Showing posts with label Budidaya Jahe Merah. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Jahe Merah. Show all posts

Thursday, December 20, 2012

Mengenal Tanaman Jahe Merah

Gambar Tanaman Herbal Jahe Merah

Jahe merupakan salah satu tanaman obat yang dalam termasuk kelompok tanaman temu-temuan atau tumbuhan rumpun berbatang semu atau berimpang. Jahe memang sering digunakan untuk bahan rempah dalam menambah rasa dalam berbagai jenis makanan, minuman namun jahe juga banyak digunakan sebagai bahan campuran dalam membuat jamu olahan atau obat-obatan tertentu.

Jahe disinyalir berasak dari Asia pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karenanya kedua negara ini dianggap sebagai negara yang kali pertama memanfaatkan jahe sebagai bahan campuran dalam minuman, bumbu masak dan obat-obat tradisional.

Jahe merah masih dapat dikatakan termasuk dalam tanaman kelompok family tanaman seperti temulawak (Curcuma Xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galaga), lengkuas (Languas galaga) dll.

Jahe juga memiliki nama daerah di tiap daerah di Indonesia, seperti :
1. Aceh : Halia
2. Gayo : beeuing
3. Batak Karo : bahing
4. Minangkabau : sipodeh
5. Lampung : jahi
6. Jawa Barat : jahe
7. Jawa Tengah dan Bali : jae
8. Madura : jhai
9. Gorontalo : melito
10. Ternate : geraka

Klasifikasi tanaman jahe merah :
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Zingiber officinale

Ciri-ciri dari tanaman jahe merah :

1. Tanaman jahe merah memiliki batang semu, dengan ketinggian tanaman mencapai 30 cm – 1 m dengan rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga.

2. Daun dari tanaman jahe merah berdaun sempit, dengan panjang daun 15-23 mm dan lebar 8-15 mm, tangkai daun berbulu memiliki panjang 2-4 mm, bentuk lidah daun memanjang dengan panjang 7,5-10 mm ada yang tidak berbulu dan berseludang agak berbulu.

3. Memiliki bunga yang menyerupai malai tersembul di permukaan tanah yang berbentuk tongkat atau bundar telur yang agak menyempit yang berukuran 2,75-3 kali lebarnya yang sangat tajam, malai memiliki panjang 3,5-5 cm dan lebar 1,5-1,75 cm, gagang bunga hampir tidak berbulu dengan panjang 25 cm, rahis berbulu jarang, sisik yang terdapat gagang terdapat 5-7 buah berbentuk lanset yang letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu. Memiliki panjang sisik 3-5 cm, memiliki daun pelindung yang berbentuk bundar telur terbalik, bundar pada bagian ujungnya hampir tidak berbulu dan berwarna hijau cerah dengan panjang 2,5 cm dan lebar 1-1,75 cm.

4. Memiliki mahkota bunga yang berbentuk tabung 2-2,5 cm, mahkota bunga memiliki helaian bunga yang agak smpit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan dengan panjang mahkota bunga 1,5 – 2,5 mm dan lebar 3-3,5 mm bibir pada mahkota bunga berwarna ungu gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan dengan panjang 12-15 mm, kepala sari berwarna ungu dengan panjang 9 mm dan memiliki 2 tangkai putik.

5. Tanaman jahe dapat tumbuh pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus.

6. Tumbuh dengan tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik.

7. Tumbuh pada tanah yang memiliki keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4.

8. Jahe merah dapat tumbuh baik pada daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2.000 mdpl, namun di Indonesia tanaman jahe merah tumbuh pada ketinggian 200-600 mdpl.

Tanaman herbal jahe merah ini banyak tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan mudah tumbuh di perkarangan dan kebun. Selain di Indonesia tanaman herbal jahe merah kini sudah banyak dibudi dayakan di beberapa negara seperti Australia, Srilanka, China, Mesir, Yunani, India, Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan dan beberapa negara belahan dunia lainnya. Jamaika memiliki jahe dengan kualitas tinggi dan saat ini India merupakan produsen jahe terbesar lebih dari 50 % dari total produksi jahe di dunia.

Jahe memiliki 3 jenis tanaman yang berbeda namun masih termasuk family dari tanaman jahe yang dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya yang umumnya dikenal menjadi 3 jenis jahe, yakni :

1. Jahe putih / kuning besar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jahe Gajah atau Jahe Badak yang memiliki rimpang lebih besar dan gemuk, ruas rimpang lebih menggembung dari jenis jahe lainnya. Jenis jahe ini dapat dipanen ketika jahe berumur muda maupun berumur tua dan sangat baik diolah menjadi minuman langsung jahe segar atau diolah menjadi beberapa macam olahan minuman atau obat-obatan.

2. Jahe putih / kuning kecil atau yang lazim disebut sebagai Jahe Sunti atau Jahe Emprit yang memiliki perbedaan tipis dengan ciri tanaman atau tumbuhan dari jahe gajah, yakni memiliki ruas kecil, agak merata dan agak sedikit menggembung. Jahe merah kecil ini dapat dipanen ketika berusia tua. Namun kandugan akan minyak atsiri dari jahe sunti ini lebih besar daripada jahe gajah sehingga jahe sunti memiliki rasa jahe yang lebih pedas dan memiliki serat tinggi daripada jahe gajah. Jahe Sunti atau jahe emprit cocok untuk dibuat ramuan atau resep obat-obatan atau untuk diolah dan diubah menjadi ekstrak Oleoresin dan minyak atsirinya.

3. Jahe merah. Jahe merah memiliki rimpang berwarna merah dan lebih kecil daripada jenis jahe yang sebelumnya. Jahe merah dapat dipanen ketika tanaman sudah tua karena akan semakin banyak menghasilkan kandungan minyak atsiri dibanding dengan kedua jenis jahe diatas. Kegunaan jahe merah dapat diolah menjadi sajian minuman yang menghangatkan tubuh, minuman segar, minuman dalam bentuk bubuk, obat-obatan dalam bentuk kapsul atau pil, campuran dalam beberapa jenis makanan dll.

Sumber : http://jahemerah.org/jahe-merah/

Saturday, December 8, 2012

Jahe merah: Hujan melimpah, hasil panen menyusut (2)

Tinggi rendahnya produksi jahe sangat tergantung dengan cuaca. Semakin kering, bonggol jahe pun semakin berkembang. Karena itu, tingginya curah hujan membuat produksi petani jahe merosot hingga 50%. Itulah yang menyebabkan harga melambung.

Kenaikan harga jahe, sebenarnya tidak hanya terjadi untuk jenis jahe merah. Di pasar tradisional, harga jahe putih pun melonjak tajam.

Menurut Suwarni, pedagang di Pasar Kemirimuka, Depok, Jawa Barat, harga jahe sudah naik sejak dua bulan lalu. "Jahe besar yang sebelumnya Rp 18.000 per kilogram (kg), saat ini sudah mencapai Rp 20.000 per kg," kata Suwarni.

Untuk jenis kecil yang biasa dibeli penjual jamu gendong harganya juga melonjak dari Rp 20.000 per kg menjadi Rp 24.000 per kg. Menurut Suwarni, kenaikan harga jahe tidak hanya terjadi di tingkat pedagang pengecer. Suwarni sudah harus membayar lebih mahal saat kulakan di Pasar Induk Kramat Jati.

"Saat ini, cuaca memang kurang bersahabat, sehingga stok berkurang," kata Sumardi Noor, Kepala Seksi Bimbingan Usaha Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian.

Sumardi menambahkan, baik buruknya kuantitas dan kualitas jahe sangat dipengaruhi cuaca, terutama curah hujan. Menurutnya, walaupun budi daya jahe merah atau jahe jenis lain cukup mudah, namun banyaknya asupan air justru akan menurunkan hasil panen dan kualitas jahe.

Sebenarnya pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan produksi jahe. Salah satunya dengan sosialisasi penanaman jahe di pekarangan rumah. Untuk mengatasi sempitnya lahan, pihaknya menganjurkan penggunaan polyback untuk media tanam jahe.

Antonius Jarwoko, petani jahe asal Sumowono, Semarang, Jawa Tengah, sepakat dengan Sumardi. Akibat hujan berkepanjangan, produksi jahe pun merosot tajam. "Panen jahe tahun ini merosot hingga mencapai 50%," keluh Antonius.

Menurut Antonius, biasanya, untuk petani pemilik lahan seluas seperempat hektare, mampu menghasilkan satu ton jahe. Tapi saat ini hanya menghasilkan lima kuintal jahe.

Namun, Antonius tetap senang lantaran dengan harga jahe, terutama jahe merah, harganya terus meningkat.

Menurut Sumardi, sebenarnya budi daya tanaman jahe tidak memerlukan perlakuan khusus. Setelah tanam, petani hanya perlu menjaga dari gangguan gulma dan melakukan penyiraman secukupnya.

Bibit ditanam dengan jarak 20 cm. Adapun penyiraman air bisa dilakukan dua kali sehari dalam kondisi kemarau. Untuk kondisi penghujan tidak perlu dilakukan penyiraman.

Walau perlakukan hampir sama, namun lokasi tanam tiap jenis tanaman jahe agak berbeda. Jahe emprit sebaiknya ditanam pada ketinggian 200 meter (m) - 1.000 m di atas permukaan laut (dpl). Jahe gajah di atas 400 m - 800 m dpl, dan jahe merah 200 m – 600 m dpl.

Selain ketinggian lokasi tanam, perlu juga diperhatikan pemilihan bibit. "Bibit merupakan varietas murni yang tidak tercampur, berasal dari tanaman induk yang sehat dan berumur 8 - 10 bulan," katanya.

Masa panen jahe dilakukan setelah umur setahun lebih. "Produksi lebih bagus lagi kalau pakai pupuk kandang," kata Antonius yang juga produsen sirup jahe. Penggunaan pupuk kimia akan mengurangi khasiat jahe.

(Bersambung)

Sumber : http://peluangusaha.kontan.co.id/news/jahe-merah-hujan-melimpah-hasil-panen-menyusut-2

Tuesday, November 27, 2012

Jahe merah terus menghangat, labanya terus mengalir (1)

Jahe merah adalah tanaman rempah-rempah yang memiliki banyak manfaat. Pengetahuan masyarakat akan khasiat jahe merah membuat permintaan produk semakin meningkat. Sayangnya, peningkatan itu tidak diimbangi dengan peningkatan produksi.

Jahe merah menjadi salah satu jenis tanaman obat yang sedang menjadi primadona. Selain menyajikan rasa hangat alami manfaat jahe merah sangat banyak. Manfaatnya antara lain, sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada roti, kue, biskuit, kembang gula, dan berbagai makanan dan minuman.

Jahe merah juga bisa digunakan sebagai bahan baku industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional. Juga produk olahan lain seperti asinan jahe, acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Bahkan dewasa ini petani cabai juga menggunakan jahe sebagai pestisida alami.

Selain dijual dalam bentuk segar, kering, bubuk dan awetan jahe, hasil penyulingan jahe juga bernilai ekonomis tinggi karena bisa digunakan sebagai bahan campuran minuman beralkohol, dan es krim.

Sebenarnya selain jahe merah, masih ada jenis jahe lain yaitu jahe putih atau jahe gajah, dan jahe emprit. Namun dari beberapa macam jahe tersebut, saat ini pamor jahe merah sedang naik daun.

Naiknya pamor jahe merah dikatakan Darul Mahbar asal Jakarta. Darul memiliki usaha pembuatan minuman berbahan pokok jahe merah merek Cangkir Merah dan Cangkir Mas.

Dari usaha ini, ia mengaku memperoleh omzet minimal Rp 100 juta per bulan. Selain di pasarkan di dalam negeri, jahe merah buatan Darul juga merambah pasar Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.

Darul mengatakan, dalam dua tahun terakhir tren permintaan produk berbahan jahe merah meningkat pesat. Hal itu disebabkan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang khasiat jahe merah.

Walaupun terjadi peningkatan permintaan, persediaan jahe merah masih kurang. "Kurangnya pasokan membuat harga jahe merah di pasaran naik sekitar 400% dalam dua tahun terakhir," ujar Darul.

Sekarang ini, harga jahe merah paling murah di pasaran sekitar Rp 10.000 per kilogram (kg). Harga itu meroket jika dibanding tiga tahun lalu yang sempat turun drastis. Penurunan harga membuat banyak petani jahe berhenti menanam.

Kurangnya pasokan juga disebabkan karena faktor cuaca. Anomali cuaca yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia membuat produksi jahe menurun.

Untuk memenuhi kebutuhan jahe merah yang mencapai 15 ton per bulan, Darul bekerja sama dengan sejumlah petani di Wonosobo dan Palembang. Namun perkembangan usaha, membuatnya harus memikirkan bagaimana memperoleh pasokan secara cepat.

Senada diungkapkan Sutomo Muntoha, pemilik CV Jahe Merah di Jakarta. Menurutnya, selain untuk kebutuhan dalam negeri, permintaan ekspor jahe merah bisa mencapai satu ton per hari. “Berapa saja yang ada, semua diserap habis,” tandas Sutomo.

Selain menanam sendiri, Sutomo juga membeli jahe merah dari petani lain. Dalam sebulan, dia mampu mengumpulkan jahe merah hingga 120 ton. Namun pasokan yang diterimanya masih kurang, sehingga dia harus mengimpor dari India dan Vietnam. "Tren permintaan terus naik, namun pasokan dari petani jahe dalam negeri malah terus turun," katanya. (Bersambung)

Sumber : http://peluangusaha.kontan.co.id/news/jahe-merah-terus-menghangat-labanya-terus-mengalir-1-

Monday, November 26, 2012

Penyederhanaan Media Kultur untuk Perbanyakan Bibit Jahe Merah Secara In Vitro

Jahe merah (Zingiber officinale Rosc.) adalah salah satu jenis tanaman jahe yang banyak dikonsumsi masyarakat sebagai bahan obat. Jahe merah ini berbeda dari jahe biasa yang banyak digunakan sebagai rempah-rempah maupun jahe gajah atau jahe emprit karena kandungan minyak atsiri dan oleoresin pada jahe merah lebih tinggi dibandingkan dengan kandungannya pada jahe jenis lainnya. Jahe merah berkhasiat untuk menyembuhkan sakit kepala (pusing), sinusitis, bronkitis, rematik, asam urat, batu ginjal dan lain-lain. Selain minyak atsiri dan oleoresin, jahe merah juga mengandung gingerol dan shogaol.

Budidaya jahe merah biasa dilakukan dengan menanam rimpangnya, namun karena rizom dipanen dan dikonsumsi yang menyebabkan selalu harus disediakan bibit dalam jumlah banyak, penyediaan bibit dengan cara lain seperti tersedianya planlet hasil kultur jaringan sangat diperlukan. Bibit hasil kultur jaringan telah terbukti mempunyai beberapa keunggulan seperti kontinyuitas ketersediaan bibit yang dapat dijamin, bibit terstandardisasi, dapat diproduksi dalam jumlah banyak, tidak tergantung musim dan bebas hari hama dan penyakit. Selain itu, teknik kutltur jaringan dipilih selain untuk perbanyakan bibit juga untuk tujuan konservasi secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbanyakan in vitro jahe merah dengan teknik kultur tunas pada media sederhana.

Media yang dipergunakan merupakan media sederhana yaitu media MS cair tanpa penggunaan zat pengatur tumbuh dengan pengurangan konsentrasi gula. Sebagai kontrol tunas ditumbuhkan pada media MS cair yang dipadatkan dengan 20 g/l sukrosa dengan penambahan zat pengatur tumbuh 1 mg/l BAP. Penyederhanaan media dilakukan pada media cair yang mengandung gula (sebagai pengganti sukrosa) dengan konsentrasi 0, 5, 10 dan 20 g/l. Tabung kultur yang dipergunakan adalah botol kaca dibandingkan dengan tabung magenta yang diberi atau tanpa ventilasi untuk meningkatkan pertukaran udara masuk dan keluar tabung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sukrosa dapat digantikan dengan gula biasa dan konsentrasi 20 g/l dapat dikurangi menjadi 10 g/l tanpa menurunkan kualitas pertumbuhan tunas jahe, penurunan gula menjadi 5 g/l perlu dievaluasi agar tidak menurunkan pertumbuhan yang nyata. Namun, gula tidak dapat dihilangkan sama sekali walau tabung menggunakan ventilasi untuk meningkatkan jumlah CO2 yang masuk ke dalam tabung (melalui ventilasi berupa filter berukuran 0,22 ยต). Penggunaan tabung magenta maupun tabung kaca tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan jahe merah, dengan demikian dipilih tabung kaca karena harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan tabung magenta. Tutup alumunium foil dapat digantikan dengan tutup plastik bening. Pada konsentrasi gula rendah (10 g/l) tunas tunggal dapat menghasilkan 2-6 tunas majemuk dalam waktu 4-5 minggu setelah tanam dan tanaman dapat membentuk akar dengan baik. Dengan demikian penyederhanaan media tanpa agar, menggunakan gula biasa (menggantikan sukrosa) dengan konsentrasi rendah (10 g/l) dan tanpa penambahan zat pengatur tumbuh (BAP) dapat dipergunakan untuk perbanyakan jahe merah secara in vitro. Aklimatisasi sedang dilakukan dan daya tumbuh di lapangan sedang diamati.

Sumber : http://www.biotek.lipi.go.id/index.php/research-a-development/137-research-2009/706-penyederhanaan-media-kultur-untuk-perbanyakan-bibit-jahe-merah-zingiber-officinale-rosc-secara-in-vitro--dikti-2009

Sunday, November 25, 2012

Tips Budidaya Jahe Merah

Potensi bisnis jahe merah semakin mendapatkan tempat di mata konsumen. Meski khasiat jahe sudah dikenal sejak bertahun-tahun yang lalu, trend produksi obat herbal turut memberikan andil populernya olahan dari jahe. seperti yang sudah banyak diketahui olahan jahe mampu memberikan efek yang baik bagi tubuh manusia diantaranya menambah stamina dan vitalitas tubuh. Salah satu jenis jahe yang sering dibudidayakan adalah jahe merah atau yang disebut dengan Jahe Sunti. Ciri dari Jahe ini adalah rimpangnya kecil,warnanya kuning kemerahan, seratnya kasar, rasanya sangat pedas dan aroma yang sangat tajam.

Untuk menghasilkan produksi Jahe Merah yang baik diperlukan tanah yang banyak mengandung bahan organik atau humus dan drainase yang baik. Jahe merah sangat cocok ditanam pada daerah yang beriklim sejuk dengan ketinggian 500-100 m dpl. Meski demikian sebenarnya Jahe Merah bisa juga tumbuh dan berkembang pada dataran rendah.

Cara Menanam Jahe Merah

Pada umunya Tanaman jahe diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan rimpang. Sebelum Jahe Merah ditanam terlebih dulu disiapkan lahan dengan membuat bedengan pada lahan yang dibentuk dengan lebar 80 – 100 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan, jarak antar bedengan 40 – 50 cm. Pada bedengan dibuat alur sedalam 10 – 15 cm sebagai lubang tanam kemudian bibit ditanam sedalam 3 – 5 cm dengan tunas menghadap ke atas. Setelah tanam dapat diberi mulsa jerami, daun kelapa atau daun pisang terutama pada daerah-daerah yang penyinarannya cukup tinggi.

Setelah tanaman Jahe merah ditanam, taham selanjutnya adalah tahap pemeliharaan. Pemeliharaan meliputi penyulaman untuk mengganti tanaman jahe yang tidak tumbuh atau perkembangannya kurang baik. Langkah lain adalah penyiangan tanaman jahe merah,agar tidak terganggu oleh gulma. Penyiangan sangat penting dilakukan pada 3 bulan pertama.

Pada usia satu bulan setelah tanam, pemupukan jahe merah perlu dilakukan dengan pupuk urea dan KCL. Jumlah pemupukan urea 400 kg/ha dan KCL 300 kg/ha. Pada saat usia jahe merah 3 bulan dilakukan pemupukan kembali dengan urea 400 kg/ha.

Panen Jahe Merah

Tanaman jahe umumnya dipanen tua setelah berumur 8 – 10 bulan saat kadar oleoresin optimum ditandai dengan rasa pedas dan bau harum. Khusus untuk jahe gajah bisanya dipanen disesuaikan dengan tujuan pemanfaatannya. Kemampuan produksi budidaya jahe jahe merah dan jahe emprit adalah 10 – 15 ton / ha.

Sumber : http://tipspetani.blogspot.com/2012/03/tips-budidaya-jahe-merah.html