Showing posts with label Budidaya Kambing Potong. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Kambing Potong. Show all posts

Sunday, October 27, 2013

Memupuk Jiwa Wirausaha Sejak Balita

Wirausaha atau biasa juga disebut entrepreneursip saat ini sedang hangat hangatnya digalakkan di Indonesia. Jumlah pelaku wirausaha di negeri ini memang masih sangat minim, banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain : budaya atau mindset dari orang tua generasi diatas kita yang berpikiran bahwa kerja yang aman dan pasti sejahtera adalah menjadi pegawai kantoran baik di swasta maupun di pemerintahan atau menjadi PNS. Kurangnya arahan sejak usia dini khususnya di jenjang sekolahan juga berpengaruh besar terhadap minimnya wirausahawan di Indonesia.

Tulisan ini lebih cocok diperuntukkan bagi generasi penerus bangsa Indonesia yang berada di desa atau kampung dengan pemikiran bahwa, ternyata banyak pengangguran usia produktif yang berada di kampung, ternyata banyak anak-anak usia belajar yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya sekolah, tidak adanya pemerataan pembangunan walaupun hanya sekedar penyuluhan-penyuluhan secara berkala dan terpadu bagi warga di kampung bahkan di pelosok.

Berangkat dari keprihatinan di atas, saya pikir kambing bisa menjadi salah satu problem solver nya, beternak kambing dengan benar dan efiktif bisa meningkatkan pendapatan perkapita warga di kampung bahkan di pedalaman.

Pada kehidupan di kampung pelosok, masih ada 1-2 orang tua yang mendelegasikan tugas mencari rumput pakan kambing kepada anaknya, karena ketidakadaan biaya untuk sekolah maka anaknya di arahkan untuk mencari rumput, kejadian seperti ini berlangsung dari tahun ketahun tanpa ada peningkatan secara signifikan dari hasil memelihara kambing.

Sebenarnya mendelegasikan kepada anak-anak untuk memelihara kambing atau bahasa halusnya lebih mengenal dunia wirausaha dengan beternak kambing adalah salah satu cara yang baik, namun karena belum ada sistem yang baik maka hasil dari beternaknya pun hanya habis untuk kehidupan sehari-hari.

Ada 1 gagasan sederhana dari saya, andai 1 anak balita di kampung mempunyai 1 kambing betina, maka 50% bahkan lebih kebutuhan sekolahnya akan tercukupi dari modal awal 1 kambing betina. Simplenya seperti ini, dipilihkan 1 ekor kambing betina yang bisa melahirkan 2 anak kambing tiap taunnya, kemudian tahun kedua sang induk betina akan hamil dan melahirkan 2 anak kambing lagi, jadi totalnya sudah 5 kambing, nah tiap tahun 1 kambing dewasa usahakan yang jantan dijual untuk biaya sekolah si anak tersebut.

Untuk menaikkan jumlah kambing yang diternak, maka dilarang menjual kambing yang berjenis kelamin betina, dengan alasan bahw kambing betina bisa berkembang biak, jadi yang di jual hanya kambing jantan saja. Lama kelamaan, si anak balita yang sudah beranjak remaja ini akan memiliki minimal 5 ekor indukan kambing yang dalam 1 tahun apabila ke 5 induk ini hamil bersamaan maka akan melahirkan 10 ekor anak kambing.

Derngan menerapkan pola yang sederhana tadi, dijamin bahwa para peternak kambing dikampung tidak akan mengalami kesulitan berarti apabila ingin menyekolahkan anaknya sampai jenjang perguruan tinggi. Puncak dari pengembangan 1 ekor kambing betina tadi adalah ketika si anak balita tadi beranjak dewasa dan menempuh pendidikan S1, Berhubung biaya yang dibutuhkan banyak maka saatnya sang peternak memanen hasi tabungan berupa kambing-kambing tersebut.

Perlu dicermati bahwa kambing yang boleh dijual adalah kambing pejantan, atau misalnya terpaksa, boleh menjual kambing betina yang sudah berumur tua, supaya memungkinkan kambing betina yang masih produktif untuk berkembang , beranak pinak.

Dengan menerapkan sistem berternak di atas, maka secara tidak langsung akan memupuk jiwa kewirausahaan  anak-anak balita, sehingga ketika dewasa dan memasuki masa kerja maka sudah tertanam dalah jiwa raga mereka adalah semangat untuk selalu berwirausaha.



Tuesday, August 20, 2013

Menentukan Umur Kambing Berdasarkan Gigi Kambing

Kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat. Pemeliharaannya yang mudah dan relatif sederhana serta peluang pengembangan yang tinggi menarik minat peternak baik dalam skala kecil di Pedesaan maupun yang telah diusahakan secara komersial untuk memilih ternak kambing sebagai ternak unggulan untuk dibudidayakan. Hal tersebut merupakan peluang yang harus didukung oleh semua pihak dalam upaya pengembangan ternak kambing khususnya dan pengembangan peternakan pada umumnya.


Ternak kambing dapat dibudidayakan sebagai usaha budidaya kambing potong maupun kambing perah. Kedua jenis ini jika dikembangkan memiliki peluang pasar yang tinggi. Daging kambing merupakan daging yang digemari oleh masyarakat, baik untuk dikonsumsi dalam bentuk sate, gulai maupun jenis makanan lain yang digemari oleh masyarakat. Mengkonsumsi daging kambing menurut sebagian besar masyarakat juga dapat meningkatkan stamina, sehingga dapat melancarkan aktivitas pekerjaan sehari-hari. Sebagian besar penduduk Indonesia yang beragama Islam semakin mendukung dikembangkannya usaha kambing ini, karena setiap hari raya kurban dibutuhkan ternak kambing dalam jumlah banyak.


Selain dibudidayakan sebagai kambing potong, ternak kambing juga sangat potensial untuk dikembangkan menjadi budidaya kambing perah. Saat ini permintaan susu kambing semakin meningkat seiring dengan semakin sadarnya masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi susu. Susu kambing meskipun memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan susu sapi, akan tetapi masyarakat tetap banyak yang mencarinya untuk dikonsumsi. Hal tersebut dikarenakan, susu kambing memiliki keunggulan dalam meningkatkan stamina, menjaga kesehatan tubuh dan dapat juga digunakan sebagai obat maupun manfaat-manfaat lain yang belum dilakukan penelitian lebih lanjut. Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan kambing yang saat ini sering dibudidayakan sebagai kambing perah. Oleh karena itu, harga kambing PE umumnya lebih mahal dibandingkan dengan kambing yang lain.


Gigi merupakan bagian yang berada di rongga mulut yang berguna untuk mengunyah makanan. Ternak juga sama halnya dengan manusia, yaitu mempunyai gigi yang membantu dalam proses pencernaan pakan. Pada ternak kambing, ada hal yang unik, yaitu gigi mengalami keterasahan dan erupsi secara kontinyu dengan karakteristik tertentu, sehingga gigi pada kambing dapat digunakan untuk menduga umur kambing jika tidak adanya catatan reproduksi maupun kelahiran dari kambing tersebut.


Jika kita amati perkembangan gigi seri pada kambing, akan dijumpai adanya gigi awal yang umumnya kita sebut dengan gigi seri susu. Setelah beberapa waktu gigi seri susu akan berubah menjadi gigi seri permanen dan gigi seri permanen ini akan mengalami keterasahan pada umur-umur tertentu, sehingga dapat digunakan untuk menduga umur ternak kambing. Edey (1993) mengemukakan bahwa susunan gigi seri permanen pada kambing yang sudah dewasa, yaitu sepasang gigi seri sentral, sepasang gigi seri lateral, sepasang gigi seri intermedial, sepasang gigi seri sudut pada rahang bawah, tiga gigi premolar dan tiga gigi molar.


Lebih lanjut Frandson (1993) menyatakan bahwa pendugaan umur kambing berdasarkan gigi seri yaitu sebagai berikut: (1) Jika pada kambing telah tumbuh sepasang gigi seri susu sentral, kambing berumur 1 hari sampai 1 minggu; (2) Sepasang gigi seri susu lateral, kambing berumur 1 – 2 minggu; (3) Sepasang gigi seri susu intermedial, kambing berumur 2 – 3 minggu; (4) Sepasang gigi seri susu sudut, kambing berumur 3 – 4 minggu; (5) Sepasang gigi seri susu sentral digantikan oleh sepasang gigi seri permanen sentral, kambing berumur 1 – 1,5 tahun; (6) Sepasang gigi seri susu lateral digantikan sepasang gigi seri permanen lateral, kambing berumur 1,5 – 2,5 tahun; (7) Sepasang gigi seri susu intermedial digantikan sepasang gigi seri permanen intermedial, kambing berumur 2,5 – 3,5 tahun; (8) Sepasang gigi seri susu sudut digantikan sepasang gigi seri permanen sudut, kambing berumur 3,5 – 4 tahun.


Tips Selalu Sehat Setelah Makan Daging Kambing

Aneka olahan dari daging kambing memang banyak diminati, terlebih oleh para pria. Banyak yang meyakini kalau daging kambing bisa menambah vitalitas seksual.

Namun selain efek positif tersebut, daging kambing juga memiliki dampak negatif, yaitu dapat menambah lemak tubuh dan menaikan tekanan darah. Terlebih jika orang tersebut telah memiliki riwayat penyakit darah tinggi/ hipertensi.Naiknya tekanan darah ini dikarenakan daging kambing memiliki nilai kalori yang sangat tinggi. Contohnya jika daging kambing diolah menjadi sate kambing, nilai kalori yang dihasilkan sebesar 150 kalori, jika menjadi gulai sebesar 125 kalori, dan jika diolah menjadi sop kambing hanya 35 kalori.

Untuk mengurangi efek negatif pada daging kambing, simak tips berikut:
  • Pilih Olahan yang Tepat
Seperti yang sudah disinggung diatas, pilihan terbaik untuk mengolah daging kambing adalah dengan membuatnya menjadi sop/ sup. Jumlah kalori pada sop kambing lebih sedikit dikarenakan tambahan air dan sayuran yang ada pada sop kambing.

  • Konsumsi Sayur dan Buah
Mengkonsumsi aneka sayuran sangat disarankan setelah memakan daging kambing. Sayuran seperti tomat, mentimun, dan wortel adalah pilihan terbaik. Buah-buahan juga dapat mengimbangi jumlah kalori yang masuk.

  • Jangan Makan Lemak dan Manisan
Selain mengkonsumsi buah dan sayur, sebaiknya jangan memakan daging kambing yang memiliki lemak berwarna putih, serta kurangi makanan manis seperti sirup dan kue.

  • Lakukan Olahraga Ringan
Melakukan olahraga ringan seusai makan daging kambing dapat membakar kalori dan lemak. Pilihlah olahraga seperti bersepeda dan lari-lari kecil.

  • Hipertensi? Jangan Makan Kambing
Jika anda memiliki riwayat penyakit hipertensi atau darah tinggi sangat tidak disarankan mengkonsumsi daging kambing, karena dapat berakibat fatal untuk tekanan darah anda.

Selain berbagai tips yang telah Blog Kesehatan uraikan diatas, untuk menurunkan tekanan darah tinggi setelah memakan daging kambing, silakan baca artikel tentang obat tradisional darah tinggi.


Tuesday, November 20, 2012

Penggemukan Kambing Potong

Konsumen daging kambing mulai ramai sehingga usaha penggemukan kambing potong menjadi salah satu potensi bisnis yang menjanjikan.

Kambing potong unggul adalah apabila memiliki cita rasa daging yang banyak disukai dan perkawinannya tak kenal musim sehingga produksi dagingnya dapat dikelola sepanjang tahun. Namun yang lebih utama adalah sifatnya prolifik (beranak kembar). Dengan jumlah anak per kelahiran yang selalu kembar, akan cepat menghasilkan populasi ternak yang banyak.

Berikut ini beberapa bangsa kambing potensial untuk dikembangkan sebagai ternak potong penghasil daging. Beberapa diantaranya juga sebagai penghasil kulit dan bulu yang harganya mahal.

1. KAMBING ANGORA
Kambing angora berasal dari daerah Asia Tengah. kambing ini merupakan persilangan antara Capra aegagrus dengan Capra falconeri. Kambing jenis ini dipelihara untuk produksi mohair yaitu bulu kambing yang halus selembut sutera dan daging. Bobot tubuh kambing jantan dewasa sekitar 55-80kg, sedangkan betina sekitar 35-45kg. Kambing angora bisa hidup dengan baik di daerah tropik yang keadaannya kering.

2. KAMBING ACHONDROPLASTIK
Ternak ini tergolong kambing kerdil berkaki pendek. Tingginya sekitar 50cm dan berat kambing dewasa sekitar 20kg. Penyebarannya terdapat di dekat jalur hutan dan savana Afrika barat dan Afrika Tengah. Kambing ini sangat baik diternakkan di daerah tropis yang berhawa lembab karena mudah sekali menyesuaikan diri dengan iklim setempat.

Kambing kerdil ini merupakan kambing pedaging dengan mutu daging yang baik. Bila dipelihara dengan baik, mudah sekali dalam menghasilkan anak kembar dua atau tiga. Perkawinan hampir tak mengenal musim karena bisa terjadi sepanjang tahun. Namun, pertumbuhan tubuhnya lambat.

3. KAMBING BARI

Ternak ini tergolong kambing kecil. Banyak terdapat di daerah Sind (Pakistan). Kambing dewasa rata-rata beratnya sekitar 20-30 kg. Berat karkas sekitar 10-14 kg. Keunggulannya adalah bersifat prolifik, yaitu tiap kelahiran biasanya beranak kembar 2-3 ekor. Meskipun kambing ini tergolong kecil, tetapi sangat cocok dikembangkan menjadi ternak penghasil daging.

4. KAMBING BENGGALA HITAM
Tergolong kambing kecil. Kambing ini tersebar luas di Assam dan Bangladesh bagian utara. Bobot dewasa kambing pejantan hanya sekitar 13 kg dan betina 9 kg. Kambing ini terkenal sebagai black bengal.

Kambing ini merupakan ternak penghasil daging dengan produksi susu yang sangat sedikit. Daging yang dihasilkan sangat enak, lezat dan lunak. Potensinya sangat besar untuk dikembangkan sebagai kambing potong. Mutu kulitnya sangat bagus dan banyak digunakan sebagai bahan pembuat sepatu.

5. KAMBING BLIGON
Kambing bligon atau gumbolo alias jawa randu merupakan keturunan kambing etawah dengan kambing kacang. Namun, persentase darah kambing kacang lebih tinggi, yaitu lebih dari 50%. Kambing ini memiliki moncong yang lancip, telinga tebal dan lebih panjang dari kepalanya, leher tidak bersurai, sosok tubuh terlihat tebal, serta bulunya kasar.

Pemeliharaan kambing ini sangat mudah karena menyukai pakan jenis apa saja, termasuk rumput-rumput yang ada di lapangan. Selain itu, anak yang dilahirkan cepat besar sehingga sangat tepat kalau dipelihara untuk kambing potong.

6. KAMBING CREOLO

Merupakan ternak penghasil daging yang sangat populer di Amerika Latin dan Tengah. Memiliki kemampuan hidup di daerah yang sangat kering. Bulunya tipis, pendek dan berwarna hitam atau cokelat, sering kali terdapat bercak-bercak putih. Tanduknya melengkung dan telinga pendek serta tegak. kambing jantan memiliki janggut, sedangkan betina tidak. Tinggi kambing jantan sekitar 75cm dan betina sekitar 65cm. Berat hidup kambing dewasa rata-rata 40-60 kg dengan tubuh yang gempal. Jumlah anak per kelahiran 1-2 ekor.

7. KAMBING GADDI

Kambing ini disebut sebagai kambing dwiguna karena merupakan penghasil daging sekaligus bulu. ia tergolong dalam kambing berambut panjang dan dapat menghasilkan 0,5-1 kg rambut kasar per ekor dengan panjang 17-25cm.

8. KAMBING KACANG
Merupakan kambing potong yang sangat prolifik. Kelahiran kembar dua merupakan hal biasa. Bahkan kadang-kadang melahirkan anak kembar tiga. Kambing ini dapat berkemban biak sepanjang tahun sehingga sangat cocok dikembangkan untuk kambing potong.

Kambing kacang di Indonesia tersebar luas terutama di Jawa. Kambing ini memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap pakan berkualiatas rendah dan lingkungan yang ekstrim. Jantan Dewasa memililki tinggi sekitar 60-65cm dengan bobot rata-rata 25 kg. Untuk betina dewasa memiliki tinggi sekitar 50-56cm dengan bobot rata-rata sekitar 20 kg. Kambing betina pertama kali beranak pada umur 12-13 bulan. Namun, produksi susunya masih sedikit. Rata-rata bobot lahir kambing kacang sekitar 3,82 kg.

Angka pemotongan kambing kacang tergolong tinggi di Indonesia terutama untuk produksi daging.

9. KAMBING KASHMIR
Tergolong ternak pegunungan. Sangat cocok hidup didaerah pegunungan Asia Tengah. Mampu hidup di daerah kering pada ketinggian 3.600-4.200 m dpl. Berat jantan dewasa sekitar 60 kg dan betina 40 kg untuk kambing asal Mongolia dalam. Kambing gembrong yang terdapat di Bali diduga merupakan keturunan kambing kashmir.

Kambing kashmir putih dapat menghasilkan bulu 123 g/ekor/tahun. Kambing kashmir hitam menghasilkan bulu 175-200 g/ekor/tahun. Selain bulu, kambing ini juga menghasilkan daging dan kulit.

10. KAMBING KERDIL CINA SELATAN

Tergolong kambing kerdil daerah tropis lembab. Berat jantan dewasa sekitar 30 kg, sedangkan betina hanya 25 kg. Tergolong sebagai kambing pedaging karena hasil susunya sangat sedikit, yaitu hanya 0,5 kg per hari. Ternak ini sangat sering melahirkan anak kembar dua.

11. KAMBING KECIL AFRIKA TIMUR

Kambing ini hidup di daerah Afrika Timur dan banyak dipelihara sebagai ternak penghasil daging dan kulit. Penampilannya mirip kambing kacang yang terdapat di Indonesia. Warna bulu bermacam-macam, tetapi rata-rata berambut pendek. Tanduknya kecil. Berat kambing dewasa rata-rata 30 kg. Keunggulan kambing ini sangat prolifik, yaitu sering melahirkan anak kembar.

12. KAMBING MAXOTO

Dikenal pula dengan sebutan kambing nungging. Banyak diternakkan di Brazil bagian timur laut. kambing ini diperkirakan berasal dari keturunan kambing portugis charnequeiro varietas elentejo, yaitu kambing potong yang sangat populer di Portugis dan Spanyol.

Memiliki bulu berwarna cokelat muda atau cokelat kelabu kuning dengan garis-garis hitam di punggung dan perut. Warna bulu muka dan kaki hitam. Hewan ini diternak untuk diambil kulit dan dagingnya. Berat kambing dewasa rata-rata 32 kg. Induk betina bisa melahirkan tiga kali dalam dua tahun dan hampir 90% selalu melahirkan kembar.

13. KAMBING SAHEL

Kambing ini paling cocok dikembangkan di daerah padang pasir yang kering, seperti di Sudan dan Afrika Barat. Keunggulannya tahan panas dan lingkungan yang sangat kering seperti Sabana di pinggiran Gurun Sahara. Kambing ini merupakan ternak penghasil daging dan kulit berkualitas tinggi disertai rambut yang pendek, tetapi halus.

14. KAMBING SALT RANGE

Penyebaran kambing ini meliputi daerah laut Pakistan, Rawalpindi dan Mianwali. Kambing ini unggul dalam menghasilkan daging dan bulu yang berambut panjang. Berat pejantan dewasa bisa mencapai 40 kg. kambing Salt Range yang berumur satu tahun memiliki berat karkas mencapai 15-20 kg. Hasil bulu per tahun mencapai 0,5-1 kg per ekor.

15. KAMBING SIRLI

Jenis kambing ini banyak terdapat di daerah barat laut Pakistan. Penyebaran ternak terutama di daerah pegunungan. Berat kambing dewasa sekitar 35 kg. Memiliki ukuran rambut panjang yang mencapai sekitar 25 cm.

16. KAMBING SOMALI

Kambing somali hampir semuan ya berbulu putih halus. Kambing jenis ini tergolong sebagai penghasil daging dan kulit. Keunggulannya berkulit tipis, tetapi mutunya bagus. Berat kambing berkisar 20-30 kg. Kambing ini banyak terdapat di Somalia, Afrika Timur.

17. KAMBING SPANISH
Kambing spanish atau La Mancha berasal dari Spanyol. Ternak ini memiliki ciri khas, yaitu telinganya sangat pendek atau hampir tidak berdaun telinga. Berat jantan dewasa sekitar 55-80 kg dan betina 35-40 kg. warna bulu bermacam-macam dan berbulu pendek. sangat tangguh dan mampu beradaptasi di berbagai lingkungan yang buruk.

Kambing ini dimanfaatkan terutama untuk produksi daging. Keunggulannya memiliki fisiologi reproduksi yang sangat khas, yaitu dapat berkembang biak pada musim gugur hingga musim dingin dalam setahun. Hal ini memungkinkan kambing dapat beranak dan memproduksi daging sepanjang tahun di daerah subtropis.

Sumber : http://pasarkambing.com/penggemukan-kambing-potong.html/

Saturday, May 5, 2012

Obat Tradisional untuk Penyakit Kambing

Ternak kambing atau domba merupakan ternak yang banyak dipelihara di pedesaan. Masalah yang sering dijumpai dan dirasakan oleh peternak adalah serangan penyakit yang sangat merugikan peternak karena dapat menghambat pertumbuhan, reproduksi, bahkan kematian ternak.

Bagi peternak di pedesaan untuk mengobati ternak yang sakit sering mengalami kesulitan, karena keterbatasan persediaan obat ternak yang ada di toko obat ternak dan harga obat yang terlalu mahal, sehingga sulit terjangkau oleh peternak.

Untuk mengatasi hal tersebut, perlu pengobatan dengan cara lain yaitu dengan menggunakan obat tradisional yang ada dan dapat dilakukan peternak serta harganya murah.

Namun demikian usaha pencegahan juga perlu dilakukan dengan menjaga kebersihan ternak dan lingkungannya, pemberian pakan yang cukup (kualitas dan kuantitas), bersih dan tidak beracun.

Ada beberapa penyakit yang sering menyerang ternak kambing dan penyakit ini dapat diobati secara tradisional diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Scabies (Kudis)

Penyebab:
Parasit yang terdapat pada kotoran yang terjadi karena kandang kotor dan ternak tidak pernah dimandikan.

Tanda- tanda:
* Kerak – kerak pada permukaan kulit terutama kulit yang jarang bulunya
* Ternak selalu menggesekan bagian kulit yang terserang kudis
* Kerontokan bulu, kulit menjadi tebal dan kaku

Pengobatan :
* Dengan melaksanakan pencukuran bulu sekitar daerah terserang,
* Mandikan ternak dengan sabun sampai bersih, kemudian jemur sampai kering.
* Setelah kering dapat diobati dengan menggunakan:
a. Belerang dihaluskan, dicampur kunyit dan minyak kelapa, kemudian dipanaskan dan digosokkan pada kulit yang sakit
b. Belerang dihaluskan dan dicampur dengan oli bekas dan digosok pada bagian kulit yang sakit.
c. Kamper / kapur barus digerus, dicampur minyak kelapa dan dioleskan pada bagian kulit yang sakit.

Pencegahan:
* Ternak yang berpenyakit kudis tidak boleh bercampur dengan ternak yang sehat.
* Ternak yang baru dibeli harus bebas dari penyakit kudis
* Mandikan ternak dua minggu sekali.
* Bersihkan kandang seminggu sekali.

2. Belatungan (Myasis)

Penyebab:
Luka daerah yang berdarah diinfeksi oleh lalat sehingga lalat berkembangbiak (bertelur) dan menghasilkan larva belatung.

Tanda-tanda:
* Adanya belatung yang bergerak-gerak pada bagian yang luka
* Bila belatungan pada kaki/teracak maka ternak terlihat pincang.

Pengobatan:
* Bersihkan luka dari belatung, kemudian obati dengan gerusan kapur barus atau tembakau.
* Luka dibungkus dengan kain/perban untuk melindungi dari terjadinya luka baru atau kotoran.
* Pada hari berikutnya luka dibersihkan, pengobatan diulang dan dibungkus kembali.
* Bila belatung sudah terbasmi, pemberian yodium tinctur dapat dipakai untuk mempercepat pertumbuhan

3. Cacingan

Penyebab:
Bermacam-macam cacing terjadi karena kandang yang kotor atau padang pengembalaan yang kotor.

Tanda-tanda:
- Kurus, bulu agak berdiri dan tidak mengkilap
- Sembelit atau mencret
- Lesu dan pucat
- Daerah rahang terlihat membengkak
- Mati mendadak

Pengobatan:
* Tepung buah pinang dicampur dengan nasi hangat dikepal-kepal kemudian dipaksakan untuk dimakan ternak. Ternak dianjurkan untuk dipuasakan terlebih dahulu.
* Daun kelor yang tua dibakar, kemudian debunya dicampur air dan diminumkan. Pengobatan diulangi satu minggu kemudian.

Pencegahan:
* Kandang dibuat panggung dan bersih
* Pengaritan rumput setelah panas yaitu pada jam 12.00-15.00 atau pengembalaan ternak pada siang hari jam 10.00-15.00.
* Jangan menggembalakan ternak pada daerah rawa, sungai dan sawah.

4. Keracunan Tanaman

Penyebab:
Ternak memakan rumput-rumputan atau daun-daunan yang mengandung zat racun.

Tanda-tanda:
Mati mendadak, mulut berbusa, kebiruan pada selaput lendir, pengelupasan kulit/eksim atau terjadi pendarahan.

Pengobatan:
Cekoklah ternak dengan air kelapa muda.

Pencegahan:
Tidak memberikan tanaman beracun atau menggembalakan ternak di daerah yang banyak tumbuh tanaman yang mengandung racun.

Sumber : http://epetani.deptan.go.id/

Tuesday, November 8, 2011

Peternakan Kambing & Domba Potong

I. Pendahuluan

Peternakan kambing dan domba Potong di Indonesia masih berskala kecil sehingga perlu diusahakan secara komersial dan intensif. Hal ini diperlukan karena adanya pertambahan penduduk yang terus meningkat setiap tahunnya sekitar 1,234% dan semakin meningkatnya daya beli masyarakat. Kebutuhan daging selama ini belum mencukupi permintaan, ± 400.000 ton/tahun, sehingga masih mengandalkan impor daging. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) berupaya menbantu budidaya kambing dan domba potong dengan sasaran peningkatan kualitas dan kuantitas daging.

II. Jenis-jenis kambing dan domba potong

A. Kambing kacang
Cirinya adalah badannya kecil dan relatif pendek, telinga pendek dan tegak, jantan dan betina memiliki tanduk, leher pendek dan punggung meninggi, warna bulu bervariasi, ada yang hitam, coklat, merah atau belang hitam-putih.

B. Kambing Peranakan Etawah (PE)
Sasaran utama dari kambing PE pada dasarnya adalah penghasil susu, tetapi dapat digunakan juga sebagai penghasil daging, terutama setelah masa afkir. Ciri dari kambing ini adalah bagian hidung ke atas melengkung, panjang telinga antara 15-30 cm, menggantung ke bawah dan sedikit kaku, warna bulu bervariasi antara hitam dan coklat, memiliki bulu tebal dan agak panjang dibawah leher dan pundak (jantan), di bagian bawah ekor (betina)

C. Domba Ekor Gemuk
Memiliki ciri bentuk ekor yang panjang, tebal, besar dan semakin ke ujung makin kecil; tidak mempunyai tanduk; sebagian besar berwarna putih, tetapi ada anaknya yang berwarna hitam atau kecoklatan

D. Domba Ekor Tipis
Memiliki ciri tubuh yang kecil, ekor relatif kecil dan tipis, bulu bewarna putih, tidak bertanduk (betina), bertanduk kecil dan melingkar (jantan).

III. Pemilihan bibit

Bibit yang baik mempunyai ciri: ukuran badan normal, sehat, bulu bersih dan mengkilap, garis punggung dan pinggang lurus, keempat kaki lurus, kokoh dan tumit terlihat tinggi, tidak ada cacat pada bagian tubuhnya, tidak buta, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta anus bersih

IV. Tata Laksana Pemeliharaan

4.1 Perkandangan
Pada umumnya tipe kandang pada ternak Kado adalah berbentuk panggung, konstruksinya dibuat panggung atau di bawah lantai kandang terdapat kolong untuk menampung kotoran. Adanya kolong dapat menghindari kebecekan dan kontak langsung dengan tanah yang mungkin tercemar penyakit. Lantai kandang ditinggikan antara 0,5 – 2 m. Bak pakan dapat ditempelkan pada dinding. Ketinggian bak pakan untuk kambing dan domba berbeda. Bak pakan untuk kambing dibuat agak tinggi, kira-kira sebahunya karena kebiasaan kambing memakan daun-daun perdu. Untuk Domba, dasar bak pakan horizontal dengan lantai kandang karena kebiasaan domba merumput. Lantai kandang dibuat dari kayu papan atau belahan bambu yang disusun dengan jarak 2-3 cm. Dengan demikian, kotoran dan air kencing mudah jatuh pada kolong, sementara tracak/kaki kado tidak terpelosok/terjepit.

Dasar kolong kandang digali sedalam ±20 cm dibagian pinggirnya dan 30-50 cm pada bagian tengah serta dibuatkan saluran yang menuju bak penampung kotoran. Kotoran kemudian dapat diproses untuk menjadi pupuk kandang. Jagalah selalu kebersihan kandang.

4.2 Pakan
Pakan sangat penting diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan, reproduksi dan kesehatan ternak karena mengandung zat gizi yang dibutuhkan ternak. Oleh karena itu, pakan harus tersedia terus. Pakan utama yang umum diberikan berupa hijauan segar, seperti rumput, legum(daun lamtoro dan turi) atau aneka hijauan (daun singkong (protein cukup tinggi), daun nangka dan daun pepaya). Khusus legume dan aneka hijauan sebelum diberi pada ternak sebaiknya dilayukan terlebih dahulu untuk menghilangkan racun yang ada dalam hijauan tersebut. Untuk Kado yang bunting, dianjurkan komposisi rumput 60% dan legume 40%. Untuk Kado yang beru menyusui, komposisinya dalah 50% rumput dan 50% legum.

Selain pakan hijauan, dapat juga ditambah dengan pakan padat. Jenis yang dapat digunakan adalah bekatul, ampas tahu, ketela pohon (dicacah dahulu). Jenis pakan tersebut mudah dan murah dibeli dengan sumbangan yang cukup lumayan untuk kebutuhan nutrisinya. Kebutuhan setiap ekor kira-kira 3 kg per hari dengan komposisi 40% berkatul 40% ampas tahu dan 20% ketela pohon.

Tetapi pada saat ketersediaan hijauan berkurang maka perlu dilakukan pengawetan atau penambahan pakan penguat/konsentrat. Teknik pemberian konsentrat disarankan jangan bersamaan dengan hijauan karena pakan ini mempunyai daya cerna dan kandungan nutrisi yang berbeda dengan hijauan. Pemberian pakan konsentrat tidak perlu diberikan setiap hari karena harga konsentrat relatif mahal.

Selain pemberian rumput dan konsentrat sebagai pakan utama, masih dibutuhkan pakan pelengkap yang mengandung gizi ternak lengkap yang belum terdapat pada pakan utama untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan produksi ternak. Sehingga tujuan atau target dari budidaya ternak yaitu memiliki ternak dengan pertumbuhan optimal dan sehat dapat tercapai. Sebagai pakan pelengkap maka PT. NATURAL NUSANTARA mengeluarkan suplemen khusus ternak yaitu VITERNA Plus. Produk ini menggunakan teknologi asam amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh Kambing/Domba, yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak.

VITERNA Plus mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak, yaitu :

• Asam-asam amino esensial, yaitu Arginin, Hiistidin, Leusin, Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein tubuh, pembentuk sel dan organ tubuh.

• Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh kambing/domba dari serangan penyakit.

• Mineral-mineral lengkap yaitu N, P, K, Ca, mg , Cl dan lain-lain sebagai penyusun tulang, darah dan berperan dalam sintesis enzim untuk memperlancar proses metabolisme dalam tubuh. Cara penggunaannya adalah dengan dicampurkan dalam air minum atau komboran pakan konsentrat dengan dosis : 7,5 cc atau ¾ tutup botol VITERNA /ekor/hari. Penambahan VITERNA Plus tersebut dilakukan pada pemberian air minum atau komboran yang pertama.

V. Pengendalian Penyakit

Tindakan pertama yang dilakukan pada usaha pemeliharaan Kado adalah melakukan pencegahan terjangkitnya penyakit pada ternak. Beberapa langkah pencegahan adalah sebagai berikut :
• Lahan yang digunakan untuk memelihara Kado harus bebas dari penyakit menular.

• Kandang Kado harus kuat, aman dan bebas penyakit. Apabila digunakan kandang bekas kado yang telah terserang penyakit, kandang cukup dicucihamakan dengan disinfektan, kemudian dibiarkan beberapa saat. Apabila kandang tersebut bekas kado sehat cukup dicuci dengan air biasa.

• Kado yang baru masuk sebaiknya dimasukkan ke kandang karantina dulu dengan perlakuan khusus. Ternak yang diduga bulunya membawa penyakit sebaiknya dimandikan dan digosok dengan larutan sabun karbol, Neguvon, Bacticol Pour, Triatex atau Granade 5% EC dengan konsentrasi 4,5 gram/3 liter air. Untuk membasmi kutu, Kado dapat juga dimandikan larutan Asuntol berkonsentrasi 3-6 gram/3 liter air.

• Kandang dan lingkungan tidak boleh lembap dan bebas dari genangan air. Kelembapan yang tinggi dan genangan air mengakibatkan perkembangan nyamuk atau hewan sejenis yang menggigit dan menghisap darak ternak.

• Dilakukan vaksinasi secara teratur. Vaksinasi bertujuan untuk mencegah terjangkitnya penyakit oleh Virus.

Beberapa penyakit yang dapat menyerang Kado adalah:
1) Penyakit parasit (kudis, kutu, cacingan)

2) Penyakit Bakterial (Antarks, Cacar mulut, Busuk Kuku)

3) Penyakit Virus (Orf)

4) Penyakit lain (Keracunan sianida, Kembung Perut, Keguguran).
Hal penting dalam pengendalian penyakit adalah meningkatkan kesehatan ternak dan kebersihan kandang dan lingkungan sekitarnya serta monitoring/pengamatan yang kontinyu pada ternak sehingga apabila terdapat gejala penyakit, segera dapat diketahui jenis penyakit tersebut dan cara pencegahan dan pengobatannya.

Sumber :
http://naturalnusantara.co.id
http://makmurbumi.wordpress.com/2009/04/19/peternakan-kambing-domba-potong/

Wednesday, November 2, 2011

Teknis Melakukan Usaha Budidaya Penggemukan Domba Potong

Usaha penggemukan domba dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Untuk memperoleh hasil yang diharapkan pemilihan domba bakalan (bibit) perlu dilakukan dengan selektif.

1. Pemilihan Domba bakalan (bibit)
a. Bibit domba baru berusia pasca sapih (6-8 bulan) atau kurang dari satu tahun.
Domba yang umurnya 12 bulan atau sedang tanggal gigi, biasanya mengaIami masa stress dan bobotnya juga turun, sehingga menggangu proses penggemukan.
Ciri-ciri domba yang usianya kurang dari 1 tahun yaitu: giginya masih rapat dan belum tanggal, dan berat rata-ratanya 20 kg.

b. Bibit harus domba jantan
- Domba jantan pertumbuhannya lebih cepat dari pada yang betina.
- Domba jantan yang akan dijadikan bibit harus yang tidak bertanduk dan sifatnya tenang, karena domba yang bertanduk mempunyai naluri berkelahi yang tinggi dan pertumbuhannya cenderung lebih lambat. Pada akhir masa penggemukan, berat domba bertanduk bisa berbeda 1-2 kg lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak bertanduk: Kerugian lain, domba bertanduk sering merusak kandang.

c. Bibit domba sehat dan tidak cacat
Domba yang sehat dan tidak cacat memiliki ciri
- penampilan fisik yang baik
- bulunya tampak seperti basah (kelimis)
- kakinya tegak dan besar
- moncongnya tumpul.

2. Kandang
Kandang yang digunakan dapat menggunakan system panggung dan sistem lantai, namun system panggung dapat memberikan keuntung lebih yaitu kotoran domba tidak perlu dibersihkan, karena langsung jatuh ke dalam penampungan yang diletakan di bawah kandang. Kotoran ini dapat menjadi penghasilan tambahan setelah menjadi pupuk (tidom).

a. Panjang kandang dibuat 1m, lebar 60 cm dan tinggi 60 cm. Satu lokasi ( satu atap) terdiri dari 2 baris kandang yang tidak saling berhadapan tiap barisnya. Satu kandang dihuni satu domba.

b. Untuk menambah napsu makan domba, setiap wadah pakan sebaiknya digunakan untuk 2 domba.
Wadah pakan itu diletakan disisi luar dan tidak saling berhadapan dengan barisan kandang lainnya.
Wadah pakan itu bisa dibuat dari bambu atau bahan lain.

c. Atap kandang dibuat dari alang-alang atau rumbia dengan kemiringan 45°. Penggunaan atap rumbia lebih baik dibandingkan dengan atap seng atau asbes karena pada siang hari kandang tidak terlalu panas dan pada malam harinya menjadi hangat. Penggunaan atap seng sering menyebabkan domba stress, karena kalau siang terlalu panas dan kalau malam terlalu dingin

3. PEMBERIAN PAKAN
Pemberian pakan harus diatur sedemikian rupa sehingga domba tidak kelaparan atau kekenyangan. Pengaturan pakan domba dapat dilakukan sesuai dengan tahap-tahap berikut:

a. Minggu pertama, yaitu pada saat domba datang beri konsentrat 1/5-2 ons per hari/ekor domba tambahkan 7 ons ampas tahu dan 3 kg rumput sampai, berikan pada waktu-waktu berikut:
- Jam 05.00 beri makan ampas tahu dan konsentrat
- Jam 09.30 beri makan rumput
- Jam 15.00 beri makan rumput kembali dalam kadar/jumlah yang sama
- Beri air minum setiapkali domba habis makan rumput
Pada fase ini, 2-3 hari domba akan terlihat kurang napsu makan, namun hal itu dikarenakan domba belum terbiasa, hari berikutnya pakan yng diberikan akan dimakan sampai habis.

b. Minggu kedua, tambah dosis konsentrat menjadi 2/5-3 ons. Pakan dan waktu pemberiannya tetap.

c. Minggu ketiga, tambah dosis konsentrat menjadi 4 ons. Pakan dan waktu pemberiannya tetap

d. Minggu berikutnya sampai masa penggemukkan berakhir (panen), tambah dosis konsentrat menjadi 5 ons. Pakan dan waktu pemberiannya tetap.

4. MENJAGA KESEHATAN
Sejak awal kedatangan domba perlu dijaga kesehatannya dengan melakukan pemeliharaan yang baik, pemeliharaan domba agar terjaga kesehatannya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Menghindarkan lingkungan dari hal-hal yang dapat menyebabkan domba stress
b. Lakukan pengobatan pencegahan pada saat bibit baru datang sebelum dimasukkan kedalam kandang.
c. Cukur bulu domba yang baru datang agar bibit penyakit, kutu, dan parasit lain bisa segera terbasmi. Dengan pencukuran ini, hasil dari penggemukanpun langsung terlihat mahal.
d. Mandikan domba setelah dicukur, sampai semua kotoran yang melekat hilang
e. Berikan suntikan antibiotik dan obat cacing
f. Terakhir, berikan obat anti stress untuk mencegah stress

5. PERIODE (WAKTU) PEMELIHARAAN
Penggemukan domba biasa dilakukan pada domba selesai sapih (pasca sapih) atau pada saat usia domba kurang dari satu tahun maka penggemukan yang efektif adalah selama 45 hari. Jika penggemukan dilakukan sampai masa tanggal gigi maka hal ini justru akan menurunkan bobot badan domba. Oleh karena diperlukan perhitungan yang teliti sebelum melakukan pembelian bibit.
Hal pertama yang harus menjadi pertimbangan adalah kapan masa panen akan dilakukan? Misalnya menjelang hari raya idul kurban, maka pembelian bibit dilakukan 45 hari sebelum perayaan idul kurban tersebut.

Sumber : http://www.sentrakukm.com/skim/WUB/Domba/teknis.php

Monday, October 31, 2011

Budidaya Kambing Potong

Ternak Kambing adalah hewan ruminansia kecil yang hidupnya membutuhkan pakan yang berasal dari hijauan seperti rumput-rumputan, daun-daunan, sisa hasil pertanian.

Kemampuan beradaptasi yang cukup baik membuat ternak tersebut begitu mudah berkembang hampir diseluruh wilayah Propinsi Jawa Timur. Namun demikian keberadaan ternak kambing dalam keluarga petani belumlah memberi penghasilan yang baik bila faktor-faktor panca usaha ternak kambing seperti : pemilihan bibit yang baik, pemberian pakan yang memenuhi gizi dan pencegahan terhadap penyakit belum dilaksanakan secara maksimal.

JENIS KAMBING
Jenis Kambing yang tersebar luas di wilayah Jawa Timur adalah kambing kacang dan kambing peranakan etawah. Kedua jenis kambing tersebut sangat cocok dipelihara di wilayah lahan kering dan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Beberapa waktu lalu telah diperkenalkan jenis kambing yang baru yaitu kambing Boer yang merupakan jenis pedaging. Jenis ini sudah disiap untuk diperkenalkan di masyarakat Banyuwangi dengan program inseminasi buatan.

PEMILIHAN BIBIT KAMBING
Menentukan calon bibit kambing betina ataupun jantan sebagai calon bibit untuk keperluan budidaya perlu dipenuhi kriteria antara lain : Memiliki kemampuan pertambahan berat badan yang cepat dan konversi pakan makanan yang baik. Memiliki sifat genetic yang baik untuk menghasilkan keturunan kembar dalam satu kali melahirkan. Sedangkan untuk ciri karakteristik dapat dilihat mata yang bersinar cerah, tajam, tidak cacat tubuh, bulu halus dan mengkilat. Ciri khusus betina harus memiliki sifat keibuan, umur kurang dari 3 tahun, putting susu berjumlah dua dan sama besar. Sedangkan untuk pejantan memiliki sifat mengawinkan cukup besar, buah zakar berjumlah dua dan sama besar serta umur kurang dari 3 tahun.

PAKAN
Ternak kambing dalam kehidupannya memerlukan pakan hijau-hijauan seperti rumput, bungkil kedelai, daun-daunan, sisa produksi pertanian, dedak, dan lain-lain. Komposisi masing-masing sangat tergantung pada kebutuhan ternak, yaitu antara kambing menyusui, pemacek, dan dewasa berbeda. Untuk kambing dewasa kebutuhan makanan 10% dari berat badannya, dimana kebutuhannya yaitu ¾ bagian berupa rumput dan hijauan segar, ¼ bagian terdiri dari daun-daunan. Untuk kambing pemacek kebutuhan makanan hamper sama, akan tetapi peru ditambahkan dedak padi halus sebanyak 200-250 gram. Untuk kambing bunting menjelang melahirkan komposisi makanan untuk hijauan lebih banyak yaitu 3/5 bagian dan 2/5 bagian daun-daunan dan hijauan harus seimbang dan perlu ditambahkan dedak halus padi sebanyak 200-250 gram.

PERKAWINAN
Kambing betina dewasa yang sudah siap kawin umumnya berusia antara 6-8 bulan. Tanda birahinya antara lain : Gelisah, ribut dan nafsu makan menurun. Mencoba untuk menaiki ternak lainnya. Menggerak-gerakkan ekornya. Bagian vulva memerah, bila diraba terasa hangat. Keluar sedikit lendir bening kambing betina dewasa dikawinkan paling bagus berumur 10 bulan, dan jantan sebagai pemacek berumur 1 tahun. Waktu yang tepat untuk mengawinkan kambing pada pertengahan birahi yaitu 12-18 jam sejak birahi pertama muncul.

Selain menggunakan pejantan pemacek, dapat juga kambing betina dikawinkan dengan menggunakan metode kawin suntik (Inseminasi Buatan). Tujuannya adalah untuk menghasilkan keturunan yang mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Untuk saat ini kawin suntik (IB) kambing dapat menggunakan jenis kambing peranakan Etawah (PE).

KANDANG
Pembuatan kandang diupayakan harus memiliki sirkulasi udara yang cukup bagus dan dijaga tingkat kebersihannya. Untuk budidaya kambing, kandang yang bagus adalah jenis panggung, karena akan memberikan kenyamanan pada ternak dan terjaga kebersihannya.

PENGOLAHAN USAHA
Pada umumnya pengelolaan usaha ternak kambing dapat dilakukan secara tradisional maupun secara intensif. Untuk menghindari kerugian dalam usaha, langkah pertama harus ditempuh harus membiasakan dengan memperbaiki managemen usaha, yaitu selalu melakukan pencatatan setiap kejadian mengenai ternaknya. Langkah selanjutnya adalah dengan melihat pangsa pasar. Waktu penjualan ternak kambing yang bagus adalah bila ternak telah berusia 12-18 bulan, dan berat badannya tidak bertambah lagi.

PENYAKIT
Salah satu hal yang penting dalam usaha ternak kambing adalah memperhatikan kesehatan ternak. Sanitasi kandang dan lingkungan merupakan cara termudah untuk mencegah terjadinya kejadian penyakit. Adapun kejadian penyakit yang paling sering adalah kembung (tympani), kudis (scabies), diare dan sebagainya. Untuk pertolongan pertama dapat menggunakan obat-obatan tradisional dan untuk selanjutnya dapat menghubungi petugas kesehatan terdekat.

Sumber : http://epetani.deptan.go.id/budidaya/budidaya-kambing-potong-104