Showing posts with label Sayuran Buah. Show all posts
Showing posts with label Sayuran Buah. Show all posts

Wednesday, May 29, 2013

Teknik Budidaya Tanaman Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.)

Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) adalah komoditas hortikultura yang penting baik karena harganya yang cukup baik maupun penggunanya dalam konsumsi masyarakat. Tomat dapat dikonsumsi sebagai sayur atau buah segar maupun dikonsumsi dalam bentuk olahan seperti saus tomat.

Secara umum tomat dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi. Tomat menghendaki tanah yang gembur, porus, subur dengan kemasaman tanah (pH) antara 5 – 6, curah hujan 750-1. 250 mm/tahun dan kelembaban relatif 25%.

Teknis budidaya tomat dapat berbeda-beda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain tergantung kondisi lahan, ketinggian tempat, kondisi agroklimat, kebiasan dan kemampuan petani yang bersangkutan serta pembiayaan yang tersedia. Oleh karena penting sebelum mengusahakan tomat secara intensif harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan petugas teknis atau penyuluh pertanian setempat, namun secara umum teknis budidaya tomat secara singkat dapat kami sampaikan sebagai berikut :


Persiapan Lahan

Pilihlah lahan yang gembur dan subur dengan pengairan yang baik. Pilih juga lahan yang sebelumnya tidak ditanami dengan tomat atau tanaman lain yang masih dalam satu famili Solanaceae seperti cabai, terong, tembakau atau kentang untuk memutus siklus organisme pengganggu tanaman (OPT) .

Tanah diolah sempurna, apabila pH tanah rendah tambahkan kapur pertanian dengan takaran 150 kg per 1. 000 meter persegi , disebar dan diaduk rata bersamaan dengan pengolahan tanah. Kemudian dibuat bedengan dengan lebar 120 – 160 cm untuk barisan ganda dan 40-50 cm untuk barisan tunggal. Diantara bedengan dibuat parit dengan lebar 20-30 cm dengan kedalaman 30 cm.

Pupuk dasar perlu diberikan, biasanya terdiri dari 4 kg Urea/ZA, 7,5 kg TSP dan 4 kg KCl untuk setiap 1. 000 meter persegi atau jika memakai Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) takaranya kurang lebih 20 kg per 1000 meter persegi. Pupuk dasar dicampur merata dengan tanah di atas bedengan dan biarkan selama 5-7 hari sebelum tanam. Lubang tanam dibuat dengan ukuran diameter kurang lebih 10 cm sedalam 15 cm dengan jarak antar lubang tanam 60 x 80 cm atau 60 x 50 cm di atas bedengan.

Persemaian

Pilih benih tomat dari varietas unggul yang telah direkomendasikan. Siapkan media tanam yang merupakan campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1, kemudian masukkan dalam polibag. Masukkan benih satu per satu dalam polibag dan tutup tipis dengan tanah halus.

Setelah benih berumur 8-10 hari , pilih bibit yang baik, tegar dan sehat dipindahkan dalam bumbunan daun pisang atau dikepeli yang berisi campuran media tanam. Penyiraman dilakukan setiap hari (lihat kondisi tanah). Bibit berdaun 5-6 helai daun (25-30 HSS=hari setelah semai) pindahkan ke lapangan.

Tanam

Tanam dilakukan pada saat bibit berumur 3 – 4 minggu dengan daun 5-6 helai. Tanam sebaiknya dilakukan pada sore hari. Buka polibag terlebih dahulu, kemudian masukan bibit pada lubang tanam sampai batas pangkal batang, ditimbun dengan tanah dengan agak ditekan dan siram dengan air.

Untuk bibit yang mati, rusak atau pertumbuhan nya tidak normal lakukan penyulaman maksimal sampai tanaman berumur 2 minggu setelah tanam (MST) dan lakukan pengairan/penyiraman setap hari sampai tanaman tumbuh normal. Segera pasang ajir agar tidak merusak perakaran tanaman dengan ketinggian ajir 1 – 1,5 m.

Pemupukan Tanaman.

Pemupukan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 1 MST dengan Urea dan KCl dengan perbandingan 1 : 1 dengan takaran 1-2 gram per tanaman. Pupuk diberikan 3 cm di sekeliling tanaman, tutupkembali dengan tanah dan siram air. Pemupukan kedua dilakukan umur 2-3 MST dengan pupuk yang sama dengan takaran 5 gr , diberikan 5 cm sekeliling batang tanaman. Pemupukan selanjutnya dilakukan pada saat tanaman berumur 4 MST dengan pupuk yang sama dengan takaran 7 gram per tanaman, diberikan 7 cm sekeliling tanaman. Pupuk organik cair dapat diaplikasikan setiap 7 hari sekali dengan cara disemprotkan dengan takaran sesuai rekomendasi.

Penyiangan dan Pembumbunan.

Penyiangan dan pembumbunan dilakukan pada saat tanaman berumur 28 hari setelah tanam (HST) bersamaan dengan penggemburan dan pemupukan susulan diikuti pengguludan tanaman. Penyiangan dan pembmbunan selanjutnya dilakukan pada saat tanaman berumur 40 – 45 HST.

Pengajiran

Untuk menopang tanaman agar tidak mudah roboh, tanaman yang telah mencapai ketinggian 10 – 15 cm harus segera diikat pada ajir. Pengikatan diakukan kembali setiap tanaman bertambah tinggi kurang lebih 20 cm. Tanaman diikat dengan bentuk seperti angka 8 dengan tali plastik (rafia/rumput jepang), sehingga tanaman tidak rusak tergesek oleh ajir.

Pembuangan Tunas / Perempelan.

Perempelan atau pembuangan tunas yang tidak produktif dilakukan setiap minggu dan hanya mempertahankan 3 cabang utama untuk setiap tanaman. Perempelan ini bertujuan untuk merangsang pembungaan pada saat tanaman berumur 32 HST. Sebaiknya perempelan dilakukan pada pagi hari agar luka cepat mengering sehingga tidak menjadi tempat masuknya penyakit.

Ketinggian tanaman dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman apabila jumlah dompolan buah mencapai 5-7 buah

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Beberapa jenis OPT penting yang menyerang tanaman tomat antara lain Ulat buah (Helicoperva armigera dan Heliothis sp.), Lalat buah (Brachtocera atau Dacus sp.), Aphid, Trips, Nematoda, penyakit yang disebabkan oleh cendawan seperti layu fusarium, bercak daun, busuk daun dan Antraknosa.

Berkaitan dengan banyaknya jenis OPT yang menyerang tanaman tomat ini, maka secara lengkap jenis OPT dan cara-cara pengendalianya akan di bahas secara khusus dalam tulisan – tulisan selanjutnya.

Panen dan Pasca Panen.

Tomat dapat dipanen apabila kulit tomat telah berubah warna dari hijau menjadi kekuning-kuningan. Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari dengan interval panen antara 2-3 hari sekali. Setelah dipetik buah segera dimasukan ke wadah angkut dan letakkan ditempat yang teduh.

Monday, May 27, 2013

Penanganan Panen dan Pasca Panen pada Tanaman Kacang Panjang

Seperti sifat sayuran pada umumnya, kacang panjang merupakan komoditi yang tidak tahan lama, mudah busuk dan cepat menurun kualitasnya. Untuk melindungi hasil panen dari kerusakan dan mempertahankan kualitas produk agar dapat diterima konsumen dalam keadaan segar maka perlu dilakukan penanganan panen dan pasca panen. Penanganan panen dan pascapanen sebaiknya dilakukan secara cermat dan hati-hati agar diperoleh hasil yang baik.

A. Panen
Perlakuan panen akan mempengaruhi hasil serta proses penanganan selanjutnya. Penanganan panen yang baik akan memberikan kualitas produksi yang baik pula. Dalam pemanenan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain usia panen dan cara panen.

 

1. Ciri dan Umur panen
Panen kacang panjang dibedakan 2 macam, yaitu panen polong muda dan panen polong tua atau biji-bijinya.
Panen Polong Muda. Pada umumnya pemanenan polong muda kacang panjang pertama kali dapat dilakukan setelah berumur 45 hari. Umur panen ini tergantung pada varietas, musim dan tinggi rendahnya daerah penanaman. Polong muda sudah dapat dipanen sesudah terisi penuh dan warna polongnya hijau merata sampai hijau keputihan. Polong yang muda mudah dipatahkan. Semakin tua polong akan semakin liat, berserat, dan warnanya menguning. Oleh karena itu, pemanenan sebaiknya tidak sampai terlambat. Polong yang terlambat dipanen kurang baik untuk disayur dan tidak dapat dipasarkan.

Pemanenan umumnya dilakukan pada pagi hari dan setelah dipanen biasanya kacang panjang langsung dipasarkan pada siang atau sore harinya. Untuk mendapatkan kacang panjang segar yang berkualitas baik, polong harus dipanen dengan selang waktu tiga hari sekali. Setelah tanaman berumur sekitar 3-3,5 bulan pemanenan dihentikan, pada saat itu biasanya buahnya sudah habis.

Panen Polong Tua. Dilakukan untuk kacang panjang tipe tegak seperti kacang tunggak dan kacang uci. Ciri-ciri kacang siap dipanen adalah polongnya telah cukup tua, biji-biji menonjol dan kulit luar berwarna hijau kekuningan. Umur panen 3-3,5 bulan dan waktu panen pada pagi atau sore hari.

2. Cara Panen
Pemanenan kacang panjang dilakukan dengan cara memetik yaitu dengan memutar bagian pangkal polong agar polong terlepas seluruhnya dan tidak menimbulkan luka yang besar. Panen dengan memutar hingga seluruh polong terlepas dari tangkainya dapat merangsang pembentukan buah baru lebih cepat. Cara panen dengan memetik di bagian pangkal polong dapat meningkatkan hasil sampai 25%. Apabila panen dilakukan dengan menyisakan sedikit polong pada tiap tangkai akan menghasilkan 2-4 buah. Namun bila seluruh polong dipetik, tanaman mampu menghasilkan 4-6 polong tiap tangkai.

Biasanya pemetikan polong dapat dilakukan 5-15 kali, sampai polongnya habis semua. Untuk kacang panjang tipe tegak, pemanenan dengan cara mencabut atau memotong pangkal batang tanaman setinggi 10-15 cm dari permukaan tanah. Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan ditempat penampungan, dicuci dan ditiriskan sedangkan untuk kacang polong tua, setelah dikumpulkan, dikeringkan dengan dijemur.

B. Penanganan Pasca Panen

Penanganan pasca panen kacang panjang antara lain sortasi, pengemasan dan pengangkutan.  

1. Sortasi.
Tidak semua kacang yang telah dipanen layak dipasarkan, sehingga perlu disortasi atau pemilahan berdasarkan kualitas dan keseragaman, Polong kacang panjang dipilah antara yang baik dan yang cacat. Polong yang cacat berbintik hitam, berlubang, atau busuk disisihkan. Ukuran sasaran ekspor, kriteria ketuaan paling muda yaitu ukuran polong sesuai permintaan pasar, tingkat ketuaan polong tergolong muda, penampilan biji tidak menonjol dan berwarna hijau dan segar. Sedangkan polong tua yang sudah kering dipisahkan dari kulit polong dan biji dikeringkan sampai 12%-14% kadar airnya. Untuk pasar tradisional, sortasi kurang diperhatikan karena pasar tradisional tidak menuntut keseragaman kualitas yang baik sedangkan pasar swalayan yang menghendaki produk yang seragam dan baik kualitasnya.

2. Pengemasan
Pengemasan bertujuan untuk memudahkan dalam pengangkutan. Kacang panjang yang akan dipasarkan di pasar tradisional biasanya tidak dikemas secara khusus. Pengemasan dilakukan sederhana dalam bentuk ikatan besar atau kecil yang beratnya sekitar 250-2.000 gram tiap ikat. Ikatan kacang panjang biasanya menggunakan tali rafia atau tali bambu. Ikatan dikemas dalam karung goni yang berventilasi atau dalam kantong plastik polyelene. Setelah diikat, sayuran langsung disusun pada kendaraan pengangkut. Penyusunan diatur agar tumpukan tidak terlalu padat karena akan merusak sayuran. Apabila kacang panjang akan dipasarkan untuk jarak jauh, sebaiknya dikemas dalam peti, keranjang bambu atau plastik agar tidak cepat rusak.
Untuk konsumsi pasar swalayan, kacang panjang juga dikemas sederhana. Setiap kelompok diikat dengan plastik isolasi dan diberi label. Ikatan-ikatan tersebut dimasukkan ke dalam keranjang plastik, selanjutnya siap dipasarkan.

Untuk polong tua dikemas dalam kaleng yang tertutup rapat, sebelumnya dimasukkan ke dalam wadah sebaiknya dicampur dulu dengan minyak jagung supaya terlindung dari hama penggerek.

3. Pengangkutan

Untuk pemasaran jarak jauh diusahakan sayuran terlindung dari sinar matahari dan hujan agar tidak cepat layu atau busuk. Sebaiknya kacang panjang yang selesai dipanen langsung diangkut agar diterima konsumen dalam keadaan masih segar.

Sumber :
  1. Eko Haryanto, T. Suhartini, Ester Rahayu, "Budidaya Kacang Panjang", 2008
  2. Cybex Deptan 

Teknis Budidaya Tanaman Kacang Panjang (Vigna Sinensis)

Sayuran berbentuk panjang ini biasa kita jumpai pada panganan khas Indonesia berupa Urab, Gado-gado, Oseng kacang panjang hingga Lalapan. Selain enak untuk di makan, makanan ini juga dipercaya dapat menyembuhkan kencing manis, rematik, arthritis, dan gangguan saluran kemih.

Kacang panjang atau vigna sinensis, mudah ditemukan di ladang, di kebun, pekarangan rumah, di sawah atau sebagai selingan tanaman palawija lainnya. Perawatannya yang gampang, menjadikan tumbuhan yang satu ini mudah ditanam. Pada kacang panjang yang masih muda bila dimakan terasa renyah dan enak dilalap mentah. 

Selain sebagai masakan, ternyata Kacang Panjang juga dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan untuk mengobati beberapa penyakit seperti diantaranya : antikanker, kanker payudara, leukemia, antibakteri, antivirus, antioksidan, gangguan saluran kencing, peluruh kencing, batu ginjal, mencegah kelainan antibodi, meningkatkan fungsi limpa, meningkatkan penyatuan DNA dan RNA, meningkatkan fungsi sel darah merah, beri-beri, demam berdarah, kurang darah, sakit pinggang, rematik, pembengkakan, meningkatkan nafsu makan, dan sukar buang air besar.

Kacang Panjang adalah sumber protein yang baik, vitamin A, thiamin, riboflavin, besi, fosfor, kalium, vitamin C, folat, magnesium, dan mangan.
Nilai gizi kacang panjang (mentah) per 100 g (3.5 oz)
Energi 196 kJ (47 kcal)
Karbohidrat 8 g
Diet serat 3,6 g
Lemak 50 g
Protein 200 g

Persentase yang relatif ke US rekomendasi untuk orang dewasa. Sumber: USDA Nutrient database

Dalam ukuran porsi 100 gram kacang terdapat 47 kalori, 50 gram lemak total, kolesterol 0 mg, natrium 4 mg (0% nilai harian), 8 gram karbohidrat total (2% nilai harian), dan 3 gram protein (nilai harian 5%). Ada juga 17% DV vitamin A, 2% DV besi, 31% DV vitamin A, dan 5% DV kalsium. (Persen nilai harian berdasarkan diet 20000 kalori nilai harian individu bisa lebih tinggi atau lebih rendah tergantung pada kebutuhan kalori masing-masing.)

I. Persiapan Lahan
Sebelum ditanami lahan dilakukan pembajakan dan digaru, untuk memperoleh struktur tanah yang gembur dan remah. Kemudian dibuat bedengan dengan ukuran 1-1,2 m atau dibentuk guludan dengan jarak antar guludan 1 m.
Gambar 1.2 Bedengan untuk Menanam Kacang Panjang

II. Penanaman

Kebutuhan benih kacang panjang 21 - 23 kg/ha, khusus untuk varietas KP-01 10,5 kg/ha karena jarak tanam KP-01 lebih besar dan berat bijinya lebih ringan. Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dibuatkan lubang tanam dengan cara ditugal dengan jarak dalam barisan 25 cm dan antar barisan 1 m. Perlubang tanam diisi 2 biji, hal ini dimaksudkan dalam satu lanjaran maksimal 4 tanaman. Setelah itu biji ditanam, ditutup dengan tanah/pupuk kandang yang sudah lembut/remah atau bisa juga dengan abu.


III. Pemeliharaan Tanaman

3.1. Pemupukan
  1. Pemupukan pertama ( I ) dilakukan umur ± 12 hari dengan dosis ZA = 50 kg/ha, SP-36 = 100 kg/ha, KCL = 50 kg/ha. Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal, jaraknya 5 cm dari lubang tanam. Kemudian ditutup dengan tanah.
  2. Pemupukan kedua ( II ) dilakukan umur ± 28 hari dengan pupuk NPK = 200 kg/ha dengan jarak 10 cm dari lubang tanam. 
  3. Pemupukan ketiga ( III ) dilakukan umur ± 40 hari juga dengan pupuk NPK = 200 kg/ha dengan jarak 10 cm dari lubang tanam.

3.2. Pemasangan Lanjaran
Pemasangan lanjaran dilakukan 10-15 hari setelah tanam ( hst ), kira-kira tinggi tanaman 15-25 cm. Pemasangan lanjaran diantara 2 lubang tanam sehingga jarak antar lanjaran 50 cm. Setiap 5 lanjaran perlu ditambah lanjaran/diperkuat, dengan cara dipasang silang.

3.3. Pemasangan Tali

Pemasangan tali dilakukan setelah pemasangan lanjaran selesai. Tali berguna membantu mengarahkan/merambatkan tanaman. Pemasangan tali ada dua tahap. Tahap I pada ketinggian ± 70 cm dari lanjaran. Tahap II pada ketinggian ± 150 cm dari lanjaran

Gambar 1.3 Lanjaran Kacang Panjang dengan Tali


3.4. Merambatkan

style="text-align: justify;"> Membantu merambatkan bertujuan untuk mengarahkan pertumbuhan tanaman baik pucuk tanamn maupun cabang-cabang tanaman. Diharapkan tanaman merambat pada lanjaran dan tali yang telah dipasang, sehingga buah/polong tidak tergeletak di tanah.

Gambar 1.4 Rambata Kacang Panjang pada Lanjaran

3.5. Penyiangan

Penyiangan dilakukan sebelum dilakukan pemupukan, atau dilakukan sewaktu-waktu saat gulma sudah mengganggu pertumbuhan tanaman.

3.6. Pengairan

Pengairan diberikan sesuai kebutuhan, yang terpenting dijaga agar tanaman tidak kelebihan atau kekurangan air. Pengairan sebaiknya dilakukan setelah pemupukan dilakukan. Sedangkan pada musim hujan, pengairan cukup dari air hujan.

3.7. Cek Offtype (Tipe Simpang)

Dilakukan setelah tanaman keluar polong. Dari polong bisa dibedakan dari warna dan panjang polong. Bila polong sudah tua, polong dapat dipecah untuk melihat ada tidaknya CVL dari warna polong.

 

IV. Hama dan Penyakit

4.1. Hama dan Pengendaliannya


Hama-hama tanaman kacang panjang adalah :

4.1.1. Thrips

Thrips menyerang bagian pucuk tanaman sehingga tanaman menjadi keriting dan kering, sering juga menyerang tunas atau pucuk, sejak tanaman masih kecil hingga besar. Ciri tanaman dewasa dapat berakibat kerontokan pada bunga dan serangan terjadi pada musim kemarau. Pengendalian thrips dengan menggunakan pestisida Winder, Promectin, Agrimec, Confidor dll dengan dosis sesuai anjuran.

4.1.2. Tungau (Mites)
Tanaman yang terserang tungau akan tampak dari daun-daun yang menggulung ke bawah, dan warnanya hijau kehitaman. Dalam kondisi parah, tanaman dapat mengalami kerontokan daun. Pengendalian dengan menggunakan Samite, Omite, Mitac dengan dosis sesuai anjuran.

4.1.3. Aphids sp.

Serangan Aphids sp. hampir sama dengan serangan thrips, hanya, bedanya jika pada serangan Aphids, daun menjadi hitam karena tumbuh jamur jelaga yang tumbuh pada kotoran Aphids. Apids dapat dikendalikan dengan Winder, Supracide dll, dengan dosis sesuai anjuran.

4.1.4. Ulat Polong.

Hama ulat bunga menyebabkan kerontokan pada bunga. sedangkan ulat polong menyebabkan kerusakan pada bagian polong. Kerusakan ini menimbulkan pembusukan bagian tersebut akibat aktifitas mikoorganisme yang berasal dari kotoran ulat tersebut. Hama-hama ini dapat dikendalikan dengan menggunakan Winder dengan dosis sesuai dengan rekomendasi.


4.2. Penyakit dan Pengendaliannya

4.2.1 .Penyakit layu

Penyakit ini bias disebabkan oleh jamur Pytium maupun oleh bakteri Pseudomonas sp. Penyakit ini dapat dicegah dengan kocor dengan Kocide 77, maupun dengan semprot. Sedangkan pengendalian bakteri dengan kocor Bactomycin atau Agrimycin dengan dosis sesuai anjuran.


V. Panen dan Pasca Panen
 

Panen dilakukan setelah polong berwarna coklat dan umur tanaman sekitar 60-70 hari. Panen dilakukan dengan memetik polong yang sudah tua dan biji sudah mulai megeras. Kemudian dijemur diatas terpal atau dibuatkan para-para ditempat yang panas. Setelah kering dipipil dengan alat perontok, biji juga dengan cara manual yaitu dupukul/digebug. Biji hasil pipilan dikeringkan lagi dan disortir, untuk memisahkan biji yang baik dengan biji yang jelek (berlubang, kepeng, kecil).

Teknik Budidaya Tanaman Terong

PENDAHULUAN

Terung merupakan tanaman asli India dan Srilanka, dan satu famili dengan tomat dan kentang. Kandungan gizinya cukup tinggi, meliputi protein, lemak, kalsium, fosofr, besi, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C. Memiliki kadar kalium yang tinggi sekitar 217 mg/100 gr (kalium sangat penting bagi sistem saraf dan kontraksi otot, menjaga keseimbangan elektrolit tubuh), sedangka natrium rendah (3 mg/100 g). Dengan demikian buah terung sangat baik bagi kesehatan, yaitu untuk mencegah hipertensi. Kandungan serat terung sekitar 2,5 gr per 100 gram, sehingga sangat baik bagi pencernaan.

JENIS-JENIS TERUNG
Terung banyak macamnya antara lain terung gelatik yang sering disebut terung lalap, terung kopek dengan ciri buahnya yang panjang, terung craigi yang buahnya berbentuk bulat panjang ujung meruncing , terung jepang dengan buah bulat dan panjang silindris, terung medan yang buahnya bulat panjang dan berukuran mini, terung bogor yang bentuknya bulat besar berwarna keputih-putihan, dan masih banyak lagi jenis-jenis terung yang lainya.

SYARAT TUMBUH
  1. Dapat tumbuh di dataran rendah tinggi
  2. Suhu udara 22 – 30o C
  3. Jenis tanah yang paling baik, jenis lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, aerasi dan drainase baik dan pH antara 6,8-7,3
  4. Sinar matahari harus cukup
  5. Cocok ditanam musim kemarau

PERSEMAIAN
  1. Tanah persemaian dicampur pupuk kandang sebanyak 2 kg/m2
  2. Sebar benih, tetapi jangan terlalu rapat
  3. Tutup benih dengan tanah tipis, tutup dengan karung goni
  4. Umur 10 – 15 hari pindahkan ke bumbunan daun pisang
  5. Dibuat naungan dengan tinggi sebelah Timur 100 – 150 cm, sebelah Barat 80 – 100 cm
  6. Setelah berumur 1-1,5 bulan, pindahkan ke kebun (berdaun empat)
  7. Kebutuhan benih untuk 1 ha = 500 gram

PENANAMAN
  1. Waktu tanam yang baik musim kering
  2. Pilih bibit yang tumbuh subur dan normal
  3. Tanam bibit di lubang tanam secara tegak lalu tanah di sekitar batang dipadatkan
  4. Siram lubang tanam yang telah ditanami hingga cukup basah (lembab)



Gambar 1.1 Bedengan Tanpa Mulsa



Gambar 1.2 Bedengan dengan Mulsa


    Pemilihan media tanam merupakan aspek yang harus diperhatikan, hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam proses pemeliharaan tanaman dari gulma penganggu. Penggunaan plastik mulsa merupakan alternatif yang paling baik,hal ini dikarenakan proses perawatan menjadi lebih mudah, namun untuk menggunakan plastik mulsa ini kita harus merogo kocek yang lumayan, akan tetapi plastik mulsa dapat digunakan 2-3x proes penanaman.

    PENGAIRAN

    Dilakukan rutin tiap hari, terutama pada fase awal pertumbuhan dan cuaca kering, dapat di-leb atau disiram dengan gembor

    PENYULAMAN
    1. Sulam tanaman yang pertumbuhannya tidak normal, mati atau terserang hama penyakit
    2. Penyulaman maksimal umur 15 hari

    PEMASANGAN AJIR (TURUS)
    1. Lakukan seawal mungkin agar tidak mengganggu (merusak) sistem perakaran
    2. Turus terbuat dari bilah bambu setinggi 80-100 cm dan lebar 2-4 cm
    3. Tancapkan secara individu dekat batang
    4. Ikat batang atau cabang terong pada turus

    PENYIANGAN
    1. Rumput liar atau gulma di sekitar tanaman disiangi atau dicabut
    2. Penyiangan dilakukan pada umur 15 hari dan 60-75 hari setelah tanam

    PEMUPUKAN
    Jenis dan Dosis Pupuk Makro disesuaikan dengan jenis tanah, varietas dan kondisi daerah menurut acuan dinas pertanian setempat. Berikut salah satu alternatif :

    Tabel 1.1 Jenis dan Dosis Pupuk Makro pada Tanaman Terong
    Jenis Pupuk
    Pemupukan Susulan (kg/ha)
    Umur 15 hari
    Umur 25 hari
    Umur 35 hari
    Umur 45 hari
    Urea
    75
    75
    75
    75
    SP-36
    50
    -
    -
    -
    KCl
    -
    75
    100
    75


    PEMANGKASAN ( PEREMPELAN )

    Pangkas tunas-tunas liar yang tumbuh mulai dari ketiak daun pertama hingga bunga pertama juga dirempel untuk merangsang agar tunas-tunas baru dan bunga yang lebih produktif segera tumbuh

     
    PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT
    1. HAMA 
    1. Kumbang Daun (Epilachna spp.)
    2. Kutu Daun (Aphis spp.)
    3. Tungau ( Tetranynichus spp.)
    4. Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn.)
    5. Ulat Grayak (Spodoptera litura, F.)
    6. Ulat Buah ( Helicoverpa armigera Hubn.)
    2. PENYAKIT
    1. Layu Bakteri
    2. Busuk Buah
    3. Bercak Daun
    4. Antraknose
    5. Busuk Leher akar
    6. Rebah Semai

    Catatan :
    Cara dari pengendalian hama dan penyakit bisa digunakan pestisida yang cocok, semua bisa disesuaikan dengan gejala serangan dan jenis hama dan penyakit yang menyerang, Disini Dunia Pertanian tidak menyebutkan merek dagang dari beberapa pestisida yang digunakan dalam pembasmian hama dan penyakit pada budidaya tanaman terung.

    PEMANENAN
     Gambar 1.3 Proses Pemanenan Tanaman Buah Terong
    1. Buah pertama dapat dipetik setelah umur 3-4 bulan tergantung dari jenis varietas
    2. Ciri-ciri buah siap panen adalah ukurannya telah maksimum dan masih muda.
    3. Waktu yang paling tepat pagi atau sore hari.
    4. Cara panen buah dipetik bersama tangkainya dengan tangan atau alat yang tajam. 
    5. Pemetikan buah berikutnya dilakukan rutin tiap 3-7 hari sekali dengan cara memilih buah yang sudah siap dipetik.

    Thursday, May 23, 2013

    Teknik Budidaya Tanaman Timun (Cucumis Sativus L)

    I.  PENDAHULUAN
    Mentimun, timun, atau ketimun (Cucumis sativus L.); suku labu-labuan atau Cucurbitaceae) merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah yang dapat dimakan. Buahnya biasanya dipanen ketika belum masak benar untuk dijadikan sayuran atau penyegar, tergantung jenisnya. Mentimun dapat ditemukan di berbagai hidangan dari seluruh dunia dan memiliki kandungan air yang cukup banyak di dalamnya sehingga berfungsi menyejukkan. Potongan buah mentimun juga digunakan untuk membantu melembabkan wajah serta banyak dipercaya dapat menurunkan tekanan darah tinggi. 


    II. SYARAT PERTUMBUHAN
    2.1. Iklim
    Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1 - 26,7)°C dan tidak banyak hujan. Ketinggian optimum 1.000 - 1.200 mdpl.

    2.2. Media Tanam
    Tanah gembur, banyak mengandung humus, tata air baik, tanah mudah meresapkan air, pH tanah 6-7.


    III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
    3.1. Pembibitan.
    1. Siapkan tanah halus yang telah dicampur pupuk kandang dan masukkan polybag.
    2. Rendam benih menggunakan Regent red sekitar ±15 menit.
    3. Peram selama 12 jam. Setiap benih yang berkecambah dipindahkan ke polibag sedalam 0,5-1 cm.
    4. Polybag dinaungi plastik bening dan bibit disiram dua kali sehari.
    5. Setelah berumur 12 hari atau berdaun 3-4 helai, bibit dipindahkan ke kebun.

    3.2. Pengolahan Media Tanam
    1. Bersihkan lahan dari gulma, rumput, pohon yang tidak diperlukan.
    2. Kemudian tanah di olah baik menggunakan bajak atau cangkul,
    3. Berikan kalsit/dolomit (pH tanah <6>)
    4. Tanah yang sudah diolah tadi dibuat guludan dengan tinggi 50 cm, lebar 120 cm, jarak antar guludan 40 cm. Pemakaian mulsa plastik disarankan untuk mendapat hasil yang lebih baik.

    3.3. Penanaman
    1. Siram bibit dalam polibag dengan air
    2. Keluarkan bibit bersama medianya dari polibag.
    3. Tanamkan bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar batang.-

    3.4. Pemeliharaan Tanaman
    1. Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang baik.
    2. Bersihkan gulma (bisa bersama waktu pemupukan).
    3. Pasang ajir pada 5 hst ( hari setelah tanam ) untuk merambatkan tanaman.
    4. Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3 minggu setelah tanam pada pagi atau sore hari.

    Pengairan dan Penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30 menit. -Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.

    3.5. Pemupukan:

    Pupuk dasar diberikan 4 - 7 hari sebelum tanam, yaitu SP - 36 20 g/tan. Dan ZK plus 10 g/ tanaman.


    3.6. Hama dan Penyakit
    3.6.1. Hama

    a. Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver).
    Kumbang daun berukuran 1 cm dengan sayap kuning polos. Gejala : merusak dan memakan daging daun sehingga daun bolong; pada serangan berat, daun tinggal tulangnya. Pengendalian Semprot dengan Fastac dengan kosentrasi : 2 ml/l air

    b. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
    Ulat ini berwarna hitam dan menyerang tanaman terutama yang masih muda. Gejala: Batang tanaman dipotong disekitar leher akar.pengendalian dengan Ripcord kosentrasi 2ml/l air.

    c. Lalat buah (Dacus cucurbitae Coq.)
    Lalat dewasa berukuran 1-2 mm. Lalat menyerang mentimun muda untuk bertelur, Gejala: memakan daging buah sehingga buah abnormal dan membusuk. Pengendalian : Natural METILAT atau dengan perangkap petrogenol.

    d. Kutu daun (Aphis gossypii Clover)
    Kutu berukuran 1-2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Gejala: menyerang pucuk tanaman sehingga daun keriput, kerititing dan menggulung. Kutu ini juga penyebar virus. Pengendalian : semprot dengan Rampage Kosentarasi 0,5 ml/l air.


    3.6.2. Penyakit
    a. Busuk daun (Downy mildew)
    Penyebab : Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menginfeksi kulit daun pada kelembaban udara tinggi, temperatur 16 - 22°C dan berembun atau berkabut. 
    Gejala : daun berbercak kuning dan berjamur, warna daun akan menjadi coklat dan busuk. Pengendalian : semprot dengan Acrobat atau Cabrio Top.

    b. Penyakit tepung (Powdery mildew)
    Penyebab : Erysiphe cichoracearum. Berkembang jika tanah kering di musim kemarau dengan kelemaban tinggi. 
    Gejala : permukaan daun dan batang muda ditutupi tepung putih, kemudian berubah menjadi kuning dan mengering. 
    Pengendalian : semprot dengan Acrobat atau Cabrio Top.

    c. Antraknose
    Penyebab : cendawan Colletotrichum lagenarium Pass. 
    Gejala: bercak-bercak coklat pada daun. Bentuk bercak agak bulat atau bersudut-sudut dan menyebabkan daun mati; gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udara lembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah jambu. 
    Pengendalian : Semprot dengan Fungisida berbahan aktif Mancozeb atau simoksanil.

    d. Bercak daun bersudut
    Penyebab : cendawan Pseudomonas lachrymans. Menyebar pada saat musim hujan. 
    Gejala : daun berbercak kecil kuning dan bersudut; pada serangan berat seluruh daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering dan berlubang. 
    Pengendalian : Semprot dengan Fungisida berbahan aktif Mancozeb atau simoksanil.

    e. Virus
    Penyebab : Cucumber Mosaic Virus, CMV, Potato virus mosaic, PVM; Tobacco Etch Virus, TEV; otato Bushy Stunt Virus (TBSV); Serangga vektor adalah kutu daun Myzus persicae Sulz dan Aphis gossypii Glov. 
    Gejala : daun menjadi belang hijau tua dan hijau muda, daun berkerut, tepi daun menggulung, tanaman kerdil. 
    Pengendalian: dengan mengendalikan serangga vektor dengan Insektisida/akarisida Rampage, mengurangi kerusakan mekanis, mencabut tanaman sakit dan rotasi dengan famili bukan Cucurbitaceae.

    f. Kudis (Scab)
    Penyebab : cendawan Cladosporium cucumerinum Ell.et Arth. Terjadi pada buah mentimun muda. 
    Gejala : ada bercak basah yang mengeluarkan cairam yang jika mengering akan seperti karet; bila menyerang buah tua, terbentuk kudis yang bergabus. 
    Pengendalian : Fungisida Cabriotop atau Antracol.

    g. Busuk buah
    Penyebab : cendawan (1) Phytium aphinadermatum (Edson) Fizt.; (2) Phytopthora sp., Fusarium sp.; (3) Rhizophus sp., (4) Erwinia carotovora pv. Carotovora. Infeksi terjadi di kebun atau di tempat penyimpanan. 
    Gejala :
    1. Phytium aphinadermatum: buah busuk basah dan jika ditekan, buah pecah; 
    2. Phytopthora: bercak agak basah yang akan menjadi lunak dan berwarna coklat dan berkerut;
    3. Rhizophus: bercak agak besah, kulit buah lunak ditumbuhi jamur, buah mudah pecah; (4) Erwinia carotovora: buah membusuk, hancur dan berbau busuk. 

    Pengendalian: dengan menghindari luka mekanis, penanganan pasca panen yang hati-hati, penyimpanan dalam wadah bersih dengan suhu antara 5 - 7 derajat C. Pengendalian dengan menggunakan Fungisida Acrobat,Daconil atau fungisida lain yang sudah direkomendasi.

    3.7. Panen
    Ciri dan Umur Panen
    Buah mentimun muda lokal untuk sayuran, asinan atau acar umumnya dipetik 2-3 bulan setelah tanam, mentimun hibrida dipanen 42 hari setelah tanam Mentimun Suri dipanen setelah matang.

    Cara Panen
    Buah dipanen di pagi hari sebelum jam 9.00 dengan cara memotong tangkai buah dengan pisau tajam.

    Periode Panen
    Mentimun sayur dipanen 5 - 10 hari sekali tergantung dari varitas dan ukuran/umur buah yang dikehendaki.

    Sumber:
    • Balai Pengendalian Tanah, Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman, " Budidaya Tanaman Timun (Cucumis Sativus)", Bogor 2008