Showing posts with label budidaya ternak kambing. Show all posts
Showing posts with label budidaya ternak kambing. Show all posts

Wednesday, November 20, 2013

Ternak Kambing Tanpa Ngarit - Mudah, Murah dan Efektifnya Membuat Pakan Fermentasi Jerami Padi Untuk Ternak Kambing

CARA FERMENTASI JERAMI UNTUK MAKANAN TERNAK DOMBA/KAMBING

BAHAN DAN UKURAN:

• 1000 Kg  : jerami padi , dipilih yang sudah kering
• 20-25 Lt      : tetes bila tidak ada dapat diganti gula yang dilarutkan
• 6-7 Lt          : Probiotik, bila di daerah belum ada dapat diganti dengan EM4.
• 5-6 Kg         : Urea untuk menambah kandungan protein makanan ( 4-6% dr total jerami )
• 250-300 Lt. : Air untuk melarutkan probiotik dan tetes/15Lt untuk jerami basah

PERALATAN:
• Silo tempat untuk fermentasi jerami dapat berupa tembok semen, bis semen, drum sesuai kemampuan dan jumlah ternak
• Alat pemotong sabit atau sejenisnya atau bisa menggunakan mesin pencacah jerami
• Ember atau timba, gembor, terpal plastik atau karung plastik

CARA MEMBUAT
  1. Sediakan silo dari bis beton disusun dua atau tiga, bila memakai drum bagian dalam supaya dicat agar tidak berkarat
  2. Jerami kering atau bahan-bahan kering yang telah ada dipotong-potong dengan ukuran kurang lebih 25 cm sejumlah isi silo yang ada
  3. Larutkan tetes dan urea serta probiotik dengan air menjadi satu sesuai perbandingan bahan-bahan di atas.
  4. Siapkan terpal plastik untuk alas menjcampur antara jerami dengan campuran tets starbio dan air.
  5.  Jerami padi yang sudah dipotong ditaruh di atas terpal sedikit demi sedikit sambil disiram larutan air tetes dan starbio sesuai perbandingan di atas sampai merata dan jerami kelihatan basah.
  6. Setelah jarami benar-benar telah disiram rata dengan larutan tersebut, jerami dimasukkan ke dalam silo sedikit demi sedikit sambil dimampatkan/diinjak-injak supaya padat.
  7. Setelah mampat (padat) silo ditutup hingga rapat betul
  8. Setelah 7 hari jerami tersebut baru dapat mulai diberikan pada ternak kambing sesuai dengan kebutuhan dan selama bahan tersebut belum habis setelah mengambil bahan dari silo supaya ditutup kembali dengan rapat
  9. Penempatan silo supaya terhindar dari genangan air, terhindar dari terik matahari dan air hujan tidak boleh masuk ke dalam silo

CARA MEMBERIKAN:
  •  Pemberian diberikan dua kali pagi dan sore dengan ukuran: bobot kambing x 3% pakan kering (jerami yang telah difermentasi)
  •  Ditambah makan tambahan berupa katul yang baik (kualitas I) sebanyak 0,5 kg/ekor

KETERANGAN:
  •  Apabila waktu petama kali tenak diberi pakan fermentasi tersebut tidak langsung mau supaya dilatih sedikit demi sedikit sampai mau makan dengan lahap
  •  Agar ternak kambing cepat gemuk perlu diberi makan lain yang kadar proteinnya tinggi seperti pemberian katul konsentrat
  •  Air minum supaya tetap tersedia (jangan sampai telat), ada baiknya airnya diberikan garam.


Thursday, November 7, 2013

Perencanaan Usaha Budidaya Ternak Kambing

Usaha agribisnis mempunyai kontribusi besar bagi pembangunan di Indonesia. Sektor pertanian terbukti telah mampu eksis menghadapi krisis ekonomi yang menimpa bangsa Indonesia. Untuk itu pemerintah telah mencanangkan program revitalisasi pertanian dimana dengan harapan nantinya muncul produk-produk unggulan di satu produk unggulan di tiap desa.
Pada akhirnya akan tercipta lapangan kerja baru di perdesaan sehingga dapat mengurangi urbanisasi dari perdesaan.
Perencanaan adalah hal yang sangat penting dalam memulai usaha Peternakan. Perencanaan usaha akan membantu kita dalam melangkah dan membuat keputusan-.

Dengan perencanan yang matang kita bisa :
• Membayangkan (memproyeksikan) perjalanan usaha kita ke depan.
• Merancang pengelolaan sumberdaya yang ada : dana, lahan, tenaga kerja, dsb.
• Melakukan monitoring/pengawasan disaat usaha berjalan, apakah sesuai dengan rencana atau tidak, sehingga dapat diambil keputusan yang tepat.

Beberapa pertanyaan penting sebelum kita memulai beternak kambing adalah :

1. JENIS KAMBING YANG AKAN DIPELIHARA
Jenis ternak kambing yang akan kita pelihara tergantung beberapa faktor
Jenis peternakan kambing dilihat dari segi tujuannya dapat dibedakan :

a. Penggemukan (Fattening)
Yakni beternak yang tujuannya menggemukkan (membesarkan) tubuh kambing untuk meningkatkan berat badan saat penjualan. Program penggemukan ini biasanya dilakukan jika ada pasar yang telah ada atau dugaan kuat potensi pasar itu dapat diraih. Oleh karena itu penggemukan ini biasanya dilakukan peternak pada saat menjelang Hari Raya Kurban dimana kebutuhan akan kambing (jantan) sangat tinggi. Sedangkan penggemukan diluar momen tersebut sangat jarang ditemukan kecuali pada usaha peternakan yang telah mempunyai pasar tetap.

b. Pembiakan dari Bibit
Yakni beternak dengan memelihara induk dan pejantan yang tujuannya adalah menghasilkan anak, dibesarkan dan kemudian dijual. Biasanya tidak semua peternak memiliki pejantan, namun satu pejantan digilir dengan memberikan uang rokok kepada pemilik jantan sebagai penghargaan atas jasa pemeliharaan. Secara tidak langsung kebiasaan ini merupakan teknik peningkatan produktivitas jantan dan efisiensi biaya.
Usia anak yang dijual juga bervariasi, kadang anak lepas sapih, dari dan kebanyakan adalah penjualan saat kambing dewasa.

c. Peternakan Perbibitan (Penghasil Bibit/Breeding)
Yakni beternak dengan tujuan untuk menghasilkan kambing kualitas bibit. Usaha pembibitan ini jarang dilakukan oleh masyarakat karena memiliki persyaratan dan perlakuan khusus selama proses pemeliharaan berlangsung seperti kualitas induk dan pejantan yang bagus, proses seleksi anak, dan tata cara kawin harus memperhatikan silsilah yang baik.

JENIS PETERNAKAN DAN SKALA(BESAR/KECIL) YANG AKAN DIKEMBANGKAN?

1. Jenis Ternak
2. Jenis Peternakan dan skala yang akan dikembangkan

Sedangkan dari Skala Usaha, peternakan dapat dibedakan :

a. Peternakan Skala Rumah Tangga
Yakni usaha peternakan yang diusahakan oleh masyarakat disekitar rumah mereka, atau seringkali bergabung dengan bangunan rumah. Jumlah kambing yang dipelihara biasanya paling banyak 20 ekor.

b. Peternakan Skala Kecil
Yakni usaha peternakan yang lebih besar dari skala rumah tangga hingga jumlah 500 ekor. Biasanya peternakan ini dikembangkan karena memiliki pasar tetap.

c. Peternakan Skala Menengah
Yakni usaha peternakan dengan jumlah ternak antara 500-1000 ekor. Di Indonesia, usaha peternakan kambing skala menengah ini masih sangat minim jumlahnya.

d. Peternakan Skala Besar
Yakni usaha peternakan kambing dengan jumlah kambing diatas 1000 ekor. Skala ini asih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Kalaupun ada sifatnya hanyalah sebagai Holding Ground (conditioning phase) sebelum dilepas ke pasar. Sedangkan untuk jenis perbibitan, boleh dikatakan (hampir) tidak ada.


Perencanaan
Pemilihan Skala ini akan sangat berpengaruh terhadap :

a. Besarnya investasi
b. Teknik pengelolaan (manajemen) peternakan
c. Jaringan pasar yang harus dibentuk


DAYA DUKUNG DARI LINGKUNGAN

a. Lahan
Lahan diperlukan sebagai tempat pembangunan kandang, tempat menampung limbah baik kotoran (feses), air kencing (urine), dan mungkin sebagai lahan untuk menanam rumput.
Luas lahan yang diperlukan sangat tergantung dari jumlah ternak. Luas lahan akan bertambah jika ada program untuk penanaman rumput.

b. Iklim
masing-masing ternak mempunyai secara fisiologis memerlukan kondisi lingkungan yag tidak berbeda. Secara umum, kambing lokal Indonesia akan dapat berkembang dengan baik kisaran suhu 20-29 derajat celcius.
Jika pakan ternak sangat tergantung dengan pasokan hijauan, maka penting diperhatikan panjangnya musim hujan dan musim kemarau. Semakin pendek musim kemarau akan semakin baik.

c. Potensi Hijauan Makanan Ternak
Sumber HMT dapat dibagi dua yaitu rumput lapang (liar) dan rumput semaian (sengaja dipelihara).
Jika mengandalkan keberadaan rumput liar, penting diperhatikan populasi ternak yang mengkonsumsi rumput liar di wilayah tersebut. Umumnya Dinas Peternakan memiliki data tentang Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak ruinansia (KPPTR) dan Potensi Maksimum berdasarkan Sumber Daya Lahan (PMSL).
Jika ada program penanaman rumput, penting diperhatikan luasan lahan yang diperlukan, rotasi panen dan rotasi pemeliharaan.

d. Potensi Makanan Non Hijauan
Untuk memberikan makanan yang bervariasi dan mengurangi ketergantungan dari pakan hijauan, dapat juga diinventarisasi potensi pakan non hijauan, seperti onggok singkong.
Jika pasokan pakan non hijauan dari pembelian, maka penting diperhatikan hitungan ekonomisnya.

e. Keterampilan yang dimiliki SDM
Sangat penting diperhatikan keterampilan SDM dalam memelihara kambing, sebab kesalahan sedikit saja dalam pengelolaan dapat mengakibatkan ternak sakit, pertumbuhan kurang,bahkan resiko kematian. Untuk itu sebelum dijalankan, tenaga pengelola harus mendapatkan keterampilan yang cukup.

f. Dukungan Dana dan Sistem Kerjasama
Dana untuk memulai usaha ternak kambing tidak harus dari diri sendiri. Sangat dimungkinkan untuk melakukan kerjasama dengan orang lain dengan melakukan kerjasama kemitraan (syirkah)
Yang penting di dalam syirkah adalah akad yang dilakukan harus jelas. Mulai dari besarnya dukungan dana, patungan dana jika sama-sama mempunyai andil modal, sistem bagi hasilnya (persentase pembagian keuntungan) dan tanggung jawab masing-masing pihak atas resiko kegagalan.

4. Peluang Pasar

Di daerah-daerah pedesaan sebagian besar masyarakat menjual ternak kambingnya melalui pedagang pengumpul (blantik). Resikonya adalah harga yang tentu lebih rendah (bahkan tidak jarang ditekan) dari harga di pasar. Hal ini terjadi karena biasanya peternak tidak memiliki informasi tentang harga pasar, mekanisme penjualan di pasar, adanya jaringan pedagang kambing, dan kadang peternak tidak mau repot-repot ke pasar.
Namun diwaktu mendatang perlu diusahakan jaringan pemasaran bagi peternak agar manfaat yang diperoleh juga maksimal.
Paling tidak ada tiga aspek yang penting untuk diproyeksikan, yaitu :

1. Membuat proyeksi populasi ternak di kandang
Proyeksi ini dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan jumlah kambing dan berbagai jenis umurnya di waktu ke depan. Sehingga dapat diperkirakan kebutuhan sumberdaya pada selang waktu tertentu misalnya kapan harus menambah jumlah pakan, kapan menambah kandang, kapan perlu menambah tenaga kerja, dan kapan akan ada ternak yang dapat dipasarkan.
Asumsi yang harus dipenuhi untuk membuat proyeksi ini adalah :

a. Jumlah Induk dan Pejantan yang akan dipelihara
b. Asumsi harga beli dan harga jual
c. Waktu kawin betina setelah melahirkan
d. Koefisien kematian (mortalitas) dari anak
e. Koefisien Produksi betina per kelahiran

2. Membuat Proyeksi Aliran Kas (Cash Flow)
Yakni proyeksi pemasukan dan pengeluaran uang kas. Proyeksi ini penting untuk melihat periode pengeluaran dan pemasukan kas sehingga dapat dilakukan penjadualan kapan harus menyediakan uang dan kapan akan menerima uang.

3. Membuat Proyeksi Pemasaran
Yakni perkiraan kapan usaha peternakan yanng dijalankan akan menghasilkan produk yang siap dijual. Asumsi yang harus ada adalah produk apa, atau kambing umur berapa yang akan dijual.
Proyeksi ini akan lebih baik jika telah ada gambaran tujuan pemasaran, sehingga selama mas produksi (pemeliharaan) di kandang dapat dilakukan pendekatan kepada calon pembeli.

4. Membuat Proyeksi Laba Rugi
Yakni perkiraan selisih antara pendapatan dan biaya yang dikeluarkan selama berlangsungnya usaha. Dalam usaha skala rumah tangga, biasanya lemah di pencatatan dan bercampurnya antara uang dapur dan uang untuk usaha.

Sumber:www.kampoengternak.com

Wednesday, October 9, 2013

Panen Uang Dari Ternak Kambing

Sudah banyak artikel yang mengulas mengenai cara beternak kambing, penggemukan kambing, peternakan kambing, jenis-jenis kambing bahkan obat-obat atau suplement untuk kambing, luar biasa banyaknya sehingga calon peternak kambing, atau bagi mereka yang akan mencoba memelihara kambing bisa semakin mudah mendapatkan ilmu dan tips-tips sukses beternak kambing.

Dari banyaknya artikel mengenai topik di atas, ternyata kalau dilihat-lihat di internet, sangat jarang yang membahas bagaimana bisa mendulang uang yang lebih produktif dari ternak kambing, Sebenarnya sudah ada beberapa pihak yang menggunakan cara-cara kreatif untuk mendatangkan penghasilan tambahan dari usaha utama ternak kambing.

Berikut ini akan saya coba bagikan beberapa hal mengenai potensi-potensi income lain dari ternak kambing :

Mendapatkan income dari cara konvensional :
  1. Menjual kambing dewasa dalam keadaan hidup, nah cara ini adalah cara yang dilakukan semua peternak kambing dari sabang sampai merauke, bisa dilihat dengan banyaknya pasar ternak di berbagai pelosok daerah Indonesia untuk transaksi kambing dalam keadaan hidup, biasanya kambing yang di transaksikan untuk konsumsi rumah makan ( sate tongseng tengkleng dll ) ataupun untuk dikembangkan di pelihara lagi ( untuk pejantan atau babon )
  2. Menjual anakan kambing, cara mendapatkan income dengan menjual anak kambing ini biasanya dilakukan peternak karena dalam keadaan BU alias butuh uang, salah satu alasan klawsik adalah untuk bayar sekolah anaknya, untuk beli HP anaknya, untuk beli motor anaknya, untuk masukin sekolah anaknya. Bagi peternak dalam skala menengah dan besar pun ada kemungkinana untuk menjual anakan kambing karena ada orderan dalam jumlah tertentu.
  3. Menjual kambing betina dalam keadaan hamil, nah kejadian seperti ini juga sering terjadi karena hal-hal mendesak seperti point 2, karena butuh, banyak peternak rumahan yang menjual asset nya berupa indukan kambing.
  4. Menjual susu hasil perahan dari kambing.
Mendapatkan tambahan income dengan cara lebih pintar :
  1. Menjadi perantara jual beli kambing, profesi ini walaupun kelihatannya sepele namun bisa memberikan income tersendiri dari hasil tiap kali transaksi, jadi Anda harus memiliki pengetahuan dan jaringan yang luas sehingga tau kambing siapa yang mau dijual dan siapa yang butuh kambing.
  2. Menjadi penyedia pejantan untuk kawin alami, hal ini bisa dibisniskan semisal 1x sewa dengan biaya 25rb atau 50rb
  3. Menjadi konsultan mengenai sistem peternakan kambing modern kepada kelompok-kelompok ternak kambing
  4. Menjadi reseller obat dan vitamin ternak kambing, saat ioni sangat banyak vitamin dan obat-obatan untuk ternak kambing yang ada di pasaran, semua menjanjikan hasil akhir yang sangat luar biasa, nah apabila Anda berminat, silahkan pilih sesuai selera Anda.
  5. Menjual kambing dalam keadaan sudah terpotong atau menjual daging kambing segar, bisa di pasar tradisional atau ke warung makan khusus kuliner kambing, seperti warung sate, tengkleng, tongseng, dll
  6. Mencoba menembus link ke supermarket, rumah makan besar dan hotel untuk supply daging kambing. Untuk tahapan ini tentu saja banyak sekali hal yang perlu Anda persiapkan, diantaranya mengenai legalitas peternakan Anda, surat keterangan dari dinas peternakan, peralatan electronik berupa freezer, mobil yang ada pendinginnya untuk menjamin kondisi daging kambing selama diperjalanan tetap segar
  7. Menjual jeroan kambing semisal usus kepada pedagang kuliner, usus kambing bisa digunakan untuk sate usus dan seperti kita ketau bersama, sate usus adalah salah satu menu yang sangat diminati di Indonesia.
  8. Menjual pupuk dari kotoran kambing dengan kemasan yang lebih menarik baik dari tampilan luar ataupun dari bentuk pupuknya. Bagi peternak yang berniat serius menekuni usaha pupuk organik bisa membeli mesin pelet sehingga pupuk kotoran kambing yang dijual akan berwujud pelet sehingga tidak akan membuat orang merasa jijik ketika menggunakannya
  9. Menggunakan pupuk kotoran kambing untuk beberapa tanaman produktif, seperti cabai, kol, tomat, jahe, kencur, dll . Dengan memanfaatkan kotoran kambing ini maka Anda tidak perlu mengeluarkan dana tambahan untuk membeli pupuk kimia, dan yang utama adalah hasil dari bercocok tanamnya bisa mendatangkan income yang besar.
  10. Menjual pupuk organik berupa olahan air seni kambing, olahan pupuk cair ini bisa bernilai tinggi ketika dikemas dan dipromosikan dengan baik baik secara door to door misal ke sekolah-sekolahan, instansi pemerintah, hotel, tempat wisata, dll. Penjualan pupuk cair ini bisa juga dilakukan secara online dengan menggunakan media internet untuk menjualnya.
  11. Mempersiapkan beberapa kambing pilihan untuk selalu diikutkan dalam kontes kambing, apabila memenangkan kontes kambing akan membuat harga kambing tersebut melonjak tajam dan tentu saja akan menaikkan pamor peternakan kambing Anda.
  12. Mengolah susu kambing menjadi makanan atau minuman jadi, sehingga susu kambing hasil perahan sendiri bisa semakin mempunyai nilai tambah. 
  13.  Mengolah daging kambing menjadi olahan makanan siap saji seperti sosis kambing, rolade kambing, bahkan daging kambing untuk usaha kuliner kebab, dll
  14. Memanfaatkan kambing untuk hiburan, misalnya dengan mengelola usaha kereta mini yang ditarik oleh kambing, di daerah jawa barat khususnya Garut, ketika main ke alun-alun, akan dijumpai banyak pelaku usaha kereta mini yang ditarik domba Garut
  15. Membuiat peternakan kambing menjadi lahan wisata edukasi yaitu dengan membuat wisata ternak kambing. Wisata ternak kambing ini biasanya sangat diminati oleh anak sekolah.
 Semoga beberapa hal di atas semakin membuka wacana para peternak kambing untuk bisa meraih pendapatan lebih dari hasil budidaya ternak kambingnya.

 sate kambing
olahan daging kambing
 pupuk kotoran kambing dalam kemasan
 pupuk cair air seni kambing
 daging kambing siap supply
 wisata edukasi ternak kambing

    Sunday, September 22, 2013

    Potensi Bulu Kambing dan Hambatannya dalam Pengembangan sebagai Produk Industri


    Bulu Kambing

    Bulu adalah rambut pendek dan lembut pada tubuh binatang yang mempunyai fungsi salah satunya untuk menyimpan panas badan dan melindungi kulit dari sinar matahari. Bulu kambing merupakan salah satu hasil samping pemotongan kambing. Bulu kambing setelah pemotongan masih banyak yang di buang begitu saja tanpa dimanfaatkan lebih lanjut. Jika tidak dimanfaatkan, bulu kambing ini dapat menjadi limbah yang mungkin bisa menimbulkan pencemaran lingkungan karena proses penguraian bulu kambing di dalam tanah lama.


    Pemanfaatan Bulu Kambing


    Bulu kambing sebenarnya dapat dimanfaatkan lebih lanjut sebagai bahan baku produk industri. Saat ini, bulu kambing digunakan oleh sebagian kecil masyarakat misalnya dibuat karpet atau sajadah, sebagai benang pancing, serta biasanya bersama kulit dibuat frame kaligrafi dan samak bulu. Kebanyakan karpet atau permadani dibuat di negara Timur Tengah. Bulu kambing juga dapat dipintal dan dijadikan bahan baku tekstil seperti wool. Menurut Ernawati et al. (2008), serat bulu kambing biasanya dicampur dengan wool untuk mendapatkan efek khusus, misalnya untuk menambah keindahan, kadang juga dipakai untuk keperluan khusus, seperti untuk sikat. Serat bulu kambing yang biasa digunakan berasal dari serat mohair. Kegunan serat mohair diantaranya yaitu untuk kain berbulu (selimut), untuk pakaian musim panas, untuk kain rajut dan untuk kain penutup kursi dan permadani.
    Bagi masyarakat suku Badui Arab, Persia, dan Anatolia, permadani menjadi benda yang sangat penting dalam kehidupan mereka, seperti untuk membuat tenda untuk melindungi diri dari badai pasir dan alas lantai yang nyaman bagi rumah tangga. Selain itu, permadani pun digunakan untuk menjadi hiasan dinding atau pembatas ruangan. Bahkan juga, di pakai sebagai selimut, tas, dan pelana kuda. Permadani pada dasarnya digunakan di dunia Islam sebagai alas lantai masjid dan rumah-rumah. Tak jarang, permadani pun digunakan sebagai hiasan dinding di istana-istana raja pada zaman keemasan Islam. Para seniman permadani Muslim pada zaman kejayaan Islam biasanya menggunakan bulu domba (wool), kambing, atau bulu unta sebagai bahan pembuatan permadani (Suara Media, 2009). Karpet yang terbuat dari serat alami atau hasil buatan tangan memang memberi nilai lebih. Menguatkan aksen lebih mewah, namun tetap natural. Sementara itu, bahan karpet yang menjadi incaran kaum papan atas yakni karpet berbahan sutra dan wool dari bulu domba, kambing, dan unta. Harga masing-masing karpet berbeda, tergantung jenisnya. Karpet dengan bahan wool dari bulu domba, kambing, dan unta atau sutra pintalan jauh lebih mahal dibandingkan dengan hasil buatan pabrik. Karpet handmade lebih unik dan berbeda. Di Jakarta, misalnya, karpet buatan tangan dibanderol seharga Rp 2 juta hingga ratusan juta rupiah (Sari, 2009).


    Potensi Produksi Perbulan di Jawa Tengah


    Hampir 60% populasi kambing yang berkembang di Indonesia terdapat di Pulau Jawa. Berdasarkan Ditjen Bina Produksi Peternakan tahun 2000, dari 15.209.720 ekor kambing di seluruh Indonesia, sekitar 8.783.890 ekor kambing berada di Pulau Jawa. Populasi kambing di Indonesia rata-rata meningkat 2,2-4,3% pertahunnya (Mulyono dan Sarwono, 2009). Berdasarkan Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan tahun 2004, populasi kambing di Jawa Tengah 2.985.845 ekor, Jawa Barat 1.304.433 ekor, D.I Yogyakarta 243.417 ekor, Jawa Timur 2.357.900 ekor, dan di Bali 62.014 ekor. Dalam 10 tahun ke depan diperkirakan populasi ternak ini akan meningkat menjadi 30-35 juta ekor. Sebagian besar usaha peternakan kambing ditujukan untuk memenuhi permintaan produksi daging. Pada tahun 2002, produksi daging kambing sekitar 50.991 ton atau setara dengan pemotongan sebanyak 3.642.214 ekor atau sekitar 27,92 % dari populasi. Produksi daging kambing pada tahun 2000-2004 cenderung terus meningkat, tetapi populasinya mengalami penurunan sebesar 2,28 persen pada tahun 1998 s/d 2002 (dari 13.342.074 ekor menjadi 13.044.938 ekor) (Anonim, 2010).
    Salah satu jenis kambing yang ada di Jawa Tengah yaitu kambing peranakan Etawa sejumlah sekitar 300.000 ekor (pada bulan Juli 2010) yang dibudidayakan di Kaligesing, Purworejo (Biro Humas Provinsi Jawa Tengah, 2010). Ciri kambing PE antara lain berukuran besar, serta bobot dewasa rata-rata 40-45 kg (Mulyono dan Sarwono, 2009). Bulu tumbuh panjang di bagian leher, pundak, punggung dan paha, bulu paha panjang dan tebal. Warna bulu ada yang tunggal, putih, hitam dan coklat, tetapi jarang ditemukan. Kebanyakan terdiri dari dua atau tiga pola warna, yaitu belang hitam, belang coklat, dan putih bertotol hitam. Jenis kambing di Indonesia yang lain yang dapat dimanfaatkan bulunya yaitu kambing gembrong yang terdapat di Pulau Bali. Ciri khas dari kambing ini adalah berbulu panjang. Panjang bulu sekitar berkisar 15-25 cm, bahkan rambut pada bagian kepala sampai menutupi muka dan telinga. Rambut panjang terdapat pada kambing jantan, sedangkan kambing Gembrong betina berbulu pendek berkisar 2-3 cm (Pamungkas et al., 2009). Bobot badan kambing dewasa sekitar 32-45 kg (Mulyono dan Sarwono, 2009).
    Berdasarkan keterangan diatas dapat diasumsikan jika berat bulu yang dihasilkan setiap pemotongan satu ekor kambing 3% dari bobot badan, bobot badan kambing PE rata-rata 42,5 kg, peningkatan populasi pertahun 3,25%, tiap pemotongan sekitar 27,92%, maka selama satu tahun pemotongan dapat dihasilkan bulu kambing dari kambing Peranakan Etawa di Jawa Tengah sebesar kurang lebih 3% x 42,5 kg x (27,92% x 309.750) = 110.265 kg. Jadi dalam 1 bulan kira-kira dapat dihasilkan 9.189 kg. Jika bulu kambing ini dapat dimanfaatkan mungkin bisa dihasilkan sekitar 3 buah karpet yang berukuran sedang.


    Hambatan dalam Pengembangan sebagai Produk Industri


    Hambatan dalam pengembangan produk bulu kambing misalnya dalam pembuatan karpet salah satunya yaitu keterbatasan modal, SDM belum terampil mengolah bulu kambing menjadi produk karpet, alat pemintal benang masih sedikit dan sederhana, ketersediaan bahan baku yang relatif sedikit sehingga ketersediaan benangnya terbatas, serta waktu pembuatannya yang lama. Hal tersebut menyebabkan harganya menjadi sangat mahal. Selain itu, masih sedikit atau belum ada pengusaha yang bergerak di bidang ini. Padahal terdapat banyak RPH di Jawa Tengah sehingga perlu pemasok di tiap kabupaten dan minimal ada 1 perusahaan yang menangani.


    Proses Pengolahan Bulu Kambing


    Cara pengolahan bulu kambing pada prinsipnya hampir sama dengan pengolahan bulu domba. Tahap-tahap pengolahan bulu kambing menurut Saleh (2004) meliputi:
    1. Pencukuran bulu. Bulu kambing dicukur dengan gunting, kemudian hasil guntingan bulu dikumpulkan.
    2. Penyortiran yaitu memisahkan bulu dari kotoran (feses), rumput, ranting, tanah dan lain-lain.
    3. Pencucian. Pencucian bulu dilakukan tiga tahap, yaitu :
    a. Perendaman. Bulu direndam dalam air selama 12 jam (satu malam), kemudian dibilas.
    b. Pencucian dengan deterjen dilakukan dengan cara melarutkan 100 gram deterjen ke dalam 10 liter air kemudian merendam bulu selama 15 menit. Setelah itu diangkat dan dibilas dengan air bersih.
    c. Pencucian dengan desinfektan, yaitu dengan melarutkan desinfektan (lisol atau densol) sebanyak 100 cc ke dalam 10 liter air. Kemudian mencelupkan bulu yang sudah dicuci dengan deterjen ke dalam larutan desinfektan. Setelah itu diangkat, diperas dan langsung dijemur.
    4. Penjemuran. Bulu dihamparkan (tipis saja) di atas meja penjemuran dan dijemur selama 1-2 hari pada waktu yang cerah.
    5. Pemisahan, dilakukan dengan cara menyobek-nyobek bulu yang masih menggumpal dengan kedua tangan sampai bulu menjadi terurai. Apabila gumpalan bulu tersebut sulit diuraikan, maka digunting dan dibuang saja.
    6. Penyisiran, bulu diletakkan di atas sisir kemudian sisir diputar-putar sampai bulu tersebut terbentuk lembaran-lembaran tipis.
    7. Pemintalan. Bulu yang sudah disisir dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam lubang benang alat pintal. Kemudian memutar roda dengan kaki terus menerus sampai terbentuk helai-helai benang. Setiap dua helai benang dipintal/digabung menjadi benang.
    8. Pemutihan. Benang hasil pintalan perlu diputihkan, caranya dengan merebus air 2 liter sampai mendidih lalu masukkan 2 sendok (± 10 ml) H2O2 dan 2 sendok deterjen. Kemudian didihkan lagi dan memasukkan benang yang akan diputihkan, diaduk-aduk sampai berbusa (± 5 menit). Setelah itu diangkat dan dibilas dengan air sampai bersih, lalu dijemur.
    9. Pewarnaan. Pewarnaan benang menggunakan pewarna tekstil, sesuai dengan warna yang diinginkan. Caranya dengan mencampurkan 10 liter air + 0,3 liter biang cuka + pewarna. Merebus benang dalam campuran pewarna tersebut selama 1 jam, lalu diangkat dan ditiriskan. Kemudian benang dicuci sekali lagi dan terakhir dikeringkan.
    10. Pembuatan design. Design disesuaikan dengan barang kerajinan yang akan dibuat (misalnya: karpet, tas, hiasan dinding). Menggambar ukuran dan motif yang diinginkan, kemudian menentukan warna-warna pada motif yang diinginkan.
    11. Penenunan.


    Simpulan


    Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa bulu kambing sebenarnya sangat potensial untuk dijadikan produk industri, misalnya karpet. Oleh karena itu perlu pengembangan produk industri dari bulu kambing secara optimal supaya mendapatkan keuntungan lebih, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain itu, perlu mengolah produk dari bulu kambing ini dengan sebaik-baiknya supaya dihasilkan produk yang berkualitas dan tidak kalah dengan produk impor. Namun, banyak hambatan dalam mengembangkan bulu kambing ini sebagai produk industri, seperti keterbatasan modal, SDM belum terampil, keterbatasan alat dan masih sederhana, ketersediaan bahan baku yang relatif sedikit sehingga ketersediaan benangnya terbatas, waktu pembuatannya yang lama, serta sedikit atau belum ada pengusaha yang bergerak di bidang ini.


    Daftar Pustaka


    Anonim. 2010. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kambing-Domba. (http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/files/0107L_KADO.pdf). Diakses tanggal 17 April 2011.
    Biro Humas Provinsi Jawa Tengah. 2010. Wamentan Luncurkan Kambing Kaligesing. (http://promojateng-pemprovjateng.com/). Diakses tanggal 17 April 2011.
    Ernawati, Izwerni, dan W. Nelmira. 2008. Tata Busana untuk SMK Jilid 2. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. (http://ictsleman.ath.cx/pustaka/bse/04_SMK-MAK/kelas11_smk_tata_busana_ernawati.pdf). Diakses tanggal 17 April 2011.
    Mulyono, S. dan B. Sarwono. 2009. Penggemukan Kambing Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
    Pamungkas, F. A., A. Batubara, M. Doloksaribu, dan E. Sihite. 2008. Petunjuk Teknis Potensi Beberapa Plasma Nutfah Kambing Lokal Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Departemen Pertanian Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih, Sumatera Utara. (http://lolitkambing.litbang.deptan.go.id/juknisplasmanutfah.pdf). Diakses tanggal 17 April 2011.
    Saleh, E. 2004. Teknologi Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. Program Studi Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara. (http://digilib.usu.ac.id). Diakses tanggal 17 April 2011.
    Sari. I. 2009. Permadani Tak Sekadar Alas Kaki. (http://www.tempointeraktif.com). Diakses tanggal 17 April 2011.
    Suara Media. 2009. Permadani, Buah Karya Peninggalan Kesenian Islam. (http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/7476-permadani-buah-karya-peninggalan-kesenian-islam.html). Diakses tanggal 17 April 2011.


    sumber : alifahmj.blogspot.com

    Tuesday, August 20, 2013

    Cara Mengetahui Pubertas Pada Kambing Betina

    Artikel berikut membahas tentang pubertas pada kambing betina, yang berguna bagi Anda yang mempunyai bisnis budidaya ternak kambing

    A. Pubertas

    Pubertas adalah usia ketika binatang mencapai kemampuan untuk melepaskan gamet dan memanifestasikan perilaku seksual urutan lengkap. Usia pubertas merupakan parameter yang sangat penting untuk kesuksesan peternakan. Hewan yang mencapai pubertas lebih awal memberikan produktivitas lebih tinggi.

    kambing betina termasuk hewan yang mengalami siklus polyestrus yaitu hewan yang aktivitas seksualnya  hanya selama musim tertentu saja dan tidak  dapat berkembang biak selama sisa tahun. kambing memiliki siklus estrus yang teratur. Sebuah siklus estrus yang lengkap termasuk perkembangan telur (ovum) di ovarium, menyiapkan rahim untuk kehamilan, periode penerimaan terhadap jantan (periode estrus), dan berakhir dengan pelepasan telur dari ovarium (ovulasi). Dalam siklus estrus kambing ada beberapa peluang bagi kambing tersebut untuk hamil selama musim kawin tunggal.

    B. Masa Pubertas Kambing Betina

    Pubertas kambing betina ditandai dengan ovulasi yang pertama. Pubertas tampaknya tergantung pada berat badan kambing tersebut. Kebanyakan anak kambing betina akan mencapai pubertas pada saat mereka telah mencapai 50 – 70%  dari berat badan mereka.

    C. Faktor Yang Mempengaruhi Pubertas Pada kambing Betina

    Faktor genetik hewan.
    Keturunan persilangan mencapai pubertas lebih awal dibandingkan dengan bibit lokal. Susu keturunan eksotis mencapai Pubertas di 12 – 15 bulan. Keturunan lokal mencapai pubertas pada usia 18 – 24 bulan. Kawin sedarah akan memperpanjang masa pubertas, seleksi perkembangbiakan harus dilakukan untuk memperoleh bibit yang unggul.


    Faktor nutrisi.
    Pada hewan yang kekurangan makanan atau nutrisi maka pubertas hewan tersebut akan tertunda. Pada hewan yang nutrisi nya tercukupi maka pubertas dicapai lebih awal. Ketika anakan mencapai bobot  55-60% dari
    berat tubuh dewasa, maka hewan tersebut telah mencapai masa pubertas.

    Musim Lahir.
    Contoh, 2 kambing, A & B lahir di bulan Januari dan April masing-masing. Waktu yang diperlukan untuk kambing mencapai pubertas adalah 6 bulan, kambing A tidak dapat mencapai pubertas pada bulan Juni karena, pada bulan Juni merupakan musim panas.Sedangkan B kambing lahir pada bulan April akan mencapai pubertas pada bulan September, yang merupakan musim berkembang biak bagi kambing yang diperkirakan pada bulan September tersebut kaya akan pakan untuk anak hewan tersebut.

    Musim kawin

    Musim kawin kambing juga mempengaruhi pubertas. Ketika musim kawin terjadi banyak ternak yang terangsang baik itu yang sudah dewasa maupun yang belum dewasa sekalipun. Sehingga kondisi tersebut dapat mempercepat pubertas pada ternak yang belum dewasa terutama dewasa kelaminnya.

    Faktor yang mempengaruhi musim kawin antara lain :

    - Lamanya siang hari

    Biasanya ternak akan sering ovulasi pada malam hari sehingga pada siang hari sebelumnya ternak tersebut menunjukan tanda-tanda birahi yang dapat merangsang pejantan untuk mengawininya.

    - Mekanisme hormonal

    Sistem kerja hormon yang normal atau tidak mengalami gangguan akan mempengaruhi keinginan untuk kawin dari ternak bila mekanisme hormonal ini terganggu maka akan menghambat atau mempengaruhi tingkat kawin dari suatu ternak.

    - Suhu.

    Di musim panas atau suhu terlalu tinggi akan menunda masa pubertas, karena suhu yang terlalu panas akan menyebabkan stres pada hewan sehingga rasio pertumbuhan rendah dan pubertas akan tertunda.


    Manajemen.
    Ketika hewan jantan dan betina disimpan bersama-sama kemudian pubertas datang lebih awal, hal itu disebabkan karena penglihatan dan visualisasi. Begitu juga sebaliknya.


    Faktor-faktor lain

    Contoh faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi pubertas antara lain :

    Jenis ternak yang dipelihara,jantan atau betina semua,jenis peternakan nya dan lain-lain.


    D. Siklus Estrus kambing

    Rata-rata siklus estrus kambing adalah 17 hari. Namun, biasanya ada varisi dalam siklus tersebut hal ini dikarenakan adanya perbedaan ras dan individu kambing tersebut. Dalam spesies ternak lainnya telah menemukan bahwa meskipun ada variasi diantara individu kambing yang berbeda, namun panjang siklus untuk kambing relatif konstan. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti stres lingkungan,kekurangan gizi, dan cuaca dapat mengganggu keteraturan siklus estrus tersebut.

    E. Estrus

    Estrus adalah bagian dari siklus estrus. Fase ini adalah fase ketika betina siap untuk menerima jantan. Lama estrus biasanya berlangsung selama 24 sampai 36 jam. Estrus memiliki tahapan yang berbeda, ditandai dengan kesiapan para kambing betina untuk menerima jantan, menyiapkan diri untuk dinaiki jantan dan untuk kawin. Tahap ini berlangsung  antara 10 – 12 jam. Lama estrus dipengaruhi oleh :

    - Genetik

    - Tahap musim kawin (cenderung lebih pendek pada awal dan akhir musim)

    - Hadirnya jantan (mungkin pendek ketika ram hadir)

    - Usia (mungkin lebih pendek untuk anak domba betina)

    Tidak seperti banyak spesies ternak lainnya, kambing betina cenderung menunjukkan tanda-tanda perilaku dan fisik yang sangat sedikit. Dalam beberapa kasus, kambing betina mungkin lebih gelisah daripada biasanya, vulva mungkin terlihat sedikit membengkak dan mungkin ada debit lendir dari vagina. Namun, tanda-tanda  estrus sulit untuk dideteksi jika jantan  tidak hadir.


    F.Fase Siklus Birahi

    Siklus birahi dibagi dalam empat(4) fase yaitu :

    1. FASE PROESTRUS

    2. FASE ESTRUS

    3. METESTRUS

    4. FASE DIESTRUS


    - Fase Proestrus

    Fase proestrus merupakan fase sebelum estrus dimana folikel de Graaf tumbuh dibawah pengaruh FSH sebagai persiapan pelepasan ovum dari ovarium. Ciri-cirinya antara lain : terjadi peningkatan pertumbuhan silia tuba fallopii,vascularisasi mucosa uteri dan vascularisasi epitel vagina. Servik mensekresikan mukosa tebal dan berlendir, mukosa yang kental menjadi terang dan transparan dan menggantung pada vagina diakhir proestrus.

    - Fase Estrus

    periode setelah proestrus ini adalah ditandai dengan timbulnya keinginan kelamin untuk kawin, betina menerima pejantan untuk berkopulasi. Selain hal itu, terjadi pematangan folikel de Graaf, tuba fallopii menegang dan ujungnya (fimbrae) merapat ke folikel, uterus memberikan reaksi kemudian servik mengendor dan tampak sekali tanda-tanda birahi. Pada masa akhir esrus ini terjadi ovulasi.

    - Fase Metestrus

    Merupakan fase pasca estrus. Pada fase ini corpus luteum berkembang dibawah pengaruh hormone LH. Corpus Luteum menghasilkan hormone progesterone yang berfungsi menghambat sekresi FSH sekaligus menghambat perkembangan folikel de Graaf sehingga tidak terjadi estrus. Ciri-cirinya antara lain : Ephitelium pada carunculae terjadi hiperemis yaitu haemorhagi kapiler dan terjadi pendarahan proestrus atau menstruasi.

    - Fase Diestrus

    Merupakan periode terakhir siklus estrus. Pada masa ini corpus luteum menjadi matang dan pengaruh progesteron menjadi sangat nyata. Servik kembali menutup, lender vagina lengket dan uterus mengendor. Pada fase inilah perkembangan folikel primer dan sekunder mulai terjadi, sedangkan folikel de Graff tidak akan terjadi setelah fse diestrus berakhir.

    - Fase Anestrus

    Selain fase utama diatas, dalam siklus estrus juga dikenal fase anestrus. Fase ini ditandai dengan ovarium dan saluran kelamin yang tenang dan tidak berfungsi. Aktivitas folikuler pada ovarium berkembang tetapi pematangan folikel dan ovulasi jarang terjadi. Selama periode anestrus, fase diesrus berlangsung pendek, corpus luteum menjadi matang dan uterus  mengendor kecil lalu cerviks merapat,mukosa vagina dan serviks pucat.

    Lama berlangsungnya siklus estrus :

        Fase Proestrus :  3 – 5 hari
        Fase Estrus    :  12 – 24 jam
        Fase Metestrus : 3 – 5 hari
        Fase Diestrus  : 13 hari

    Menurut konsep lain, siklus estrus dibagi menjadi 2(dua) tahap. Yaitu :

        Fase   folikuler (Proestrus dan birahinya)
        Fase luteal (Metestrus dan Distrus)


    G. Hormon Yang berpengaruh Pada Pubertas Hewan Betina

    Ada 3 hormone penting dalam masa pubertas betina ini, hormone ini adalah

    - Estradiol

    - FSH

    - LH

    Pada masa pubertas ini terjadi perubahan-perubahan pada hormon tersebut yaitu :

    Estradiol.Estradiol disekresikan cukup dini yaitu ketika masih janin ketika  dalam rahim. Yakni pada hari ke-60 kehamilan. Sekresi Estradiol pada kambing yaitu pada usia 30 – 50 hari. Estradiol merupakan sumber jaringan interstisial dalam ovarium dalam kehidupan janin. Estradiol ini menjadi tidak efektif setelah lahir.

    Setelah kelahiran estradiol dihasilkan setelah sekresi  FSH dan LH.  Sekresi berhenti sebelum 1 bulan (sebelum kelahiran) pada kambing. Setelah kelahiran FSH dan LH disekresikan ditingkat rendah  1 bulan pada kambing. Periode rendahnya tingkat FSH dan LH ini disebut periode bayi. Lalu hewan masuk kedalam periode prepubertal dimana tingkat FSH dan LH mulai meningkat.

    Ada 2 alasan kenapa FSH dan LH meningkat.
    Steroid memiliki efek pada hipotalamus dalam  periode bayi yang terbalik
    Respon terhadap reseptor GnRH pada hipofisis rendah dalam periode bayi yang juga meningkat.

    ► 2 minggu kambing memiliki 1 per 6 frekuensi denyut jam sedangkan 8
    minggu kambing frekuensi pulsa adalah 5 per 6 jam.

    Tanda-tanda eksternal jika estrus :
    1. Penurunan konsumsi pakan oleh hewan betina
    2.  Penurunan produksi susu
    3. Hewan akan gelisah
    4. Peningkatan suhu tubuh
    5. Liar pada kambing
    6. Berdiri untuk siap dinaiki jantan (tanda yang sangat kuat)
    7. Intensitas buang air kecil meningkat
    8. Vulva akan bengkak dan hyperemic
    9. Mukosa dari vagina akan basah dan juga hyperemic
    10. Mucus keluar dari vagina

    H.    Ovulasi

    Ovulasi ( pelepasan sel telur (s) dari ovarium) umumnya terjadi di dekat akhir periode estrus (~ 24 jam setelah birahi ). Sel telur (s) akan memasuki saluran tuba, dan secara bertahap (~ 72-96 jam setelah ovulasi ) akan memasuki rahim. Estrus sesuai dengan waktu optimal untuk kawin, memungkinkan untuk waktu perjalanan sperma dan telur ke saluran tuba. Pembuahan telur oleh sperma umumnya terjadi ketika telur di tuba falopi. Telur mampu dibuahi sekitar 10 sampai 25 jam setelah ovulasi.

    Seperti kambing yang sering mengalami kelahiran kembar, lebih dari satu telur dapat dilepaskan selama estrus dalam  periode yang sama. Meskipun tidak semua ovum (telur) yang dikeluarkan akan dibuahi, ada kemungkinan lebih besar ,beberapa kehamilan jika tingkat ovulasi tinggi. Tingkat ovulasi tergantung pada:
    • genetik : Sebagian besar keturunan  (persilangan) ~ rata 1,5 ovum / estrus. Beberapa sangat produktif, seperti Finnsheep, rata-rata 3 butir ovum / estrus.
    • Umur: tingkat Ovulasi cenderung meningkat dengan usia, usia maksimum pada 3 sampai 6 tahun, dan umumnya terjadi penurunan  kualits pada domba betina tua.
    • Gizi.

    I. Kehamilan

    Setelah pembuahan, telur yang dibuahi (s) bergerak melalui tuba falopi menuju rahim. Perkembangan  embrio akan tetap berada di rahim selama kehamilan. Uterus pada kambing betina terdiri dari dua tabung melingkar (tanduk) yang bergabung di garis tengah untuk membentuk bagian utama (tubuh) dari rahim. Anak kambing berkembang di tanduk rahim. Janin akan tetap berada di tanduk yang sama di seluruh kehamilan.

    Plasenta (ari-ari) terdiri dari serangkaian lapisan membran yang berkembang dari embrio. Bahkan dengan anak kambing tunggal plasenta akan memperluas untuk mengisi seluruh rahim. Permukaan plasenta yang terdekat ke permukaan rahim akan  mengembangkan struktur lampiran (kotiledon). Dalam struktur jaringan janin dan ibu bertemu, yang memungkinkan perpindahan nutrisi ke janin.

    Serviks mencegah mikrorganisme memasuki rahim dan merugikan embrio. Leher rahim, yang terletak di persimpangan rahim dan vagina, adalah band otot jaringan yang tetap erat dan ditutup selama kehamilan. Sebuah blok lendir tebal dibentuk selama kehamilan untuk sepenuhnya  leher rahim, melindungi janin dan rahim dari infeksi.

    lama  rata-rata kehamilan panjang kambing adalah 147 hari atau kira-kira lima bulan. Lama kehamilan dapat bervariasi dalam beberapa minggu, tergantung pada:
    • Genetik (awal jatuh tempo, keturunan produktif cenderung memiliki kehamilan lebih pendek)
    • Umur kambing (panjang kehamilan meningkat dengan bertambahnya usia)
    • Jenis kelamin janin (kambing jantan cenderung lebih dari anak kambing betina)
    • Musim (kambing musim semi dilakukan lebih dari kambing jatuh)

    kambing betina yang stres (gizi buruk, penyakit subklinis dll) dapat bereaksi dengan resorbing janin mereka (es). Ini berarti bahwa membran janin diserap kembali ke dalam sistem kambing betina itu. Resorpsi kemungkinan jika kondisi lingkungan yang dirasakan oleh kambing betina yang akan beresiko untuk pengembangan kambing atau jika ada resiko untuk kelangsungan hidup kambing tersebut.

    Dalam kasus janin kembar, satu dapat diserap sementara kambing yang lain dipertahankan. Resorpsi cenderung terjadi di awal kehamilan. Setelah tahap tertentu kehamilan materi  janin tidak dapat diserap kembali oleh kambing betina dan masalah di kemudian hari pada kehamilan cenderung menghasilkan aborsi (membran janin yang dikeluarkan dari rahim). Jika anak kambing betina mati sementara di dalam dan tidak diserap atau dibatalkan, kambing betina dengan cepat akan teracuni oleh janin dan akan mati jika anak-anak kambing tidak dihilangkan.

    J. Kelahiran

    Tahapan selanjutnya adalah proses kelahiran si anak kambing tersebut.


    K. Postpartum

    Ini adalah periode setelah kambing betina melahirkan, termasuk involusi uterus (pemulihan dari kehamilan) dan dimulainya kembali kegiatan reproduksi. Involusi uterus umumnya selesai dalam beberapa bulan setelah beranak. Interval ke ovulasi postpartum pertama akan bervariasi tergantung dari waktu beranak .Jika kambing betina selama musim kawin ovulasi postpartum pertama dapat
    berada dalam 20 hari, meskipun biasanya hal ini tidak akan menjadi siklus subur. Seperti halnya musim, faktor lainnya seperti menyusu dengan kambing, berkembang biak, gizi, dan  suhu lingkungan juga mungkin berpengaruh.


    Friday, August 16, 2013

    Cara Memotong Kambing Yang Benar

    Seringkali banyak pertanyaan, kapan sih saat terbaik untuk memotong kambing ? nah jawaban yang paling pas adalah ketika kambing berumur 8 bulan sampai 2 tahun. Pada umur tersebut pertumbuhan kambing telah mencapai ukuran sempurna. Daging kambing muda masih lunak, empuk dan berbau harum. Sebelum dipotong, kambing perlu mendapat perlakuan khusus agar daging yang dihasilkan mutunya baik. Adapun perlakuan sebagai berikut :

    • Kambing yang akan dipotong sebaiknya dipisahkan dengan kambing lain, yaitu di tempat yang tenang. Jika tercampur dengan kambing pejantan dan kambing betina, kambing potong akan tertular bau prengusnya. Kambing yang akan dipotong jangan diberi pakan selama 8-12 jam, cukup diberi minum yang banyak.
    • Sebelum pemotongan berlangsung, bulu kambing disikat dan dibersihkan dulu dengan cermat agar kotoran  yang melekat di badan leyap dan bulu yang rontok jatuh ke tanah.
    •  Alat-alat untuk pemotongan disiapkan, yaitu meja potong terbuat dari papan, panci untuk mengumpulkan darah, pisau tajam, tali, dan besi pengait.

    Setelah kegiatan tersebut dilakukan, selanjutnya adalah proses pemotongan kambing. Berikut ini cara memotong kambing yang benar


    1. Kambing yang akan dipotong ditidurkan di atas meja. Pada sisi meja, ada seorang yang membantu memegang kedua pasang kakinya. Usahakan kambing yang akan dipotong keadaannya setenang mungkin. Tekan kepala kambing dengan satu tangan, dan tangan lain mengarahkan ujung pisau pada tenggorokan di belakang rahang. Dengan sastu gerakan, mata pisau memotong pembuluh darah leher (urat nadi).
    2. Biarkan darah mengalir dan ditampung dalam ember atau panci. Setelah darah keluar habis, badan kambing ditelentangkan dengan dada dan perut menghadap ke atas.
    3. Dalam keadaan telentang, kulit perut ditoreh dan dibuka dengan ujung pisau yang tajam. Namun, harus dilakukan dengan hati-hati, agar lapisan selaput tipis yang terletak di bawah kulit tidak sobek atau berlubang.
    4. Leher hingga ujung leher dilukai dengan pisau, lalu kulit kulit kepala dikelupas. Kepala dipotong putus agar terpisah dari badan kambing. Kepala dicuci dengan air dingin. Setelah bersih, lidah dan otaknya dikeluarkan.
    5. Kulit dipotong kearah tulang dada, lalu kulit ditarik ke arah tulang dada dan leher. Dengan sebilah parang, tulang dada dipisahkan dari badan
    6. Potong bagian kaki depan dan kuliti sampai terlepas.
    7. Bagian dalam kaki belakang juga dikuliti.
    8. Kuliti keliling dubur, lalau lubang dubur diikat dengan tali, agar kotoran tidak menyembul keluar.
    9. Kaki belakang digantung dengan pengait. Dalam keadaan tergantung, kulit dikelupas dengan cara menekan kepalan tangan antara kulit dan dada, setelah itu antara kulit dan perut.
    10. Dari bahu bagian depan, kulit ditarik ke bawah
    11. Dari pertengahan tulang dada ke bawah di tekan ke belakang dengan mempergunakan kepalan tangan, maka seluruh kulit pun akan jatuh.
    12. Tubuh kambing yang sudah tak berkepala dan berkulit dibelah/dibuka selaput perutnya. Isi perut dikeluarkan. Pembedahan isi perut dimulai dari poros usus dubur. Poros usus dekat dubur diikat dengan tali yang kuat.
    13. Batang tenggorokan bagian sekat rongga dada dipotong. Dengan demikian semua isi rongga perut dan dada kambing jatuh bersamaan. Organ bagian dalam ini selanjutnya dibersihkan di tempat lain.
    14. Tongga perut dibersihkan dari sisa-sisa pembuluh darahnya. Selanjutnya karkas digantung untuk pelayuan.

    Jenis Kambing Potong

    Diperkirakan terdapat 300 bangsa kambing di seluruh dunia yang tersebar di daerah tropis maupun subtropics. Kambing-kambing tersebut dikelompokkan berdasarkan daerah penyebaran dengan disertai petunjuk produktivitas, karakteristik, dan potensinya. Biasanya bangsa kambing yang diternak untuk penghasil daging, kulit, dan bulu yang baik, hasil susunya sangat rendah.

    Disebut kambing potong unggul bila memiliki cita rasa daging yang banyak disukai dan perkawinannya tak kenal musim sehingga produksi dagingnya dapat dikelola sepanjang tahun. Namun, yang lebih utama adalah sifatnya prolific (beranak kembar). Dengan jumlah anak per kelahiran yang selalu kembar, maka akan cepat menghasilkan populasi anak yang banyak. Jika pembesaran kambing potong disertai dengan manajemen pemeliharaan yang baik, produksi dagingnya pun akan lebih banyak
    .
    Berikut ini beberapa bangsa kambing yang potensial dikembangkan untuk ternak potong penghasil daging. Beberap di antaranya juga sebagai penghasil kulit dan bulu yang mahal harganya.

    1. Kambing angora

    Kambing angora asli berasal dari daerah Asia Tengah. Kambing ini merupakan persilangan antara Capra aegagrus dengan Capra fasconeri. Dipelihara terutama untuk produksi mohair yaitu bulu kambing yang halus selembut sutera dan daging. Meskipun merupakan penghasil bulu, kambing ini dapat pula dikembangkan menjadi ternak penghasil daging. Bobot kambing jantan dewasa sekitar 55 – 80 kg, sedangkan betina sekitar 35 – 45 kg. Kambing angora bisa hidup dengan baik di daerah tropic yang keadaannya kering.


    2. Kambing achondroplastik

    Ternak ini tergolong kambing kerdil berkaki pendek. Tingginya sekitar 50 cm, dan berat kambing dewasa sekitar 20 kg. penyebarannya terdapat di dekat jalur hutan  dan savana Afrika Barat dan Afrika Tengah. Kambing ini sangat baik diternakkan di daerah tropis yang berhawa lembap karena mudah sekali menyesuaikan diri dengan iklim setempat dan tahan terhadap trypanosomiasis.
    Kambing kerdil ini merupakan kambing pedaging dengan mutu daging yang baik. Bila dipelihara dengan baik mudah sekali menghasilkan anak kembar dua atau tiga. Perkawinan hamper tak mengenal musim karena bisa terjadi sepanjang tahun. Namun, pertumbuhan tubuhnya lambat.



    3. Kambing bari

    Ternak ini tergolong kambing kecil. Banyak terdapat di daerah Sind (Pakistan). Kambing dewasa rata-rata beratnya 20 – 30 kg. Berat karkas 10 – 14 kg. Keunggulannya bersifat prolifik, yaitu setiap kelahiran biasanya beranak kembar 2 – 3 ekor. Meskipun kambing ini tergolong kecil, tetapi sangat cocok dikembangkan menjadi ternak kambing penghasil daging.

    4. Kambing benggala hitam

    Kambing benggala hitam tergolong kambing kecil. Kambing ini tersebar luas di Assam dan Bangladesh bagaian utara. Bobot dewasa kambing pejantan hanya sekitar 13 kg dan betina 9 kg. Kambing ini terkenal sebagai black bengal.
    Kambing ini merupakan ternak penghasil daging dengan produksi susu yang sangat sedikit. Kambing ini menghasilkan dagingnya yang sangat enak, lezat, dan lunak. Potensinya sangat besar untuk dikembangkan sebagai kambing potong. Mutu kulitnya sangat bagus dan banyak digunakan bahan untuk membuat sepatu.

    5. Kambing bligon

    Kambing bligon atau gumbolo alias jawa randu merupakan keturunan kambing ettawa dengan kambing kacang. Namun, persentase darah kambing  kacang lebih tinggi, yaitu lebih dari 50%. Kambing ini memiliki moncong yang lancip, telinga tebal dan lebih panjang dari kepalanya, leher tidak bersurai, sosok tubuh terlihat tebal, dan bulu tubuhnya kasar.
    Pemeliharaan kambing ini sangat mudah karena menyukai pakan jenis apa saja, termasuk rumput-rumputan lapangan. Selain itu, anak yang dilahirkan cepat besar sehingg sangat tepat kalau dipelihara untuk kambing potong. Jenis kambing ini banyak tersebar di pantai utara Jawa seperti Cirebon dan Semarang, juga banyak dipelihara di daerah Gunung kidul, Yogyakarta.


    6. Kambing creolo

    Kambing creolo merupakan ternak penghasil daging yang sangat popular di Amerika Latin dan Tengah. Memiliki kemampuan hidup di daerah yang sangat kering. Bulunya tipis, pendek, dan berwarna hitam atau cokelat, sering kali terdapat bercak-bercak putih. Tanduknya melengkung dan telinga pendek serata tegak. Kambing jantan memeliki janggut, sedangkan betina tidak memiliki janggut. Tinggi gumba jantan sekitar 75 cm dan betina sekitar 65 cm. Berat hidup kambing dewasa rata-rata 40-60 kg dengan tubuh yang gempal. Jumlah anak per kelahiran 1-2 ekor.

    7. Kambing gaddi

    Kambing ini disebut juga kambing dwiguna karena merupakan penghasil daging sekaligus bulu. Ia tergolong dalam kambing berambut panjang. Bisa menghasilkan 0,5-1 kg rambut kasar per ekor  dengan panjang 17-25 cm. Kambing gaddi dinamakan juga kambing himachal pradesh. Kambing ini banyak terdapat di daerah pegunungan India Utara dan Pakistan.

    8. Kambing kacang

    Kambing kacang merupakan kambing potong yang sangat prolifi, yaitu sering melahirkan anak kembar. Kelahiran kembar dua merupakan hal biasa. Bahkan, kadang-kadang melahirkan anak kembar tiga. Kambing ini dapat berkembang biak sepanjang tahaun sehingga sangat cocok dikembangkan untuk kambing potong.

    a. Kambing kacang indonesia

    Kambing kacang merupakan kambing local Indonesia yang tersebar luas terutama di Jawa. Kambing ini memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap pakan berkualitas rendah dan lingkungan ekstrem.

    Kambing jantan dewasa memiliki tinggi sekitar 60-65 cm dengan bobot rata-rata 25 kg. untuk kambing betina dewasa memiliki tinggi sekitar 50-56 cm dengan bobot rata-rata sekitar 20 kg. Kambing betina pertama kali beranak pada umur 12 – 13 bulan. Namun, produksi susunya masih sedikit. Rata-rata bobot lahir kambing kacang sekitar 3,28 kg. Total bobot sapih (umur 90 hari) adalah 10,12 kg. Kemampuan hidup saat lahir adalah 100% dan kemampuan induk melahirkan anak kembar dua sekitar 52,2%, kembar tiga 2,6%, dan tunggal 44,9%.

    Kambing kacang jantan muda mencapai dewasa kelamin mulai umur 20-23 minggu atau 135-173 hari. Kamibng betina mulai dewasa kelamin pada umur 153-454 hari atau rata-rata umur 307,72 hari. Angka pemotongan kambing kacang tergolong tinggi di Indonesia, terutama untuk produksi daging. Persentase karkasnya sekitar 44-51%..



    b. Kambing kacang malaysia

    Kambing kacang malaysia umumnya berwarana hitam, tetapi kadang-kadang terdapat beberapa bercak putih di tubuhnya. Tanduk berbentuk pedang melengkung ke atas dan belakang, baik pada kambing jantan maupun betina. Telinganya pendek dan tegak. Janggut terdapat pada yang jantan sangat jarang pada betina. Tinggi gumba jantan antara 60-65 cm dan betina sekitar 56 cm. bobot jantan dan betina dewasa rata-rata  25 kg dan 20 kg. Produksi susunya sedikit, sehingga lebih cocok dikembangkan menjadi ternak panghasil daging. Persentase karkasnya berkisar antara 44-51%.

    c. Kambing kacang filipina

    Kambing kacang filipina memiliki tinggi gumba rata-rata 50-60 cm dengan berat sekitar 30 kg. Tubuhnya berwarna hitam, cokelat, putih, atau campuran dair warna tersebut. Memiliki bulu kasar, berjanggut, dan bertanduk pedang. Beranak pertama kali pada umur 12-13 bulan dan biasanya melahirkan anak kembar dua.

    d. Kambing kacang fiji

    Kambing kacang fiji merupakan kambing kecil berbulu pendek. Bulunya berwarna kombinasi putih, hitam, cokelat, dan abu-abu. Jantan dan betina bertanduk, tetapi ada juga yang dungkul (tak bertanduk). Rata-rata tinggi gumba 58-66 cm. bobot jantan dan betina masing-masing  25 kg dan 20 kg. Interval beranak sekitar 262 hari. Kambing ini sering melahirkan anak kembar dua.

    e. Kambing kacang marica

    Kambing marica merupakan kambing kecil berbulu pendek yang terdapat di Sulawesi. Kambing ini memiliki penampilan yang mirip sekali dengan kambing kacang yang terdapat di Jawa. Namun, ukuran fisiknya lebih kecil dan tidak bertanduk.

    9. Kambing Kashmir

    Kambing ini tergolong ternak pegunungan. Sangat cocok hidup di daerah pegunungan Asia Tengah seperti Tibet, Mongolia Dalam, Kashmir, Iran, Turki, Kurdistan, Khirghizia, dan daerah sekeliling Rusia. Ia mampu hidup di daerah kering pada ketinggian 3.600-4.200 m dpl. Berat jantan dewasa sekitar 60 kg dan betina 40 kg untuk kambing asal Mongolia Dalam. Kambing ini merupakan keturunan langsung dari kambing liar Capra falconeri. Kambing gembrong yang terdapat di Bali diduga merupakan keturunan kambing Kashmir.

    Kambing Kashmir yang berwarna putih dapat menghasilkan bulu 123 g/ekor/tahun. Kambing Kashmir hitam menghasilkan  bulu 175-200 g/ekor/tahun. Kambing putih bila dipelihara di tempat yang memiliki suhu tinggi atau rendah akan hidup merana. Namun, untuk kambing hitam lebih tahan dhidup di daerah ekstrem. Selain bulu, kambing ini juga menghasilkan daging dan kulit.

    10. Kambing kerdil dan cina selatan

    Kambing ini tergolong kambing kerdil daerah tropic lembap. Berat jantan dewasa sekitar 30 kg, sedangkan betina hanya 25 kg. Tergolong sebagai kambing pedaging karena hasil susunya sangat sedikit, yaitu hanya 0,5 kg per hari. Ternak ini sangat sering melahirkan anak kembar dua.

    11. Kambing kecil afrika timur

    Kambing kecil ini daerah Afrika Timur dan banyak dipelihara sebagai ternak penghasil daging dan kulit. Penampilannya mirip kambing kacang yang terdapat di Indonesia. Warna bulunya bermacam-macam, tetapi rata-rata berambut pendek. Tanduknya kecil. Berat kambing dewasa rata-rata 30 kg. Keunggulan kambing ini sangat prolific, yaitu sering melahirkan anak kembar.

    12. Kambing maxoto

    Kambing ini dikenal pula dengan sebutan kambing nungfing. Banyak diternak di Brazil bagian timur laut. Kambing ini diperkirakan berasal dari keturunan portugis charnequeiro varietas elentejo, yaitu kambing potong yang sangat populer di Portugis dan Spanyol. Kambing maxoto memiliki bulu berwarna cokelat mudah atau cokelat kelabu kuning dengna garis-garis hitam di punggung dan perut. Warna bulu muka dan kaki hitam. Hewan ini diternaka untuk diambil kulit dan dagingnya.

    Berat kambing dewasa rata-rata 32 kg. Induk betina bisa melahirkan tiga kali dalam dua tahun dan hampir 90% selalu melahirkan kembar.

    13. Kambing sahel

    Kambing ini paling cocok dikembangkan di daerah padang pasir yang kering, seperti di Sudan dan Afrika Barat. Keunggulannya tahan panas dan lingkungan yang sangat kering seperti sabana di pinggiran Gurun Sahara. Kambing ini merupakan ternak penghasil daging dan kulit berkualitas tinggi disertai rambut yang pendek, tetapi halus.

    14. Kambing salt range

    Penyebaran kambing ini meliputi daerah barat laut Pakistan, Rawalpindi, dan Mianwali. Kambing ini unggul dalam menghasilkan daging dan bulu yang berambut panjang. Berat pejantan bisa mencapai 40 kg. Kambing salt range yang berumur satu tahun, berat karkasnya bisa mencapai 15-20 kg. hasil bulu per tahun mencapai 0,5-1 kg per ekor.

    15. Kambing sirli

    Jenis kambing ini banyak terdapat di daerah barat laut Pakistan. Penyebaran ternak terutama di daerah pegunungan berat kambing dewasa sektiar 35 kg. memiliki ukuran rambut panjang yang mencapai sekitar 25 cm.

    16. Kambing somali

    Kambing somali hampir semuanya berbulu putih halus. Kambing jenis ini tergolong sebagai penghasil daging dan kulit. Keunggulannya berkulit tipis, tetapi mutunya bagus. Berat kambing berkisar antara 20-30 kg. Kambing ini banyak terdapat di Somalia, Afrika Timur.

    17. Kambing spanish

    Kambing spanish atau La Mancha berasal dari Spanyol. Ternak ini memiliki ciri khas, yaitu telinganya sangat pendek atau hampir tidak berdaun telinga. Berat jantan dewasa sekitar 55-80 kg dan betina 35-40 kg. Warna bulu bermacam-macam dan berbulu pendek. Kambing ini sangat tangguh dan mampu beradaptasi terutama untuk produksi daging. Keunggulannya memiliki fisiologis reproduksi yang sangat khas, yaitu dapat berkembangbiak pada musim gugur hingga musim dingin dalam setahun. Hal ini memungkinkan kambing dapat beranak dan memproduksi daging sepanjang tahun di daerah subtropis

    Pupuk Cair Organik Dari Urine kambing

    Apa Itu PCO?

    Produk utama yang dapat dimanfaatkan dari peternakan ruminansia besar dan ruminansia kecil antara lain daging, susu dan kulit yang telah terbukti mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Hasil sampingannya berupa kotoran feces yang dimanfaat sebagai pupuk organik berupa kompos juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, maka saat ini urine juga ternyata mulai menjadi komoditi berharga jika dapat dimanfaatkan dengan baik.

    Oleh karena itu sebagai salah satu potensi dalam bidang peternakan, maka perlu melihat peluang-peluang dari produk-produk peternakan yang dapat dimanfaatkan. Salah satu peluang, yang dapat dimanfaatkan yaitu kotoron dan limbah urine sebagai bahan baku pembuatan pupuk cair organik. Saat ini penggunaan pupuk organik makin meningkat sejalan dengan berkembangnya pertanian organik. Dengan sentuhan inovasi teknologi, limbah urine diproses (difermentasi) menjadi pupuk cair dengan kandungan hara tinggi berbahan limbah urine (biourine) sebagai nutrisi tanaman sehingga menjadikan salah satu pendapatan bagi setiap peternak.

    Pemanfaatan limbah urine sebagai salah satu pupuk organik memberikan hasil yang cukup menjanjikan, sehingga peternak sudah bisa memperoleh hasil sebelum ternak itu dijual. Harga urine yang sudah diolah dan menjadi pupuk cair, berkisar antara Rp 7.000 - Rp 8.000/liter. Pemanfaatan urine ini sangat berpotensi, sehingga perlu memberdayakan peternak agar semua produk dari ternak bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan keuntungan secara ekonomis, meski awalnya perlu ada pendampingan terhadap peternak, terutama soal teknik atau cara menampung urine hingga proses pembuatan menjadi pupuk cair.

    Manfaat PCO
    Pupuk organik mempunyai efek jangka panjang yang baik bagi tanah, yaitu dapat memperbaiki struktur kandungan organik tanah dan selain itu juga menghasilkan produk pertanian yang aman bagi kesehatan, sehingga pupuk organik ini dapat digunakan untuk pupuk yang ramah lingkungan.


    Kandungan PCO
    Pupuk organik ramah lingkungan dari limbah ternak itu bisa memutus ketergantungan petani terhadap pupuk urea atau pupuk kimia lainnya. Dari hasil penelitian Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang, urine kambing mengandung kadar nitrogen 36,90-37,31 %, fosfat 16,5-16,8 ppm, dan kalsium 0,67-1,27 %. Menurut Djoni, kandungan nitrogen pada urine kambing sama dengan yang ada pada pupuk SP36, yaitu 36 persen nitrogen, atau tak beda jauh dengan kandungan nitrogen pupuk urea, yakni 45 persen.

    Dengan demikian, para petani tak perlu repot memikirkan dan membeli pupuk urea, cukup tanaman dipupuk dengan menggunakan pupuk organik yang berasal dari limbah urine domba kambing. Dimana 2 kilogram pupuk urea bisa diganti dan setara dengan 2,5 liter urine domba kambing. Data menyebutkan, satu ekor domba kambing menghasilkan 2,5 liter urine per hari. Dengan demikian, penggunaan pupuk cair organik dari urine ini dapat menambah keuntungan  para petani peternak, karena dapat mengurangi biaya operasional perawatan tanaman.

    Harga PCO
        5 liter Rp120.000
        1 liter Rp25.000
        0,5 liter Rp15.000


    Kompos Kotoran Kambing Cocok Untuk Semua Tanaman

    Limbah merupakan bahan yang timbul setelah proses produksi selesai, yang umumnya dibuang. Limbah kandang dan tanaman dapat berbentuk padar, cair maupun gas. Demikian halnya limbah yang dihasilkan dari ternak kambing/domba berupa air kencing yang menyengat akan dapat menimbulkan polusi bau, kotoran mencemari lingkungan sekitarnya dan masih banyak masalah sosial yang ditimbulkan.

    Sebetulnya bila dimanfaatkan secara baik kotoran kambing tersebut bukan merupakan polusi justru merupakan suatu penghasilan yang bisa menghasilkan kompos (pupuk organic) yang berkualitas bila diolah dengan teknologi pengolahan menggunakan decomposer (Biostarter) bahkan menghasilkan uang yang tidak sedikit nilainya.

    Pengolahan Limbah Inthil


    Petani kita umumnya menggunakan pupuk kandang secara langsung, hal ini tanpa disadari pupuk tersebut masih banyak kelemahannya. Kelemahan tersebut antara lain terdapat bibit gulma, hama dan penyakit serta diperlukan dalam jumlah yang cukup besar. Agar dihasilkan pupuk organic yang berkualitas baik dan hemat dalam pemakainya, pupuk kandang (inthil) perlu diolah atau dilakukan dekomposisi dalam kondisi tertentu yang dapat dilakukan secara biologis dengan menggunakan mikroba tertentu.

    Karakteristik inthil berbentuk butiran-butiran kecil, tingkat kadar air yang rendah merupakan factor yang penting dalam hal mudah dalam pengolahan dan kualitas kompos lebih baik dibanding dengan ternak yang lain, seperti sapi maupun kerbau.

    Prinsip Pembuatan Kompos

    Prinsip pengomposan atau composting adalah proses merubah limbah organic menjadi pupuk organic secara biologis dibawah kondisi yang terkontrol. Tujuan pengomposan limbah ternak melalui kondisi yang terkontrol adalah untuk membuat keseimbangan porses pembusukan bahan organic dalam limbah, mengurangi bau ,membunuh  biji-biji gulma dan organisme pathogen sehingga menjadi pupuk yang sesuai dengan lahan pertanian. Apabila kondisi tidak atau kurang terkontrol akan terjadi pembusukan sehingga timbul bau yang menyengat, timbul cacing dan insekta.

    Membuat Kompos Dengan Biostater

    Biostater yang dapat digunakan untuk pembuatan kompos sudah banyak beredar dimasyarakat dengan bermacam-macam merk dagang dengan dosis dan bahan yang bermacam-macam namun sama dalam hal tujuan yaitu untuk mempercepat proses dekomposisi.

    Kompos yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik, dosis penggunaan pada tanaman lebih hemat dibanding pupuk kandang tanpa diolah dahulu.

    Kompos inthil yang dihasilkan memberikan nilai tambah pengusahaan ternak karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan tanpa pengomposan.

    Bahan :

    Bahan yang diperlukan dalam pembuatan limbah inthil kambing / domba, antara lain :

    1. Inthil kambing / domba            : 1.000 kg

    2. Bio starter stardec                  :     2,5 kg

    3. Serbuk gergaji                        :    100 kg

    4. Abu sisa pembakaran             :      50 kg

    5. Kapur tohor / gamping            :      50 kg

    6. Pupuk urea                            :     2,5 kg

    7. Pupuk SP-36                         :     2,5 kg

    8. Air secukupnya

    *) Bahan-bahan tersebut boleh dikurangi sesuai ketersediaan didaerah tersebut. Minimal dapat digunakan bahan berupa kotoran dan stardec, namun semakin lengkap bahan yang digunakan semakin baik kualitas kompos yang dihasilkan.

    Cara Pembuatan Kompos :
    1. Tiap bahan dibagi menjadi 6 – 8 bagian
    2. Kotoran inthil ditumpuk dengan ketinggian 25 – 30 cm.
    3. Ditaburkan biostarter, serbuk gergaji, abu dan kapur masing-masing 1 bagian sambil disiram air untuk kelembaban.
    4. Ulangi tumpukan kedua seperti no. 3 begitu seterusnya sehingga semua bahan habis.
    5. Tumpukan dibuat denganetinggian minimal 1,5 m.
    6. Tumpukan dibawah naungan untuk menghindari adanya sinar matahari langsung dan air hujan
    7. Untuk menjaga suhu dan suplai oksigen, tumpukan dibalik sekali tiap minggu
    8. Untuk menjaga kelembaban 60 %, saat membalik tumpukan dilakukan penyiraman dengan air menggunakan gembor
    9. Pada minggu ke 5 pupuk siap digunakan.

    Pengemasan

    Setelah kompos jadi maka selanjutnya bisa dipakai untuk memupuk tanaman, namun apabila dijual dikemas terlebih dahulu agar kelihatan praktis dan lebih rapi. Tiap kemasan berbeda-beda sesuai dengan permintaan pasar, biasanya bobot kompos tiap kemasan antara lain : 3 kg (plastic), 5 kg (plastic), 10 kg (karung) dan 25 kg (karung).

    http://pertanian.slemankab.go.id


    Tuesday, August 13, 2013

    Cara Cerdas Dalam Usaha Penggemukan Kambing


    Ternak Kambing adalah hewan ruminansia kecil yang hidupnya membutuhkan pakan yang berasal dari hijauan seperti rumput-rumputan, daun-daunan, sisa hasil pertanian.

    Kemampuan beradaptasi yang cukup baik membuat ternak tersebut begitu mudah berkembang hampir diseluruh wilayah Jawa. Namun demikian keberadaan ternak kambing dalam keluarga petani belumlah memberi penghasilan yang baik bila faktor-faktor panca usaha ternak kambing seperti : pemilihan bibit yang baik, pemberian pakan yang memenuhi gizi dan pencegahan terhadap penyakit belum dilaksanakan secara maksimal.

    JENIS KAMBING
    Jenis Kambing yang tersebar luas di wilayah Jawa Timur adalah kambing kacang dan kambing peranakan etawah. Kedua jenis kambing tersebut sangat cocok dipelihara di wilayah lahan kering dan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan.

    Beberapa waktu lalu telah diperkenalkan jenis kambing yang baru yaitu kambing Boer yang merupakan jenis pedaging. Jenis ini sudah disiap untuk diperkenalkan di masyarakat Banyuwangi dengan program inseminasi buatan.

    PEMILIHAN BIBIT KAMBING
    Menentukan calon bibit kambing betina ataupun jantan sebagai calon bibit untuk keperluan budidaya perlu dipenuhi kriteria antara lain : Memiliki kemampuan pertambahan berat badan yang cepat dan konversi pakan makanan yang baik. Memiliki sifat genetic yang baik untuk menghasilkan keturunan kembar dalam satu kali melahirkan. Sedangkan untuk ciri karakteristik dapat dilihat mata yang bersinar cerah, tajam, tidak cacat tubuh, bulu halus dan mengkilat. Ciri khusus betina harus memiliki sifat keibuan, umur kurang dari 3 tahun, putting susu berjumlah dua dan sama besar. Sedangkan untuk pejantan memiliki sifat mengawinkan cukup besar, buah zakar berjumlah dua dan sama besar serta umur kurang dari 3 tahun.

    PAKAN
    Ternak kambing dalam kehidupannya memerlukan pakan hijau-hijauan seperti rumput, bungkil kedelai, daun-daunan, sisa produksi pertanian, dedak, dan lain-lain. Komposisi masing-masing sangat tergantung pada kebutuhan ternak, yaitu antara kambing menyusui, pemacek, dan dewasa berbeda. Untuk kambing dewasa kebutuhan makanan 10% dari berat badannya, dimana kebutuhannya yaitu ¾ bagian berupa rumput dan hijauan segar, ¼ bagian terdiri dari daun-daunan. Untuk kambing pemacek kebutuhan makanan hamper sama, akan tetapi peru ditambahkan dedak padi halus sebanyak 200-250 gram. Untuk kambing bunting menjelang melahirkan komposisi makanan untuk hijauan lebih banyak yaitu 3/5 bagian dan 2/5 bagian daun-daunan dan hijauan harus seimbang dan perlu ditambahkan dedak halus padi sebanyak 200-250 gram. Dewasa ini banyak peternak kambing menggunakan cara fermentasi jerami untuk pemunuhan kebutuhan pakan kambing. Fermentasi pakan ternak memang ditempuh guna memaksimalkan pakan kambing dan membuat para peternak semakin mudah dalam budidaya ternak kambing karena frekuensi dalam mencari pakan hijauannya semakin sedikit, bahkan banyak peternak kambing yang tanpa ngarit.

    PERKAWINAN
    Kambing betina dewasa yang sudah siap kawin umumnya berusia antara 6-8 bulan. Tanda birahinya antara lain : Gelisah, ribut dan nafsu makan menurun. Mencoba untuk menaiki ternak lainnya. Menggerak-gerakkan ekornya. Bagian vulva memerah, bila diraba terasa hangat. Keluar sedikit lendir bening kambing betina dewasa dikawinkan paling bagus berumur 10 bulan, dan jantan sebagai pemacek berumur 1 tahun. Waktu yang tepat untuk mengawinkan kambing pada pertengahan birahi yaitu 12-18 jam sejak birahi pertama muncul.

    Selain menggunakan pejantan pemacek, dapat juga kambing betina dikawinkan dengan menggunakan metode kawin suntik (Inseminasi Buatan). Tujuannya adalah untuk menghasilkan keturunan yang mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Untuk saat ini kawin suntik (IB) kambing dapat menggunakan jenis kambing peranakan Etawah (PE).

    KANDANG
    Pembuatan kandang kambing diupayakan harus memiliki sirkulasi udara yang cukup bagus dan dijaga tingkat kebersihannya. Untuk budidaya kambing, kandang yang bagus adalah jenis panggung, karena akan memberikan kenyamanan pada ternak dan terjaga kebersihannya.

    PENGOLAHAN USAHA
    Pada umumnya pengelolaan usaha ternak kambing dapat dilakukan secara tradisional maupun secara intensif. Untuk menghindari kerugian dalam usaha, langkah pertama harus ditempuh harus membiasakan dengan memperbaiki managemen usaha, yaitu selalu melakukan pencatatan setiap kejadian mengenai ternaknya. Langkah selanjutnya adalah dengan melihat pangsa pasar. Waktu penjualan ternak kambing yang bagus adalah bila ternak telah berusia 12-18 bulan, dan berat badannya tidak bertambah lagi.

    PENYAKIT
    Salah satu hal yang penting dalam usaha ternak kambing adalah memperhatikan kesehatan ternak. Sanitasi kandang dan lingkungan merupakan cara termudah untuk mencegah terjadinya kejadian penyakit. Adapun kejadian penyakit yang paling sering adalah kembung (tympani), kudis (scabies), diare dan sebagainya. Untuk pertolongan pertama dapat menggunakan obat-obatan tradisional dan untuk selanjutnya dapat menghubungi petugas kesehatan terdekat.


    Sumber :epetani.deptan.go.id








    INFO BISNIS KULINER

    BISNIS RECEHAN.....HASIL JUTAAN


    Obat Tradisional untuk Penyakit Kambing

    Obat Tradisional untuk Penyakit Kambing

    Ternak kambing atau domba merupakan ternak yang banyak dipelihara di pedesaan. Masalah yang sering dijumpai dan dirasakan oleh peternak adalah serangan penyakit yang sangat merugikan peternak karena dapat menghambat pertumbuhan, reproduksi, bahkan kematian ternak.

    Bagi peternak kambing di pedesaan untuk mengobati ternak yang sakit sering mengalami kesulitan, karena keterbatasan persediaan obat ternak yang ada di toko obat ternak dan harga obat yang terlalu mahal, sehingga sulit terjangkau oleh peternak.

    Untuk mengatasi hal tersebut, perlu pengobatan dengan cara lain yaitu dengan menggunakan obat tradisional kambing yang ada dan dapat dilakukan peternak serta harganya murah.
    Namun demikian usaha pencegahan juga perlu dilakukan dengan menjaga kebersihan ternak dan lingkungannya, pemberian pakan yang cukup (kualitas dan kuantitas), bersih dan tidak beracun.

    Ada beberapa  penyakit yang sering menyerang ternak kambing dan penyakit ini dapat diobati secara tradisional diantaranya adalah sebagai berikut:

    1. Scabies (Kudis)

    Penyebab:

    Parasit yang terdapat pada kotoran yang terjadi karena kandang kotor dan ternak tidak pernah dimandikan.

    Tanda- tanda:


        Kerak – kerak pada permukaan kulit terutama kulit yang jarang bulunya
        Ternak selalu menggesekan bagian kulit yang terserang kudis
        Kerontokan bulu, kulit menjadi tebal dan kaku


    Pengobatan :
    1. Dengan melaksanakan pencukuran bulu sekitar daerah terserang,
    2.  Mandikan ternak dengan sabun sampai bersih, kemudian jemur sampai kering.
    3.  Setelah kering dapat diobati dengan menggunakan:
    a. Belerang dihaluskan, dicampur kunyit dan minyak kelapa, kemudian dipanaskan dan digosokkan          pada kulit yang sakit
    b. Belerang dihaluskan dan dicampur dengan oli bekas dan digosok pada bagian kulit yang sakit.
    c.  Kamper / kapur barus digerus, dicampur minyak kelapa dan dioleskan pada bagian kulit yang sakit.

    Pencegahan:


        Ternak yang berpenyakit kudis tidak boleh bercampur dengan ternak yang sehat.
        Ternak yang baru dibeli harus bebas dari penyakit kudis
        Mandikan ternak dua minggu sekali.
        Bersihkan kandang seminggu sekali.


    2. Belatungan ( Myasis )

    Penyebab:

    Luka daerah yang berdarah diinfeksi oleh lalat sehingga lalat berkembangbiak (bertelur) dan menghasilkan larva belatung.

    Tanda-tanda:


         Adanya belatung yang bergerak-gerak pada bagian yang luka
         Bila belatungan pada kaki/teracak maka ternak terlihat pincang.


    Pengobatan:


         Bersihkan luka dari belatung, kemudian obati dengan gerusan kapur barus atau tembakau.
         Luka dibungkus dengan kain/perban untuk melindungi dari terjadinya luka baru atau kotoran.
         Pada hari berikutnya luka dibersihkan, pengobatan diulang dan dibungkus kembali.
         Bila belatung sudah terbasmi, pemberian yodium tinctur dapat dipakai untuk    mempercepat   pertumbuhan


    3. Cacingan

    Penyebab:

    Bermacam-macam cacing terjadi karena kandang yang kotor atau padang pengembalaan yang kotor.

    Tanda-tanda:
    - Kurus, bulu agak berdiri dan tidak mengkilap
    - Sembelit atau mencret
    - Lesu dan pucat
    - Daerah rahang terlihat membengkak
    - Mati mendadak

    Pengobatan:


         Tepung buah pinang dicampur dengan nasi hangat dikepal-kepal kemudian dipaksakan untuk  dimakan ternak. Ternak dianjurkan untuk dipuasakan terlebih dahulu.
         Daun kelor yang tua dibakar, kemudian debunya dicampur air dan diminumkan. Pengobatan diulangi  satu minggu kemudian.


    Pencegahan:

         Kandang dibuat panggung dan bersih
         Pengaritan rumput setelah panas yaitu pada jam 12.00-15.00 atau pengembalaan ternak pada siang  hari jam 10.00-15.00.
         Jangan menggembalakan ternak pada daerah rawa, sungai dan sawah.


    4. Keracunan Tanaman

    Penyebab:

    Ternak memakan rumput-rumputan atau daun-daunan yang mengandung zat racun.

    Tanda-tanda:


        Mati mendadak, mulut berbusa, kebiruan pada selaput lendir, pengelupasan kulit/eksim atau terjadi pendarahan.


    Pengobatan:


         Cekoklah ternak dengan air kelapa muda.


    Pencegahan:


        Tidak memberikan tanaman beracun atau menggembalakan ternak di daerah yang banyak tumbuh tanaman yang mengandung racun.

    Sumber :epetani.deptan.go.id



    Silahkan mampir ke website saya www.AngkringanNasiKucing78.com, dapatkan informasi mengenai bisnis murah beromzet jutaan

    Monday, August 12, 2013

    Mensinergikan Petani dan Peternak Dengan Usaha Penggemukan Kambing


    Pengembangan bidang peternakan perlu mendapat perhatian serius mengingat permintaan daging belum dapat dipenuhi di dalam negeri. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya produktivitas ternak karena kualitas pakan yang sangat rendah. Selain, itu masih rapuhnya industri pakan di Indonesia, sehingga menyebabkan tingginya ketergantungan terhadap pakan yang berbahan baku impor.

    Demikian yang disampaikan Inspektur Jenderal Departemen Pertanian Prof. Dr Ir Zaenal Bachruddin, M.Sc dalam Seminar Nasional "˜Kearifan Lokal dalam Penyediaan serta Pengembangan Pakan dan Ternak di Era Globalisasia ", Jumat (27/7) di Fakultas Peternakan UGM.

    Menurut Zaenal, salah satu solusi yang ditawarkan adalah penerapan sistem integrasi tanaman ternak dengan melakukan sinergisme yang saling menguntungkan antara petani dan peternak.

    "Petani bisa memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik, sebaliknya peternak memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak yang berasal dari limbah padi, jerami, jagung dan limbah kacang-kacangan," ujar Zaenal.

    Zaenal memaparkan beberapa contoh sinerjisitas dalam penyediaan pakan melalui pertanian terpadu berbasis peternakan diantaranya, pemanfaatan pakan limbah jagung dan kedelai untuk ternak babi di Sumatera Utara, pemanfaatan lumpur sawit untuk pakan unggas yang dihasilkan melalui daur ulang biomas di Kalimantan Tengah, pembudidayaan jangkrik untuk pakan ikan dan burung dengan menggunakan pakan dari limbah wortel, daun pepaya dan jagung muda di Provinsi Riau, serta pembudidayaan keong emas untuk pakan itik yang diberi makanan berbasis ikan di Kalimantan Selatan.

    Lebih jauh dikatakan oleh Zaenal, upaya untuk meningkatan inovasi penyediaan pakan ternak perlu dipertimbangkan aspek pemberdayaan berbagai sumberdaya yang tersedia di daerah-daerah.

    "Hal ini dimaksudkan agar potensi yang ada ada di daerah tertentu dapat dipergunakan secara optimal sehingga dapat mengurangi risiko penggunaan dana yang berlebihan," tuturnya.

    Prof Zaenal menekankan bahwa pengembangan inovasi penyediaan pakan ternak memiliki peranan strategis bagi masyarakat pedesaan, karena limbah ternak juga penghasil pupuk organik dan sangat baik untuk meningkatkan produksi pertanian. (Humas UGM)

    sumber : UGM.ac.id






    Daun Pepaya Efektif Hambat Perkembangan Parasit Pada Ternak Kambing

    Daun Pepaya Efektif Hambat Perkembangan Parasit Pada Ternak Kambing

    Gangguan parasit seringkali menjadi salah satu kendala yang sering dihadapi oleh peternak kambing. Pemberian pakan hijauan yang mengandung tannin telah teruji menghambat perkembangan parasit/ cacing pada ternak kambing. Dari berbagai jenis hijauan yang biasa digunakan untuk pakan, daun pepaya dan daun ketela pohon terbukti berpotensi sebagai anti parasit (anthelmintik).

    Hal tersebut diungkapkan Joko Daryatmo, S.Pt., M.P., staf pengajar Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Magelang saat ujian terbuka promosi doktor, Senin (9/8) di Fakultas Peternakan UGM. Disebutkan Joko, dengan penambahan daun ketela pohon maupun daun pepaya kedalam pakan ternak dapat menurunkan perkembangan cacing secara signifikan. Efek tannin mampu menghambat perkembangan larva cacing, dan menurunkan populasi cacing dewasa, jelas pria yang meraih predikat cum laude ini.

    Disebutkan Joko dalam disertasi berjudul "Potensi Nutrisi Berbagai Bahan Pakan Hijauan Yang Mengandung Tannin dan Efektivitasnya Sebagai Anti Parasit Dalam Mendukung Kinerja Ternak Kambing Bligon ini, suplementasi daun pepaya berpotensi anti parasit yang lebih tinggi dibanding dengan daun ketela pohon" Dilihat dari jumlah penurunan telur cacing dan oosista koksidia dalam feses ternak pakan yang diberi tambahan daun pepaya penurunannya lebih besar 10-15% di banding daun ketela pohon,” papar suami dari Sri Murjiyati ini

    Disampaikan pria kelahiran Magelang, 16 Oktober 1972 ini, selain berpotensi sebagai anti parasit, daun papaya dan daun ketela pohon juga mampu meningkatkan bobot kambing. Dengan penambahan pakan hijauan tersebut bobot kambing meningkat sekitar 40% lebih banyak dibanding dengan pakan hijauan yang tidak diberikan tambahan daun ketela pohon maupun daun papaya. Dari hasil uji coba daun ketela pohon mempunyai potensi nutrisi yang hampir sama dengan daun pepaya, sehingga menghasilkan nilai pertambahan bobot badan harian ternak yang relatif sama pula, kata Joko.

    Ditambahkan Joko beberapa jenis tanaman lain seperti daun turi, daun nangka, daun beringin, dan daun mahoni bisa dijadikan sebagai pilihan pakan ternak karena juga berpotensi sebagai anti parasit. "Namun masih perlu diuji cobakan untuk mengetahui potensinya sebagai pakan dan anti parasit," pungkasnya.


    sumber : UGM.ac.id

    Silahkan mampir ke www.AngkringanNasiKucing78.com

    Cassava Terbukti Mampu Tingkatkan Bobot Kambing Bligon

    Selama ini ternak kambing tradisional cenderung hanya memberikan rumput raja sebagai pakan basal tunggal. Rumput raja memang banyak dijumpai pada musim penghujan, tetapi pada musim kemarau jumlahnya menjadi sangat terbatas. Hal ini menyebabkan ketersediaan pakan ternak yang tidak berkesinambungan terjadi sepanjang tahun sehingga produktivitas budidaya ternak kambing menjadi rendah.

    drh. Sri Wigati, M.Agr.Sc., staf pengajar Fakultas Peternakan, Universitas Jambi, menyebutkan penyebab utama rendahnya produktivitas anak serta induk kambing bligon adalah kurangnya asupan nutrisi/pakan terutama pada musim kemarau panjang. "Sebenarnya produk cassava atau ketela pohon sangat potensial untuk pakan ternak kambing. Daun maupun umbinya dapat digunakan sebagai pakan substitusi dari rumput raja serta dijadikan suplemen. Musim kemarau merupakan puncak produksi daun cassava sehingga bisa mengatasi masalah ketersediaan pakan. Namun, saat ini cassava belum begitu dimanfaatkan sebagai pakan ternak,” katanya, Senin (29/3), di Auditorium Fakultas Peternakan UGM.

    Ditambahkan oleh wanita kelahiran Banyumas, 24 Desember 1964 ini, dari penelitian yang telah dilakukannya pada peternak di daerah Gunung Kidul, produk cassava terbukti mampu meningkatkan bobot anak dan induk kambing bligon secara signifikan. Produk cassava terbukti dapat memperbaiki kinerja anak kambing bligon karena memiliki kandungan sumber energi dan protein yang tinggi.

    “Penggunaan rumput raja sebagai pakan basal tunggal pada induk kambing dalam masa laktasi hanya menghasilkan peningkatan bobot induk sebesar 30,4 gram per ekor per hari. Sementara pada induk kambing bligon yang diberi pakan rumput raja, dengan diberi tambahan daun cassava kering bobotnya bisa meningkat sampai taraf yang cukup tinggi 88,0-90,1 gram per ekor per harinya,” terangnya di hadapan dewan penguji saat ujian terbuka program doktor.

    Perbaikan pakan pada induk, lanjutnya, juga berpengaruh secara langsung terhadap bobot anak kambing bligon. Bobot anak kambing yang hanya mendapat pakan rumput raja hanya 65,8 gram per ekor per hari, sedangkan pada anak kambing dengan pemberian pakan substitusi mampu meningkatkan bobot sebesar 83,9-95,7 gram per ekor per hari. Hal ini menunjukkan perbaikan pakan pada induk dapat meningkatkan kinerja penggemukan anak kambing bligon pada taraf optimal.

    Disebutkan oleh wanita yang menjadi doktor ke-1187 UGM ini, penggunaan produk cassava juga terbukti mampu mengurangi risiko diare pada ternak. Daun cassava segar mengandung senyawa tannin yang tinggi sebesar 11% BK dan pada daun cassava kering sebesar 4,09% BK. Senyawa tannin diketahui memiliki potensi sebagai anthelmintik dan antioksida alamiah. Efek tannin sebagai anthelmintik dapat menghambat perkembangan larva cacing nematode, menurunkan populasi cacing dewasa, menurunkan fekunditas cacing betina dewasa, dan menurunkan jumlah telur yang dikeluarkan melalui feses.

    Lebih lanjut dituturkan Sri Wigati, kebiasaan peternak menggunakan rumput raja sebagai pakan tunggal dengan sistem pemupukan tanaman pakan dengan pupuk kandang dari kotoran kambing berpeluang memunculkan kontaminasi parasit gastro intestinal yang tinggi. Infeksi cacing nematoda bersamaan dengan infeksi koksidia akan menimbulkan diare klinis ringan hingga berat. “Penggunaan rumput raja sebagai pakan tunggal pada anak kambing bligon menyebabkan tingkat kejadian diare yang tinggi (62,5%). Sementara itu, penggunaan daun cassava kering untuk mensubstitusi sebagian dari rumput raja, bisa menurunkan tingkat kejadian diare sampai dengan 0%,” jelasnya. (Humas UGM/Ika)


    sumber : UGM.ac.id

    Sumonggo mampir ke www.AngkringanNasiKucing78.com