Kebanyakan dari kita segan dan takut bersinggungan dengan tikus. Hewan pengerat tersebut kadung mendapat cap miring, mulai dari perusak barang hingga agen penyebar penyakit meski sesungguhnya cap itu lebih mengarah kepada tikus rumah yang berwarna abu-abu. Lantas bagaimana dengan tikus putih? Seorang kawan yang bekerja di laboratorium farmasi seringkali kesulitan memperoleh tikus putih untuk hewan percobaan. Untuk menguji toksisitas subkronik suatu bahan sediaan, misalnya, membutuhkan hingga 180 tikus. Tikus putih memang diperlukan sebagai hewan percobaan lantaran harganya murah dan mudah ditangani.
Bagaimana bisnisnya? Sejatinya kebutuhan tikus putih cukup besar. Saat ini penyerap tikus putih tersebut masih didominasi pehobi penggemar reptil. Sasongko di Bogor, Jawa Barat, misalnya, memerlukan 3—5 ekor tikus per pekan untuk 2 ular pythonnya. Harga belinya Rp5.000/ekor. Sisanya adalah mahasiswa dan dosen farmasi, kedokteran, atau biologi yang memang memerlukan tikus putih sebagai hewan percobaan. Namun sebagai hewan percobaan ada syarat mutlak yang mesti dipenuhi.
Tikus putih untuk percobaan harus berasal dari peternak yang mengantongi sertifikat. Sayang, di Indonesia lembaga yang berwenang memberikan sertifikasi itu belum ada. Sebagai gambaran tikus percobaan diwajibkan memenuhi persyaratan kesehatan, bobot, dan tingkat keseragaman tinggi. Itu menyangkut budidaya seperti kebersihan kandang, perawatan, dan pakan.
Tengoklah Puslitbang Biomedis dan Farmasi Badan Litbang Departemen Kesehatan yang memasok tikus-tikus percobaan ke banyak lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Mereka menempatkan tikus putih dalam ruangan superbersih. Ruangan itu dilengkapi kandang-kandang berukuran 35 cm x 35 cm x 25 cm terbuat dari aluminium yang berjejer rapi. Suhu ruangan dibuat stabil pada 25 derajat celcius.
Ruangan, termasuk kandang dibersihkan 2 kali seminggu. Sebagai alas kandang digunakan serutan kayu. Tikus-tikus yang terdiri dari strain wistar dan sprague-dawley itu diberi pakan buatan yakni campuran beras, kacang kedelai, kacang tanah, skim milk powder kualitas tinggi, minyak kelapa, garam dapur, tepung tulang, vitamin, dan mineral. Pakan itu mengandung 19,4% protein, lemak 9,1%, dan 370 kalori energy. Wajar dengan perlakuan itu harga tikus percobaan dapat Rp30.000/ekor.
Dari hitung-hitungan secara ekonomis usaha beternak tikus putih cukup menguntungkan. Dengan 100 pasang indukan mencit setiap bulan akan didapat omzet Rp5.250.000. Dari 100 indukan terdiri dari 75 betina dan 25 jantan Setiap 3 betina dipasangkan dengan 1 jantan dalam wadah plastik. Jika dipelihara intensif setiap tiga bulan menghasilkan anakan 8—12 ekor per induk. Induk yang berbobot 20—25 g itu diapkir setelah 2 kali beranak.
Analisa Usaha Beternak Tikus Putih
Spesifikasi
Tikus putih dengan jumlah indukan 100 ekor, lama pengusahaan 6 bulan, 2 kali periode anakan, luas ruangan 6 meter persegi, produksi: anakan umur 3 bulan, dan harga jual Rp3.500/ekor
I. Investasi
Rumah ternak Rp3.000.000
Rak besi sepanjang 2 meter Rp2.000.000
Kandang plastik 200 buah@ Rp8.000 Rp1.600.000
Perlengkapan kandang 200 buah Rp 400.000
Total investasi Rp7.000.000
II. Biaya produksi
Indukan 100 ekor @ Rp4.000 Rp 400.000
Penyusutan rumah ternak Rp 300.000
Penyusutan rak Rp 160.000
Penyusutan perlengkapan kandang Rp 100.000
Tenaga kerja Rp1.200.000
Pakan 300 kg @ Rp4.000 Rp1.200.000
Obat-obatan Rp 200.000
Listrik Rp 200.000
Total biaya produksi Rp3.760.000
III. Pendapatan
1.500 ekor x Rp3.500/ekor Rp5.250.000
IV. Keuntungan
Rp5.250.000 – Rp3.760.000 Rp1.490.000
V. Pertimbangan usaha
1. BEP (Break Even Point)
BEP untuk harga produksi
BEP = Rp3.760.000 : 1.500 ekor = Rp2.507/ekor. Dengan produksi sebanyak 1.500 ekor, titik balik modal tercapai jika harga mencit umur 3 bulan Rp2.507/ekor
BEP untuk volume produksi
BEP = Rp3.760.000 : Rp3.500/ekor = 1.074 ekor. Dengan harga jual Rp3.500/ekor, titik balik modal tercapai jika jumlah anakan yang dihasilkan sebanyak 1.074 ekor.
2. B/C (Perbandingan Penerimaan dan Biaya)
B/C = Rp5.250.000 : Rp3.760.000 = 1,4. Setiap penambahan biaya Rp1 untuk beternak mencit akan diperoleh penerimaan Rp1,4.
3. NPV (Net Present Value)
NPV = Rp5.250.000 x 1/(1 + 0,0083)6 = Rp5.000.000. Dengan asumsi bunga bank 10% per tahun, penerimaan yang akan diperoleh 6 bulan kemudian senilai Rp5.000.000.
Sumber :
http://www.bebeja.com/bisnis-tikus-putih/
Showing posts with label Budidaya Tikus Putih. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Tikus Putih. Show all posts
Sunday, August 3, 2014
Wednesday, January 22, 2014
Usaha Ternak Tikus Putih
Ada banyak usaha ternak kecil yang hasilnya cukup menjanjikan. Salah satunya adalah bisnis ternak mencit atau tikus. Beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah sejak tahun 2007 saudaraku sudah memulainya. Awalnya hanya untuk iseng saja. Dia memelihara hanya untuk 'kelangenan' (kelangenan kok tikus...???).
Memelihara tikus ternyata sangat mudah. Makanannya apa saja dan mudah perawatannya. Setelah beberapa lama dipelihara, tikusnya mulai beranak pinak. Awalnya cuma lahir beberapa ekor 'cindil' (anak tikus). Lama kelamaan satu induk bisa melahirkan sampai 10 ekor cindil.
Lama kelamaan jumlah tikus putihnya semakin banyak. Tikus yang banyak ini mau di kemanakan...??? Kemudian dicoba untuk menawarkan pada beberapa toko yang menjual binatang-binatang hias. Ternyata laku. Satu tikus dihargai antara Rp. 3000 - 5000. Memang tidak mahal karena oleh pedagannya mau dijual lagi untuk pakan reptil. Harga tikus putih/mencit untuk pakan di pet shop bisa mencapai Rp. 8-10 rb/ekor. Memelihara tikus sangat mudah sekali. Tikus putih hanya perlu ditempatkan di bak-bak plastik sederhana. Bak-bak ini bisa ditempatkan di rak-rak sederhana. Makanannya pun dari sisa-sisa dapur. Tidak perlu tambahan makanan macam-macam dan tidak perlu membeli. Tikus beranak pinak dengan cepat. Tikus muda sekali melahirkan bisa 4 ekor cindil. Yang dewasa bisa sampai 10 ekor cindil sekali melahirkan. Kalau punya beberapa induk bisa dihasilkan ratusan cindil setiap bulannya. Sebagai contoh dalam sebulan bisa menjual 500 ekor saja, bearti omzetnya sudah rp. 2.5jt. Kalau mau lebih tinggal dikalikan saja. Ternyata tikus putih alias mencit ini tidak hanya untuk pakan reptil saja. Tikus yang untuk pakan reptil adalah tikus putih biasa atau tikus afkiran. Tikus putih juga biasa digunakan untuk penelitian. Banyak mahasiswa STIKES atau mahasiswa Kedokteran dan Farmasi yang memanfaatkan tikus putih sebagai objek penelitian. Harga tikus putih untuk penelitian tentu saja jauh lebih tinggi daripada tikus untuk pakan. Karena tikus-tikus untuk penelitian biasanya memerlukan persyaratan khusus. Misalnya: keseragaman galur, umur, dan bobot tubuh. Cara pemeliharaannya pun juga sedikit berbeda, lebih diperhatikan masalah kebersihan dan pakannya.
Permintaan tikus putih untuk penelitian ada spesifikasinya. Jenis tikus yang biasa untuk penelitian selain mencit (Mus musculus) adalah tikus putih besar (Rat) dari spesies Rattus norvegicus. Tetapi sekali lagi bukan sembarang Rattus norvegicus yang diminta untuk penelitian. Galur/strain Rattus norvegicus yang biasa diminta untuk penelitian dari galur Wistar dan Sprague Dawley (SD). Umunnya penelitian mahasiswa di Indonesia menggunakan galur Wistar. Rattus norvegicus galur Wistar dikembangkan oleh Wistar Institute. Tikus putih ini adalah tikus Rattus norvegicus Albino (putih) yang matanya merah. Jadi sudah berbeda dengan 'tetuanya' yang liar. Warna asli Rattus norvegicus adalah coklat, atau sering juga disebut dengan tikus coklat (Brown Rat).
Harga tikus putih besar (Rat) untuk penelitian cukup tinggi. Harga Rat yang tidak memiliki surat keterangan galur/sertifikat bisa mencapai Rp. 30.000-40.000/ekor. Apabila disertai dengan surat keterangan galur, harganya bisa lebih tinggi lagi. Surat keterangan ini juga menjadi jaminan kualitas tikus untuk penelitian.
Bisnis tikut putih memang sangat mengiurkan, apalagi saat ini pasar masih terbuka sangat lebar. Pintar-pintar cari pasar, bisa dapat duit dari si Tikus Putih ini.
Tikus/mencit emas yang sangat unik dan langka. Warna bulunya kuning keemasan dan yang lebih istimewa lagi adalah warna matanya yang merah menyaladan warna bulunya yang mengkilat . Tikus ini adalah lambang kejayaan, kekayaan, dan keberuntungan. Sumber :
http://forum.detik.com/usaha-ternak-tikus-putih-t189185.html
Memelihara tikus ternyata sangat mudah. Makanannya apa saja dan mudah perawatannya. Setelah beberapa lama dipelihara, tikusnya mulai beranak pinak. Awalnya cuma lahir beberapa ekor 'cindil' (anak tikus). Lama kelamaan satu induk bisa melahirkan sampai 10 ekor cindil.
Lama kelamaan jumlah tikus putihnya semakin banyak. Tikus yang banyak ini mau di kemanakan...??? Kemudian dicoba untuk menawarkan pada beberapa toko yang menjual binatang-binatang hias. Ternyata laku. Satu tikus dihargai antara Rp. 3000 - 5000. Memang tidak mahal karena oleh pedagannya mau dijual lagi untuk pakan reptil. Harga tikus putih/mencit untuk pakan di pet shop bisa mencapai Rp. 8-10 rb/ekor. Memelihara tikus sangat mudah sekali. Tikus putih hanya perlu ditempatkan di bak-bak plastik sederhana. Bak-bak ini bisa ditempatkan di rak-rak sederhana. Makanannya pun dari sisa-sisa dapur. Tidak perlu tambahan makanan macam-macam dan tidak perlu membeli. Tikus beranak pinak dengan cepat. Tikus muda sekali melahirkan bisa 4 ekor cindil. Yang dewasa bisa sampai 10 ekor cindil sekali melahirkan. Kalau punya beberapa induk bisa dihasilkan ratusan cindil setiap bulannya. Sebagai contoh dalam sebulan bisa menjual 500 ekor saja, bearti omzetnya sudah rp. 2.5jt. Kalau mau lebih tinggal dikalikan saja. Ternyata tikus putih alias mencit ini tidak hanya untuk pakan reptil saja. Tikus yang untuk pakan reptil adalah tikus putih biasa atau tikus afkiran. Tikus putih juga biasa digunakan untuk penelitian. Banyak mahasiswa STIKES atau mahasiswa Kedokteran dan Farmasi yang memanfaatkan tikus putih sebagai objek penelitian. Harga tikus putih untuk penelitian tentu saja jauh lebih tinggi daripada tikus untuk pakan. Karena tikus-tikus untuk penelitian biasanya memerlukan persyaratan khusus. Misalnya: keseragaman galur, umur, dan bobot tubuh. Cara pemeliharaannya pun juga sedikit berbeda, lebih diperhatikan masalah kebersihan dan pakannya.
Permintaan tikus putih untuk penelitian ada spesifikasinya. Jenis tikus yang biasa untuk penelitian selain mencit (Mus musculus) adalah tikus putih besar (Rat) dari spesies Rattus norvegicus. Tetapi sekali lagi bukan sembarang Rattus norvegicus yang diminta untuk penelitian. Galur/strain Rattus norvegicus yang biasa diminta untuk penelitian dari galur Wistar dan Sprague Dawley (SD). Umunnya penelitian mahasiswa di Indonesia menggunakan galur Wistar. Rattus norvegicus galur Wistar dikembangkan oleh Wistar Institute. Tikus putih ini adalah tikus Rattus norvegicus Albino (putih) yang matanya merah. Jadi sudah berbeda dengan 'tetuanya' yang liar. Warna asli Rattus norvegicus adalah coklat, atau sering juga disebut dengan tikus coklat (Brown Rat).
Harga tikus putih besar (Rat) untuk penelitian cukup tinggi. Harga Rat yang tidak memiliki surat keterangan galur/sertifikat bisa mencapai Rp. 30.000-40.000/ekor. Apabila disertai dengan surat keterangan galur, harganya bisa lebih tinggi lagi. Surat keterangan ini juga menjadi jaminan kualitas tikus untuk penelitian.
Bisnis tikut putih memang sangat mengiurkan, apalagi saat ini pasar masih terbuka sangat lebar. Pintar-pintar cari pasar, bisa dapat duit dari si Tikus Putih ini.
Tikus/mencit emas yang sangat unik dan langka. Warna bulunya kuning keemasan dan yang lebih istimewa lagi adalah warna matanya yang merah menyaladan warna bulunya yang mengkilat . Tikus ini adalah lambang kejayaan, kekayaan, dan keberuntungan. Sumber :
http://forum.detik.com/usaha-ternak-tikus-putih-t189185.html
Thursday, June 6, 2013
Kembangkan Budidaya Tikus Putih
Para peternak di Kelurahaan Nongkosawit, Semarang melakukan terobosan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Mereka mengembangkan budidaya tikus putih dengan pangsa pasar sudah menembus Kalimantan dan Sumatera. Menurut Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Anang Budi Utomo, tikus putih digunakan untuk hewan percobaan mahasiswa farmasi di kawasan Semarang dan sekitarnya. Dia sendiri juga ikut aktif mengembangkan budi daya tikus putih.
"Seorang peternak mampu mengirimkan tikus putih ke Kalimantan dan Sumatera rata-rata 500 ekor per bulan," ungkap Anang.
Memang ada kendala, yaitu konsumen umumnya menghendaki tikus hidup di ruang dengan suhu yang dapat diatur atau menggunakan AC. Sementara saat ini peternak di Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati ini tidak mengunakan AC dengan asumsi daerahnya sudah sejuk. Ini yang sedang dipertimbangkan para peetrnak.
"Budidaya tikus putih ini menjanjikan karena sangat cepat berkembangbiaknya. Dalam waktu tiga bulan, satu tikus mampu beranak hingga 15 ekor. Induk siap kawin berumur 70 hari. Model pembiakan, dalam satu wadah diisi satu pejantan dan empat induk betina. Bayi lahir setelah tiga minggu dalam kandungan. Seusai menyusui, induk bisa dikawinkan lagi," papar Anang seperti dilansir ANTARA.
Tambahnya budidaya tikus putih ini akan terus dikembangkan seiring dengan Kelurahan Nongkosawit dijadikan sebagai Desa Wisata. Masyarakat Kelurahan Nongkosawit menghendaki pada 9 September 2013 sudah dapat menerima kunjungan wisatawan dengan sejumlah potensi yang dimiliki daerah setempat mulai dari adanya perkebunan durian, rambutan, dan buah naga., disusul hasil peternakan seperti sapi, kambing, ayam, dan tikus putih.
Memelihara tikus putih ternyata sangat mudah. Tikus memakan apapun, termasuk sisa makanan manusia sehari-hari dan yang lebih penting adalah mudah merawatannya Harga seekor tikus putih berkisar Rp 2500-6000 per ekor bergantung kualitasnya. Namun untuk pemesanan ada batas minimalnya seperti 50 ekor ke atas. Selain untuk kepentingan penelitian tikus putih juga diminati pehobi reptil dan binatang karnivora lainnya. Sedangkan tepung daging tikus juga banyak dibutuhkan sebagai campuran membuat pakan ternak untuk menambah protein.
Sumber :
http://www.carikabar.com/regional/183-jawa-tengah/1025-semarang-kembangkan-budidaya-tikus-putih
"Seorang peternak mampu mengirimkan tikus putih ke Kalimantan dan Sumatera rata-rata 500 ekor per bulan," ungkap Anang.
Memang ada kendala, yaitu konsumen umumnya menghendaki tikus hidup di ruang dengan suhu yang dapat diatur atau menggunakan AC. Sementara saat ini peternak di Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati ini tidak mengunakan AC dengan asumsi daerahnya sudah sejuk. Ini yang sedang dipertimbangkan para peetrnak.
"Budidaya tikus putih ini menjanjikan karena sangat cepat berkembangbiaknya. Dalam waktu tiga bulan, satu tikus mampu beranak hingga 15 ekor. Induk siap kawin berumur 70 hari. Model pembiakan, dalam satu wadah diisi satu pejantan dan empat induk betina. Bayi lahir setelah tiga minggu dalam kandungan. Seusai menyusui, induk bisa dikawinkan lagi," papar Anang seperti dilansir ANTARA.
Tambahnya budidaya tikus putih ini akan terus dikembangkan seiring dengan Kelurahan Nongkosawit dijadikan sebagai Desa Wisata. Masyarakat Kelurahan Nongkosawit menghendaki pada 9 September 2013 sudah dapat menerima kunjungan wisatawan dengan sejumlah potensi yang dimiliki daerah setempat mulai dari adanya perkebunan durian, rambutan, dan buah naga., disusul hasil peternakan seperti sapi, kambing, ayam, dan tikus putih.
Memelihara tikus putih ternyata sangat mudah. Tikus memakan apapun, termasuk sisa makanan manusia sehari-hari dan yang lebih penting adalah mudah merawatannya Harga seekor tikus putih berkisar Rp 2500-6000 per ekor bergantung kualitasnya. Namun untuk pemesanan ada batas minimalnya seperti 50 ekor ke atas. Selain untuk kepentingan penelitian tikus putih juga diminati pehobi reptil dan binatang karnivora lainnya. Sedangkan tepung daging tikus juga banyak dibutuhkan sebagai campuran membuat pakan ternak untuk menambah protein.
Sumber :
http://www.carikabar.com/regional/183-jawa-tengah/1025-semarang-kembangkan-budidaya-tikus-putih
Friday, April 5, 2013
Budidaya Tikus Putih
Berbiak Cepat Untung Berlipat
Satwa pengerat berbulu putih ini sanggup menjanjikan laba sebesar Rp 4 juta tiap bulan kepada Anda. Tertarik? Simak tips sukses budidaya tikus putih berikut ini.
Cara pemeliharaan tikus putih tak susah, berkembang-biak pesat, serta butuh modal dan lahan tidak terlalu besar. Cukup satu kali periode panen, titik break even point alias balik modal sudah dapat dicapai.
Tingkat permintaan pasar terhadap tikus putih sangat besar. Sayang, budidaya tikus putih masih belum banyak diminati banyak orang. Kondisi seperti itu mengisyaratkan bahwa pintu sukses budidaya tikus putih terbuka lebar untuk Anda.
Peta pangsa pasar
Menurut penuturan Prof. Sihombing, staf ahli Fakultas Peternakan, Institut Bogor, ceruk pasar bagi pengusaha tikus putih sangat banyak. Semisal laboratorium perusahaan farmasi, jamu dan berbagai Universitas.
Saat ini Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor selalu melakukan suplai tikus putih untuk keperluan percobaan para siswa, dosen dan sebagian lainnya diekspor ke Jepang. Sihombing mengaku pernah menyuplai tikus putih sebanyak 100.000 ekor setiap 2 minggu kepada seorang eksportir yang bermukim di Jakarta. Umumnya tikus putih diekspor pada usia 1 hari dalam bentuk sudah dibekukan.
Selain sebagai binatang percobaan, tikus putih juga banyak diminati sebagai bahan pakan reptil. Merebaknya hobi satwa ternyata turut mendongkrak permintaan tikus putih. Satwa mungil ini digunakan sebagai pakan binatang peliharaan. Semisal ular, kura-kura, kodok amerika, dan burung pemakan daging. Ada ratusan bahkan ribuan pet shop yang membutuhkan pasokan rutin tikus putih sebagai salah satu barang daganggannya.
Menurut pengakuan Dodi pedagang binatang di Pasar Barito, setiap bulannya ia bisa melepas tikus putih sebanyak 500 ekor setiap hari. Tikus putih dewasa dijual seharga Rp 10.000, anak tikus putih seukuran ibu jari kaki seharga Rp 4.500. Sedangkan mencit dijual seharga Rp 3.000.
Ceruk pasar lain yang bisa ditembus yaitu kebun binatang. Mereka sangat butuh pasokan tikus putih sebagai bahan pakan satwa. Kebun binatang cenderung memilih tikus putih sebagai bahan pakan sebab relatif lebih murah bila dibanding dengan daging yang berasal dari binatang lain. Pasar yang sekarang mash terbuka lebar yaitu pehobi reptil. Untuk mengisi ceruk pasar ini, Anda harus dekat dengan komunitas pecinta reptil.
Tepung daging tikus juga banyak dibutuhkan untuk meramu ransum pakan ternak. Tujuannya untuk menambah kandungan protein. Dengan demikian produktifitas ternak bisa menjadi lebih baik.
Hasil persilangan antara tikus putih dengan tikus liar banyak di cari oleh oran Manado, Irian, Flores dan Tapanuli. Di sana tikus merupakan makanan khas. Sehingga tak heran jika binatang pengerat ini banyak dijajakan di pasar-pasar tradisional.
Rebut pangsa pasar
Tikus putih termasuk binatang bandel. Menu pakannya pun cukup sederhana. Jagung, kacang atau pur ayam sudah bisa membuat si Tikus puas dan sehat. “Pur ayam bisa dipilih yang paling murah harganya,”terang Sihombing sambil memegang seekor mencit putih hasil tangkarannya.
Sihombing membudidayakan tikus putih dalam wadah yang berupa nampan plastik. Ukurannya, panjang 40 cm, lebar 30 cm dan tinggi 18 cm. Nampan tersebut ditata secara berjajar dalam sebuah rak susun. Biar tikus tidak kabur, bagian atasnya ditutup kawat strimin.
Setiap wadah diisi 1 set tikus yang terdiri dari 4 induk betina dan 1 pejantan. Induk siap kawin berumur 70 hari. Sekitar 2 minggu kemudian tikus-tikus betina mulai hamil. Bayi lahir setelah 3 minggu berada dalam kandungan sang Induk. Seekor induk mampu melahirkan anak sebanyak 6 – 12 ekor. Produktifitas maksimal bisa dicapai jika didukung kondisi lingkungan dan menu pakan berkualitas. Suhu udara yang baik berkisar antara 27ºC – 28ºC.
Seusai menyusui, induk bisa langsung dikawinkan lagi. Tikus muda siap disapih pada usia 1 bulan. Saat itu pula mereka siap dipasarkan. Tikus dewasa dijual seharga Rp 4.000 per ekor. Namun sebaiknya Anda jangan terlalu berambisi mengeruk keuntungan terlalu besar dengan harga yang tinggi.
Supaya menang di pasar, aturlah siasat bersaing secara cermat. Semisal dengan membuat harga bersaing. Patoklah harga sedikit di bawah harga pasar. Semisal Rp 3500 atau Rp 3000 per ekor. Jangan takut! Harga lebih rendah tersebut tidak akan membuat Anda rugi. Justru sebaliknya, melalui strategi tersebut Anda dapat merebut jumlah pelanggan lebih banyak. Sehingga Anda bisa lebih cepat mengembangkan usaha. Kian besar usaha yang Anda miliki, berarti Anda bisa semakin berani mematok harga bersaing serendah mungkin tanpa takut merugi.
Siasat lain yang bisa dilakukan untuk menarik perhatian pasar yaitu dengan jalan memberi fasilitas pelayanan extra kepada pelanggan. Semisal potongan harga, bonus tambahan sejumlah tikus, atau kandang dalam setiap pembelian tikus putih dalam jumlah banyak. Anda juga harus aktif menawarakan tikus putih hasil tangkaran Anda. Tembuslah pasar melalui berbagai media. Semisal Internet.
Melalui metode pelayanan seperti itu, diharapkan Anda mampu merajai pasar. Selain itu Anda akan menjadi terhindar dari ancaman anjloknya harga akibat over produksi. Sebab, walau terdapat banyak jumlah tikus yang berdar di pasar, konsumen cenderung memilih membeli tikus putih dari peternakan Anda.
Nah, jangan sia-siakan peluang emas tersebut! Semoga sukses.
Risiko Usaha
Sebagus apapun sebuah peluang usaha, bukan berarti tak mengandung risiko. Sihombing menegaskan, kondisi kandang budidaya harus benar-benar diperhatikan. Kandang kotor bisa memicu terjangkitnya aneka penyakit. Semisal borok kulit yang diakibatkan jamur dan bakteri. Ketika dijual, tikus harus benar-benar dalam kondisi ekstra bersih dan sehat. Apalagi tikus yang hendak dijual sebagai bahan penelitian.
Kendala berikutnya yaitu aroma tak sedap yang timbul dari kotoran maupun pipis tikus. Hal itu bisa diatasi dengan jalan menyuguhkan ransum yang sudah dicampur serbuk zeolit atau minuman yang sudah dicampur kunyit. Dosis serbuk zeolit sebesar 5%. Sedangkan kunyit 2,5%.
Harga jual tikus
Jenis Rat (besar ) Rp 10.000 – 12.000
Jenis mice (kecil ) Rp 3.500 – 4.000
Sumber :
http://lumbungusaha.wordpress.com/2011/05/19/budidaya-tikus-putih/
Monday, March 18, 2013
Raup Rupiah dari Tikus Putih
Tikus atau binatang pengerat sebagian besar dinilai warga sebagai hewan menggelikan dan menjijikkan. Namun siapa sangka, di tangan seorang buruh tani di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tikus ini bisa dijadikan kegiatan usaha yang mampu mendatangkan keuntungan hingga jutaan rupiah.
Adalah Singgih, buruh tani asal Desa Balesari Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang Jawa Timur, yang telah berhasil membudidayakan tikus putih. Atau dalam bahasa latin dikenal dengan nama Rattus Norvegicus.
Awalnya, pada 2010 lalu pria berusia 41 tahun itu tertarik berternak tikus putih usai melihat pameran budidaya hewan di balai desa. Singgih tertarik berternak tikus putih, karena selain bibit mudah didapat, tikus putih juga jarang sakit.
Dengan modal awal hanya 80 ekor tikus putih, dalam waktu satu tahun, tikus putihnya telah berkembang hingga mencapai 2.700 ekor tikus.
Menurut Singgih, tikus putih tergolong hewan pemakan segala sehingga pakan mudah didapat, seperti pelet burung, ubi-ubian, rumput, dan sayuran.
Namun tikus putih ini tergolong hewan pengerat doyan makan, karena dalam satu bulan mampu menghabiskan empat karung pelet burung, dengan biaya sekira Rp 1 juta.
Sementara itu, dalam satu bulan, peternak bisa menjual 500 ekor tikus putih yang berusia mulai 25 hari dengan harga Rp 1.500 per ekor. Sementara tikus putih dewasa berukuran sedang dijual mulai Rp 3 ribu - Rp 4 ribu per ekornya.
Dalam satu bulan, peternak mampu meraup keuntungan hingga Rp 2 juta dari penjualan tikus putih ini di beberapa kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. Umumnya, tikus putih ini diminati oleh pecinta reptil sebagai pakan dan sebagai sarana penelitian biomedis, pengujian, dan pendidikan.
Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/10278-raup-rupiah-dari-tikus-putih.html
Adalah Singgih, buruh tani asal Desa Balesari Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang Jawa Timur, yang telah berhasil membudidayakan tikus putih. Atau dalam bahasa latin dikenal dengan nama Rattus Norvegicus.
Awalnya, pada 2010 lalu pria berusia 41 tahun itu tertarik berternak tikus putih usai melihat pameran budidaya hewan di balai desa. Singgih tertarik berternak tikus putih, karena selain bibit mudah didapat, tikus putih juga jarang sakit.
Dengan modal awal hanya 80 ekor tikus putih, dalam waktu satu tahun, tikus putihnya telah berkembang hingga mencapai 2.700 ekor tikus.
Menurut Singgih, tikus putih tergolong hewan pemakan segala sehingga pakan mudah didapat, seperti pelet burung, ubi-ubian, rumput, dan sayuran.
Namun tikus putih ini tergolong hewan pengerat doyan makan, karena dalam satu bulan mampu menghabiskan empat karung pelet burung, dengan biaya sekira Rp 1 juta.
Sementara itu, dalam satu bulan, peternak bisa menjual 500 ekor tikus putih yang berusia mulai 25 hari dengan harga Rp 1.500 per ekor. Sementara tikus putih dewasa berukuran sedang dijual mulai Rp 3 ribu - Rp 4 ribu per ekornya.
Dalam satu bulan, peternak mampu meraup keuntungan hingga Rp 2 juta dari penjualan tikus putih ini di beberapa kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. Umumnya, tikus putih ini diminati oleh pecinta reptil sebagai pakan dan sebagai sarana penelitian biomedis, pengujian, dan pendidikan.
Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/10278-raup-rupiah-dari-tikus-putih.html
Subscribe to:
Posts (Atom)












