Tuesday, August 7, 2012

Pedoman Singkat Budidaya Ikan Patin

Ikan patin atau dalam bahasa latin disebut dengan Pangasius Hipothalmus merupakan ikan konsumsi budidaya ikan air tawar unggulan.
Ikan yang daerah penyebarannya meliputi Jawa, Sumatra dan kalimantan ini sering pula disebut dengan ikan jambal, ikan juara, ikan lancang dan ikan sodarin.

A. PERSYARATAN LOKAL

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah lokasi sebelum digunakan untuk membudidayakan ikan patin adalah :
1. Tanah dasar kolam harus bertekstur liat lempung, tidak porous dan cukup mengandung humus.
2. Sudut kemiringan lahan berkisar antara 3 – 5 %.
3. Air harus bersih, dasar kolam tidak berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar dari bahan – bahan kimia beracun, minyak dan atau limbah pabrik.
4. Suhu air harus berada dikisaran 24 – 28 derajat C dan memiliki kadar pH diantara 6,5 – 8.

B. TEKNIK BUDIDAYA

a. Persiapan Kolam
Persiapan kolam dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan sumber pakan alami dalam jumlah yang cukup bagi ikan untuk tumbuh. Beberapa tahap persiapan kolam yang harus dilakukan adalah :
1. Pengeringan tanah dasar kolam.
2. Pengapuran tanah dasar kolam dengan menggunakan kapur tohor atau dolomit, dengan dosis 25 kg/100 m2.
3. Pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang dengan dosis 25 – 50 kg / 100 m2 dan TSP dengan dosis 3 kg / 100 m2.
4. Kolam diisi dengan air setinggi 3 cm lalu didiamkan selama 3 hari.
5. Proses penambahan air dilakukan sedikit demi sedikit hingga pada akhirnya ketinggian air kolam maksimal adalah 80 – 120 cm.

b. Penebaran Benih
Setelah usianya mencapai 1 – 3 minggu (panjang 1 inchi), anak ikan patin dapat segera dipindahkan ke dalam kolam pembesaran. Kegiatan tebar benih ini dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu air kolam sedang tidak tinggi.

c. Pemeliharaan
Yang harus selalu diperhatikan adalah bahwa kualitas air harus selalu terjaga dengan baik. Air harus senantiasa diganti setiap kelihatan keruh.

d. Pemberian Pakan
Pakan dapat diberikan sebanyak 2 kali dalam sehari, pada waktu pagi dan sore hari. Dosis pakan per hari adalah sebesar seperlima dari berat badan ikan.

e. Pemanenan
Ikan patin yang dibesarkan didalam kolam dapat dipanen setelah ikan mencapai usia 3 – 4 bulan. Ikan patin dengan ukuran berat anatar setengah kilogram – satu kilogram adalah ikan patin yang paling banyak dicari.

C. NILAI EKONOMI

Ikan patin memiliki beberapa keunggulan, diantaranya dagingnya tebal dan terasa gurih, berlemak dan tidak banyak mengandung duri. Harga jualnya yang stabil dan tinggi membuat usaha budidaya ikan patin ini menjanjikan banyak keuntungan.

Sumber : http://bodee2.blogspot.com/

Monday, August 6, 2012

Lavender: Peluang harum tanaman anti nyamuk (1)

Lavendel atau tenar sebagai lavender (Lavandula angustifolia) adalah tumbuhan dari suku lamiaceae yang memiliki 25-30 spesies. Selain dapat dijadikan sebagai tanaman hias, lavender juga bisa berfungsi sebagai pengusir nyamuk.

Lantaran memiliki fungsi ganda, banyak orang tertarik memelihara tanaman ini. Salah seorang pembudidaya lavender adalah R. Winardi di Tangerang, Banten.

Ia menekuni usaha ini sejak tahun 2007 di bawah bendera usaha Wins Cultura. "Lavender termasuk tanaman hias yang punya banyak kelebihan sehingga banyak penggemarnya," kata Winardi.

Sebagai tanaman hias, lavender memiliki bentuk daun yang bagus dan tebal. Lavender juga memiliki bunga dengan aroma wangi dan sedap dipandang mata.

Tidak saja indah dari segi fisik, lavender juga mampu mengusir nyamuk. Selain itu, "Lavender juga bisa menyerap CO2," kata Winardi.
Tanaman ini tidak disukai nyamuk karena mengandung zat linalool dan lynalyl acetate. Kendati memiliki banyak manfaat, harga bunga ini relatif murah.

Oleh Winardi, bunga ini dibanderol Rp 5.000 per pohon dengan ketinggian 15 centimeter (cm)-20 cm. "Usianya sekitar tiga bulan," ujarnya.

Winardi mengaku, meski peminatnya banyak, tapi pasar lavender pasang surut. Ia bilang, pada 2008-2010 permintaan cukup tinggi dan kembali turun di tahun 2011. "Tetapi tahun 2012 ini sedang membaik lagi," ujarnya.

Lelaki 62 tahun ini menyatakan, bila kondisi pasar sedang bagus, ia bisa menjual 4.000-5.000 pohon setiap bulan. Bila pesanan melebihi kapasitas, ia akan meminta tambahan pasokan dari rekannya yang juga pembudidaya lavender di Bogor.

Dari lavender, Winardi meraih omzet Rp 20 juta per bulan. Ia mengaku pelanggan lavender datang dari semua kalangan, mulai dari korporat, instansi pemerintah, dan kolektor tanaman.

Selama ini, ia banyak menerima pesanan dari wilayah Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Pemain lainnya adalah Christian Kuswanto, pemilik PT Warna Indah Bintang Agrobis di Cengkareng, Banten.

Menurutnya, pasar lavender tak pernah mati mengingat fungsinya sebagai pengusir nyamuk. Christian bilang, saat ini yang masih banyak memesan lavender adalah pemilik kafe, restoran outdoor, dan rumahsakit yang juga memiliki yang banyak tempat di luar ruangan. "Rumah makan atau kafe outdoor perlu lavender untuk mengusir nyamuk," ujarnya.

Dalam sebulan, ia bisa menjual 500 pohon. Dengan harga jual Rp 10.000-Rp 15.000 per polybag, omzet yang diperolehnya sekitar
Rp 7 juta per bulan.
(Bersambung)

Sumber : http://peluangusaha.kontan.co.id/

Sunday, August 5, 2012

Mendulang Emas dari Bekicot

Siapa tak kenal makhluk kecil berlendir dengan rumah tempurung rapuh dari zat kapur yang selalu dibawanya kemana-mana itu. Bekicot yang termasuk keluarga siput-siputan ini sering kita jumpai lebih banyak di kala musim hujan. Produksinya sekali kawin mencapai puluhan telur. Bagaimana cerita bekicot yang mampu menarik minat seorang buruh hingga mampu menjadikannya sebagai pengusaha makanan sukses hingga mampu menghidupi keluarganya?

Awalnya dari kebosanan sebut saja Pak X membelikan lauk pauk berupa tempe tahu setiap hari untuk ketiga buah hatinya. Suatu hari ia mendapat ide ketika sesekali mendapati beberapa ekor bekicot di pekarangan menuju tempat kerjanya sebagai buruh bangunan. Ia telah mengetahui beberapa mitos tentang khasiat bekicot ketika masih tinggal di kampung halaman. Selain bisa menjadi obat, bekicot dipercaya bisa mengembalikan stamina.

Berbekal coba-coba, sang bapak memburu bekicot, menguliti hewan tersebut, membersihkan lendir, memberi bumbu dan menumisnya. Hasilnya, menjadi alternatif lauk-pauk baru. Tak hanya mudah didapat, memburu bekicot bahkan tak mengeluarkan biaya sama sekali. Inilah yang menjadi pemikiran Pak X, karena ia bisa menghemat pengeluaran. Dan ternyata anak-anaknya semakin menyukainya.

Melihat sebuah peluang yang terbuka lebar didepan mata dan menyadari bahwa bekicot belum banyak dikembangkan menjadi alternatif bahan pangan treutama di daerah kota maka pak X mencoba menernakkan bekicot dan mengolahnya menjadi beberapa alternatif makanan seperti sate bekicot. Ternyata banyak konsumen yang mulai menggemari makanan ini. Selain pak X mampu menghilangkan kesan jijik yang berasal dari binatang tersebut, kepandaian meracik bumbu menjadi daya tarik tersendiri untuk menghasilkan rasa yang pas, lalu dengan iming-iming khasiat yang unik dari bekicot, tak membuat takut untuk mengkonsumsinya.

Menurut hasil penelitian, bekicot memiliki kandungan asam amino yang tinggi dan protein yang tak kalah dengan protein pada daging ayam, sapi dan kambing. Selain itu lendir yang kita anggap menjijikkan dari bekicot ternyata mengandung zat yang dapat mengurangi rasa sakit akibat luka pada kulit dengan cara dioles. Bagaimana cara mendapatkan lendir bekicot? Dari pengalaman pak X, lima ekor bekicot mampu menghasilkan segelas kecil lendir berkhasiat. Caranya adalah dengan memecah ujung tempurung bekicot dan menuangkannya pada wadah yang telah disiapkan. Lendir berwarna bening kebiruan itu akan keluar dengan sendirinya.

Tak pelak lagi usaha ini ternyata mendulang emas bagi pak X, kesulitan ekonomi tak memupus semangat untuk mencari solusi bahkan mampu mengasah kemampuan inovasi yang sederhana namun menghasilkan pendapatan keluarga.

Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/

Saturday, August 4, 2012

Philodendron : Indahnya Bunga Cinta

Dengan bentuk daunnya yang lebar, Philodendron banyak disuka sebagai tanaman dalam ruang atau untuk hiasan. Philodendron termasuk dari keluarga Aracea, dan sangat banyak spesies, dengan ciri-ciri tersendiri pada lebar, ketajaman, dan warna daun.

Sebetulnya, keindahan Philodendron (sering disebut Philo saja) tak melulu terletak pada daunnya. Bunga dan batangnya pun terkadang mengundang decak kagum. "Misalnya, Philo Eceng, yang batangnya menyerupai tanaman eceng gondok," papar Arniria Kusuma didampingi sang suami, Bambang Suryono dari Kesuma's Flora.

Di pasaran, Philodendron dikenal dengan nama-nama unik. Selain Philo Eceng, ada juga Philo Kodok yang jika diperhatikan memang mirip kodok, dengan batang bulat. Atau Philo Kabel Busi, karena bentuknya mirip busi berwarna kuning. "Philo Kabel Busi sangat disukai pembeli. Padahal harga per helai daunnya mencapai Rp 400 ribu. Tinggal dihitung jika dalam satu pohon ada 8 lembar daun." Tetapi, imbuh Arniria, di antara semua jenis yang ada, Philo dengan bentuk klasik tetap jadi "ratunya."

Tanaman Teduh
Sebagai tanaman yang berasal dari hutan tropis yang lembab, Philodendron tidak terlalu suka panas. "Akan lebih baik jika diletakkan di atas kolam ikan. Pertumbuhannya lebih baik dibandingkan disimpan di atas rak. Mungkin karena tercipta udara dingin, ya," jelas Arniria.

Bagi pasangan ini, tanaman akan lebih subur jika diberi pupuk cair kimia buatan sendiri. "Kasih sebulan sekali dan semprotkan ke daunnya secara rutin." Yang paling penting, media tanam harus porous agar mampu menyimpan atau mengikat akar. "Seperti pakis, kompos bambu, dan arang sekam. Kalau mau memperbanyak unsur haranya, berikan lebih banyak kompos bambu."

Waspadai ulat atau virus yang membuat busuk akar dan batang. "Jika tumbuh jamur semprotkan fungisida supaya tidak merambat ke daun lain." Arniria membenarkan tanaman ini termasuk yang mudah dirawat asalkan syarat tertentu dipenuhi. "Asal cukup gizi dan makanan pasti akan tumbuh subur."

Untuk mengembangbiakan pohon ini tak terlalu sulit. "Harus dibelah dulu bonggolnya baru bisa diperbanyak meski ada risiko mengalami busuk. Setelah dua bulan baru bisa dilihat hasilnya."

Pohon Cinta
1. Nama Philodendron diambil dari bahasa Yunani, Philo (cinta) dan dendron (pohon).
2. Agar daun tampil mengilap, lap daun dengan susu murni.
3. Jangan simpan tanaman di tempat yang terlalu panas atau langsung kena matahari karena akan berpengaruh ke daun.
4. Berilah pupuk sebulan sekali.
5. Jika ingin disimpan di dalam ruangan jangan terlalu lama, cukup 3 hari. Lalu, keluarkan agar terkena sinar matahari.

Sumber : http://legends-garden.blogspot.com/

Friday, August 3, 2012

Bekicot Menjijikan Namun Menguntungkan

Bicara bekicot, sebagian orang pasti merasa jijik, binatang melata yang satu ini memang memiliki konotasi jijk. Tubuh kenyal penuh dengan lendir merupakan satu kesatuan yang menjijikan, namun di balik itu ternyata bekicot memiliki manfaat dan bernilai ekonomis tinggi. Terbuka kesempatan luas untuk membuka peluang usaha budidaya bekicot.

Dari asalnya Bekicot dari Afrika Timur, walaupun tergolong lambat dalam berjalan (melata) bekicot telah tersebar keseluruh dunia dalam waktu relatif singkat. Hal ini karena bekicot berkembang biak dengan cepat. Bekicot tersebar ke arah Timur sampai di kepulauan Mauritius, India, Malaysia, akhirnya ke Indonesia. Bekicot telah hadir di Jakarta sejak tahun 1933 telah ada disekitar Jakarta, sumber lain menyatakan bahwa bekicot jenis Achatina fulica masuk ke Indonesia pada tahun 1942 (masa pendudukan Jepang). Sampai saat ini, bekicot jenis Achanita fulica banyak terdapat di Pulau Jawa.

Sekalipun terasa aneh ternyata bekicot telah banyak diternakkan, terdapat beberapa daerah yang memiliki sentra peternakan bekicot yaitu di masyarakat pedesaan Jawa Timur, Bogor (Jawa Barat), Sumatera Utara dan Bali.

Bekicot yang umum diternakkan adalah jenis Achatina fulica yang banyak disenangi orang, karena bekicot jenis ini banyak mengandung daging. Konon di Eropa, bekicot jenis ini digunakan sebagai bahan baku makanan yang disebut Escargot. Escargot semula berbahan baku Helix pomatia. Karena Helix pomatia lama kelamaan sulit diperoleh maka bekicot jenis Achatina fulica menggantikannya sebagai bahan baku Escargot.

Bekicot seringkali hanya dijadikan sebagai pakan ternak, namun ternyata bekicot merupakan sumber protein hewani yang bermutu tinggi karena mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap. Di salah satu daerah malah bekicot cukup digemari. Bekicot dibuat makanan seperti sate bekicot, keripik bekicot.

Disamping itu bekicot juga kerap dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging bekicot dan lendirnya sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti abortus, sakit waktu menstruasi, radang selaput mata, sakit gigi, gatal-gatal, jantung dan lain-lain. Sedangkan kulit bekicot sangat mujarab untuk penyakit tumor. Sejenis obat yang dikenal berasal dari kulit bekicot, dinamakan Maulie, yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti kekejangan, jantung suka berdebar, tidak bisa tidur/insomania, leher membengkak dan penyakit kaum wanita termasuk keputihan.

Cangkang bekicot pun dapat digunakan sebagai hiasan. Cangkang bekicot banyak mengandung zat kapur dan kalsium. Tepung cangkang bekicot dapat digunakan sebagai tambahan pakan ternak (dalam jumlah tertentu).

Cukup banyak manfaat bekicot, apalagi budidaya ternak bekicot tidaklah sulit. Secara singkat budidaya bekicot akan di bahas di artikel lain.

Sumber bacaan :
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS JI.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829, Fax. 021 390 9829
Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, JI. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 916669, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id
Jakarta, Maret 2000

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas Editor : Kemal Prihatman
http://binaukm.com/2010/04/bekicot-menjijikan-namun-menguntungkan-teknik-budidaya-bekicot/

Thursday, August 2, 2012

Di Balik Kemolekan si Ratu Bunga Berduri

Tak hanya dipajang di pot untuk penghias teras, pak sien hwa-sebutan euphorbia di China-ternyata juga cantik dipelihara sebagai border di taman. Apalagi tanaman ini tahan ’berjemur’ di bawah sengatan matahari. Tanaman ini pun termasuk adaptif dan mampu bertahan hidup di sembarang lokasi serta tahan serangan hama dan penyakit.

Awalnya, euphorbia tumbuh subur di Madagaskar. Tempat hidupnya di daerah panas dan kering. Dari sanalah, sekitar 2000 spesies yang berbeda diintroduksi sejak tahun 1821, kemudian menyebar ke China hingga ke Thailand.

Berkat tangan para penyilang, muncullah jenis-jenis baru. Sejak saat itu, si ratu bunga berduri ini melanglang buana hingga ke Eropa, Timur Tengah, Amerika, dan Asia, termasuk Indonesia. Sebutan euphorbia diambil dari nama seorang dokter raja Juba dari kerajaan Mauritania di Afrika Utara, Euphorbus. Atas jasanya, euphorbia yang tumbuh di gurun berpindah menjadi hiasan yang cantik di rumah. Sosok tanaman sedang, tinggi sekitar 150 cm, dan lebar 100 cm dengan dompolan bunga hingga menyelimuti batang.

Bunga warna-warni dan bentuknya bervariasi seolah menjadi magnet yang menarik perhatian siapa saja yang memandanginya, tak terkecuali Murtadji, pemilik SM Garden di Kediri. Lewat kecintaannya dengan euphorbia, maka saat ini Murtadji berhasil mengembangkan hobinya itu jadi suatu peluang bisnis yang menguntungkan hingga saat ini. Murtadji mengatakan, euphorbia memiliki penampilan yang menawan dibandingkan dengan jenis tanaman hias lainnya, seperti anthurium, aglaonema, dan adenium. Warna bunganya beraneka ragam, tapi dominan memiliki warna merah, kuning, hijau,dan putih dengan hiasan strip atau bercak di setiap petalnya. Tajuknya bagus, rimbun, dan kompak, sehingga menjadi daya tarik lain.

Bentuk bunga euphorbia menyerupai angka delapan dengan beragam variasi. Mahkota bunganya ada yang bulat, bulat lancip, oval, dan berbentuk hati dengan posisi saling menumpuk, menyilang atau bersinggungan. Tak hanya bentuk, ukuran bunga pun ada yang kecil seukuran kancing baju (diameter 2 cm) hingga sebesar koin seratus rupiah (diameter 4-5 cm). Dompolan bunga beragam, mulai dari sedikit (4-5 bunga), sedang (6-15 bunga), sampai banyak (> 16 bunga). Menurut Murtadji, ada beberapa faktor yang mesti diperhatikan sebelum memelihara si ratu bunga ini, yaitu lokasi, sinar matahari, iklim atau cuaca, sirkulasi udara, media tumbuh, dan air.

Tanaman ini cukup adaptif di berbagai daerah. Artinya, euphorbia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di dataran rendah hingga tinggi (0-1200 m dpl).

Di dataran rendah (< 300 m dpl) membuat tanaman ini tumbuh lebih cepat, karena udara hangat dan matahari bersinar lebih lama untuk membantu proses fotosintesis. Lingkungan yang bersih dan terbebas dari polusi sangat dibutuhkannya untuk pertumbuhan dan pembungaan. ”Euphorbia akan sulit berbunga serempak, bahkan malas berbunga kalau udara di sekitarnya sudah terpolusi,” ujar pria yang menekuni bisnis euphorbia sekitar dua tahun yang lalu ini. ”Di dataran tinggi (>300 m dpl), euphorbia masih bisa tumbuh subur, meski agak lambat,” lanjutnya.

Idealnya, tanaman ini membutuhkan sinar matahari dengan intensitas 70-80% selama 6-8 jam atau hari. Tanaman ini pun akan berbunga lebih banyak di musim hujan dibanding kemarau, karena saat itu lingkungan cukup mendukung, sehingga kualitas bunga lebih baik daripada musim panas.

Untuk itulah penempatannya harus tepat, tidak boleh terkena sinar matahari langsung terlalu lama, karena terlalu lama ’berjemur’ di bawah sinar matahri dapat menghanguskan pucuk-pucuknya. Terlalu teduh pun dapat berdampak tanaman lambat tumbuh dan bunga yang muncul tak banyak. Penanaman skala besar dapat memakai net 70% untuk menahan intensitas sinar matahari. Sebaiknya, lanjut Murtadji, hindari tempat yang sering mendapat guyuran air hujan, karena tanaman menjadi rusak dan malas berbunga. Euphorbia juga kurang optimal menyerap hara bila lingkungannya bersikulasi udara jelek, meski mendapat sinar matahari.

Di lokasi yang lembab pun malah memicu munculnya penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Media TumbuhDi alam, euphorbia tumbuh di tempat yang kering dan porous, sehingga media tanam apa pun dapat dipakai untuk menanam euphorbia, asalkan porousitas dan drainasenya bagus. Beberapa bahan media tanam euphorbia terdiri dari sekam bakar, pakis, cocopeat, pasir Malang, dan pupuk kandang. Komposisi media tanam beragam, tergantung pengalaman dan lokasi setempat. Upayakan media ber-pH netral (6,5-7) dan steril.

Penanaman di pot plastik sebaiknya memasukkan potongan styrofoam sebanyak 25% tinggi pot untuk membantu sirkulasi udara di media sekaligus membuang kelebihan air, sehingga media tidak lembab.

Air untuk euphorbia masih cukup penting untuk pertumbuhan akar, cabang, daun, dan bunganya. Namun terlalu banyak memberi air mengakibatkan akar busuk ditandai berwarna coklat, lembek seperti bubur. Sebaliknya, jika penyiraman jarang dilakukan, tanaman mengalami dehidrasi alias kekurangan air. Cirinya, batang mengkerut, daun menguning, mudah rontok, dan sosok tanaman menjadi kerdil. Apabila hal itu dibiarkan, lambat laun tanaman tumbuh tumbuh merana dan mati. Idealnya, penyiraman dilakukan sehari sekali pada musim hujan, dua kali sehari pada musim kemarau) atau bila media sudah kelihatan kering. Waktu penyiraman, yaitu pagi hari pukul 08.00-09.00 atau sore hari pukul 15.00-16.00.

Memilih Euphorbia

Banyaknya jenis euphorbia membuat para hobbies leluasa memilih sesuai dengan selera. Meski demikian, kata Murtadji, sebagai pembeli sebaiknya mampu mencermati euphorbia yang dibeli, supaya nantinya tak kecewa, karena ternyata tanaman kurang bermutu bagus.

Agar tak salah pilih, ada beberapa hal yang mesti diketahui saat akan memilih dan membeli euphorbia, yaitu :- Carilah penjual yang menyediakan euphorbia berkualitas bagus.Untuk mengetahui kredibilitas penjual dapat mencari informasi dari media, seperti majalah atau teman yang sudah datang ke nurserinya. Penjual yang berpengalaman biasanya mampu menjelaskan jenis, sifat, dan asal-usulnya.

Informasi perawatan juga sebaiknya ditanyakan untuk memudahkan pemeliharaan di rumah.- Meski selera penghobi berbeda-beda, sebaiknya memilih euphorbia yang rajin berbunga, karena bentuk bunga, warna bunga, dan dompolan bunga merupakan keindahan tanaman asal Madagaskar ini. Apalagi, bunganya tak gampang rontok.- Tanyakan asal-usul euphorbia, terutama cara perbanyakannya.

Euphorbia yang berasal dari bibit setek umumnya cepat berbunga dibanding tanaman yang berasal dari biji. Lagipula, kualitas bibit asal setek memiliki sifat yang sama dengan induknya. Lain halnya dengan bibit asal biji cenderung menyimpang dari sifat induk, kecuali penyilang melakukan persilangan yang sudah terarah. Apabila memilih bibit asal sambung, pastikan batang atas berasal dari jenis yang berpenampilan bagus.- Ukuran bibit menentukan harganya. Bagi yang berkantung cekak dapat memilih bibit muda, karena berharga murah.

Namun tanaman seperti ini butuh waktu untuk berbunga lebat. Apabila tak sabar ingin menikmati bunga euphorbia dan memiliki cukup uang, beli tanaman yang sudah besar dengan tajuk bagus dan bunga lebat. [cher]

Euphorbia pun Bisa ’Kawin’

Variasi bunga euphorbia cukup banyak. Di alam, penyerbukan alami dibantu serangga, seperti lebah. Kini, berkat upaya kawin silang muncul beragam jenis baru euphorbia dengan penampilan yang cukup spektakuler. Berbekal induk dan pengetahuan yang cukup, profesi menjadi ’penghulu’ euphorbia bisa dilakukan siapa saja. Apalagi si mahkota berduri ini termasuk tipe berbunga sempurna. Maksudnya, serbuk sari (jantan) dan putik (betina) berada dalam satu bunga.

Dengan seleksi induk, mungkin saja bakal diperoleh jenis baru yang lebih bagus dan berbeda dengan induknya.

Adapun tahapan ’kawin’ euphorbia antara lain :

* Siapkan euphorbia yang sedang berbunga. Bunga mekar untuk penyerbukan sekitar 3-4 hari sejak kuncup, dicirikan kepala putik diselimuti lendir, sehingga terasa lengket bila dipegang tangan. Pisahkan di tempat yang aman agar tidak diserbuki oleh serangga.

* Ambil serbuk sari dari bunga euphorbia lain, lalu tempelkan ke kepala putik. Lakukan berulang-ulang sampai serbuk sari benar-benar habis dan melekat di kepala putik. Cotton bud bisa dipakai untuk membantu penyerbukan. Hanya kelemahannya kadang masih ada serbuk sari tersisa di kapas, sehingga tak menyerbuki sempurna ke putik. Waktu penyerbukan pada pagi hari pukul 09.00 saat matahari belum panas dan tanaman sedang dalam proses fotosintesis.

* Setelah 3-6 hari sejak penyerbukan, bunga akan layu dan rontok. Penyerbukan berhasil bila muncul benjolan hijau di pangkal putik.

* Bakal buah akan membesar dan masak berbentuk seperti kapsul.

* Seminggu kemudian buah matang yang ditandai dengan kulit mengering dan warna coklat tua. Segera petik buahnya pada pagi hari, karena jika matahari sudah tinggi, biji-biji yang tersimpan di tempurung buah menjadi kering dan pecah, sehingga biji terpelanting ke tanah. [cher]

Pulihkan Euphorbia Impor dari Perjalanan Jauh

Salah satu keutamaan Murtadji dalam menekuni bisnis euphorbianya adalah ia langsung mengimpor euphorbia dari Thailand. Ia mengaku, tak mudah mengimpor euphorbia dari Thailand dan menyimpannya dalam waktu lama, karena adanya beberapa prosedur yang harus dilalui. Euphorbia impor dari Thailand tersebut berada dalam kemasan kotak karton dan setiap batang dibungkus dengan kertas.

Euphorbia impor bermediakan cocopeat yang kering. Perjalanan dari bandara Suvarnabhumi Thailand hingga mencapai bandara Juanda Surabaya diperlukan 1 hari dengan menggunakan maskapai penerbangan Thailand.

Namun kalau memakai maskapai penerbangan lokal, perjalanan bisa ditempuh hingga dua hari. Jadi, mulai dari proses pengepakan hingga mencapai Kediri, euphorbia berada dalam kotak selama kurang lebih 2-3 hari. Menurut Murtadji, hal ini mengakibatkan euphorbia menjadi layu dan rontok daun.

Demi memulihkan kondisi euphorbia tersebut, sebelum proses penanaman Murtadji mencelupkan media euphorbia yang berupa cocopeat kering ke dalam larutan air dan atonik. Sementara untuk media tanam, ia menggunakan campuran kompos kambing, sekam bakar, cocopeat, dan sekam bakar dengan perbandingan 2:2:2:1 agar media porous. Upayakan media ber-PH netral (6,5-7) dan steril.

Media taman euphorbia harus porous agar air dapat mengalir langsung ke bawah, karena bila media terlalu banyak menahan air dapat menyebabkan busuk akar.

Kebun yang digunakan Murtadji untuk area tanam euphorbia merupakan bekas kolam ikan. Bekas kolam ikan ini dianggap Murtadji sebagai lokasi yang ideal untuknya menumbuhkan euphorbia, karena memiliki sirkulasi udara yang bagus. Euphorbia dapat tumbuh dengan baik di lingkungan yang memiliki sirkulasi udara yang bagus. Penyiraman dilakukan ketika matahari belum terbit dan ketika matahari belum bersinar. Ini dilakukan untuk menjaga kelembaban tanaman. Bila euphorbia disiram pada siang hari dapat menyebabkan tanaman hangus. Kemudian untuk mengurangi intensitas sinar matahari sebaiknya dipasang paranet di kebun.

Untuk pemulihan euphorbia, lanjut Murtadji, sebaiknya intensitas sinar matahari yang mengenai tanaman dikurangi hingga 80%. Terlalu banyak sinar matahari bisa mengakibatkan pucuk-pucuk daun euphorbia menjadi hangus. Namun terlalu teduh juga bisa mengakibatkan euphorbia tumbuh lambat. Curah hujan juga dapat mengakibatkan euphorbia rusak dan malas berbunga. [cher]

Sumber : http://tabloidgallery.wordpress.com/

Bekicot Juga Bisa Dibudidaya

Bekicot tergolong ke dalam hewan lunak (mollusca) dari kelas Gastropoda yang berarti berjalan dengan perut. Bekicot merupakan hewan yang berasal dari Afrika Timur. Oleh karena mudah berkembang biak, bekicot menyebar ke seluruh kawasan dunia. Bekicot selain sebagai pakan ternak, juga merupakan sumber protein hewani yang bermutu tinggi karena mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap. Banyak masyarakat yang menggemari makanan bekicot (sate bekicot, keripik bekicot). Selain itu, bekicot juga dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging bekicot dan lendirnya sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti abortus, radang selaput mata, sakit ketika menstruasi, sakit gigi, gata-gatal, dan lain-lain.

Pada awalnya, bekicot banyak diburu kaum petani karena merupakan musuh dan hama bagi tanaman. Namun, kini bekicot banyak diburu dan dikumpulkan untuk komoditas ekspor. Permintan terhadap bekicot termasuk sangat tinggi, terutama dari Negara Prancis, Jerman, serta Jepang sebagai makanan.

Bekicot juga bisa dibudidaya dengan cara yang cukup mudah, sederhana, dan menguntungkan. Mengingat prospek bekicot yang cukup cerah, diperlukan upaya untuk menghasilkan bekicot secara terus-menerus tanpa harus bergantung pada kondisi alam.

Berikut beberapa hal yang dibutuhkan untuk budidaya bekicot:

1. Lokasi

Lokasi yang sesuai untuk budidaya bekicot adalah lokasi yang basah serta lembab dan terlindung dari cahaya matahari secara langsung. Selain itu juga tanah yang disukai adalah tanah yang banyak mengandung kapur sebagai zat untuk pembentukan cangkang.

2. Sarana dan Peralatan

- Kandang

Persyaratan mengenai kelembaban dan keteduhan menjadi hal yang perlu diperhatikan ketika kita akan budidaya bekicot. Karena dalam kehidupan aslinya, untuk berkembang dengan baik, bekicot senang dengan keadaan yang lembab dan teduh. Kandang tersebut didirikan pada tanah kering, teduh, lembab dengan suhu udara berkisar 25-30ºC. Dalam pemeliharaannya, bekicot dapat juga dipelihara secara terpisah maupun campuran antara yang besar dan yang kecil. Bila dilakukan secara terpisah, maka resikonya harus dibuat beberapa kandang. Fungsi kandang itu antara lain untuk penetasan, pembesaran dan sebagai kandang induk.

Ada tiga cara berternak bekicot di dalam kandang, antara lain:

- Kandang kotak kayu

Kandang terbuat dalam lembaran kayu triplek yang berkaki dengan ukuran panjang dan lebar kandang adalah 1 x 1 meter, tinggi 1,25 meter. Di atas kotak tersebut diberi kawat kasa, agar bekicot tidak keluar dari dalam kandang. Sebaiknya di atas kotak perlu dibuatkan tempat berteduh, agar keadaan tempat selalu gelap/tidak langsung kena sinar matahari.

- Kandang bak semen

Pembuatan kandang ini sama dengan kandang kotak kayu. Dalam bak semen yang perlu diperhatikan adalah alasnya. Untuk menciptakan suasana lembab, alas semen perlu diberi tanah dan cacing untuk menggemburkan tanah dan menyerap kotoran yang dikeluarkan bekicot. Tebal lapisan tanah di dalam bak sekitar 30 cm. Zat-zat makanan yang diperlukan bekicot hendaklah selalu tersedia di dalam bak.

- Kandang galian tanah

Tanah digali dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi 1 x 1 x 1 m. Perlu diperhatikan sebaiknya tanah galian yang akan digunakan untuk kandang dipilih yang agak kering. Sebaiknya kandang dibuat di bawah pohon yang rimbun, kalau dindingnya terlalu basah perlu diberi lapisan pasir. Untuk menjaga keadaan selalu gelap, seperti cara pertama dan kedua, di atas kandang perlu dibuatkan bedeng sebagai penutup. Masa panen, bila kandangnya terbuat dari tanah galian, cara pengambilannya dilakukan dengan menggunakan galah yang bisa menjepit bekicot agar bekicot dan telurnya tidak rusak.

3. Pembibitan

Tidak semua jenis bekicot cocok untuk dibudidayakan. Dua jenis bekicot yang biasa diternakkan, yaitu spesies Achatina fulica dan Achatina variegata. Ciri bekicot jenis Achanita fulica biasanya warna garis-garis pada tempurung/cangkangnya tidak begitu mencolok. Sedangkan jenis Achatina variegata warna garis-garis pada cangkangnya tebal dan berbuku-buku.

- Pemilihan Bibit Calon Induk

Jika bibit unggul belum tersedia maka sebagai langkah pertama dapat digunakan bibit lokal dengan jalan mengumpulkan bekicot yang banyak terdapat di kebun pisang, kelapa, serta semak belukar. Bekicot yang baik dijadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat yang sementara waktu dan yang besar dengan berat lebih kurang 75-100 gram/ekor.

- Reproduksi dan Perkawinan

Bekicot biasanya mulai kawin pada usia enam sampai tujuh bulan ditempat pemeliharaan yang cukup memenuhi syarat. Pada masa kawin bekicot betina mulai menyingkir ke tempat yang lebih aman. Bekicot bertelur di sembarang tempat. Jumlah telurnya setiap penetasan biasanya lebih dari lima puluh butir (50-100). Jumlah produksi telur tergantung masa subur bekicot itu sendiri. Besar telur bekicot tidak lebih dari 2 mm.

Beberapa perawatan dalam budidya bekicot antara lain sebagai berikut:

1. Menjaga kelembaban lingkungan. Bekicot sangat suka tempat yang lembab. Untuk mempertahankan kelembaban lingkungan dapat digunakan atap atau perlindungan lain. Pada musim panas kelembaban lingkungan dapat dipertahankan dengan menyiramkan air di lokasi peternakan setiap hari.

2. Pemberian pakan yang bermutu secara teratur. Agar hasil budidaya berhasil dengan baik diperlukan pemberian pakan yang bermutu dan teratur. Pemberian pakan berpedoman pada mutu pakan dan kebiasaan waktu makan. Mutu makan yang baik akan menentukan kualitas daging bekicot. Mutu pakan yang baik dapat dipenuhi dengan memberi pakan berupa daun-daunan yang disukai dan buah-buahan. Misalnya; daun dan buah pepaya, daun bayam, buah terung mentimun, dan lain sebagainya.

3. Menjaga areal agar tidak dimasuki hewan lain. Agar bekicot dapat tumbuh baik tanpa gangguan dari hewan yang merupakan musuhnya dan hewan yang dapat merebut makanannya maka lahan budidaya harus dijaga agar tidak dapat dimasuki hewan-hewan lain.

Sumber : http://bisnisukm.com/