.
3. Penyakit karena Jamur / Cendawan Saprolegnia.
Penyebab : Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.
Gejala : Ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.
Pengendalian : Benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit.
4. Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis)
Penyebab : Parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis.
Gejala :
(1) Ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air;
(2) Terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang;
(3) Ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.
Pengendalian : Air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.
Pengobatan : Dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.
5. Penyakit cacing Trematoda
Penyebab : Cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.
Gejala : Insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.
Pengendalian :
(1) direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit;
(2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;
(3) menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ±30 menit;
(4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit;
(5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ±10 menit.
6. Parasit Hirudinae
Penyebab : Lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.
Gejala : Pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.
Pengendalian : Selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah.
Penyakit ikan lele biasanya terjadi karena lingkungan air yang tidak baik, misalnya tercemar oleh zat-zat berbahaya, terlalu padat dan perubahan suhu drastis. Pada kondisi demikian daya tahan ikan lele menurun dan mudah terserang penyakit.
Penyakit ikan lele bisa juga berasal dari bibit lele sudah membawa penyakit dari asalnya, hanya belum menunjukkan gejala sakit saat ditebar. Untuk itu perlu berhati-hati dalam memilih bibit lele.
Cara lain mengatasi penyakit ikan lele adalah mengkarantina ikan lele sakit pada kolam khusus yang telah diberi garam ikan, selain dengan pengobatan-pengobatan diatas. dari : galeriukm.web.id/unit-usaha/perikanan/mengenal-dan-mengatasi-penyakit-pada-ikan-lele
Friday, March 15, 2013
Teknik Budidaya Ikan Lele Yang Baik
Teknik budidaya ikan ikan lele ada beberapa tahapan sebagai berikut :
Ada 2 macam kolam lele, yaitu bak dan kubangan (kolam galian).
Pemilihan tipe kolam sebaiknya sesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :
Kolam tandon : Mendapat air langsung dari sumber air. Ini berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam lain.
Kolam pemeliharaan induk : Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.
Kolam Pemijahan : Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain.
Kolam Pendederan : Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas samapai berumur 3-4 hari. Pemindahan dapat dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaan.
Induk jantan mempunyai tanda :
Tulang kepala berbentuk pipih, warna lebih gelap, gerakannya lebih lincah, perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung, alat kelaminnya berbentuk runcing.
Induk betina mempunyai tanda :
Tulang kepala berbentuk cembung, warna badan lebih cerah, gerakan lamban, perut mengembang lebih besar daripada punggung, alat kelamin berbentuk bulat.
Proses pengolahan lahan kolam tanah :
- Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
- Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
- Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
- Pemasukan Air dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
Proses pengolahan lahan kolam bak :
- Pembersihan bak dari kotoran sisa pembenihan sebelumnya.
- Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air dapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama
Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin, alat kelamin berwarna merah. Kalau induk betina tandanya sel telur berwarna kuning. Jjika belum matang warna hijau. Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.
1. Kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
2. Siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember diisi air di sarang.
3. Samakan suhu pada kedua kolam
4. Pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
5. Ppindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati waktu malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.
Membesarkan sampai siap jual, yaitu 5 - 7 cm, 7 - 9 cm dan 9 - 12 cm dengan harga berbeda. Permukaan kolam pendederan diberi pelindung seperti enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air penyebab lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindah ke kolam pendederan.
1. Pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil diberi pada umur dibawah 3 - 4 hari.
2. Pakan buatan untuk umur diatas 3 - 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar protein.
3. Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/kg pakan, dicampur air secukupnya.
Air harus bersih, berwarna hijau cerah, kecerahan / transparansi sedang (30 - 40 cm).
Secara kimia, bebas senyawa beracun seperti amoniak, suhu optimal (22 - 26 0C).
Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam seimbang. Pemberian TON saat olah lahan dengan cara dilarutkan dan disiram ke permukaan tanah dan saat memasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.
Anakan lele tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan tertama air yang tidak baik.
Dalam budidaya ikan lele penting menjaga kondisi air dan pemberian nutrisi tinggi. Dari itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Apabila anakan lele terserang penyakit, segera lakukan pengobatan. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur, dapat diobati dengan formalin larutan PK (kalium permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut hati-hati dan tepat dosis. dilansir dari teknis-budidaya.blogspot.com.
Kolam Ikan Lele.
Ada 2 macam kolam lele, yaitu bak dan kubangan (kolam galian).
Pemilihan tipe kolam sebaiknya sesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :
Kolam tandon : Mendapat air langsung dari sumber air. Ini berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam lain.
Kolam pemeliharaan induk : Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.
Kolam Pemijahan : Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain.
Kolam Pendederan : Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas samapai berumur 3-4 hari. Pemindahan dapat dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaan.
Memilih Induk Ikan Lele
Induk jantan mempunyai tanda :
Tulang kepala berbentuk pipih, warna lebih gelap, gerakannya lebih lincah, perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung, alat kelaminnya berbentuk runcing.
Induk betina mempunyai tanda :
Tulang kepala berbentuk cembung, warna badan lebih cerah, gerakan lamban, perut mengembang lebih besar daripada punggung, alat kelamin berbentuk bulat.
Persiapan Lahan.
Proses pengolahan lahan kolam tanah :
- Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
- Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
- Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
- Pemasukan Air dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
Proses pengolahan lahan kolam bak :
- Pembersihan bak dari kotoran sisa pembenihan sebelumnya.
- Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air dapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama
Pemijahan Ikan Lele
.Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin, alat kelamin berwarna merah. Kalau induk betina tandanya sel telur berwarna kuning. Jjika belum matang warna hijau. Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.
Cara memindahkan benih lele dai kolam pemijahan :
1. Kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
2. Siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember diisi air di sarang.
3. Samakan suhu pada kedua kolam
4. Pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
5. Ppindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati waktu malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.
Cara Pendederan Anak Ikan Lele
.Membesarkan sampai siap jual, yaitu 5 - 7 cm, 7 - 9 cm dan 9 - 12 cm dengan harga berbeda. Permukaan kolam pendederan diberi pelindung seperti enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air penyebab lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindah ke kolam pendederan.
Manajemen Pakan Ikan Lele
.1. Pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil diberi pada umur dibawah 3 - 4 hari.
2. Pakan buatan untuk umur diatas 3 - 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar protein.
3. Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/kg pakan, dicampur air secukupnya.
Syarat Air untuk budidaya ikan lele.
Air harus bersih, berwarna hijau cerah, kecerahan / transparansi sedang (30 - 40 cm).
Secara kimia, bebas senyawa beracun seperti amoniak, suhu optimal (22 - 26 0C).
Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam seimbang. Pemberian TON saat olah lahan dengan cara dilarutkan dan disiram ke permukaan tanah dan saat memasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.
Pengendalian kesehatan ikan lele.
Anakan lele tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan tertama air yang tidak baik.
Dalam budidaya ikan lele penting menjaga kondisi air dan pemberian nutrisi tinggi. Dari itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Apabila anakan lele terserang penyakit, segera lakukan pengobatan. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur, dapat diobati dengan formalin larutan PK (kalium permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut hati-hati dan tepat dosis. dilansir dari teknis-budidaya.blogspot.com.
Tuesday, March 12, 2013
Hama Penyakit Ikan Mas Yang Sering Menyerang
Mengetahui hama penyakit yang sering menyerang Ikan Mas sangat penting. Ini akan berguna dalam penangganan dan perawatan, dengan demikian masalah cepat teratasi. Akan berguna mulai dari pembibitan sampai siap panen
Berbahaya bagi benih ikan karena sengatannya. Pengendaliannya : Tuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.
2. Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendaliannya : Sulit diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
3. Kodok
Makan telur-telur ikan. Pengendaliannya : Sering membuang telur yang mengapung, tangkap dan membuang hidup-hidup.
4. Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendaliannya : Tangkap dan pagar kolam.
5. Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendaliannya : Pasang jebakan berumpun.
6. Burung
Memakan benih berwarna menyala seperti merah, kuning. Pengendaliannya : Diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang.
7. Ikan gabus
Memangsa ikan kecil. Pengendaliannya : Pintu masukan air diberi saringan atau dibuat bak filter.
8. Belut dan kepiting
Pengendalian : Tangkap.
1. Bintik merah (White spot)
Gejala : Pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih, pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, ikan menggosokkan badannya pada benda sekitar, berenang lemah dan sering muncul di permukaan air.
Pengendaliannya : Ikan direndam dalam larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc dicampur 4 liter air selama 24 jam dan Direndam dalam garam dapur NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc air.
2. Bengkak insang dan badan ( Myxosporesis)
Gejala : Tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung terjadi pendarahan.
Pengendaliannya : Keringkan kolam secara total, ditabur kapur tohon 200 gram/m 2, biarkan selama 1-2 minggu.
3. Cacing insang, sirip, kulit (Dactypogyrus dan girodactylogyrus)
Gejala : Ikan tampak kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok, ikan menggosokkan badannya pada benda keras sekitar, pendarahan dan menebal pada insang.
Pengendalian :
a. Rendan dalam larutan formalin 250 gram/m3 selama 15 menit dan direndam dalam Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam;
b. Hindari penebaran ikan berlebihan.
4. Kutu ikan (argulosis)
Gejala : Benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian kulit, sirip dan insang terlihat jelas ada bercak merah (hemorrtage).
Pengendalian :
a. Ikan yang terinfeksi direndan dalam garam dapur 20 gram/liter air selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3) selama 30 menit;
b. Keringkan kolam hingga retak-retak.
5. Jamur (Saprolegniasis)
Menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian lain.
Gejala : Tubuh ikan yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang terserang jamur, terlihat benang halus seperti kapas.
Pengendaliannya : Direndam dalam larutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3 gram/m3 selama 30 menit; telur yang terserang direndam dengan MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam.
6. Gatal (Trichodiniasis)
Menyerang benih ikan.
Gejala : Gerakan ikan lamban; suka menggosokkan badan pada sisi kolam
Pengendaliannya : Rendam selam 15 menit dalam larutan formalin 150-200 ppm.
7. Bakteri psedomonas flurescens
Penyakit yang sangat ganas.
Gejala : Pendarahan dan bobok pada kulit, sirip ekor terkikis.
Pengendaliannya : Beri pakan dicampur oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.
8. Bakteri aeromonas punctata
Penyakit yang sangat ganas.
Gejala : Warna badan ikan suram, tidak cerah; kulit kesat dan melepuh; cara bernafas mengap-mengap; kantong empedu gembung, pendarahan dalam organ hati dan ginjal.
Pengendalian : Suntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau streptomycin 80-100 mg/kg ikan; pakan dicampur terramicine 50 mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.
1. Mengeringkan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
2. Memelihara ikan yang benar-benar bebas penyakit.
3. Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
4. Sistem drainase ideal, paralel, tiap kolam beri satu pintu masuk air.
5. Memberi pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitas.
6. Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan secara hati-hati dan benar.
7. Jangan biarkan masuk ke area kolam binatang seperti burung, siput, ikan seribu karena sebagai pembawa penyakit.
Hama Ikan Mas
1. Bebeasan (Notonecta)Berbahaya bagi benih ikan karena sengatannya. Pengendaliannya : Tuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.
2. Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendaliannya : Sulit diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
3. Kodok
Makan telur-telur ikan. Pengendaliannya : Sering membuang telur yang mengapung, tangkap dan membuang hidup-hidup.
4. Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendaliannya : Tangkap dan pagar kolam.
5. Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendaliannya : Pasang jebakan berumpun.
6. Burung
Memakan benih berwarna menyala seperti merah, kuning. Pengendaliannya : Diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang.
7. Ikan gabus
Memangsa ikan kecil. Pengendaliannya : Pintu masukan air diberi saringan atau dibuat bak filter.
8. Belut dan kepiting
Pengendalian : Tangkap.
Penyakit Ikan Mas
1. Bintik merah (White spot)
Gejala : Pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih, pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, ikan menggosokkan badannya pada benda sekitar, berenang lemah dan sering muncul di permukaan air.
Pengendaliannya : Ikan direndam dalam larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc dicampur 4 liter air selama 24 jam dan Direndam dalam garam dapur NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc air.
2. Bengkak insang dan badan ( Myxosporesis)
Gejala : Tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung terjadi pendarahan.
Pengendaliannya : Keringkan kolam secara total, ditabur kapur tohon 200 gram/m 2, biarkan selama 1-2 minggu.
3. Cacing insang, sirip, kulit (Dactypogyrus dan girodactylogyrus)
Gejala : Ikan tampak kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok, ikan menggosokkan badannya pada benda keras sekitar, pendarahan dan menebal pada insang.
Pengendalian :
a. Rendan dalam larutan formalin 250 gram/m3 selama 15 menit dan direndam dalam Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam;
b. Hindari penebaran ikan berlebihan.
4. Kutu ikan (argulosis)
Gejala : Benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian kulit, sirip dan insang terlihat jelas ada bercak merah (hemorrtage).
Pengendalian :
a. Ikan yang terinfeksi direndan dalam garam dapur 20 gram/liter air selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3) selama 30 menit;
b. Keringkan kolam hingga retak-retak.
5. Jamur (Saprolegniasis)
Menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian lain.
Gejala : Tubuh ikan yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang terserang jamur, terlihat benang halus seperti kapas.
Pengendaliannya : Direndam dalam larutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3 gram/m3 selama 30 menit; telur yang terserang direndam dengan MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam.
6. Gatal (Trichodiniasis)
Menyerang benih ikan.
Gejala : Gerakan ikan lamban; suka menggosokkan badan pada sisi kolam
Pengendaliannya : Rendam selam 15 menit dalam larutan formalin 150-200 ppm.
7. Bakteri psedomonas flurescens
Penyakit yang sangat ganas.
Gejala : Pendarahan dan bobok pada kulit, sirip ekor terkikis.
Pengendaliannya : Beri pakan dicampur oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.
8. Bakteri aeromonas punctata
Penyakit yang sangat ganas.
Gejala : Warna badan ikan suram, tidak cerah; kulit kesat dan melepuh; cara bernafas mengap-mengap; kantong empedu gembung, pendarahan dalam organ hati dan ginjal.
Pengendalian : Suntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau streptomycin 80-100 mg/kg ikan; pakan dicampur terramicine 50 mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.
Tips mencegah timbul penyakit dan hama pada budidaya ikan mas:
1. Mengeringkan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
2. Memelihara ikan yang benar-benar bebas penyakit.
3. Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
4. Sistem drainase ideal, paralel, tiap kolam beri satu pintu masuk air.
5. Memberi pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitas.
6. Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan secara hati-hati dan benar.
7. Jangan biarkan masuk ke area kolam binatang seperti burung, siput, ikan seribu karena sebagai pembawa penyakit.
Sunday, March 10, 2013
Cara Memelihara Bibit dan Membesarkan Anak Ikan Mas
Selanjutnya memelihara bibit dan cara membesarkan anak ikan mas. Tahap ini setelah kita melakukan pembibitan dan pemicahan.
Melihara anak ikan mas setelah telur-telur hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan luas 200-500 meter persegi yang dipersiapkan menerima anak ikan. Dimana kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta bersih dari ikan-ikan liar. Kolam diberi kapur dan pupuk sesuai ketentuan dan pakan seuai ketentuan.
Tahap Pendederan ikan mas:
I. Umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari (ukuran1-1,5 cm); jumlah benih yang disebar=100-200 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm.
II. Setelah tahap I selesai; jumlah benih yang disebar 50-75 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 3-5 cm.
III. Setelah tahap II selesai; jumlah benih yang disebar 25-50 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 5-8 cm. Dan perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.
IV. Setelah tahap III selesai; jumlah benih yang disebar 3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 8-12 cm. Dan perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.
Perlakuan dan Perawatan Bibit
Apabila benih belum mencapai ukuran 100 gram, maka benih diberi pakan pelet 2 mm sebanyak 3 kali bobot total benih yang diberikan 4 kali sehari selama 3 minggu.
A. Membesarkan Ikan Mas Cara Polikultur>
1. ikan mas 50%, ikan tawes 20%, dan mujair 30%, atau
2. ikan mas 50%, ikan gurame 20% dan ikan mujair 30%.
B. Membesarkan Ikan Mas Cara Monokultur
Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dibandingkan dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara induk jantan dan betina.
Pemupukan dengan kotoran ayam sebanyak 250-500 gram/m 2 , TSP 10 gram/m 2 , Urea 10 gram/m 2 , kapur 25-100 gram/m 2 . Setelah itu kolam diisi air 39\0-40 cm. Biarkan 5-7 hari. Dua hari setelah pengisian air, kolam disemprot dengan insektisida organophosphat seperti Sumithion 60 EC, Basudin 60 EC dengan dosis 2-4 ppm. Tujuan untuk memberantas serangga dan udang-udangan yang memangsa rotifera.
Setelah 7 hari kemudian, air ditinggikan sekitar 60 cm. Padat penebaran ikan tergantung pemeliharaannya. Jika hanya mengandalkan pakan alami dan dedak, maka padat penebaran adalah 100-200 ekor/m 2 , sedangkan bila diberi pakan pellet, maka penebaran adalah 300-400 ekor/m 2 (benih lepas hapa). Penebaran dilakukan pada pagi/sore hari saat suhu rendah.
Pembenihan intensif utamakan pemberian pakan buatan. Pakan kualitas baik mengandung zat-zat makanan cukup protein, mengandung asam amino esensial, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
Perawatan larva dalam hapa sekitar 4-5 hari. Setelah larva tidak menempel pada kakaban, 3-4 hari kemudian kakaban diangkat dan dibersihkan. Pemberian pakan untuk larva, 1 butir kuning telur rebus untuk 100.000 ekor/hari. Caranya kuning telur dibuat suspensi 1/4 liter air untuk 1 butir, kuning telur diremas dalam kain kemudian diberikan pada benih, perawatan 5-7 hari.
Pemeliharaan ikan mas tidak boleh terabaikan adalah menjaga kondisi air agar kualitas stabil, bersih tidak tercemari oleh zat beracun.
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas http: //amblogfree.blogspot.com/2010/03/budidaya-ikan-mas-cyprinus-carpio-l.html
Pemeliharaan Bibit / Pendederan Ikan Mas
Melihara anak ikan mas setelah telur-telur hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan luas 200-500 meter persegi yang dipersiapkan menerima anak ikan. Dimana kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta bersih dari ikan-ikan liar. Kolam diberi kapur dan pupuk sesuai ketentuan dan pakan seuai ketentuan.
Tahap Pendederan ikan mas:
I. Umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari (ukuran1-1,5 cm); jumlah benih yang disebar=100-200 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm.
II. Setelah tahap I selesai; jumlah benih yang disebar 50-75 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 3-5 cm.
III. Setelah tahap II selesai; jumlah benih yang disebar 25-50 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 5-8 cm. Dan perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.
IV. Setelah tahap III selesai; jumlah benih yang disebar 3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 8-12 cm. Dan perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.
Perlakuan dan Perawatan Bibit
Apabila benih belum mencapai ukuran 100 gram, maka benih diberi pakan pelet 2 mm sebanyak 3 kali bobot total benih yang diberikan 4 kali sehari selama 3 minggu.
Cara Membesarkan Anak Ikan Mas
A. Membesarkan Ikan Mas Cara Polikultur>
1. ikan mas 50%, ikan tawes 20%, dan mujair 30%, atau
2. ikan mas 50%, ikan gurame 20% dan ikan mujair 30%.
B. Membesarkan Ikan Mas Cara Monokultur
Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dibandingkan dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara induk jantan dan betina.
Pemupukan
Pemupukan dengan kotoran ayam sebanyak 250-500 gram/m 2 , TSP 10 gram/m 2 , Urea 10 gram/m 2 , kapur 25-100 gram/m 2 . Setelah itu kolam diisi air 39\0-40 cm. Biarkan 5-7 hari. Dua hari setelah pengisian air, kolam disemprot dengan insektisida organophosphat seperti Sumithion 60 EC, Basudin 60 EC dengan dosis 2-4 ppm. Tujuan untuk memberantas serangga dan udang-udangan yang memangsa rotifera.
Setelah 7 hari kemudian, air ditinggikan sekitar 60 cm. Padat penebaran ikan tergantung pemeliharaannya. Jika hanya mengandalkan pakan alami dan dedak, maka padat penebaran adalah 100-200 ekor/m 2 , sedangkan bila diberi pakan pellet, maka penebaran adalah 300-400 ekor/m 2 (benih lepas hapa). Penebaran dilakukan pada pagi/sore hari saat suhu rendah.
Pemberian Pakan
Pembenihan intensif utamakan pemberian pakan buatan. Pakan kualitas baik mengandung zat-zat makanan cukup protein, mengandung asam amino esensial, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
Perawatan larva dalam hapa sekitar 4-5 hari. Setelah larva tidak menempel pada kakaban, 3-4 hari kemudian kakaban diangkat dan dibersihkan. Pemberian pakan untuk larva, 1 butir kuning telur rebus untuk 100.000 ekor/hari. Caranya kuning telur dibuat suspensi 1/4 liter air untuk 1 butir, kuning telur diremas dalam kain kemudian diberikan pada benih, perawatan 5-7 hari.
Pemeliharaan ikan mas tidak boleh terabaikan adalah menjaga kondisi air agar kualitas stabil, bersih tidak tercemari oleh zat beracun.
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas http: //amblogfree.blogspot.com/2010/03/budidaya-ikan-mas-cyprinus-carpio-l.html
Thursday, March 7, 2013
Cara Pembibitan Pemijahan Pada Budidaya Ikan Mas
Cara pembibitan pemicahan sangat penting dalam usaha budidaya ikan mas, sebenarnya tidak sulit hanya perlu ketelitian dan kesabaaran. Sebelumnya persiapan sarana dan peralatan seperti kolam dan alat bantu lainya, setelah itu baru masuk ke tahap berikut ini:
Usaha pembenihan ikan mas dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu secara tradisional, semi intensif dan intensif. Semakin berkembang teknologi budidaya ikan, khusus teknologi pembenihan maka telah dilaksanakan penggunaan induk-induk berkualitas baik.
Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada kondisi alam namun manusia telah banyak menemukan kemajuan diantaranya pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur dengan teknik pembunuhan buatan. Penetasan telur secara terkontrol, pengendalian kuantitas dan kualitas air, teknik kultur makanan alami dan pemurnian kualitas induk ikan.
Ciri induk jantan dan induk betina unggul siap dipijah adalah :
1. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor; Jantan: umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.
2. Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor mulus, sehat, sirip tidak cacat.
3. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih; panjang kepala minimal 1/3 dari panjang badan; lensa mata tampak jernih.
4. Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.
5. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal ekor harus lebih panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.
Cara membedakan induk jantan dan induk betina adalah :
1. Betina
> Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.
> Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.
> Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.
2. Jantan
> Badan tampak langsing.
> Gerakan lincah dan gesit.
> Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
Sisem pemijahan tradisional, diantaranya:
Cara sunda
1. Luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari;
2. Sediakan injuk untuk menepelkan telur;
3. Setelah proses pemijahan selesai, ijuk dipindah ke kolam penetasan.
Cara cimindi
1. Luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;
2. Sediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk dijepit bambu dan diletakkan dipojok kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;
3. Setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;
4. Tujuh hari setelah pemijahan ijuk ini dibuka kemudian sekitar 2-3 minggu setelah itu dapat dipanen benih-benih ikan.
Cara rancapaku
1. luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan, batas pematang antara terbuat dari batu;
2. Sediakan rumput kering untuk menepelkan telur, rumput disebar merata di seluruh permukaan air kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;
3. Setelah proses pemijahan selesai induk tetap di kolam pemijahan.;
4. Setelah benih ikan kuat maka akan berpindah tempat melalui sela bebatuan, setelah 3 minggu maka benih dapat dipanen.
Cara sumatera
1. Luas kolam pemijahan 5 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;
2. Sediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk ditebar di permukaan air;
3. Setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;
4. Setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.
Cara dubish
1. Luas kolam pemijahan 25-50 meter persegi, dibuat parit keliling dengan lebar 60 cm dalam 35 cm, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;
2. Sebagai media penempel telur digunakan tanaman hidup seperti Cynodon dactylon setinggi 40 cm;
3. Setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;
4. Setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.
Cara hofer
1. Sama seperti cara dubish hanya tidak ada parit dan tanaman Cynodon dactylon dipasang di depan pintu pemasukan air.
2. Sistim kawin suntik
Pada sisitim ini induk baik jantan maupun betina yang matang bertelur dirangsang untuk memijah setelah penyuntikan ekstrak kelenjar hyphofise ke dalam tubuh ikan. Kelenjar hyphofise diperoleh dari kepala ikan donor (berada dilekukan tulang tengkorak di bawah otak besar). Setelah suntikan dilakukan dua kali, dalam tempo 6 jam induk akan terangsang melakukan pemijahan. Sistim ini memerlukan biaya yang tinggi, sarana yang lengkap dan perawatan yang intensif.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemijahan ikan mas:
> Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas.
> Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air cukup; dan suhu berkisar 25 derajat C.
> Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air.
> Jumlah induk yang disebar tergantung dari luas kolam, sebagai patokan seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi.
> Pemberian makanan dengan kandungan protein 25%. Untuk pellet diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan takaran 2-4% dari jumlah berat induk ikan.
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
http://amblogfree.blogspot.com/2010/03/budidaya-ikan-mas-cyprinus-carpio-l.html
Memilih Bibit Induk Ikan Mas
Usaha pembenihan ikan mas dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu secara tradisional, semi intensif dan intensif. Semakin berkembang teknologi budidaya ikan, khusus teknologi pembenihan maka telah dilaksanakan penggunaan induk-induk berkualitas baik.
Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada kondisi alam namun manusia telah banyak menemukan kemajuan diantaranya pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur dengan teknik pembunuhan buatan. Penetasan telur secara terkontrol, pengendalian kuantitas dan kualitas air, teknik kultur makanan alami dan pemurnian kualitas induk ikan.
Ciri induk jantan dan induk betina unggul siap dipijah adalah :
1. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor; Jantan: umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.
2. Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor mulus, sehat, sirip tidak cacat.
3. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih; panjang kepala minimal 1/3 dari panjang badan; lensa mata tampak jernih.
4. Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.
5. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal ekor harus lebih panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.
Cara membedakan induk jantan dan induk betina adalah :
1. Betina
> Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.
> Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.
> Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.
2. Jantan
> Badan tampak langsing.
> Gerakan lincah dan gesit.
> Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
Sistem Pembenihan / Pemijahan Ikan Mas
Sisem pemijahan tradisional, diantaranya:
Cara sunda
1. Luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari;
2. Sediakan injuk untuk menepelkan telur;
3. Setelah proses pemijahan selesai, ijuk dipindah ke kolam penetasan.
Cara cimindi
1. Luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;
2. Sediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk dijepit bambu dan diletakkan dipojok kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;
3. Setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;
4. Tujuh hari setelah pemijahan ijuk ini dibuka kemudian sekitar 2-3 minggu setelah itu dapat dipanen benih-benih ikan.
Cara rancapaku
1. luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan, batas pematang antara terbuat dari batu;
2. Sediakan rumput kering untuk menepelkan telur, rumput disebar merata di seluruh permukaan air kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;
3. Setelah proses pemijahan selesai induk tetap di kolam pemijahan.;
4. Setelah benih ikan kuat maka akan berpindah tempat melalui sela bebatuan, setelah 3 minggu maka benih dapat dipanen.
Cara sumatera
1. Luas kolam pemijahan 5 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;
2. Sediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk ditebar di permukaan air;
3. Setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;
4. Setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.
Cara dubish
1. Luas kolam pemijahan 25-50 meter persegi, dibuat parit keliling dengan lebar 60 cm dalam 35 cm, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;
2. Sebagai media penempel telur digunakan tanaman hidup seperti Cynodon dactylon setinggi 40 cm;
3. Setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;
4. Setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.
Cara hofer
1. Sama seperti cara dubish hanya tidak ada parit dan tanaman Cynodon dactylon dipasang di depan pintu pemasukan air.
2. Sistim kawin suntik
Pada sisitim ini induk baik jantan maupun betina yang matang bertelur dirangsang untuk memijah setelah penyuntikan ekstrak kelenjar hyphofise ke dalam tubuh ikan. Kelenjar hyphofise diperoleh dari kepala ikan donor (berada dilekukan tulang tengkorak di bawah otak besar). Setelah suntikan dilakukan dua kali, dalam tempo 6 jam induk akan terangsang melakukan pemijahan. Sistim ini memerlukan biaya yang tinggi, sarana yang lengkap dan perawatan yang intensif.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemijahan ikan mas:
> Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas.
> Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air cukup; dan suhu berkisar 25 derajat C.
> Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air.
> Jumlah induk yang disebar tergantung dari luas kolam, sebagai patokan seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi.
> Pemberian makanan dengan kandungan protein 25%. Untuk pellet diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan takaran 2-4% dari jumlah berat induk ikan.
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
http://amblogfree.blogspot.com/2010/03/budidaya-ikan-mas-cyprinus-carpio-l.html
Tuesday, March 5, 2013
Sarana dan Peralatan Budidaya Ikan Mas Yang Baik
Menyiapkan sarana dan peralatan untuk budidaya ikan mas sangat penting dalam keberhasilan usaha ikan konsumsi ini. Setelah mengenal jenis-jenis ikan mas, selanjutnya apa saja yang mesti disiapkan budidaya yang satu :
Lokasi kolam dicari dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam dibangun di lahan landai dengan kemiringan 2–5% sehingga memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
1. Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaan. Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak.
Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dinding tembok atau kolam tanah dilapisi anyaman bambu. Pintu masuk air bisa dengan paralon dan dipasang saring, sedangkan untuk air keluar sebaiknya berbentuk monik.
2. Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan, bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18 m² dengan 18 buah ijuk / kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu masuk dan keluar air dengan pralon kalau ukuran kolam kecil atau pintu monik
Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam penetasan usahakan agar air masuk dapat menyebar ke daerah yang ada telur ikan mas ini.
3. Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Kegiatan pendederan ada beberapa kolam yaitu
Pendederan pertama dengan luas 25-500 m2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m 2 per petak. Pemasukan air bisa dengan pralon untuk pembuangan dengan pintu bentuk monik. Dasar kolam dibuat kemalir / saluran dasar dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat berkumpul benih saat panen dan kubangan untuk memudahkan penangkapan benih. Dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.
Alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mas antara lain: jala, waring (anco), hapa atau jaring kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih, seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen / menangkap ikan mas adalah warring / scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi.
Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi.
Diberi pupuk berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas http: //amblogfree.blogspot.com/2010/03/budidaya-ikan-mas-cyprinus-carpio-l.html
Kolam Ikan Mas Yang Baik
Lokasi kolam dicari dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam dibangun di lahan landai dengan kemiringan 2–5% sehingga memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
1. Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaan. Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak.
Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dinding tembok atau kolam tanah dilapisi anyaman bambu. Pintu masuk air bisa dengan paralon dan dipasang saring, sedangkan untuk air keluar sebaiknya berbentuk monik.
2. Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan, bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18 m² dengan 18 buah ijuk / kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu masuk dan keluar air dengan pralon kalau ukuran kolam kecil atau pintu monik
Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam penetasan usahakan agar air masuk dapat menyebar ke daerah yang ada telur ikan mas ini.
3. Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Kegiatan pendederan ada beberapa kolam yaitu
Pendederan pertama dengan luas 25-500 m2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m 2 per petak. Pemasukan air bisa dengan pralon untuk pembuangan dengan pintu bentuk monik. Dasar kolam dibuat kemalir / saluran dasar dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat berkumpul benih saat panen dan kubangan untuk memudahkan penangkapan benih. Dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.
Peralatan Untuk Budidaya Ikan Mas
Alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mas antara lain: jala, waring (anco), hapa atau jaring kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih, seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen / menangkap ikan mas adalah warring / scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi.
Persiapan Media Untuk Budidaya Ikan Mas
Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi.
Diberi pupuk berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas http: //amblogfree.blogspot.com/2010/03/budidaya-ikan-mas-cyprinus-carpio-l.html
Monday, March 4, 2013
Jenis Ikan Mas dan Sentra Budidaya di Indonesia
Ikan mas adalah jenis ikan konsumsi air tawar. Ciri, badan panjang pipih ke samping dan lunak. Ikan mas telah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas di Indonesia merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Ikan mas Punten dan Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat 10 ikan mas diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologisnya.
Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, sawah, waduk, sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba pada perairan umum. Adapun sentra produksi ikan mas di Indonesia adalah: Ciamis, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta
Kelas : Osteichthyes
Anak kelas : Actinopterygii
Bangsa : Cypriniformes
Suku : Cyprinidae
Marga : Cyprinus
Jenis : Cyprinus carpio L.
Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan kolam, musim dan cara pemeliharaan ini terlihat dari penampilan bentuk fisik dan dan warna. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas adalah sebagai berikut:
1. Ikan mas punten
Sisik warna hijau gelap; potongan badan paling pendek; bagian punggung tinggi melebar; mata agak menonjol; gerakan gesit; perbandingan antara panjang badan dan tinggi antara 2,3:1.
2. Ikan mas majalaya
Sisik warna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap; punggung tinggi; badan relatif pendek; gerakan lamban, bila diberi makanan suka berenang di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi antara 3,2:1.
3. Ikan mas si nyonya
Sisik warna kuning muda; badan relatif panjang; mata waktu muda tidak menonjol, sedangkan setelah dewasa sipit; gerakan lamban, lebih suka berada di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi antara 3,6:1.
4. Ikan mas taiwan
Sisik warna hijau kekuning-kuningan; badan relatif panjang; penampang punggung membulat; mata agak menonjol; gerakan lebih gesit dan aktif; perbandingan panjang badan dengan tinggi antara 3,5:1.
5. Ikan mas koi
Bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisik bermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari warna-warna tersebut. Beberapa ras koi adalah long tail Indonesian carp, long tail platinm nishikigoi, platinum nishikigoi, long tail shusui nishikigoi, shusi nishikigoi, kohaku hishikigoi, lonh tail hishikigoi, taishusanshoku nshikigoi dan long tail taishusanshoku nishikigoi.
Dari sekian banyak strain ikan mas, di Jawa Barat ikan mas punten kurang berkembang karena diduga orang Jawa Barat lebih menyukai ikan mas yang berbadan relatif panjang. Ikan mas majalaya termasuk jenis unggul yang banyak dibudidayakan.
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas. http ://amblogfree.blogspot.com/2010/03/budidaya-ikan-mas-cyprinus-carpio-l.html
Sentra Budidaya Ikan Masa di Indonesia
Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, sawah, waduk, sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba pada perairan umum. Adapun sentra produksi ikan mas di Indonesia adalah: Ciamis, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta
Jenis Ikan Mas
Kelas : Osteichthyes
Anak kelas : Actinopterygii
Bangsa : Cypriniformes
Suku : Cyprinidae
Marga : Cyprinus
Jenis : Cyprinus carpio L.
Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan kolam, musim dan cara pemeliharaan ini terlihat dari penampilan bentuk fisik dan dan warna. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas adalah sebagai berikut:
1. Ikan mas punten
Sisik warna hijau gelap; potongan badan paling pendek; bagian punggung tinggi melebar; mata agak menonjol; gerakan gesit; perbandingan antara panjang badan dan tinggi antara 2,3:1.
2. Ikan mas majalaya
Sisik warna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap; punggung tinggi; badan relatif pendek; gerakan lamban, bila diberi makanan suka berenang di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi antara 3,2:1.
3. Ikan mas si nyonya
Sisik warna kuning muda; badan relatif panjang; mata waktu muda tidak menonjol, sedangkan setelah dewasa sipit; gerakan lamban, lebih suka berada di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi antara 3,6:1.
4. Ikan mas taiwan
Sisik warna hijau kekuning-kuningan; badan relatif panjang; penampang punggung membulat; mata agak menonjol; gerakan lebih gesit dan aktif; perbandingan panjang badan dengan tinggi antara 3,5:1.
5. Ikan mas koi
Bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisik bermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari warna-warna tersebut. Beberapa ras koi adalah long tail Indonesian carp, long tail platinm nishikigoi, platinum nishikigoi, long tail shusui nishikigoi, shusi nishikigoi, kohaku hishikigoi, lonh tail hishikigoi, taishusanshoku nshikigoi dan long tail taishusanshoku nishikigoi.
Dari sekian banyak strain ikan mas, di Jawa Barat ikan mas punten kurang berkembang karena diduga orang Jawa Barat lebih menyukai ikan mas yang berbadan relatif panjang. Ikan mas majalaya termasuk jenis unggul yang banyak dibudidayakan.
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas. http ://amblogfree.blogspot.com/2010/03/budidaya-ikan-mas-cyprinus-carpio-l.html
Subscribe to:
Posts (Atom)










