Showing posts with label Budidaya Ikan Botia. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Ikan Botia. Show all posts

Thursday, February 20, 2014

Budidaya Ikan Botia Chromobotia macracanthus

Ikan Botiamerupakan ikan hias asli Indonesia yang mempunyai nama daerah Ikan Bajubang, ikan ini hanya bisa dijumpai di dua tempat di Indonesia yakni Sungai Batanghari, Jambi dan Sungai Barito, Kalimantan.

Ikan ini diketahui pertama kali di eksport ke luar negeri pada tahun 1935. Sampai saat ini, botia termasuk ikan favorit dan memiliki banyak penggemar di luar negeri. Di habitat aslinya, botia hidup pada air mengalir di sungai-sungai. Oleh karena itu, untuk pemeliharaan dalam aquarium sering disarankan agar dilengkapi dengan arus buatan.

Botia termasuk ikan yang berumur panjang, ikan ini diduga bisa hidup puluhan tahun. Ikan botia bisa hidup dalam aquarium selama 20 tahun. Panjang ikan ini bisa mencapai 30-40 cm. Tetapi dalam lingkungan aquarium jarang yang dapat mencapai panjang potensialnya tersebut.

Morfologi dan Daerah Sebaran Ikan Botia

Ikan Botia memiliki bentuk tubuh memanjang dan pipih, perut hampir lurus, posisi lengkung sirip punggung lebih depan daripada sirip perut, memiliki empat pasang sungut. Warna dasar tubuh merah jingga kekuning-kuningan, yang dibalut warna hitam di tiga tempat. Satu memotong di kepala persis melintas di mata, di tengah tubuh agak lebar, terakhir di pangkal ekor merambat sampai sirip punggung. Sirip ekor tebal terbagi dengan ujung lancip, warna oranye dengan ujung kemerahan. Sirip anus hitam, dengan tulang sirip kuning, sirip dada berwarna merah darah. Botia memiliki duri di bagian bawah matanya.

Ikan botia yang berasal dari beberapa DAS di Sumatera dan Kalimantan. Penyebaran benih ikan botia di daerah banjiran sepanjang sungai Batang Hari mulai dari terusan sampai ke londerang pada musim penghujan. Penyebaran induk ikan botia mulai dari Muara Tembesi sampai Dusun Teluk Kayu Putih Kabupaten Tebo. Habitat ikan ini banyak ditemukan berkumpul di perairan yang tenang (tidak berarus deras). Ikan botia hidup di dasar perairan (termasuk ikan dasar), yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Suhu untuk pertumbuhan adalah 24-28oC, pH: 6-7,5, kesadahan air 5-15 mg/ldan kadar oksigen 3-5 ppm.

Klasifikasi Ikan Botia

Menurut Saanin (1984), klasifikasi ikan botia adalah:
Fillum : Chordate
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Actinopterygii
Ordo : Teleostei
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cobitidae
Genus : Botia
Spesies : macracanthus

Reproduksi

Botia yang sudah matang gonad akan berenang melawan arus menuju hulu sungai yang berair dangkal. Disepanjang sungai yang dangkal dan jernih itu induk botia akan memijah. Setelah memijah, ikan akan kembali ke hilir mengikuti aliran sungai. Saat memijah, botia melepaskan semua telur – telurnya secara serempak. Telur botia yang telah dibuahi akan menetas 14 – 26 jam setelah pembuahan. Benih ikan botia berkelompok dalam jumlah besar sehingga mudah ditangkap. Botia mulai matang gonad setelah ukurannya ± 40 gram, untuk botia jantan dan untuk botia betina ± 70 gram, atau panjangnya lebih dari 15 cm.

Pengamatan histologi gonad ikan botia yang dilakukan oleh Susanto (1996), membagi tingkat kemetangan gonad (TKG) menjadi 6 fase, yaitu sebagai berikut :
1. TKG 1. Sel telur baru mengalami perbanyakan dari sel epitel dan membentukoogonia. Kumpulan oogeniaberbentuk bulat yang dilapisi oleh satu dinding epitel. Sitoplasmanya berwarna merah jambu dengan nucleus yang besar
2. TKG II. Ootgonia berkembang menjadi oositdenagn sitoplasma yang bertambah besar dengan nucleus yang terletak ditengah – tengahnya. Selama perkembangannya, oosit ditutupi satu baris epitel. Diameter oosit berkisar antara 100 – 150 um.
3. TKG III. Fase ini adlah fase berkembangnya dinding sel. Oosit semakin membesar dan inti sel mulai tampak. Sitoplasma yang berwarna biru merupakan awal / persiapan vitelogenesis. Diameter telur antara 200 – 300um
4. TKG IV. Membrane inti mulai tampak berwarna terang, melingkari inti sel. Inti berwarna merah jambu sedangkan sitoplasma berwarna biru yang lebih terang dibandingkan pada TKG II dan III. Pada fase ini vitelogenesis berlangsung dan mulai terbentuk granula dan vakuola pada sitoplasma. Juga mulai terbentuk zona radiate yang berasal dari sel epitel. Diameter telur antara 300 – 500 um.
5. TKG V. Pada fase ini nucleus tampak jelas dengan granula yang masih kasar. Sitoplasma berwarna biru, sedangkan nucleus berwarna merah jambu agak cerah dibandingkan dengan cairan yang mulai mengalami deregerasi. Lapisan zona radiate tampak lebih jelas, tersusun dari sel berbentuk kubus dan sel tiang. Diameter telur antara 500 – 600 um.
6. TKG VI. Fase ini merupakan fase maksimum perkembangna oosit, dimana sudah mengalami perkembangna optimal dengan vakuola yang berukuran besar dan jumlahnya sangat banyak. Nucleus serta granula tampak lebih jelas, memenuhi sitoplasma. Dinding folikel terdiri atas zona radiate, teka interna dan eksterna. Pada bagian tertentu dari teka terdapat epitel yang menipis, membentuk mikrofil. Diameter telur mencapai kisaran antara 600 – 700 um.

Seleksi Induk
Dalam pemijahan buatan induk ikan botia masih diambil dari alam. Setelah induk diambil dari alam induk ikan botia ditempatkan pada wadah pemeliharaan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Proses adaptasi induk ikan botia hingga matang gonad sekitar 8-10 bulan. Induk yang sudah matang gonad ditandai dengan perut yang gendut pada induk betina, bobot > 80 gram, sedangkan induk jantan sudah berbobot> 40 gram, perut langsing, dan ditandai keluarnya cairan sperma setelah distripping.

Rangsangan Pemijahan
Untuk merangsang ovulasi atau spermiasi pada induk yang telah matang gonad dilakukan dengan cara stimulasi yaitu dengan menyuntikan hormon gonadotropin. Biasanya hormaon yang sering digunakan untuk merangsang pemijahan adalah “Ovaprim”. Ovaprim merupakan hormaon GNRH dan domperidon. Dosis yang digunakan dalam penyuntikan yaitu 1 ml/kg berat induk. Penyuntikan biasanya dilakukan dua kali. Penyuntikan pertama dilakukan bertujuan untuk pematangan sel telur dengan dosis 0,4 ml/kg. Sedangkan penyuntikan kedua bertujuan untuk proses pemijahan dengan dosis 0,6 ml/kg.

Stripping
Stripping adalah proses pengeluaran telur dan dan sperma dari induk betina maupun jantan dengan cara mengurut bagian genetal induk. Sebelum induk dilakukan stripping dilakukan pembiusan dengan menggunakan MS22 (phenoxy ethanol) dengan dosis 0,3 ml/L air. Setelah dilakukan stripping, telur dan sperma dimasukan pada wadah terpisah. Biasanya sperma diencerkan dengan larutan fisiologis (perbandingan 1:3).

Pembuahan
Pembuahan ika botia dilakukan secaran buatan yaitu dengan mencampur telur dan sperma. Setelah telur dan sperma tercampur, ditambahkan air untuk mengaktifkan sperma dan diaduk perlahan dengan bulu ayam. Selanjutya telur diletakan pada corong penetasan selama 15-26 jam pada suhu 26-270C.

Pemanenan Larva
Pemanenan larva dilakukan setelah telur menetas atau setelah 15-26 inkubasi. Larva yang baru menetas tidak langsung dipindahkan ke dalam akuarium sebab larva botia sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Setelah 4 hari didalam corong penetasan dan larva sudah dapat makan artemia, larva botia baru bisa dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan larva atau akuarium.

Pemeliharaan Larva
Pemeliharaa larva ikan botia dilakukan pada akuarium dengan padat tebar 5 ekor/liter. Pada larva berumur 4 hari, larva diberi makan dengan aetrmia sampai latva berumur 13 hari. Setelah itu larva diberi makan cacing darah sampai panen.

Sumber :
http://www.kkp.go.id/ikanhias/index.php/news/c/51/Budidaya-Ikan-Botia-Chromobotia-macracanthus/?category_id=1

Friday, August 16, 2013

Budidaya Ikan Botia

Ikan botia ( chromobotia macracanthus ) yang berparas sangat cantik ini tempat penyebarannya di sungai-sungai sumatera serta kalimantan. kecantikannya bikin ikan hias ini cukup laku, balk di pasar lokal ataupun ekspor.

Budidaya ikan botia pada umumnya, ikan botia diperjualbelikan dalam ukuran pada 1-3 inchi atau 2, 5 —7, 5 cm. botia berukuran besar, yaitu diatas 5 inchi dilarang untuk diperjualbelikan. tujuannya membuat perlindungan botia dari kepunahan dikarenakan penangkapan ikan dengan besar-besaran.

Penentuan induk
Sampai sekarang ini, induk botia tetap didatangkan dari alam atau mesti dibeli di area penangkapan. induk lantas dipelihara dalam area pemeliharaan yang tertutup atau wadah pemeliharaan¬nya dilengkapi tutup supaya cahaya sedikit masuk. adaptasi untuk masak gonad ikan ini agak lama lebih kurang 8-10 bln.. induk yang masak gonad ditan¬dai dengan gendutnya induk betina. cara kanulasi atau kateterisasi merupakan cara yang sangat efisien untuk memastikan kematangan gonad. Jika ukuran telur telah meraih panjang 1,1 - 1,2 mm maka ikan bisa dipijahkan. untuk induk jantan bisa dilihat dengan pengurutan serta apabila telah dapatkeluar sperma yakni cairan putih susu bermakna dia masak.


Pemijahan induk
Perbanyakan botia dikerjakan melewati pemijahan buatan, yaitu lewat cara menyuntikkan hormon pada induk-induk terpilih. untuk induk betina kandungan dipakai 1,0 ml/kg berat badan induk dengan 2 x suntik. pertama 0,4 ml serta ke-2 0,6 ml dengan interval waktu 6 jam. untuk induk jantan 0,6 ml/kg cukup berbarengan dengan suntikan pertama induk betina. sesudah penyuntikan, dilanjutkan dengan pengeluaran sperma serta telur induk lewat cara stripping.

Stripping pada induk jantan dikerjakan apabila induk telah terlihat gelisah serta berenang ibas-ngibaskan ekor. bagian stripping pada induk jantan yaitu seperti berikut.

Sesudah induk jantan ditangkap, lap tubuhnya sampai kering supaya sper¬ma yang di ambil tidak tercampur air, lantas bias menggunakan phenoxy ethanol 0,3 ml.

Sedot sperma menggunakan spuit diisi garam lantas tampung ke dalam wadah berbentuk mangkok kecil. Encerkan sperma dengan menam¬bahkan larutan garam fisiologis ( per¬bandingan 1 : 3 sampai 1: 4 ). Simpan dalam suhu dingin layaknya kulkas atau ice box. sperma ini bisa tahan sampai 4 – 6 jam,

Sesaat stripping induk betina bisa dikerjakan lewat cara seperti berikut :
Layaknya halnya pada induk jantan, sebelum saat stripping clilakukan induk betina mesti dalam situasi kering untuk setelah itu dikerjakan pembiusan.

Sesudah dibius, kerjakan pengurutan sampai telur keluar. tampung telur pada wadah berbentuk mangkok atau piring yang permukaannya halus. Apabila saat diurut tetap merasa berat, tunggulah sesaat sampai merasa mudah kembali.Kerjakan pengurutan sedikit demi sedikit sampai telur habis.

Sesudah sistem stripping induk jantan serta betina dikerjakan, campur sperma serta telur sembari dialiri air bersih, lantas goyang-goyangkan sampai merata. sesudah sate menit, bersihkan dengan air bersih berapa kali.

Penetasan telur botia sangat bagus di tempat yang berupa corong dengan aran air yang halus. air untuk menetaskan telur baiknya air yang telah “tua” telur dapat menetas di tempat penetasan lebih kurang 19 jam apabila suhu maksimal yakni pada 26-27° c.

Pemeliharaan pascapemijahan
Larva yang menetas dapat tambah baik dipelihara dalam corong sampai 4 hari yakni sampai makan artemia. baru setelah itu larva bisa dipinclahkan ke area pemeliharaan larva layaknya akuarium atau bak.

Ikan botia daya tetasnya tetap ren¬dah baru lebih kurang 40%. perihal ini dikarenakan induk botia biasanya sulit beradaptasi. tetapi demikianlah, apabila dirawatdengan balk, peluang hidup larva dapat meraih 80-90%.

Sumber :
http://aquariumhias.blogspot.com/2013/05/budidaya-ikan-botia.html

Thursday, August 15, 2013

Pemijahan Ikan Botia

Botia saat ini menjadi salah satu primadona ekspor ikan hias. Permintaan antara lain datang dari Singapura, Jepang, Eropa, dan Amerika. Pembudidaya atau nelayan di Sekayu, Musi Banyuasin bahkan telah berhasil membenihkan ikan hias bernilai ekonomi tinggi ini.

Pengembangbiakan ikan botia atau bajubang makin diminati oleh masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Pasalnya, pembenihan ikan bernama latin Chromobotia macracanthusini terbilang mudah. Pembudidaya atau nelayan di Sekayu, Musi Banyuasin bahkan telah berhasil membenihkan ikan hias bernilai ekonomi tinggi ini. Selain itu larva ikan botia juga bisa diperoleh dari Balai Penelitian Ikan Hias – Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Botia saat ini menjadi salah satu primadona ekspor ikan hias. Permintaan antara lain datang dari Singapura, Jepang, Eropa, dan Amerika. Nilai ekspor ikan hias Indonesia berdasarkan data United Nasional Commodity Trade Statisticspada 2009 sebesar 11,7 juta dolar AS atau 3,12% dari total nilai ekspor ikan hias di dunia yang mencapai 373,8 juta dolar AS. Kementerian Perdagangan menyebutkan volume ekspor ikan hias Indonesia pada periode 2007 – 2011 meningkat 11,56%.

Ikan botia ini merupakan ikan air tawar asli Indonesia yang berasal dari Sungai Barito, Kalimantan Selatan, Sungai Musi Sumatera Selatan dan Sungai Batanghari Jambi. Bentuknya seperti pesawat tempur, warna tubuh kuning cerah dengan tiga garis lebar atau hitam.

Di Indonesia, harga ukuran dua inci berkisar antara Rp 6.000 sampai Rp 10.000 per ekor. Sedangkan ukuran 5 cm mencapai 13 euro (Rp 183 ribu) per ekor di pasaran Eropa. Untuk pengembangbiakan, sekarang sudah bisa dilakukan secara buatan (induced breeding).

Pembenihan Botia
Teknik pembenihan ikan bajubang secara sederhana yang dilakukan oleh warga Sekayu di mulai dengan pematangan gonad induk ikan. Induk betina ikan botia minimal telah mencapai matang gonad pada ukuran 16 cm atau berat mencapai 100 gram dan induk jantan mencapai ukuran 14 cm atau berat mencapai 40 gram.

Pemeliharaan induk dilakukan pada wadah akuarium atau fiberglas dengan kepadatan 6 – 8 ekor /m2dan ketinggian air 40 cm. Kualitas air dalam media pemeliharaan induk botia antara lain dengan kisaran suhu 260– 30oC, pH 6,5 – 7,0 dan oksigen terlarut >5 ppm. Wadah ditutup atau dinaungi dengan bahan gelap dan di dalan wadah diberi tempat persembunyian berupa genting dan paralon.

Jenis pakan induk ikan botia berupa cacing sutra (Tubifex sp) dan pelet dengan kadar protein >35% diperkaya dengan vitamin E 500 mg/kg pakan. Frekuensi pemberian 2 kali sehari dengan jumlah pemberian dengan metode adlibitum (sekenyang-kenyangnya).

Kemudian, pemijahan induk botia dilaksanakan pada musim hujan dengan terlebih dahulu melakukan seleksi induk. Yaitu dengan cara visual (diraba) dan pengurutan (stripping) ataupun dengan cara kanulasi (katerisasi).

Untuk merangsang ovulasi atau spermiasi pada induk matang gonad dilakukan dengan cara stimulasi hormon gonadotropin menggunakan hormon ovaprin. Dosis penyuntikan 1,0 ml/kg berat induk betina dengan frekuensi penyuntikan 2 kali dan 0,6 ml/kg berat induk jantan, frekuensi penyuntikan 1 kali bersamaan penyuntikan pertama induk betina.

Proses pemijahan dilakukan secara buatan yakni setelah 11 – 18 jam setelah penyuntikan ke dua dengan teknik strippingperut ikan ke arah genital hingga telur dan sperma keluar, selanjutnya dilakukan fertilisasi. Tempat penetasan berupa corong dari fiberglass yang diberi aerasi kuat sehingga memungkinkan telur tetap melayang di air.

Telur akan menetas menjadi larva dalam jangka waktu 19 – 29 jam, larva bisa dipindahkan ke akuarium dan diberi pakan cacing sutra. Pakan pelet diberikan setelah larva umur 10 hari. Benih berukuran 2,5 cm dipanen dalam waktu sekitar 25 hari.Larva yang sudah menetas dipelihara dalam wadah akuarium atau fiberglass dan diberi pakan nauplii Artemiaukuran 0,1 – 0,15 mm. Larva yang sehat akan terlihat naik turun mengikuti aliran air. Kualitas air yang harus diperhatikan antara lain suhu antara 26 – 29 0C, Oksigen terlarut > 5 ppm, pH 6,0 – 7,0 dan CO2 sekitar 6,0ppm.

Sumber :
http://www.trobos.com/show_article.php?rid=22&aid=3937

Wednesday, August 14, 2013

Variasi Jenis Ikan Botia

Botia itu adalah kelompok ikan dari suku Cobtidae yang kebanyakan juga laku sebagai ikan hias. Secara ilmiah, beberapa ikan berubah nama marganya dari Botia menjadi Chromobotia, Syncrossus, Yasuhikotakia dll. Sehingga penyebutan ikan Botia hanya tinggal terjadi di dunia ikan hias.

Botia akan sangat bergembira apabila dipelihara secara berkelompok 5-6 ekor atau lebih. Mereka akan berenang bergerombol berkeliling akuarium dan saling bercengkerama diantara mereka, saling meggesekan badan dengan sirip menegak, sehingga dapat menyajikan tontonan sangat menarik bagi pemeliharanya. Perilaku lain yang menarik adalah tiduran tergelatak pada satu sisi tubuhnya. Hal ini sering menimbulkan salah pengertian bagi pemeliharanya karena disangka ikan tersebut sakit atau mati. Perilaku tersebut merupakan perilaku normal ikan Botia.

Agar Botia betah, sediakan tempat persembunyian yang banyak dalam akuarium. Tempat persembunyian ini dapat berupa tanaman, atau dekorasi lain yang memadai tapi jangan lupa pula menyediakan ruang berenang yang cukup. Sediakan pula substrat yang “lembut” karena sebagai ikan bawah mereka akan kerap mencari-cari makanan pada substrat dengan mulutnya.Botia dapat menerima berbagai jenis pakan. Meskipun demikian perlu diingat bahwa mereka sebenarnya adalah karnivora, sehingga perlu diberi pakan dengan diet protein tinggi.

Jenis Kelamin
Betina pada umumnya memiliki tubuh lebih ramping dibandingkan dengan jantan. Sedangkan jantan ditandai dengan sirip ekor lebih panjang dibandingkan dengan betina.

Breeding
Pemijahan dilaporkan berhasil dilakukan dalam akuarium, akan tetapi dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Beberapa aquaris menyebutkan bahwa sering kali yang menjadi penghambat adalah faktor umur. Banyak yang menyangka ikan ini termasuk ikan berukuran kecil sehingga sering mencoba dipijahkan pada usia yang sebenarnya belum dewasa. Ikan dengan panjang 15-20 cm dalam akuarium boleh dikatakan sudah matang untuk dipijahkan. Beberapa hobiis melaporkan bahwa botia betina mengandung terlur setelah mencapai panjang tersebut. Botia termasuk dalam golongan egg layer.

Ikan Botia sangat banyak sekali jenisnya bahkan mungkin terbanyak di antara species ikan hias yang lainnya namun beberapa jenis Botia yang paling terkenal diantaranya adalah:

* Botia Badut (Chromobotia macracanthus)
Nama lainnya dari Botia Badut adalah Clown Loach, Clown Botia. Merupakan botia yang paling terkenal dan indah dipandang. Mulut ikan ini menghadap ke bawah, tubuhnya belang kuning dan hitam. Botia termasuk ikan yang berumur panjang, diduga bisa puluhan tahun. Dilaporkan botia badut bisa hidup dalam akuarium selama 20 tahun. Panjang bisa mencapai 30 – 40 cm. Botia betina biasanya berukuran lebih besar. Tetapi dalam lingkungan akuarium jarang yang mencapai panjang potensialnya tersebut. Ikan botia jenis ini yang dijual di pasar ikan hias berukuran sekitar 5-10 cm.

* Botia Macan (Syncrossus hymenophysa)
Botia macan disebut juga Tiger Loach dapat tumbuh sampai 25 cm, mulut lancip dan mempunyai duri yang dapat membuka dan menutup dibagian rahang sampingnya. Warna belang-belang vertikal dan keperakan. Distribusi dan habitat alam terdapat di Indonesia yaitu di Sumatra dan Kalimantan. Botia macan termasuk ikan pendamai, pemakan dedritus, cacing, zooplankton dan berbagai hewan kecil yang terdapat di dasar sungai/danau. Ikan ini suka berada di dasar mengaduk-aduk substrat untuk mencari makanan. Bila dipelihara sering membenamkan diri di dasar pasir. Botia macan dijual dengan harga sedang.

* Botia Morleti (Yasuhikotakia morleti)
Botia Morleti ini hanya dapat tumbuh sampai ukuran 10 cm paling kecil diantara botia botia lainnya, mulut lancip dan mempunyai duri yang dapat membuka dan menutup dibagian rahang sampingnya. Warna abu-abu keperakan dan mempunyai corak vertikal hitam tebal dibagian pangkal ekor. Habitat aslinya terdapat di sungai Mekong, Chao Phraya dan sekitar perairan Thailand Sedangkan di Indonesia sendiri hanya terdapat di pasar ikan hias.

* Botia India (Botia lohachata)
Dikenal di dunia ikan hias dengan nama Reticulate Loach yang berasal dari India. Ikan ini dapat tumbuh sampai 15 cm, mulut lancip dan mempunyai duri yang dapat membuka dan menutup di bagian rahang sampingnya. Warna belang tidak teratur seperti corak batik. Botia India termasuk ikan pendamai, pemakan dedritus, cacing, zooplankton dan berbagai hewan kecil yang terdapat di dasar sungai/danau. Ikan ini suka berada di dasar mengaduk-aduk substrat untuk mencari makanan. Bila dipelihara sering membenamkan diri di dasar pasir. Botia macan dijual dengan harga sedang.

* Botia Myanmar (Botia kubotai)
Sering disebut juga Angelicus Loach habitat asalnya berada di sungai-sungai Burma (Myanmar). Dapat tumbuh sampai 13 cm (5 Inchi). Botia Myanmar memiliki bentuk tubuh yang khas, bentuk tubuh yang memanjang, punggung yang agak melengkung, memiliki kepala yang tajam dengan mulut ke arah bawah dari tubuhnya dan dikelilingi oleh beberapa duri yang berfungsi untuk mencari makanan berbentuk substrat. Botia myanmar mempunyai warna tubuh cokelat dan emas. Ikan ini merupakan ikan pendamai bahkan lebih pendamai daripada sepupunya yaitu botia badut. Walaupun demikian mereka suka bertengkar di antara jenis mereka sendiri untuk menentukan siapa yang berkuasa.

Sumber :
http://zonaikan.wordpress.com/2012/08/09/variasi-jenis-ikan-botia/

Friday, August 9, 2013

Melongok Ikan Botia di Sungai Batanghari

Musim hujan di Sungai Batanghari, Jambi, merupakan masa paling dinantikan oleh para pencari ikan hias botia setempat. Di saat itu ikan hias bernama latin Botia macracantha sepanjang 2,5 cm tersebut keluar dari tempat persembunyiannya. Indonesia termasuk beruntung lantaran bajubang–sebutan botia di Jambi–memiliki sebaran terbatas. Ia hanya dijumpai di sungai dan rawa di Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Nah ikan hias ekspor tersebut yang terbaik berasal dari Jambi.

Sejatinya ikan botia sohor di kalangan penggemar ikan hias seantero dunia lantaran bersosok unik di antara 3 strain botia yang beredar di pasaran seperti B. helodes, B. sidthimunki, dan B. modesta. Anggota keluarga belontiidae itu menawan coraknya. Bentuk tubuh indah, punggung agak membungkuk sehingga sepintas mirip pesawat tempur dari Rusia, Sukhoi. Warna tubuh sawo matang atau kuning dengan 3 jalur hitam mengerucut ke bawah tubuh. Satu garis hitam memotong persis di kepala, lalu di tengah agak melebar, dan berujung di sirip punggung hingga mendekati ekor.

Sirip ekor terbelah menjadi 2 bagian dengan ujung merincing. Warna oranye dengan ujung kemerahan. Dua kumis kecil menghias mulutnya yang runcing. Tepat di bwah mata muncul duri kecil yang digunakan sebagai senjata. Tah heran bila ia dijuluki si mata duri alias thorn eyes. Perilakunya pun unik. Kelompok ikan nocturnal itu selalu merayap di dasar air. Beberapa peternak di luar negeri menjulukinya si perayap lumpur. Keunikan lain, clown loach itu adalah ikan pemalu dan mudah terperanjat dan ketakutan terutama melihat ada gerakan di sekitarnya.

Sampai saat ini ikan botia masih mengandalkan alam. Puncak pencarian biasa berlangsung saat air Sungai Batanghari naik sekitar Maret—Mei. Di saat-saat seperti itu sungai di negeri Angsa Duo bisa menyuplai hingga 2,5-juta ekor botia. Namun di luar bulan-bulan tersebut terutama Agustus—Desember, ikan botia sulit diperoleh.

Di saat musim hujan saat ikan botia melimpah, botia sepanjang 1,5 cm dijual Rp300 per ekor. Sedangkan ekportir melepas US$1 per ekor. Di luar musim, jika beruntung mendapat ukuran serupa, harga jualnya mencapai Rp500 per ekor, eksportir melepas US$3 per ekor.

Nah, botia sebetulnya bisa dipijahkan di luar habitat aslinya agar populasinya di alam tetap terjaga. Cara pemijahannya pun tergolong mudah. Induk ukuran 100—200 g diadaptasikan terlebih dulu. Setelah itu ia disuntik dengan hormon supaya bisa memijah.

Sumber :
http://www.bebeja.com/melongok-ikan-botia-di-sungai-batanghari

Thursday, August 8, 2013

Mengenal Ikan Botia

Ikan botia yang merupakan salah satu ikan kebanggaan Indonesia yang diekspor ke luar negeri, dapat ditemui di perairan batang hari jambi dan sungai barito di kalimantam yang karakteristik perairannya sesuai dengan habitat ikan botia yang menyukai perairan tenang, gelap dan suka bersembunyi tapi ia tidak menyukai adanya lumpur.

Asal Ikan Botia
Ikan botia yang berasal dari beberapa DAS di Sumatera dan Kalimantan. Penyebaran benih ikan botia di daerah banjiran sepanjang sungai Batang Hari mulai dari terusan sampai ke londerang pada musim penghujan. Penyebaran induk ikan botia mulai dari Muara Tembesi sampai Dusun Teluk Kayu Putih Kabupaten Tebo. Habitat ikan ini banyak dijumpai di perairan yang tenang. Ikan botia hidup di dasar perairan.dan ikan ini yang aktif mencari makan pada malam hari.

Tahukah anda bahwa memelihara ikan botia sungguh sangat mengasyikan. Bagi para hobbis ikan ini indah SEKALI untuk dipandang. Bentuk tubuhnya yang agak pipih dan agak bulat memanjang ditambah pula bentuk perut yang hampir lurus dengan lengkung sirip punggung lebih depan posisinya dibandingkan sirip perutnya dan bersifat anal berpasangan, menambah bentuk eksotika ikan botia sebagai ikan hias. Apalagi adanya empat pasang sungut yang dimilikinya. Sementara Memandang corak warna tubuhnya yang yang memiliki dasar merah jingga kekuning-kuningan dengan balutan tiga garis lebar atau pita hitam yang melingkar di tubuhnya sungguh sangat menyejukkan hati yang memandang. Perlu juga diketahui bahwa ikan ini termasuk ikan yang tidak memiliki sisik. Tetapi hati-hati bila memegang ikan ini karena ia memiliki senjata untuk melindungi diri dari serangan berupa patil di bawah matanya yang tersembunyi dan akan keluar bila ia merasa dalam bahaya karena itulah ia sering pula disebut si mata berduri. Tidak salah bila botia bisa menjadi obat penghilang stress bagi pemeliharanya.

Di alam bebas ikan ini dapat mencapai ukuran 30 – 40 cm sedangkan di akuarium dapat mencapai panjang maksimal hanya 11 – 14 cm saja, berhubugn diaquarium volume tempatnya yang terbatas. ikan botia betina dapat mencapai berat 80 gram setelah dewasa. Sementara jantannya dapat mencapai 40 gram. Umur ikan botia termasuk panjang. Usianya dapat mencapai umur 20 tahun.

Sumber :
http://ikanpeliharaan-ku.blogspot.com/