Showing posts with label pakan kambing. Show all posts
Showing posts with label pakan kambing. Show all posts

Wednesday, November 20, 2013

Ternak Kambing Tanpa Ngarit - Mudah, Murah dan Efektifnya Membuat Pakan Fermentasi Jerami Padi Untuk Ternak Kambing

CARA FERMENTASI JERAMI UNTUK MAKANAN TERNAK DOMBA/KAMBING

BAHAN DAN UKURAN:

• 1000 Kg  : jerami padi , dipilih yang sudah kering
• 20-25 Lt      : tetes bila tidak ada dapat diganti gula yang dilarutkan
• 6-7 Lt          : Probiotik, bila di daerah belum ada dapat diganti dengan EM4.
• 5-6 Kg         : Urea untuk menambah kandungan protein makanan ( 4-6% dr total jerami )
• 250-300 Lt. : Air untuk melarutkan probiotik dan tetes/15Lt untuk jerami basah

PERALATAN:
• Silo tempat untuk fermentasi jerami dapat berupa tembok semen, bis semen, drum sesuai kemampuan dan jumlah ternak
• Alat pemotong sabit atau sejenisnya atau bisa menggunakan mesin pencacah jerami
• Ember atau timba, gembor, terpal plastik atau karung plastik

CARA MEMBUAT
  1. Sediakan silo dari bis beton disusun dua atau tiga, bila memakai drum bagian dalam supaya dicat agar tidak berkarat
  2. Jerami kering atau bahan-bahan kering yang telah ada dipotong-potong dengan ukuran kurang lebih 25 cm sejumlah isi silo yang ada
  3. Larutkan tetes dan urea serta probiotik dengan air menjadi satu sesuai perbandingan bahan-bahan di atas.
  4. Siapkan terpal plastik untuk alas menjcampur antara jerami dengan campuran tets starbio dan air.
  5.  Jerami padi yang sudah dipotong ditaruh di atas terpal sedikit demi sedikit sambil disiram larutan air tetes dan starbio sesuai perbandingan di atas sampai merata dan jerami kelihatan basah.
  6. Setelah jarami benar-benar telah disiram rata dengan larutan tersebut, jerami dimasukkan ke dalam silo sedikit demi sedikit sambil dimampatkan/diinjak-injak supaya padat.
  7. Setelah mampat (padat) silo ditutup hingga rapat betul
  8. Setelah 7 hari jerami tersebut baru dapat mulai diberikan pada ternak kambing sesuai dengan kebutuhan dan selama bahan tersebut belum habis setelah mengambil bahan dari silo supaya ditutup kembali dengan rapat
  9. Penempatan silo supaya terhindar dari genangan air, terhindar dari terik matahari dan air hujan tidak boleh masuk ke dalam silo

CARA MEMBERIKAN:
  •  Pemberian diberikan dua kali pagi dan sore dengan ukuran: bobot kambing x 3% pakan kering (jerami yang telah difermentasi)
  •  Ditambah makan tambahan berupa katul yang baik (kualitas I) sebanyak 0,5 kg/ekor

KETERANGAN:
  •  Apabila waktu petama kali tenak diberi pakan fermentasi tersebut tidak langsung mau supaya dilatih sedikit demi sedikit sampai mau makan dengan lahap
  •  Agar ternak kambing cepat gemuk perlu diberi makan lain yang kadar proteinnya tinggi seperti pemberian katul konsentrat
  •  Air minum supaya tetap tersedia (jangan sampai telat), ada baiknya airnya diberikan garam.


Monday, November 4, 2013

Menjadi Jutawan Dari Usaha Pembibitan Kambing

Dewasa ini banyak orang merasa bingung, mau bisnis apa, mau usaha apa, mau kerja apa, mau melamar dimana, dll. Untuk kalangan muda, sebenarnya sangat miris, kemarin menteri tenaga kerja menyatakan ada sekian ribu sarjana menganggur dan menunggu pekerjaan, di saat bersamaan kaum buruh sedang menuntut kenaikan UMP dan tentu saja kalau dead lock dengan pihak pengusaha, maka ancaman pemutusan hubungan kerja sudah menunggunya.

Para calon pensiunan juga bingung mau berbisnis apa, padahal nilai jumlah uang pensiunan yang akan diterima nilainya banyak, namun karena selama masa kerja jarang berbisnis maka saat memasuki masa persiapan pensiun, banyak yang galau, bingung mau bisnis apa. Banyak rencana yang akan dilakukan, mulai bisnis A sampai bisnis Z, namun rasa takut gagal, belum berpengalaman, tidak punya relasi bisnis dll selalu menghantui sehingga membuat ragu-ragu memulai usaha.

Adalagi kasus dimana beberapa orang ingin mengembangkan jenis usaha yang akan ditekuni, masih pikir-pikir dan bingung menentukannya, pilah memilah kelebihan dan kekurangan dari bisnis yang dilirik, seru sekali pastinya.

Sebenarnya banyak solusinya, dengan catatan asal mau, suka dan niat menjalankannya, hal yang paling mudah dan tidsak mengandung resiko nilai ekonomis yang besar adalah memulai bisnis kecil kecilan, salah satunya beternak kambing pembibitan.


Bagaimana maksudnya ? maksudnya adalah menjalankan atau memulai peternakan kambing kecil-kecilan yang mengkhususkan diri kepada urusan pembibitan atau memperbanyak populasi kambing yang dipeliharanya, sederhananya kambing yang dipelihara 80% betina dan nanti akan beranak pinak.
Berikut ini sedikit gambaran sederhana,  misalnya Anda memiliki dana 10 juta, anda belikan 6 ekor kambing betina produktif, dan 1 pejantan yang berpostur tinggi besar, sisanya untuk bikin kandang sederhana dan biaya selama beberapa bulan ke depan, dalam tempo setahun 6 indukan itu sudah melahirkan sekitar antara 6-12 ekor kambing, nah 1 tahun kedepan, Anda sudah memiliki sekitar 13-18 ekor kambing, silahkan disortir, nanti dari anak kambing tersebut pilih anak kambing pejantan untuk digemukkan dan dijual, jadi anak kambing yang dijual akan menghidupi para kambing betina di kandang Anda. Pada akhirnya nanti Anda akan mulai stabil menjual beberapa ekor kambing tiap bulannya, beberapa ekor kambing hasil penjualan untuk biaya operasional, sisanya tentu saja menjadi nett profit Anda. Simple sekali kan…

Pilihan Antara Penggemukan atau Pembibitan Kambing

Jika dibandingkan dengan penggemukan, usaha pembibitan kambing ini boleh dikatakan relatif lebih santai. Dalam penggemukan kambing, anda bekerja untuk mencapai target bobot maksimal agar mendapatkan keuntungan yang maksimal. Anda berinteraksi dengan banyak faktor antara lain: bibit unggul, pakan berkwalitas, air yang cukup, tenaga pengurus yang dingin, kandang yang ideal, timing pemberian pakan dan vitamin yang tepat, obat-obatan sesuai dosis dan analisis yang semuanya berujung pada penambahan bobot dan bobot lagi.

Sarana dan prasarana yang diperlukan dalam usaha pembibitan kambing :

Lokasi Kandang
Lokasi usaha pembibitan Kambing dan domba harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
     Letak kandang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
•    mudah diakses terhadap transportasi;
•    tempat kering dan tidak tergenang saat hujan;
•    dekat sumber air;
•    cukup sinar matahari, kandang tunggal menghadap timur, kandang ganda membujur utara-selatan;
•    tidak mengganggu lingkungan hidup;
•    memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi.

Sumber Air
Usaha pembibitan Kambing dan domba hendaknya memiliki sumber air yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
•    Air yang digunakan tersedia sepanjang tahun dalam jumlah yang mencukupi
•    Sumber air mudah dicapai atau mudah disediakan
•    Penggunaan sumber air tanah tidak mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat.

Bangunan dan Peralatan
Untuk pembibitan Kambing dan domba sistem semi intensif dan intensif diperlukan bangunan, peralatan, persyaratan teknis dan letak kandang yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Bangunan:
•    kandang pejantan;
•    kandang induk;
•    kandang pembesaran;
•    kandang isolasi ternak yang sakit;
•    gudang pakan dan peralatan;
•    unit penampungan dan pengolahan limbah.

Peralatan:
•    tempat pakan dan tempat minum;
•    alat pemotong dan pengangkut rumput;
•    alat pembersih kandang dan pembuatan kompos;
•    peralatan kesehatan hewan;

Persyaratan teknis kandang:
•    konstruksi harus kuat;
•    terbuat dari bahan yang ekonomis dan mudah diperoleh;
•    sirkulasi udara dan sinar matahari cukup;
•    drainase dan saluran pembuangan limbah baik, serta mudah dibersihkan;
•    lantai rata, tidak licin, tidak kasar, mudah kering dan tahan injak;
•    luas kandang memenuhi persyaratan daya tampung;
•    kandang isolasi dibuat terpisah.

Pemilihan  Indukan Kambing
Persyaratan umum:
  1.  Kambing dan domba harus sehat dan bebas dari segala cacat
  2.  Fisik seperti cacat mata (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan kuku abnormal, serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya
  3. Semua Kambing dan domba betina harus bebas dari cacat alat reproduksi, abnormal ambing serta tidak menunjukkan gejala kemandulan
  4. Kambing dan domba jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak menderita cacat pada alat kelaminnya.

Persyaratan khusus:
Persyaratan khusus yang harus dipenuhi untuk masing-masing rumpun ternak adalah sebagai berikut:

Kambing Peranakan Etawa
Kualitatif :
  •  warna bulu belang hitam, putih, merah,coklat dan kadang kadang putih
  •  tanduk kecil,
  •  muka cembung daun telinga panjang dan terkulai kebawah, bergelambir yang cukup besar
  •  daerah belakang paha, ekor dan dagu berbulu panjang
kualitatif :
  •  Bentina umur 8 -12 bulan
  •  tinggi badan minimal 55 cm, berat badan minimal 15 Kg
  •  jantan umur 12 -18 bulan
  •  tinggi badan minimal 65 cm, berat badan minimal 20 kg

Kambing Kacang
kualitatif :
•    Warna bulu bervariasi dari putih campur hitam, coklat atau hitam sama sekali
•    Tanduk mengarah ke belakang dan membengkok keluar
•    Hidung lurus, leher pendek, telinga pendek  berdiri tegak    ke depan,
•    kepala kecil dan ringan
kuantitatif :
•    Betina umur 8-12 bulan Tinggi badan minimal 46 cm Berat badan minimal 12 kg
•    Jantan umur 12-18 bulan Tinggi  badan minimal 50 cm Berat badan minimal 15 kg

Kambing Saaenen Lokal
kualitatif :
•    Warna belang belang hitam  putih, atau merah  atau cokelat putih
•    tidak bertanduk atau bertanduk kecil
•    kepala ringan, leher panjang dan halus, dahi lebar, telinga pendek mengarah ke samping
•    kuku lurus dan kuat
•    tubuh panjang, dada lebar dan dalam
•    ambing dan puting susu besar dan lunak
kuantitatif :
•    Betina umur 8-12 bulan Berat badan minimal 40 kg
•    Jantan umur 12-18 bulan  Berat badan minimal 40 kg

Domba Garut
kualitatif :
•    Warna hitam,  putih atau putih dan hitam
•    betina tidak bertanduk
•    jantan bertanduk melingkar besar dan berukuran besar, pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu
•    tubuh lebar, besar dan kekar, kaki kokoh, daun telinga sedang terletak di belakang tanduk
•    telinga rumpun seperti daun, hiris, bulu halus dan panjang
kuantitatif :
•    Betina umur 8-12 bulan Tingi badan minimal 62  cm Berat badan minimal 30 kg
•    Jantan umur 12-18 bulan  Tingi badan minimal 65  cm Berat badan minimal 60 kg

Domba Ekor gemuk
kualitatif :
•    Warna Bulu putih dan, kasar tidak bertanduk
•    ekor besar, lebar dan panjang
kuantitatif :
•    Betina umur 8-12 bulan Tingi badan minimal 52  cm Berat badan minimal 25 kg
•    Jantan umur 12-18 bulan  Tingi badan minimal 60  cm Berat badan minimal 60 kg

Domba Lokal
kualitatif :
•    Warna Bulu bermacam macam
•    betina tidak bertanduk, jantan bertanduk kecil tidak melingkar
•    bentuk badan kecil
kuantitatif :
•    Betina umur 8-12 bulan Tingi badan minimal 40  cm Berat badan minimal 10 kg
•    Jantan umur 12-18 bulan  Tingi badan minimal 45 cm Berat badan minimal 15 kg

Pakan Kambing

Setiap usaha pembibitan Kambing dan domba harus menyediakan pakan yang cukup bagi ternaknya, baik yang berasal dari pakan hijauan, pakan fermentasi maupun pakan konsentrat.

Pakan hijauan dapat berasal dari rumput, leguminosa, sisa hasil pertanian dan dedaunan yang mempunyai kadar serat yang relatif tinggi dan kadar energi rendah. Kualitas pakan hijauan tergantung umur pemotongan, palatabilitas dan ada tidaknya zat toksik (beracun) dan anti nutrisi.

Pakan fermentasi, berupa bahan pakan yang sudah melalui proses fermentasi, seperti halnya fermentasi jerami.

Pakan konsentrat yaitu pakan dengan kadar serat rendah dan kadar energi tinggi, tidak terkontaminasi mikroba, penyakit, stimulan pertumbuhan, hormon, bahan kimia, obat-obatan, mycotoxin melebihi tingkat yang dapat diterima oleh negara pengimpor.

Air minum disediakan tidak terbatas (ad libitum).

Obat hewan

Obat hewan yang digunakan meliputi sediaan biologik, farmasetik, premik dan obat alami.
Obat hewan yang dipergunakan seperti bahan kimia dan bahan biologik harus memiliki nomor pendaftaran. Untuk sediaan obat alami tidak dipersyaratkan memiliki nomor pendaftaran.
Penggunaan obat keras harus di bawah pengawasan dokter hewan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang obat hewan.

Tenaga Kerja

Tenaga yang dipekerjakan pada pembibitan ternak Kambing dan domba harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  1.  Sehat jasmani dan rohani
  2.  Tidak memiliki luka terbuka
  3.  Jumlah tenaga kerja sesuai kebutuhan, yaitu setiap 1 (satu) orang/hari kerja, untuk 5-10 (lima) satuan ternak (ST)
  4.  Telah mendapat pelatihan teknis pembibitan Kambing  dan  domba, kesehatan hewan dan keselamatan kerja

PROSES PRODUKSI BIBIT

Pemeliharaan
Dalam pembibitan Kambing dan domba, pemeliharaan ternak dapat dilakukan dengan sistem semi intensif dan sistem intensif.
  1.  Sistem semi intensif yaitu pembibitan Kambing dan domba yang menggabungkan antara sistem pastura dan sistem intensif. Pada sistem ini dapat dilakukan pembibitan Kambing dan domba dengan cara pemeliharaan di padang penggembalaan dan dikandangkan.
  2.  Sistem intensif yaitu pembibitan Kambing dan domba dengan pemeliharaan di kandang. Pada sistem ini kebutuhan pakan disediakan penuh.

Produksi
Berdasarkan tujuan produksinya, pembibitan Kambing dan domba dikelompokkan ke dalam pembibitan Kambing dan domba rumpun murni dan pembibitan Kambing dan domba persilangan.

  • Pembibitan Kambing dan domba rumpun murni, yaitu perkembangbiakan ternaknya dilakukan dengan cara mengawinkan Kambing dan domba yang sama rumpunnya.
  • Pembibitan Kambing dan domba persilangan, yaitu perkembangbiakan ternaknya dilakukan dengan cara perkawinan antar ternak dari satu spesies tetapi berlainan rumpun.

Seleksi Bibit

Seleksi bibit Kambing dan domba dilakukan berdasarkan penampilan (performance) anak dan individu calon bibit Kambing dan domba tersebut, dengan mempergunakan kriteria seleksi sebagai berikut:

Kambing dan Domba induk
•    induk harus dapat menghasilkan anak secara teratur 3 (tiga) kali dalam 2 tahun
•    frekuensi beranak kembar relatif tinggi
•    total produksi anak sapihan diatas rata-rata.

Calon pejantan
•    bobot sapih terkoreksi terhadap umur 90 (sembilan puluh) hari umur induk dan tipe kelahiran dan disapih
•    bobot badan umur 6, 9, dan 12 bulan diatas rata-rata
•    pertambahan bobot badan pra dan pasca sapih baik
•    libido dan kualitas spermanya baik
•    penampilan fenotipe sesuai dengan rumpunnya

Calon induk
•    bobot sapih terkoreksi terhadap umur 90 (sembilan puluh) hari tipe kelahiran dan disapih
•    bobot badan umur 6 dan 9 bulan di atas rata-rata
•    pertambahan berat badan pra dan pasca sapih baik
•    penampilan fenotipe sesuai dengan rumpunnya

Perkawinan
Dalam upaya memperoleh bibit yang berkualitas, perkawinan Kambing dan domba dilaksanakan sebagai berikut:
  1. Teknik kawin alam dengan rasio jantan dan betina 1:5-10.
  2. Teknik Inseminasi Buatan (IB) menggunakan semen beku atau semen cair dari pejantan yang sudah teruji kualitasnya dan dinyatakan bebas dari penyakit hewan menular yang dapat ditularkan melalui semen.
  3. Dalam pelaksanaan kawin alam maupun IB harus dilakukan pengaturan penggunaan pejantan atau semen beku/semen cair untuk menghindari terjadinya kawin sedarah (inbreeding).
Ternak Pengganti (Replacement Stock ) Pengadaan ternak pengganti (replacement stock), dilakukan sebagai berikut:
  • Calon bibit betina dipilih 25% terbaik untuk replacement, 25% untuk pengembangan populasi kawasan, 40% dijual ke luar kawasan sebagai bibit dan 10% dijual sebagai ternak afkir
  • Calon bibit jantan dipilih 10% terbaik pada umur sapih dan bersama calon bibit betina 25% terbaik untuk dimasukkan pada uji performan.



Afkir (Culling)
Pengeluaran ternak yang sudah dinyatakan tidak memenuhi persyaratan bibit (afkir/culling), dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
  1.  Untuk bibit rumpun murni, 50% Kambing dan domba bibit jantan peringkat terendah saat seleksi pertama (umur sapih terkoreksi) dikeluarkan dengan dikastrasi dan 40%nya dijual ke luar kawasan
  2.  Kambing dan domba betina yang tidak memenuhi persyaratan sebagai bibit (10%) dikeluarkan sebagai ternak afkir
  3.  Kambing dan domba induk yang tidak produktif segera dikeluarkan.

Pencatatan (Recording)
Setiap usaha pembibitan Kambing  dan  domba hendaknya melakukan pencatatan (recording), meliputi:
•    Rumpun;
•    Silsilah;
•    Perkawinan (tanggal, pejantan, IB/kawin alam)
•    Kelahiran (tanggal, bobot lahir)
•    Penyapihan (tanggal, bobot badan)
•    Beranak kembali (tanggal, paritas)
•    Pakan (jenis, konsumsi)
•    Vaksinasi, pengobatan (tanggal, perlakuan/treatment)
•    Mutasi (pemasukan dan pengeluaran ternak)
•    Score wool penutup tubuh (khusus untuk domba)

Persilangan

Persilangan yaitu salah satu cara perkawinan, perkembangbiakan ternaknya dilakukan dengan cara perkawinan antara hewan-hewan dari satu spesies yang berlainan rumpun. Untuk mencegah penurunan produktivitas akibat persilangan, harus dilakukan menurut ketetuan sebagai berikut:
  1.  Kambing dan domba yang akan disilangkan harus berukuran di atas standar atau setelah beranak pertama
  2.  Komposisi darah Kambing dan domba persilangan sebaiknya dijaga komposisi darah Kambing dan domba temperatenya tidak lebih dari 50%
  3.  Prinsip-prinsip seleksi dan culling sama dengan pada rumpun murni

Sertifikasi
Sertifikasi dilakukan oleh lembaga sertifikasi yang telah diakreditasi. Dalam hal belum ada lembaga sertifikasi yang terakreditasi, sertifikasi dapat dilakukan oleh lembaga yang ditunjuk oleh   pejabat yang berwenang. Sertifikasi bertujuan untuk meningkatkan nilai ternak.

Sertifikat bibit Kambing dan domba terdiri dari:
Sertifikat pejantan dan betina unggul untuk Kambing dan domba hasil uji performan
Sertifikat induk elite untuk Kambing dan domba induk yang telah terseleksi dan memenuhi standar.

Kesehatan Hewan
Untuk memperoleh hasil yang baik dalam pembibitan Kambing dan domba harus memperhatikan persyaratan kesehatan hewan yang meliputi:

Situasi penyakit
Pembibitan Kambing dan domba harus terletak di daerah yang tidak terdapat gejala klinis atau bukti lain tentang penyakit radang limpa (Ánthrax), kluron menular (Brucellosis) dan kudis (scabies).

Pencegahan/Vaksinasi
  1.  pembibitan Kambing dan domba harus melakukan vaksinasi dan pengujian/tes laboratorium terhadap penyakit hewan menular tertentu yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang
  2.  mencatat setiap pelaksanaan vaksinasi dan jenis vaksin yang dipakai dalam kartu kesehatan ternak
  3.  melaporkan kepada Kepala Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan setempat terhadap kemungkinan timbulnya kasus penyakit, terutama yang diduga/dianggap sebagai penyakit hewan menular
  4.  penggunaan obat hewan harus sesuai dengan ketentuan dan diperhitungkan secara ekonomis
  5.  pemotongan kuku dilakukan minimal 3 (tiga) bulan sekali

Dalam rangka  pengamanan kesehatan setiap pembibitan Kambing dan    domba harus memperhatikan hal-hal tindak biosecurity sebagai berikut:
  1. Lokasi usaha tidak mudah dimasuki binatang liar serta bebas dari hewan piaraan lainnya yang dapat menularkan penyakit
  2.  Melakukan desinfeksi kandang dan peralatan dengan menyemprotkan insektisida pembasmi serangga, lalat dan hama lainnya
  3.  Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari satu kelompok ternak ke kelompok ternak lainnya, pekerja yang melayani ternak yang sakit tidak diperkenankan melayani ternak yang sehat
  4.  Menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas keluar masuk kandang ternak yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit
  5.  Membakar atau mengubur bangkai kambing yang mati karena penyakit menular
  6.  Menyediakan fasilitas desinfeksi untuk staf/karyawan dan kendaraan tamu dipintu masuk 
  7.  Segera mengeluarkan ternak yang mati dari kandang untuk dikubur atau dimusnahkan oleh petugas yang berwenang
  8.  Mengeluarkan ternak yang sakit dari kandang untuk segera diobati atau dipotong oleh petugas yang berwenang.

PELESTARIAN LINGKUNGAN
Setiap usaha pembibitan Kambing dan domba hendaknya selalu memperhatikan aspek pelestarian lingkungan, antara lain dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Melakukan upaya pencegahan pencemaran lingkungan, sebagai berikut:
  1.  mencegah terjadinya erosi dan membantu pelaksanaan penghijauan di areal peternakan
  2.  mencegah terjadinya polusi dan gangguan lain seperti bau busuk, serangga, pencemaran air sungai dan lain-lain
  3.  membuat dan mengoperasionalkan unit pengolah limbah peternakan (padat, cair, gas) sesuai kapasitas produksi limbah yang dihasilkan. Pada peternakan rakyat dapat dilakukan secara kolektif oleh kelompok.

MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN
Monitoring dan Evaluasi
Untuk mempertahankan kualitas bibit Kambing dan domba yang dihasilkan, perlu dilakukan monitoring dan evaluasi sebagai berikut:
  1.  Monitoring dan evaluasi kualitas bibit dilakukan secara berkala dengan sampling acak minimal sekali setahun.
  2.  Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan pengumpulan data performan tubuh, performan produksi, performan reproduksi dan kesehatan bibit Kambing dan domba.
  3.  Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh pejabat fungsional pengawas bibit ternak di dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan

Analisa Sederhana Usaha Pembibitan Kambing Skala Kecil

1.    Pengeluaran:               
                       
    a    Bibit               
          Pejantan                                         1 ekor     Rp        1,400,000      Rp 1,400,000    
          Betina                                            6 ekor     Rp        1,000,000      Rp 6,000,000    
                                                                                                                  Rp    7,400,000
                       
    b    Makanan tambahan                                                                        Rp    1,400,000
                       
    c    Obat-obatan                                                                                    Rp       700,000
    d    Jumlah:                                                                                           Rp    9,500,000
                       
2.    Pemasukan :               
    a    Perkembangan Anak           
        Pengembangan dari anak kambing bila tiap induk menghasilkan 2 ekor/ tahun
        Harga 1 ekor anak kambing @ Rp 700.000,-       
                                                                        12 X      Rp   700,000      Rp    8,400,000
                       
    b    Perkembangan nilai Bibit / induk dalam 1 tahun       
          Pejantan                                      1 ekor     Rp        1,800,000      Rp 1,800,000    
          Betina                                         6 ekor     Rp        1,200,000      Rp 7,200,000    
                                                                                                                Rp    9,000,000
                       
    c    Kotoran kambing tiap seminggu 1 karung harga Rp. 7.000,-   
                                                              52 minggu X Rp. 7.500,-         Rp       390,000
    d    Jumlah                                                                                         Rp  17,790,000
                              
3.    Penghasilan 1 tahun    (Jumlah II-I)                                               Rp    8,290,000

Dengan kesabaran, katlatenan, inovasi dan penuh semangat saya yakin semua orang bisa menjadi jutawan dari usaha pembibitan kambing. Dengan usaha pembibitan kambing ini, sebenarnya banyak penggangguran terpelajar atau calon pensiunan yang tidak perlu khawatir untuk menentukan bisnis apa yang harus dikerjakan.

Selamat memulai bisnis kecil, namun kalau diseriusi hasilnya bisa buat nyicil mobil :) 

             

Tuesday, August 20, 2013

Menentukan Umur Kambing Berdasarkan Gigi Kambing

Kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat. Pemeliharaannya yang mudah dan relatif sederhana serta peluang pengembangan yang tinggi menarik minat peternak baik dalam skala kecil di Pedesaan maupun yang telah diusahakan secara komersial untuk memilih ternak kambing sebagai ternak unggulan untuk dibudidayakan. Hal tersebut merupakan peluang yang harus didukung oleh semua pihak dalam upaya pengembangan ternak kambing khususnya dan pengembangan peternakan pada umumnya.


Ternak kambing dapat dibudidayakan sebagai usaha budidaya kambing potong maupun kambing perah. Kedua jenis ini jika dikembangkan memiliki peluang pasar yang tinggi. Daging kambing merupakan daging yang digemari oleh masyarakat, baik untuk dikonsumsi dalam bentuk sate, gulai maupun jenis makanan lain yang digemari oleh masyarakat. Mengkonsumsi daging kambing menurut sebagian besar masyarakat juga dapat meningkatkan stamina, sehingga dapat melancarkan aktivitas pekerjaan sehari-hari. Sebagian besar penduduk Indonesia yang beragama Islam semakin mendukung dikembangkannya usaha kambing ini, karena setiap hari raya kurban dibutuhkan ternak kambing dalam jumlah banyak.


Selain dibudidayakan sebagai kambing potong, ternak kambing juga sangat potensial untuk dikembangkan menjadi budidaya kambing perah. Saat ini permintaan susu kambing semakin meningkat seiring dengan semakin sadarnya masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi susu. Susu kambing meskipun memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan susu sapi, akan tetapi masyarakat tetap banyak yang mencarinya untuk dikonsumsi. Hal tersebut dikarenakan, susu kambing memiliki keunggulan dalam meningkatkan stamina, menjaga kesehatan tubuh dan dapat juga digunakan sebagai obat maupun manfaat-manfaat lain yang belum dilakukan penelitian lebih lanjut. Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan kambing yang saat ini sering dibudidayakan sebagai kambing perah. Oleh karena itu, harga kambing PE umumnya lebih mahal dibandingkan dengan kambing yang lain.


Gigi merupakan bagian yang berada di rongga mulut yang berguna untuk mengunyah makanan. Ternak juga sama halnya dengan manusia, yaitu mempunyai gigi yang membantu dalam proses pencernaan pakan. Pada ternak kambing, ada hal yang unik, yaitu gigi mengalami keterasahan dan erupsi secara kontinyu dengan karakteristik tertentu, sehingga gigi pada kambing dapat digunakan untuk menduga umur kambing jika tidak adanya catatan reproduksi maupun kelahiran dari kambing tersebut.


Jika kita amati perkembangan gigi seri pada kambing, akan dijumpai adanya gigi awal yang umumnya kita sebut dengan gigi seri susu. Setelah beberapa waktu gigi seri susu akan berubah menjadi gigi seri permanen dan gigi seri permanen ini akan mengalami keterasahan pada umur-umur tertentu, sehingga dapat digunakan untuk menduga umur ternak kambing. Edey (1993) mengemukakan bahwa susunan gigi seri permanen pada kambing yang sudah dewasa, yaitu sepasang gigi seri sentral, sepasang gigi seri lateral, sepasang gigi seri intermedial, sepasang gigi seri sudut pada rahang bawah, tiga gigi premolar dan tiga gigi molar.


Lebih lanjut Frandson (1993) menyatakan bahwa pendugaan umur kambing berdasarkan gigi seri yaitu sebagai berikut: (1) Jika pada kambing telah tumbuh sepasang gigi seri susu sentral, kambing berumur 1 hari sampai 1 minggu; (2) Sepasang gigi seri susu lateral, kambing berumur 1 – 2 minggu; (3) Sepasang gigi seri susu intermedial, kambing berumur 2 – 3 minggu; (4) Sepasang gigi seri susu sudut, kambing berumur 3 – 4 minggu; (5) Sepasang gigi seri susu sentral digantikan oleh sepasang gigi seri permanen sentral, kambing berumur 1 – 1,5 tahun; (6) Sepasang gigi seri susu lateral digantikan sepasang gigi seri permanen lateral, kambing berumur 1,5 – 2,5 tahun; (7) Sepasang gigi seri susu intermedial digantikan sepasang gigi seri permanen intermedial, kambing berumur 2,5 – 3,5 tahun; (8) Sepasang gigi seri susu sudut digantikan sepasang gigi seri permanen sudut, kambing berumur 3,5 – 4 tahun.


Tuesday, August 13, 2013

Kendalikan Cacingan Kambing dengan Tanaman Nenas

 Kendalikan Cacingan Kambing dengan Tanaman Nenas




Kambing merupakan ternak yang terintegrasi dengan sistem usaha tani terutama pada petani dengan pemilikan lahan terbatas. Pada umumnya kambing masih dipelihara sebagai pekerjaan sampingan, dengan cara dilepas, dikandangkan pada malam hari atau dikandangkan sepenuhnya.

Manajemen pemeliharaan umumnya masih sangat sederhana dengan sistem pemeliharaan tradisional sehingga kambing sangat rentan terhadap serangan berbagai macam penyakit. Salah satunya, penyakit cacingan dari spesies Haemonchus contortus yang merupakan jenis cacing dari golongan Nematoda dengan angka infestasi dapat mencapai 80%.

Tanda-tanda kambing cacingan:

1.Kambing semakin kurus (berat badan tidak sesuai umur)

2.Bulu agak berdiri dan tidak mengkilap (kusam)

3.Sembelit atau kotoran lembek sampai mencret sehingga kandang cepat kotor

4.Lesu dan pucat serta nafsu makan berkurang

5.Daerah rahang terlihat membengkak (Bottle jaw)

6.Mati mendadak

Pengobatan dan Penanganan

Kambing yang menunjukkan gejala cacingan diobati dengan obat tradisional atau dengan obat pabrikan. Obat tradisional lebih murah, mudah didapat, dapat dikerjakan oleh peternak dan tidak memiliki efek samping yang membahayakan sedangkan obat pabrikan sebaliknya.

Obat cacing kambing tradisional yang telah terbukti efektif mengurangi infestasi cacing pada kambing adalah tanaman nenas. Seluruh bagian tanaman nenas dapat digunakan untuk pengobatan cacingan.

Caranya dengan menghilangkan durinya, berikan langsung kepada kambing. 600 mg untuk 1 kg bobot badan, diulang 10 hari berikutnya. Hindari pemberian obat ini pada kambing bunting.

Sumber : http://epetani.deptan.go.id


INFO BISNIS KULINER

BISNIS RECEHAN ...... INCOME JUTAAN

Cara Cerdas Dalam Usaha Penggemukan Kambing


Ternak Kambing adalah hewan ruminansia kecil yang hidupnya membutuhkan pakan yang berasal dari hijauan seperti rumput-rumputan, daun-daunan, sisa hasil pertanian.

Kemampuan beradaptasi yang cukup baik membuat ternak tersebut begitu mudah berkembang hampir diseluruh wilayah Jawa. Namun demikian keberadaan ternak kambing dalam keluarga petani belumlah memberi penghasilan yang baik bila faktor-faktor panca usaha ternak kambing seperti : pemilihan bibit yang baik, pemberian pakan yang memenuhi gizi dan pencegahan terhadap penyakit belum dilaksanakan secara maksimal.

JENIS KAMBING
Jenis Kambing yang tersebar luas di wilayah Jawa Timur adalah kambing kacang dan kambing peranakan etawah. Kedua jenis kambing tersebut sangat cocok dipelihara di wilayah lahan kering dan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Beberapa waktu lalu telah diperkenalkan jenis kambing yang baru yaitu kambing Boer yang merupakan jenis pedaging. Jenis ini sudah disiap untuk diperkenalkan di masyarakat Banyuwangi dengan program inseminasi buatan.

PEMILIHAN BIBIT KAMBING
Menentukan calon bibit kambing betina ataupun jantan sebagai calon bibit untuk keperluan budidaya perlu dipenuhi kriteria antara lain : Memiliki kemampuan pertambahan berat badan yang cepat dan konversi pakan makanan yang baik. Memiliki sifat genetic yang baik untuk menghasilkan keturunan kembar dalam satu kali melahirkan. Sedangkan untuk ciri karakteristik dapat dilihat mata yang bersinar cerah, tajam, tidak cacat tubuh, bulu halus dan mengkilat. Ciri khusus betina harus memiliki sifat keibuan, umur kurang dari 3 tahun, putting susu berjumlah dua dan sama besar. Sedangkan untuk pejantan memiliki sifat mengawinkan cukup besar, buah zakar berjumlah dua dan sama besar serta umur kurang dari 3 tahun.

PAKAN
Ternak kambing dalam kehidupannya memerlukan pakan hijau-hijauan seperti rumput, bungkil kedelai, daun-daunan, sisa produksi pertanian, dedak, dan lain-lain. Komposisi masing-masing sangat tergantung pada kebutuhan ternak, yaitu antara kambing menyusui, pemacek, dan dewasa berbeda. Untuk kambing dewasa kebutuhan makanan 10% dari berat badannya, dimana kebutuhannya yaitu ¾ bagian berupa rumput dan hijauan segar, ¼ bagian terdiri dari daun-daunan. Untuk kambing pemacek kebutuhan makanan hamper sama, akan tetapi peru ditambahkan dedak padi halus sebanyak 200-250 gram. Untuk kambing bunting menjelang melahirkan komposisi makanan untuk hijauan lebih banyak yaitu 3/5 bagian dan 2/5 bagian daun-daunan dan hijauan harus seimbang dan perlu ditambahkan dedak halus padi sebanyak 200-250 gram. Dewasa ini banyak peternak kambing menggunakan cara fermentasi jerami untuk pemunuhan kebutuhan pakan kambing. Fermentasi pakan ternak memang ditempuh guna memaksimalkan pakan kambing dan membuat para peternak semakin mudah dalam budidaya ternak kambing karena frekuensi dalam mencari pakan hijauannya semakin sedikit, bahkan banyak peternak kambing yang tanpa ngarit.

PERKAWINAN
Kambing betina dewasa yang sudah siap kawin umumnya berusia antara 6-8 bulan. Tanda birahinya antara lain : Gelisah, ribut dan nafsu makan menurun. Mencoba untuk menaiki ternak lainnya. Menggerak-gerakkan ekornya. Bagian vulva memerah, bila diraba terasa hangat. Keluar sedikit lendir bening kambing betina dewasa dikawinkan paling bagus berumur 10 bulan, dan jantan sebagai pemacek berumur 1 tahun. Waktu yang tepat untuk mengawinkan kambing pada pertengahan birahi yaitu 12-18 jam sejak birahi pertama muncul.

Selain menggunakan pejantan pemacek, dapat juga kambing betina dikawinkan dengan menggunakan metode kawin suntik (Inseminasi Buatan). Tujuannya adalah untuk menghasilkan keturunan yang mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Untuk saat ini kawin suntik (IB) kambing dapat menggunakan jenis kambing peranakan Etawah (PE).

KANDANG
Pembuatan kandang kambing diupayakan harus memiliki sirkulasi udara yang cukup bagus dan dijaga tingkat kebersihannya. Untuk budidaya kambing, kandang yang bagus adalah jenis panggung, karena akan memberikan kenyamanan pada ternak dan terjaga kebersihannya.

PENGOLAHAN USAHA
Pada umumnya pengelolaan usaha ternak kambing dapat dilakukan secara tradisional maupun secara intensif. Untuk menghindari kerugian dalam usaha, langkah pertama harus ditempuh harus membiasakan dengan memperbaiki managemen usaha, yaitu selalu melakukan pencatatan setiap kejadian mengenai ternaknya. Langkah selanjutnya adalah dengan melihat pangsa pasar. Waktu penjualan ternak kambing yang bagus adalah bila ternak telah berusia 12-18 bulan, dan berat badannya tidak bertambah lagi.

PENYAKIT
Salah satu hal yang penting dalam usaha ternak kambing adalah memperhatikan kesehatan ternak. Sanitasi kandang dan lingkungan merupakan cara termudah untuk mencegah terjadinya kejadian penyakit. Adapun kejadian penyakit yang paling sering adalah kembung (tympani), kudis (scabies), diare dan sebagainya. Untuk pertolongan pertama dapat menggunakan obat-obatan tradisional dan untuk selanjutnya dapat menghubungi petugas kesehatan terdekat.


Sumber :epetani.deptan.go.id








INFO BISNIS KULINER

BISNIS RECEHAN.....HASIL JUTAAN


Obat Tradisional untuk Penyakit Kambing

Obat Tradisional untuk Penyakit Kambing

Ternak kambing atau domba merupakan ternak yang banyak dipelihara di pedesaan. Masalah yang sering dijumpai dan dirasakan oleh peternak adalah serangan penyakit yang sangat merugikan peternak karena dapat menghambat pertumbuhan, reproduksi, bahkan kematian ternak.

Bagi peternak kambing di pedesaan untuk mengobati ternak yang sakit sering mengalami kesulitan, karena keterbatasan persediaan obat ternak yang ada di toko obat ternak dan harga obat yang terlalu mahal, sehingga sulit terjangkau oleh peternak.

Untuk mengatasi hal tersebut, perlu pengobatan dengan cara lain yaitu dengan menggunakan obat tradisional kambing yang ada dan dapat dilakukan peternak serta harganya murah.
Namun demikian usaha pencegahan juga perlu dilakukan dengan menjaga kebersihan ternak dan lingkungannya, pemberian pakan yang cukup (kualitas dan kuantitas), bersih dan tidak beracun.

Ada beberapa  penyakit yang sering menyerang ternak kambing dan penyakit ini dapat diobati secara tradisional diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Scabies (Kudis)

Penyebab:

Parasit yang terdapat pada kotoran yang terjadi karena kandang kotor dan ternak tidak pernah dimandikan.

Tanda- tanda:


    Kerak – kerak pada permukaan kulit terutama kulit yang jarang bulunya
    Ternak selalu menggesekan bagian kulit yang terserang kudis
    Kerontokan bulu, kulit menjadi tebal dan kaku


Pengobatan :
  1. Dengan melaksanakan pencukuran bulu sekitar daerah terserang,
  2.  Mandikan ternak dengan sabun sampai bersih, kemudian jemur sampai kering.
  3.  Setelah kering dapat diobati dengan menggunakan:
a. Belerang dihaluskan, dicampur kunyit dan minyak kelapa, kemudian dipanaskan dan digosokkan          pada kulit yang sakit
b. Belerang dihaluskan dan dicampur dengan oli bekas dan digosok pada bagian kulit yang sakit.
c.  Kamper / kapur barus digerus, dicampur minyak kelapa dan dioleskan pada bagian kulit yang sakit.

Pencegahan:


    Ternak yang berpenyakit kudis tidak boleh bercampur dengan ternak yang sehat.
    Ternak yang baru dibeli harus bebas dari penyakit kudis
    Mandikan ternak dua minggu sekali.
    Bersihkan kandang seminggu sekali.


2. Belatungan ( Myasis )

Penyebab:

Luka daerah yang berdarah diinfeksi oleh lalat sehingga lalat berkembangbiak (bertelur) dan menghasilkan larva belatung.

Tanda-tanda:


     Adanya belatung yang bergerak-gerak pada bagian yang luka
     Bila belatungan pada kaki/teracak maka ternak terlihat pincang.


Pengobatan:


     Bersihkan luka dari belatung, kemudian obati dengan gerusan kapur barus atau tembakau.
     Luka dibungkus dengan kain/perban untuk melindungi dari terjadinya luka baru atau kotoran.
     Pada hari berikutnya luka dibersihkan, pengobatan diulang dan dibungkus kembali.
     Bila belatung sudah terbasmi, pemberian yodium tinctur dapat dipakai untuk    mempercepat   pertumbuhan


3. Cacingan

Penyebab:

Bermacam-macam cacing terjadi karena kandang yang kotor atau padang pengembalaan yang kotor.

Tanda-tanda:
- Kurus, bulu agak berdiri dan tidak mengkilap
- Sembelit atau mencret
- Lesu dan pucat
- Daerah rahang terlihat membengkak
- Mati mendadak

Pengobatan:


     Tepung buah pinang dicampur dengan nasi hangat dikepal-kepal kemudian dipaksakan untuk  dimakan ternak. Ternak dianjurkan untuk dipuasakan terlebih dahulu.
     Daun kelor yang tua dibakar, kemudian debunya dicampur air dan diminumkan. Pengobatan diulangi  satu minggu kemudian.


Pencegahan:

     Kandang dibuat panggung dan bersih
     Pengaritan rumput setelah panas yaitu pada jam 12.00-15.00 atau pengembalaan ternak pada siang  hari jam 10.00-15.00.
     Jangan menggembalakan ternak pada daerah rawa, sungai dan sawah.


4. Keracunan Tanaman

Penyebab:

Ternak memakan rumput-rumputan atau daun-daunan yang mengandung zat racun.

Tanda-tanda:


    Mati mendadak, mulut berbusa, kebiruan pada selaput lendir, pengelupasan kulit/eksim atau terjadi pendarahan.


Pengobatan:


     Cekoklah ternak dengan air kelapa muda.


Pencegahan:


    Tidak memberikan tanaman beracun atau menggembalakan ternak di daerah yang banyak tumbuh tanaman yang mengandung racun.

Sumber :epetani.deptan.go.id



Silahkan mampir ke website saya www.AngkringanNasiKucing78.com, dapatkan informasi mengenai bisnis murah beromzet jutaan

Monday, August 12, 2013

Mensinergikan Petani dan Peternak Dengan Usaha Penggemukan Kambing


Pengembangan bidang peternakan perlu mendapat perhatian serius mengingat permintaan daging belum dapat dipenuhi di dalam negeri. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya produktivitas ternak karena kualitas pakan yang sangat rendah. Selain, itu masih rapuhnya industri pakan di Indonesia, sehingga menyebabkan tingginya ketergantungan terhadap pakan yang berbahan baku impor.

Demikian yang disampaikan Inspektur Jenderal Departemen Pertanian Prof. Dr Ir Zaenal Bachruddin, M.Sc dalam Seminar Nasional "˜Kearifan Lokal dalam Penyediaan serta Pengembangan Pakan dan Ternak di Era Globalisasia ", Jumat (27/7) di Fakultas Peternakan UGM.

Menurut Zaenal, salah satu solusi yang ditawarkan adalah penerapan sistem integrasi tanaman ternak dengan melakukan sinergisme yang saling menguntungkan antara petani dan peternak.

"Petani bisa memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik, sebaliknya peternak memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak yang berasal dari limbah padi, jerami, jagung dan limbah kacang-kacangan," ujar Zaenal.

Zaenal memaparkan beberapa contoh sinerjisitas dalam penyediaan pakan melalui pertanian terpadu berbasis peternakan diantaranya, pemanfaatan pakan limbah jagung dan kedelai untuk ternak babi di Sumatera Utara, pemanfaatan lumpur sawit untuk pakan unggas yang dihasilkan melalui daur ulang biomas di Kalimantan Tengah, pembudidayaan jangkrik untuk pakan ikan dan burung dengan menggunakan pakan dari limbah wortel, daun pepaya dan jagung muda di Provinsi Riau, serta pembudidayaan keong emas untuk pakan itik yang diberi makanan berbasis ikan di Kalimantan Selatan.

Lebih jauh dikatakan oleh Zaenal, upaya untuk meningkatan inovasi penyediaan pakan ternak perlu dipertimbangkan aspek pemberdayaan berbagai sumberdaya yang tersedia di daerah-daerah.

"Hal ini dimaksudkan agar potensi yang ada ada di daerah tertentu dapat dipergunakan secara optimal sehingga dapat mengurangi risiko penggunaan dana yang berlebihan," tuturnya.

Prof Zaenal menekankan bahwa pengembangan inovasi penyediaan pakan ternak memiliki peranan strategis bagi masyarakat pedesaan, karena limbah ternak juga penghasil pupuk organik dan sangat baik untuk meningkatkan produksi pertanian. (Humas UGM)

sumber : UGM.ac.id






Cassava Terbukti Mampu Tingkatkan Bobot Kambing Bligon

Selama ini ternak kambing tradisional cenderung hanya memberikan rumput raja sebagai pakan basal tunggal. Rumput raja memang banyak dijumpai pada musim penghujan, tetapi pada musim kemarau jumlahnya menjadi sangat terbatas. Hal ini menyebabkan ketersediaan pakan ternak yang tidak berkesinambungan terjadi sepanjang tahun sehingga produktivitas budidaya ternak kambing menjadi rendah.

drh. Sri Wigati, M.Agr.Sc., staf pengajar Fakultas Peternakan, Universitas Jambi, menyebutkan penyebab utama rendahnya produktivitas anak serta induk kambing bligon adalah kurangnya asupan nutrisi/pakan terutama pada musim kemarau panjang. "Sebenarnya produk cassava atau ketela pohon sangat potensial untuk pakan ternak kambing. Daun maupun umbinya dapat digunakan sebagai pakan substitusi dari rumput raja serta dijadikan suplemen. Musim kemarau merupakan puncak produksi daun cassava sehingga bisa mengatasi masalah ketersediaan pakan. Namun, saat ini cassava belum begitu dimanfaatkan sebagai pakan ternak,” katanya, Senin (29/3), di Auditorium Fakultas Peternakan UGM.

Ditambahkan oleh wanita kelahiran Banyumas, 24 Desember 1964 ini, dari penelitian yang telah dilakukannya pada peternak di daerah Gunung Kidul, produk cassava terbukti mampu meningkatkan bobot anak dan induk kambing bligon secara signifikan. Produk cassava terbukti dapat memperbaiki kinerja anak kambing bligon karena memiliki kandungan sumber energi dan protein yang tinggi.

“Penggunaan rumput raja sebagai pakan basal tunggal pada induk kambing dalam masa laktasi hanya menghasilkan peningkatan bobot induk sebesar 30,4 gram per ekor per hari. Sementara pada induk kambing bligon yang diberi pakan rumput raja, dengan diberi tambahan daun cassava kering bobotnya bisa meningkat sampai taraf yang cukup tinggi 88,0-90,1 gram per ekor per harinya,” terangnya di hadapan dewan penguji saat ujian terbuka program doktor.

Perbaikan pakan pada induk, lanjutnya, juga berpengaruh secara langsung terhadap bobot anak kambing bligon. Bobot anak kambing yang hanya mendapat pakan rumput raja hanya 65,8 gram per ekor per hari, sedangkan pada anak kambing dengan pemberian pakan substitusi mampu meningkatkan bobot sebesar 83,9-95,7 gram per ekor per hari. Hal ini menunjukkan perbaikan pakan pada induk dapat meningkatkan kinerja penggemukan anak kambing bligon pada taraf optimal.

Disebutkan oleh wanita yang menjadi doktor ke-1187 UGM ini, penggunaan produk cassava juga terbukti mampu mengurangi risiko diare pada ternak. Daun cassava segar mengandung senyawa tannin yang tinggi sebesar 11% BK dan pada daun cassava kering sebesar 4,09% BK. Senyawa tannin diketahui memiliki potensi sebagai anthelmintik dan antioksida alamiah. Efek tannin sebagai anthelmintik dapat menghambat perkembangan larva cacing nematode, menurunkan populasi cacing dewasa, menurunkan fekunditas cacing betina dewasa, dan menurunkan jumlah telur yang dikeluarkan melalui feses.

Lebih lanjut dituturkan Sri Wigati, kebiasaan peternak menggunakan rumput raja sebagai pakan tunggal dengan sistem pemupukan tanaman pakan dengan pupuk kandang dari kotoran kambing berpeluang memunculkan kontaminasi parasit gastro intestinal yang tinggi. Infeksi cacing nematoda bersamaan dengan infeksi koksidia akan menimbulkan diare klinis ringan hingga berat. “Penggunaan rumput raja sebagai pakan tunggal pada anak kambing bligon menyebabkan tingkat kejadian diare yang tinggi (62,5%). Sementara itu, penggunaan daun cassava kering untuk mensubstitusi sebagian dari rumput raja, bisa menurunkan tingkat kejadian diare sampai dengan 0%,” jelasnya. (Humas UGM/Ika)


sumber : UGM.ac.id

Sumonggo mampir ke www.AngkringanNasiKucing78.com

Friday, August 9, 2013

CARA MEMILIH CALON BIBIT TERNAK DOMBA DAN KAMBING YANG BAIK

CARA MEMILIH CALON BIBIT TERNAK DOMBA DAN KAMBING YANG BAIK


Tanda – tanda ternak domba dan kambing jantan yang baik untuk dijadikan bibit yaitu :

-     Memiliki tubuh besar (sesuai umurnya), sehat, relatif panjang dan tidak cacat.

-     Memiliki dada dalam yang lebar, karena akan berpotensi menampung daging

-     Memiliki kaki lurus dan kuat.

-     Memiliki tumit yang tinggi.

-     Memiliki penampilan yang gagah.

-     Memiliki nafsu kawinnya yang aktif dan besar.

-     Memiliki buah zakar yang normal (2 buah yang sama besar dan kenyal).

-     Memiliki alat kelamin kenyal dan dapat berereksi.

-     Memiliki bulu yang bersih dan mengkilat.

-     Sebaiknya berasal dari keturunan yang kembar.







Sumber : http://epetani.deptan.go.id


Monggo sekalian mampir ke website saya ya : www.AngkringanNasiKucing78.com