Saturday, March 29, 2014

Bonsai Bukan Sekedar Miniatur Pohon

Harus Punya Ciri Khusus

Membentuk bonsai memang memerlukan satu ketelitian dan juga kreativitas seni yang cukup tinggi. Disitu kesulitannya tentu menjaga agar tanaman tetap tumbuh di lingkungan yang kecil dan menjadikan satu bentuk seni pohon yang harus berkesan besar. Namun eksplorasi bentuk bonsai harus lebih dari sekedar miniatur pohon dan harus berani menciptakan gaya yang unik dan fenomenal. Bonsai memang tidak bisa dipisahkan dengan nilai seni dan itu yang membuat tanaman kerdil ini punya kelas tersendiri dan juga penggemar fanatik. Dari pengembangan bonsai ada dua bagian yang terpisah yaitu pertama adalah keanekaragaman jenis tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman bonsai. Syaratnya tentu tanaman keras yang banyak tersebar di Indonesia.

Sementar pengembangan kedua adalah dari konsep seni yang dituangkan dalam karya seni bonsai. Disitu akan mencakup bentuk tanaman secara keseluruhan dilihat dari gaya gerakan dan konsep yang diambil. Dari hasil jadi bisa terlihat tingkatan kreatifitas dari pemilik termasuk juga gaya bonsai dan keberanian dalam melakukan eksplorasi gerakan baru.

Keberanian seorang pebonsai untuk menciptakan satu gaya dan bentuk yang unik secara langsung akan meningkatkan kreatifitas. Sebab dengan gaya baru akan muncul satu bentuk baru yang tidak sama atau merupakan pengembangan dari bentuk sebelumnya. Apalagi bila dari kerasi gerakan baru yang dimiliki ternyata mendapatkan respon yang positif dari komunitas tanaman kerdil ini.

Kerinduan akan munculnya gaya baru yang fenomenal dilontarkan oleh pebonsai kawakan asal Surabaya, Sulistyanto Soejoso. Menurutnya saat ini gaya bonsai yang ada masih cenderung mengecilkan tanaman atau dengan sebutan miniatur. Padahal bonsai punya arti lebih luas dari itu.

“Arti bonsai sendiri memang minatur dari tanaman tua namun harus dengan bentuk yang unik dan bisa dinikmati dari dekat,” ungkap pria yang akrab di panggil Sulis. Disitu ada banyak kesalah persepsi yang akhirnya akan menghentikan proses kreatifitas pebonsai. Salah satunya dengan terus membakukan satu gaya dan bentuk membuat bonsai.

Jebakan Gaya Formal dan Non Formal

Kedua gaya ini paling populer dimana bentuk untuk gaya formal seperti pohon beringin dimana bentuk kepala segitiga dengan rimbunnnya daun dan batang yang lurus. Sementara untuk gaya non formal masih mengambil bentuk kepala segitiga namun batang yang muncul punya gerakan meliuk. Tapi bila diambil garus lurus antara kepala dan akar tetap sejajar.

Di sini memang gaya formal dan non formal paling mudah untuk di pahami dan dicerna oleh semua kalangan. Dari gaya ini akhirnya banyak pebonsai yang memilih untuk menggunakan gaya ini karena memang punya daya serap pasar cukup besar. Selain itu proses pembuatannya cukup mudah dan bisa menghemat waktu.

Tapi di situ akhirnya tentu proses kreatifitas kurang berkembang dan kondisi ini yang cukup mengkhawatirkan. “Seharusnya proses seni itu berani menciptakan hal baru dan unik,” tambah Sulis. Sebab bagaimanapun unsur seni tetap akan memegang peranan paling besar dalam pembuatan bonsai.

Akhirnya pebonsai jangan sampai terjebak dengan beberapa gaya saja sebab bila gaya yang dikeluarkan tetap tentu akan terjadi kebosanan pasar. Akibatnya tentu dari segi penjualan akan berkurang sebab pasar akan turun. Dalam jangka panjang akan membuat kreatifitas penghobi bonsai berkurang.

Kembangkan Kreatifitas

Dari bentuk segitiga yang banyak diambil sebenarnya masih banyak bentuk yang bisa di ekplorasi. Salah satunya dengan mengambil bentuk kepala datar yang banyak dijumpai pada pohon tua di wilayah Afrika. Disitu tentu bentuk yang baru akan menarik minat orang untuk menikmatinya lebih lama. “Sekarang banyak yang takut melakukan gaya unik karena khawatir saat kontes kurang mendapatkan apresiasi,” imbuh Sulis.

Padahal baik dari unsur seni maupun bisnis bentuk yang baru akan menarik perhatian terutama yang unik dan berbeda. Apalagi bila bentuk kemasan yang diambil seperti pot dan dimensi yang dimiliki sempurna. Maka harga jual tinggi bukan lagi masalah.

Jangan Ditutup Daun

Sebagai tanaman kerdil bonsai harus bia dinikmati dalam bentuk kecil namun tetap memberikan kesan yang luas. Menurut Sulis ada beberapa hal baku yang salah kaprah tentang proses daun. Disitu pada bagian akhir terlihat bahwa daun yang rimbun akan menutupi gerakan bonsai.

Kondisi ini tentu disayangkan sebab dari pakem bonsai sendiri tidak ada yang mengharuskan daun harus rimbun begitu juga dalam draft penjurian. Sebagai contoh bonsai gaya formal akan membentuk kepala segitiga banyak yang di penuhi oleh daun.

Tapi bila diperhatikan lebih detail maka daun akan menutupi gerakan dari cabang dan rating di dalamnya. Akibatnya keindahan dari gerakan ranting tidak terlihat. “Jadi percuma kita melakukan pengkawatan kalo hasilnya tidak terlihat,” imbuh Sulis. Padahal secara teknis tidak ada aturan yang mengikat.

Sehingga seni bonsai sendiri memang sangat erat dengan gerakan batang dan itu yang menjadi keunggulannya. Sehingga proses daun diharapkan tidak terlalu rimbun karena bisa menutupi gerakan didalamnya.

Seperti halnya pohon besar bila kita melihatnya dari dekat maka akan terlihat jelas karakter dari cabang dan ranting. Daun juga jangan sampai menghalangi pemandangan dibelakangnya. Sebab di pohon besar dan tua latar belakang langit masih bisa kita lihat dan itu berlaku juga pada bonsai.

Bakalan Dari Kawasan Pantai Lebih Baik

Untuk mendapatkan gerakan yang unik dan baru memang mau tidak mau harus mendapatkan bakalan yang bagus dan berkualitas. Disini akan banyak sekali bakalan yang bisa dipilih mulai dari bentuk hingga jenis tanaman. Namun ada beberapa cara yang bisa dipilih untuk mendpatkan bakalan unik.

Cari bakalan yang berada di tempat ekstrem dan mendapatkan asupan nutrisi yang terbatas. Contonya di wilayah bebatuan dan karang-karang di tepi pantai. Sebab dengan kadar nutrisi yang sedikit akan memicu gerakan ekstrem. Dengan gerakan yang unik maka pengembangan bentuk akan jauh lebih mudah.

Sumber :
http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/02/26/bonasi-bukan-sekedar-miniatur-pohon/

Thursday, March 6, 2014

Budidaya Pembesaran Ikan Baronang dalam Keramba Jaring Apung

Penyediaan Benih
Sampai saat ini benih ikan baronang yang digunakan dalam usaha budidaya berasal dari hasil penangkapan di alam. Benih ikan baronang dapat diperoleh dalam jumlah besar pada saat musim puncak benih. Untuk setiap jenis baronang musim puncaknya akan berlainan pada setiap lokasi. Ikan baronang yang dibesarkan di instalasi riset keramba jaring apung teluk awerange berasal dari hasil tangkapan para nelayan di perairan teluk Labuange dengan ukuran + 20 gram.

Penebaran
Sebelum dilakukan penebaran, terlebih dahulu bibit di masukkan ke jaring penangkaran untuk di adaptasikan. Dari jaring penangkaran tersebut bibit diseleksi berdasarkan ukuran, keseragaman ukuran harus diperhatikan untuk menghindari terjadinya sifat dominansi oleh ikan yang berukuran besar setelah seleksi dilakukan, maka ikan dimasukkan kedalam jaring pembesaran. Padat penebaran pada jaring pembesaran yakni + 70 ekor untuk luas jaring 1m x 1m x 2m. Penebaran dilakukan pada pagi hari karna suhu lebih stabil pada pagi hari.

Pemberian Pakan
Ikan Baronang bersifat herbivor, namun cepat tanggap (respon) terhadap pakan buatan (pellet), meskipun demikian segala sesuatu yang dapat menyebabkan ikan kaget/terkejut harus dihindari agar tidak menyebabkan stress. Respon baronang terhadap pakan akan berkurang apabila ikan mengalami stress.

Budidaya ikan Baronang dalam Keramba Karing Apung sepenuhnya mengandalkan pakan buatan. Jumlah pakan yang diberikan yakni 4 % dari total berat ikan / hari, pemberian pakan dilakukan pada pagi, siang dan sore hari, pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit. Hal ini dilakukan agar pakan tidak banyak terbuang, karena pada saat pemberian pakan ikan baronang sangat aktif bergerak sehingga menimbulkan arus dalam jaring. Menurut Rachmansyah (1993), bahwa pemberian pakan yang sembrono dan tergesa-gesa akan menyebabkan 5 – 10 % pakan yang diberikan akan terbuang keluar.

Perawatan Wadah budidaya
Pengontrolan terhadap keramba dilakukan setiap hari untuk menjaga kemungkinan adanya jaring sobek yang dapat menyebabkan lolosnya ikan ke luar keramba. Jaring keramba sering ditempeli organisme penempel ( fouling ) seperti teritip, rumput laut, kerang-kerangan, karang lunak, mollusca dan beberapa jenis alga dan makrobentos. Pembersihan yang dilakukan secara rutin dapat menjaga kelancaran sirkulasi air. Menurut Rachmansyah (1993), bahwa tertutupnya lubang mata jaring dapat mengurangi kecepatan arus air sehingga memperburuk kualitas air akibat sirkulasi yang kurang lancar.
Pencegahan penempelan fouling dapat dilakukan dengan cara mekanik, yakni dengan penjemuran jaring, perendaman, dan penyikatan.
Sumber :
http://wacanasainsperikanan.blogspot.com/2010/01/budidaya-pembesaran-ikan-beronang-dalam.html

Thursday, February 27, 2014

Memelihara dan berbisnis ikan arwana

Ikan arwana adalah sejenis ikan bertulang banyak yang hidup di air tawar. Ikan ini berasal dari keluarga Osteoglossidae dan kerap disebut sebagai “bonytongues” (lidah bertulang). Ikan dari keluarga ini rata-rata bertubuh panjang, dan tertutup oleh lapisan sisik yang lebar, dan berat serta berpola mozaik.Ikan arwana adalah ikan yang banyak ditemukan di Indonesia, terutama spesies arwana Asia (Scleropages formosus). Spesies ini memiliki badan yang panjang; sirip dubur terletak jauh di belakang badan.

Arwana Asia umumnya memiliki warna keperak-perakan. Arwana Asia juga disebut “Ikan Naga” karena sering dihubung-hubungkan dengan naga dari Mitologi China.
Arwana termasuk famili ikan "karuhun", yaitu Osteoglasidae atau famili ikan "bony-tongue" (lidah bertulang), karena bagian dasar mulutnya berupa tulang yang berfungsi sebagai gigi. Arwana memiki berbagai julukan, seperti: Ikan Naga (Dragon Fish), Barramundi, Saratoga, PlaTapad, Kelesa, Siluk, Kayangan, Peyang, Tangkelese, Aruwana, atau Arowana, tergantung dari tempatnya.

Tren memelihara arwana sebagai ikan akuarium, pernah booming di Indonesia sekitar 20 tahun lalu. Kini hobi memelihara arwana seakan meredup, meski demikian bukan berarti bisnis ikan arwana ikut memudar. Bahkan, peluang ekspor benih ikan arwana di pasar internasional saat ini masih terbuka lebar dan memilik prospek yang bagus.
Yang terpenting diperhatikan dalam memelihara ikan arwana adalah air kolamnya. Karena ikan arwana menyukai air yang jernih dan volumenya cukup. Rata – rata kedalaman air kolam ikan arwana antara 1,5 meter hingga 2 meter.

Selain itu, yang perlu diparhatikan juga adalah pakannya. Di tempat ini, Tris Tanoto juga melakukan pengembang biakan ikan arwana. Saat bertelur, induk ikan dipisahkan agar telurnya tetap utuh. Saat telur berkembang menjadi anakan, juga dipisahkan secara bertahap. Setiap tahapan dipindahkan ke aquarium di ruangan yang berbeda, mulai dari usianya satu minggu. Setelah usianya satu bulan, bentuk tubuh ikan arwana mulai terlihat jelas.

Ikan arwana dipasarkan ketika telah berumur lebih dari satu tahun. Ini dikarenakan, setelah umur satu tahun, tubuh ikan arwana tidak lagi mengalami banyak perubahan. Harga ikan arwana super red di pasaran ekspor dengan ukuran 60 centimeter, berkisar 3 ribu hingga 4 ribu dollar Amerika Serikat.

PERAWATAN ARWANA DI RUMAH:
1. Perhatikan peralatan aquarium

Berhasil tidaknya akuarium menjadi tempat yang nyaman bagi ikan arwana, sungguh dipengaruhi oleh kelengkapan sarana pendukungnya.
Aerator
Fungsi aerator atau pompa udara adalah menyuplai udara ke dalam air akuarium, dan sekaligus menguapkan atau mendorong hasil sisa-sisa pembakaran ke luar dari akuarium. Aerator dikatakan baik, jika arus listrik yang menggerakkannya kecil, tetapi udara yang ditiupkannya relatif banyak.
Heater & Thermometer
Alat pemanas (heater) ini diperlukan terutama pada waktu suhu air akuarium turun drastis. Sedangkan alat pengontrol suhu air atau termometer juga dipasang dalam akuarium. Di daerah dingin, heater dan termometer ini sangat dibutuhkan.
Filter
Fungsi filter atau penyaring untuk menyaring air dalam akuarium. Kerja filter mencakup ini untuk menyedot air akuarium, menyaring, dan mengembalikannya lagi ke dalam akuarium dalam kondisi bersih.
Lampu TL
Keberadaan lampu TL, selain menyinarkan cahaya, juga sanggup mempercantik penampilan akuarium. Tapi, jangan sampai sinar lampu TL justru menimbulkan panas yang melebihi kebutuhan. Idealnya untuk akuarium seluas 80x40 cm memerlukan lampu TL berdaya 20 watt.

2. rajin melakukan perawatan akuarium
Jika anda terlanjur mencintai ikan arwana dalam akuarium, cukuplah rajin melakukan perawatan. sebab déngan demikian itu, penampilan arwana dalam akuarium tampak sehat, segar, dan menyenangkan.
Pemberian makanan
menu utama arwana dalam akuarium adalah kelabang. tapi jangan terus- menerus diberi kelabang, sebaiknya divariasi déngan makanan lain. contohnya: udang, kecoa, katak, lipan, kadal, maupun jangkrik.
Pengontrolan & pergantian air
setiap hari diwajibkan mengontrol suhu dan ph air. adapun suhu air ideal bagi ikan arwana sekitar 25-27 derajat celcius. andaikata suhu air dingin, segera nyalakan heater hingga suhu air sesuai kebutuhan. sedangkan ph yang dikehendaki sekitar 6-8,5. andaikata ph terlalu rendah, maka tambahkan kapur ke dalam akuarium. selain itu, sanitasi air perlu diperhatikan pula, silakan mengobati air akuarium déngan malachite green, déngan frekuensi 3 minggu sekali, dan jangan lupa, air akuarium juga diganti. namun pergantian air dipilahkan menjadi dua, yakni: (a) pergantian air secara reguler setiap 2 hari sekali dengan volume 10% dari seluruh volume air akuarium, dan (b) total pergantian air dilakukan setiap 3 bulan sekali. jika anda menggunakan air pam, sebaiknya dibiarkan 24 jam terlebih dahulu agar kandungan khlor mengendap, dan setelah itu bisa dimasukkan ke dalam akuarium.

3. penataan interior akuarium
Kehidupan di dalam akuarium adalah replika lingkungan hidup di alam bebas. oleh karena itu, perlu penataan interior dalam akuarium. ini berarti menuntut apresiasi estetika, sehingga perpaduan antara keindahan akuarium dengan anggunnya ikan arwana sanggup menampilkan nuansa kesejukan yang harmonis.
Tanaman air
mengingat asal-muasal ikan arwana yang suka bersembunyi di bawah tanaman air, maka kita pun siap menyediakan tanaman dimaksud. ada beberapa jenis tanaman air yang dapat dipilih antara lain: vallisneria spiralis, hidrilla verticillata, riccia fluiutana, higrophila polisperma, pistia stratiotes, najas indica, dan sebagainya.
Pasir batuan
pasir digunakan sebagai landasan peletakan batuan. sebaiknya digunakan pasir sungai, yang masih bercampur dengan humus. di samping itu, diberi juga batuan dan termasuk karang-karangan. ukuran batu idéal berdia meter 3 mm. batuan tersebut memiliki berbagai corak dan warna yang beragam namun tetap indah.

Sumber :
http://perikanantawar.blogspot.com/2011/08/memelihara-dan-berbisnis-ikan-arwana.html

Budidaya Ikan Baung di Lahan Tidur

Ikan baung adalah nama yang termasuk ke dalam marga Hemibagrus , suku Bagridae. Penyebarannya sampai di India, Asia Tenggara, dan Cina Selatan. Biasanya jenis ikan itu membuat sarang berupa lubang di dasar perairan yang lunak dengan aliran air yang tenang.

Ikan baung menyukai tempat yang tersembunyi, berlindung dibawah akar pohondi dalam air. Ikan itu keluar sarang sebelum hari petang. Setelah hari gelap, ikan baung akan keluar dengan cepat untuk mencari mangsa. Namun begitu tetap berada disekitar sarang dan segera, masuk ke sarang bila ada gangguan.

Di Riau sendiri ikan ini bisa ditemukan di Sungai Kampar dan Sungai Siak. Hanya saja, habitatnya sudah mulai berkurang. Dikarenakan, ulah manusia yang selalu melakukan eksploitasi berlebihan terhadap sungai. Pembuangan sampah dan limbah cair ke dalam sungai mengakibatkan ikan ini sulit berkembang biak.

Padahal, ikan baung ini termasuk ikan yang sangat digandrungi diseluruh dunia. Khususnya masyarakat Riau. Secara distribusi geografis ikan baung, selain di perairan Indonesia, juga terdapat di Hindia Timur, Malaya, Indocina, dan Thailand. Ikan yang menyebar luas di India, Cina selatan dan Asia Tenggara.

Di Indonesia ikan ini dikenal dengan banyak nama daerah, seperti Ikan Sogo (Jawa Tengah) , Sengol (Jawa Barat) , Baung (kebanyakan Sumatera) , Ikan Teiken (Sumatera Utara) , Ikan Tagih atau Tegeh (JawaTimur) , Ikan Niken (Kalimantan Barat) , Ikan Patik (Kalimantan Selatan) , Ikan Kendiya (Kalimantan Tengah) , Ikan Baung Putih (Kalimantan Timur).

Permasalahan inilah yang memerlukan perhatian serius oleh seluruh masyarakat Riau. Sebab, bila terus dilakukan pengrusakan habitat ikan pada sungai, bukan hanya ikan baung saja musnah, tetapi seluruh ekosistim di sungai bisa terganggu. Perkembangbiakan ikan harus dilakukan. Jangan sampai musnah.

Melihat permasalahan inilah, masyarakat Desa Temiang, Kecamatan Bukit Datuk, Kabupaten Bengkalis melakukan pengembangbiakan Ikan Baung. Bagi masyarakat Desa Temiang, ikan itu membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Kelestariannya juga mulai dijaga dengan baik oleh masyarakat.

Rabu (14/12) lalu, Riau Pos berkunjung ke lokasi Desa Temiang ditemani Slamet (37). Desa ini dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan karet. Hampir diseluruh rumah masyarakat ditanami perkebunan sawit dan karet. Kebanyakan mereka yang tinggal di Desa Temiang bekerja sebagai petani dan nelayan. Hanya sedikit sebagai PNS.

Panas terik matahari begitu terasa di kulit siang itu. Waktu menunjukan pukul 10.15 WIB. Pemandangan pohon sawit berdiri dengan buahnya yang bernilai tingi, Riau Pos menelusuri perkampungan Desa Temiang untuk melihat secara langsung lokasi pengembangbiakan Ikan Baung.
Dalam perjalanan tersebut, Riau Pos berhentilah disalah satu perumahan warga yang berhasil mengembangbiakan Ikan Baung dan Lele. Pria separuh baya ini mengaku bernama Bambang (51). Dia menyambut kedatangan Slamet dan Riau Pos masuk kedalam pekarangan rumahnya.


“Mencari apa nak,” Tanya Bambang kepada Slamet. “Ini pakde ada teman mau melihat pengembangbiakan Ikan Baung,’’ kata Slamet. Bambang membawa Riau Pos dan Slamet menuju kolam dibelakang rumahnya. Bersama dengan enam kepala keluarga di Desa Temiang Bambang melakukan pengembangbiakan Ikan Baung.

Selama melakukan pengembangbiakan ikan itu, Bambang dibantu Fakultas Pertanian, Universitas Islam Riau. Kolam milik Bambang berukuran 6 meter x 7 meter. Didalam kola mini ikan dimasukan dalam jarring rapat. Dengan begitu ikan tidak akan mudah keluar dari dalam jaring. Kemudian, memberikan kemudahan memberi makan.

Bambang menyebutkan, biasanya ikan itu paling disukai adalah perairan yang tenang, bukan air yang deras. Karenaitu, ikan baung banyak ditemukan di rawa-rawa, danau-danau, waduk dan perairan yang tenang lainnya. Sayang, kata dia, banyak rawa dan danau sekarang ini berubah menjadi bangunan beton.

Pencemaran yang terjadi di sungai dan anak sungai, sambungnya, sangat mengganggu perkembangbiakan ikan tersebut. Karena, sifat ikan itu sangat rentan terhadap penyakit dan gangguan. Permasalahan inilah yang mendapatkan perhatian masyarakat Desa Temiang.

Menurut dia, bagaimana memanfaatkan lahan tidur atau tidak dipergunakan menjadi berguna. Untuk awal pembuatan kolam memang dinilai Bambang memerlukan waktu yang lama. Ikan Baung tidak sembarangan bisa hidup selain di habitatnya. Apalagi habitat buatan.

Namun lanjutnya, dibantu Fakultas Pertanian UIR, upaya pengembangbiakan Ikan Baung berhasil dilakukan. Bahkan, sekarang ini nilai ekonomis ikan itu memberikan dampak besar pada peningkatan ekonomi mereka. Apalagi, kalau ikan tersebut dijadikan salai, harganya bisa mencapai Rp130.000 per kilogram. Kalau ikan basah Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram. Kebanyakan pembelinya langsung datang ke Desa Temiang untuk membeli Ikan Baung salai maupun yang basah.

Pemandangan disekeliling kolam milik Bambang ditanami pepohonan hijau dan rindang. Udara disekeliling kolam terasa sejuk. Bersama dengan Slamat, Riau Pos diperkenankan memancing Ikan Baung didalam kolamnya. Mata kail dikasih umpan cacing. Begitu mata kail masuk ke dalam air ratusan ikan langsung menyambarnya secara bergantian.

Sayangnya ikan baung tidak bisa tertangkap. Usaha terus dilakukan, akhirnya setelah menunggu selama 15 menit Ikan Baung berukuran dua jempol manusia berhasil dididapatkan Slamet. ‘’Lumayan sulit narik ikannya ya pakdem’’ ujar Slamet seraya tersenyum ke arah Bambang.

Bambang mengatakan, induk ikan baung dapat dikembangbiakkan di kawasan tersebut berasal dari Balai Benih Ikan UIR. Tetapi, ada juga dari sungai dan rawa yang ada di Desa Temiang. Hal tersebut dilakukan agar karakter dan sifat peranakan yang dihasilkan nantinya sesuai dengan tempat pemeliharaannya, yakni di dalam kolam.

“Perlu diketahui bahwa sebagian besar petani ikan di Riau dan sekitarnya menggunakan media sungai sebagai tempat membesarkan ikan. Kami di dalam kolam sebagai tempat penangkarannya,” katanya.

Waktu menunjukan pukul 16.12 WIB, saat berbincang dengan Bambang, seorang pria yang merupakan petani ikan baung dan lele, Miriadi (47) mendatangi kolam. Wajahnya tersenyum mengarah pada Bambang.

Perbincangan antara Bambang, Misriadi, Slamet, dan Riau Pos berlangsung penuh senyuman. Dalam penjelasannya Misriadi mengemukakan, untuk penangkaran Ikan Baung memang santat perlu dilakukan mayarakat Riau. Bagi dia, ikan itu menjadi salah satu simbol keunggulan Riau.

Misriadi sendiri menmgaku memiliki kolam dengan luas 5 meter x 6 meter. Kolam itu berada di belakang rumahnya. Banyak keuntungan yang dinilai Misriadi dari ikan baung. Bukan hanya keuntungan materi saja, bila sudah mendekat ke kolam dan memberi makan bisa membuat fikiran menjadi tenang.

‘’Cobalah dek, buat sebuah kolam. Lalu kembangbiakan Ikan Baung atau Lele, pasti bisa menambah penghasilan,’’ cerita Misriadi kepada Riau Pos. Bagi para petani ikan yang ingin mendapatkan bibit ikan baung, Misridai mempersilakan untuk datang sekaligus membelinya di Desa Temiang. Yang pasti, kata dia, Ikan Baung menjadi berkah bagi petani ikan di Desa Temiang. Cukup dengan memanfaatkan lahan tidur, ikan ini bisa dikembangbiakan dengan baik.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian UIR, Rosyadi mengungkapkan, pengembangbiakan Ikan Baung ini memang sudah seharusnya dilakukan masyarakat Riau. Karena, jumlah populasinya yang mulai dirasakan berkurang oleh nelayan dipinggiran sungai.

Habitatnya juga sudah mulai berkurang. ‘’Kami berusaha melakukan pembelajaran cara mengembangbiakan Ikan Baung. Alhamdulillah sebanyak tujuh KK di Desa Temiang sudah mulai menuai hasil pekerjaan mereka,’’ ungkapnya.

Dari penuturan Rosyadi, Ikan Baung tetap memerlukan oksigen yang tinggi untuk kehidupannya.Ikan baung tumbuh dan berkembang di perairan tropis. Daya adaptasinya tergolong rendah, kurang tahan terhadap perubahan lingkungan, dan serangan penyakit.

Pada fase benihyaitu dari ukuran 0,5 2 cm. Ikan baung dapat hidup pada ketinggian sampai 1.000 m di atas permukaan laut, kandungan oksigen minimal 4 ppm, dan air yang tidak terlalu keruh dengan kecerahan pada pengukuran alat secchi disk Ikan baung tergolong ke dalam benthopelagic, dan hidup di perairan tawar dan payau dengan kisaran pH 7 - 8,2 dan suhu 22 – 250 derajat Celsius.

Perlu ketelitian dalam mengembangbiakan Ikan Baung. Bila salah melakukan perkembangbiakan bisa mengakibatkan pada kematian secara masal ikan ini. Ikan baung suka menggerombol di dasar perairan. Aapa yang dilakukan di Desa Temiang merupakan hal pertama menurut dia, di Provinsi Riau.

Biasanya Ikan Baung pengembangbiakan dilakukan di dalam keramba sepanjang aliran sungai. Padahal dan danau. Budidaya Ikan Baung ini sangat langka dilakukan.

Ia mengatakan, selama ini ada kabar menyebutkan jenis ikan Baung sangat sulit untuk dibudidayakan.

‘’Ternyata tak ada jenis ikan yang tidak bisa dibudidayakan asal masyarakat mau mencoba untuk mengembangkannya,’’ ujar Rosyadi.

Sementara itu Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Riau, Irwan Efendi mendukung penuh budidaya Ikan Baung yang dilakukan, di Desa Temiang. Ia menilai, apa yang sudah dilakukan masyarakat tersebut sudah sepatutnya ditiru oleh petani ikan lainnya.

Mempergunakan lahan yang tidak dimanfaatkan lagi, dibuat kolam, dan melakukan budidaya ikan, menurut dia, itu sangat bagus. Dia berharap, tidak ada lagi eksploitasi terhadap Ikan Baung dan ekosistim air Sungai, Danau dan Rawa secara berlebihan.

Menjaga lingkungan tetap hijau, sungai tetap jernih dan tidak membuang sampah ke dalamnya, memang sudah sepatutnya dilakukan secara bersama.

Sumber :
http://greenstudentjournalists.blogspot.com/2011/12/for-us-budidaya-ikan-baung-di-lahan.html

Thursday, February 20, 2014

Burung Kacer Ngeplay Buka Ekor Dan Sayap

Burung Kacer adalah termasuk dari burung anggota famili Turdidae, tapi aneh kalau disebut sebagai padanan murai, sebab keduanya saling berdekatan, sifatnyapun hampir sama suka pamer diri pada sebangsanya.

Burung yang satu ini jika berkicau sambil menari-nari dengan melebarkan ekornya hingga berbentuk seperti kipas, ciri yang paling menonjol adalah kicauannya selalu bernada riang dan suka menirukan suara burung lainnya.

Kacer banyak ditemukan di daerah jawa timur, namun secara luas penyebarannya burung yang juga dijuluki Kucica ini sebenarnya sangat luas, yaitu sebagian besar di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Bali bahkan di beberapa negarab seperti China, Filipina dan di India pun ada.

Hidupnya di hutan belukar dan selalu hidup berpasangan, mereka membuat sarang dari rerumputan dan berkembang biak di pepohonan rendah dan berdaun rindang dan lebat.

Saya ingin berbagi pengalaman kepada para pembaca tentang cara memilih burung kacer yang punya mental tanding yang hebat. Ciri-ciri burung kacer yang hebat menurut pengalaman saya ada beberapa point yang harus diperhatikan dan dicermati. Bahkan mungkin, ciri-ciri yang akan saya kemukakan juga berlaku pada burung-burung tertentu. Sebelum saya jelaskan ciri-ciri tersebut, ada baiknya kita mengenal jenis-jenis burung kacer yang ada di pasaran.

A. BURUNG KACER LOKAL
Sebutan “Kacer Lokal” mungkin berawal dari pulau jawa karena burung kacer jenis ini memang hidup di daratan pulau jawa terutama wilayah bagian timur. Ciri khas jenis ini adalah mempunyai warna bulu hitam pekat di sekujur tubuh dan garis putih pada sayap serta ekornya.
Harga di pasaran terkenal lebih mahal karena populasi burung jenis ini mulai punah bahkan sangat sulit ditemukan lagi. Habitat asli burung ini sebenarnya berada di wilayah pedesaan atau dekat dengan perkampungan penduduk. Karena terus diburu dan ditangkap, kini mulai jarang terlihat. Kemungkinan besar bermigrasi ke hutan yang jauh dari jangkauan manusia.

B. BURUNG KACER TASIK
Berdasarkan namanya, kemungkinan jenis ini berasal dari wilayah jawa bagian barat. Ciri khas jenis ini hampir sama dengan jenis lokal.Yang membedakan adalah warna totol-totol putih pada bagian di bawah ekor. Dan biasanya mempunyai nilai jual lebih murah daripada jenis lokal.

C. BURUNG KACER LAMPUNG DAN KALIMANTAN
Sesuai dengan namanya, jenis ini memang berasal dari pulau sumatera dan kalimantan. Ciri khas antara kacer lampung dan kalimantan hampir sama, yaitu mempunyai bulu warna putih dibagian bawah mulai dari pangkal ekor hingga bagian dada. Yang membedakan antara sumatera dan kalimantan yaitu warna putih kacer lamping sebatas dada agak ke bawah sedang kacer kalimantan hingga pangkal leher. Ciri lain masih sama dengan kacer pada umumnya, dominasi warna hitam serta garis putih pada sayap dan ekor.

Ciri-ciri burung kacer yang punya mental tanding antara lain :
1. Pada bagian kepala agak memanjang dengan bagian belakang membentuk sudut ( tidak bulat seperti burung merpati ). Jika anda menemui kacer yang berkepala bulat seperti merpati biasanya burung tersebut bego dan tidak bisa dijadikan “gaco”.
2. Paruh yang tampak lurus atau sejajar dengan garis kepala bagian atas ( tidak “nyakil” = naik ke atas seperti buto cakil ). Jika anda menemui kacer semacam ini, dipastikan kacer tersebut berani tanding walaupun masih liar.
3. Terakhir, memiliki postur tubuh yang memanjang dan berdiri tegap. Itulah ciri-ciri burung kacer yang pantas dijadikan “jago” untuk event lomba burung.

Demikian tips dari saya, semoga menambah wawasan bagi anda penggemar/ hobiis burung kicauan.

Sumber :
http://hobiburungkicaumania.blogspot.com/2012/04/burung-kacer.html

Budidaya Ikan Botia Chromobotia macracanthus

Ikan Botiamerupakan ikan hias asli Indonesia yang mempunyai nama daerah Ikan Bajubang, ikan ini hanya bisa dijumpai di dua tempat di Indonesia yakni Sungai Batanghari, Jambi dan Sungai Barito, Kalimantan.

Ikan ini diketahui pertama kali di eksport ke luar negeri pada tahun 1935. Sampai saat ini, botia termasuk ikan favorit dan memiliki banyak penggemar di luar negeri. Di habitat aslinya, botia hidup pada air mengalir di sungai-sungai. Oleh karena itu, untuk pemeliharaan dalam aquarium sering disarankan agar dilengkapi dengan arus buatan.

Botia termasuk ikan yang berumur panjang, ikan ini diduga bisa hidup puluhan tahun. Ikan botia bisa hidup dalam aquarium selama 20 tahun. Panjang ikan ini bisa mencapai 30-40 cm. Tetapi dalam lingkungan aquarium jarang yang dapat mencapai panjang potensialnya tersebut.

Morfologi dan Daerah Sebaran Ikan Botia

Ikan Botia memiliki bentuk tubuh memanjang dan pipih, perut hampir lurus, posisi lengkung sirip punggung lebih depan daripada sirip perut, memiliki empat pasang sungut. Warna dasar tubuh merah jingga kekuning-kuningan, yang dibalut warna hitam di tiga tempat. Satu memotong di kepala persis melintas di mata, di tengah tubuh agak lebar, terakhir di pangkal ekor merambat sampai sirip punggung. Sirip ekor tebal terbagi dengan ujung lancip, warna oranye dengan ujung kemerahan. Sirip anus hitam, dengan tulang sirip kuning, sirip dada berwarna merah darah. Botia memiliki duri di bagian bawah matanya.

Ikan botia yang berasal dari beberapa DAS di Sumatera dan Kalimantan. Penyebaran benih ikan botia di daerah banjiran sepanjang sungai Batang Hari mulai dari terusan sampai ke londerang pada musim penghujan. Penyebaran induk ikan botia mulai dari Muara Tembesi sampai Dusun Teluk Kayu Putih Kabupaten Tebo. Habitat ikan ini banyak ditemukan berkumpul di perairan yang tenang (tidak berarus deras). Ikan botia hidup di dasar perairan (termasuk ikan dasar), yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Suhu untuk pertumbuhan adalah 24-28oC, pH: 6-7,5, kesadahan air 5-15 mg/ldan kadar oksigen 3-5 ppm.

Klasifikasi Ikan Botia

Menurut Saanin (1984), klasifikasi ikan botia adalah:
Fillum : Chordate
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Actinopterygii
Ordo : Teleostei
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cobitidae
Genus : Botia
Spesies : macracanthus

Reproduksi

Botia yang sudah matang gonad akan berenang melawan arus menuju hulu sungai yang berair dangkal. Disepanjang sungai yang dangkal dan jernih itu induk botia akan memijah. Setelah memijah, ikan akan kembali ke hilir mengikuti aliran sungai. Saat memijah, botia melepaskan semua telur – telurnya secara serempak. Telur botia yang telah dibuahi akan menetas 14 – 26 jam setelah pembuahan. Benih ikan botia berkelompok dalam jumlah besar sehingga mudah ditangkap. Botia mulai matang gonad setelah ukurannya ± 40 gram, untuk botia jantan dan untuk botia betina ± 70 gram, atau panjangnya lebih dari 15 cm.

Pengamatan histologi gonad ikan botia yang dilakukan oleh Susanto (1996), membagi tingkat kemetangan gonad (TKG) menjadi 6 fase, yaitu sebagai berikut :
1. TKG 1. Sel telur baru mengalami perbanyakan dari sel epitel dan membentukoogonia. Kumpulan oogeniaberbentuk bulat yang dilapisi oleh satu dinding epitel. Sitoplasmanya berwarna merah jambu dengan nucleus yang besar
2. TKG II. Ootgonia berkembang menjadi oositdenagn sitoplasma yang bertambah besar dengan nucleus yang terletak ditengah – tengahnya. Selama perkembangannya, oosit ditutupi satu baris epitel. Diameter oosit berkisar antara 100 – 150 um.
3. TKG III. Fase ini adlah fase berkembangnya dinding sel. Oosit semakin membesar dan inti sel mulai tampak. Sitoplasma yang berwarna biru merupakan awal / persiapan vitelogenesis. Diameter telur antara 200 – 300um
4. TKG IV. Membrane inti mulai tampak berwarna terang, melingkari inti sel. Inti berwarna merah jambu sedangkan sitoplasma berwarna biru yang lebih terang dibandingkan pada TKG II dan III. Pada fase ini vitelogenesis berlangsung dan mulai terbentuk granula dan vakuola pada sitoplasma. Juga mulai terbentuk zona radiate yang berasal dari sel epitel. Diameter telur antara 300 – 500 um.
5. TKG V. Pada fase ini nucleus tampak jelas dengan granula yang masih kasar. Sitoplasma berwarna biru, sedangkan nucleus berwarna merah jambu agak cerah dibandingkan dengan cairan yang mulai mengalami deregerasi. Lapisan zona radiate tampak lebih jelas, tersusun dari sel berbentuk kubus dan sel tiang. Diameter telur antara 500 – 600 um.
6. TKG VI. Fase ini merupakan fase maksimum perkembangna oosit, dimana sudah mengalami perkembangna optimal dengan vakuola yang berukuran besar dan jumlahnya sangat banyak. Nucleus serta granula tampak lebih jelas, memenuhi sitoplasma. Dinding folikel terdiri atas zona radiate, teka interna dan eksterna. Pada bagian tertentu dari teka terdapat epitel yang menipis, membentuk mikrofil. Diameter telur mencapai kisaran antara 600 – 700 um.

Seleksi Induk
Dalam pemijahan buatan induk ikan botia masih diambil dari alam. Setelah induk diambil dari alam induk ikan botia ditempatkan pada wadah pemeliharaan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Proses adaptasi induk ikan botia hingga matang gonad sekitar 8-10 bulan. Induk yang sudah matang gonad ditandai dengan perut yang gendut pada induk betina, bobot > 80 gram, sedangkan induk jantan sudah berbobot> 40 gram, perut langsing, dan ditandai keluarnya cairan sperma setelah distripping.

Rangsangan Pemijahan
Untuk merangsang ovulasi atau spermiasi pada induk yang telah matang gonad dilakukan dengan cara stimulasi yaitu dengan menyuntikan hormon gonadotropin. Biasanya hormaon yang sering digunakan untuk merangsang pemijahan adalah “Ovaprim”. Ovaprim merupakan hormaon GNRH dan domperidon. Dosis yang digunakan dalam penyuntikan yaitu 1 ml/kg berat induk. Penyuntikan biasanya dilakukan dua kali. Penyuntikan pertama dilakukan bertujuan untuk pematangan sel telur dengan dosis 0,4 ml/kg. Sedangkan penyuntikan kedua bertujuan untuk proses pemijahan dengan dosis 0,6 ml/kg.

Stripping
Stripping adalah proses pengeluaran telur dan dan sperma dari induk betina maupun jantan dengan cara mengurut bagian genetal induk. Sebelum induk dilakukan stripping dilakukan pembiusan dengan menggunakan MS22 (phenoxy ethanol) dengan dosis 0,3 ml/L air. Setelah dilakukan stripping, telur dan sperma dimasukan pada wadah terpisah. Biasanya sperma diencerkan dengan larutan fisiologis (perbandingan 1:3).

Pembuahan
Pembuahan ika botia dilakukan secaran buatan yaitu dengan mencampur telur dan sperma. Setelah telur dan sperma tercampur, ditambahkan air untuk mengaktifkan sperma dan diaduk perlahan dengan bulu ayam. Selanjutya telur diletakan pada corong penetasan selama 15-26 jam pada suhu 26-270C.

Pemanenan Larva
Pemanenan larva dilakukan setelah telur menetas atau setelah 15-26 inkubasi. Larva yang baru menetas tidak langsung dipindahkan ke dalam akuarium sebab larva botia sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Setelah 4 hari didalam corong penetasan dan larva sudah dapat makan artemia, larva botia baru bisa dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan larva atau akuarium.

Pemeliharaan Larva
Pemeliharaa larva ikan botia dilakukan pada akuarium dengan padat tebar 5 ekor/liter. Pada larva berumur 4 hari, larva diberi makan dengan aetrmia sampai latva berumur 13 hari. Setelah itu larva diberi makan cacing darah sampai panen.

Sumber :
http://www.kkp.go.id/ikanhias/index.php/news/c/51/Budidaya-Ikan-Botia-Chromobotia-macracanthus/?category_id=1

Tuesday, February 18, 2014

Budidaya Ikan Betok

Ikan Papuyu (ikan betok) merupakan ikan lokal air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan digemari oleh masyarakat Kalimantan terutama masyarakat.

Kalimantan Selatan, tetapi belum banyak dibudidayakan. Untuk itu diperlukan usaha pembenihan guna kontinuitas suplai benih yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitasnva.
Usaha pembenihan bertujuan untuk menghasilkan benih dalam jumlah besar, sehingga tidak tergantung pada ketersediaan di alam yang pada akhirnya dapat menunjang kegiatan usaha pembesaran dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani ikan sekaligusdapat menunjang peningkatan produksi budidayanya. Juga turut serta dalam upaya pelestarian plasma nuftah pada umumnya dan khususnya ikan Papuyu.

BIOLOGI IKAN PAPUYU
Sistematika menurut Hasannudin Saanin (1984) sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labytinthichi
Famili : Anabantidae
Genus : Anabas
Species : Anabas testudineus Bloch

Nama Daerah : Betik/Betok Jawa dan Sunda, Papuyu (Banjarmasin), Puyu (Malaya) dan Kalimantan Timur, Geteh-geteh (Manado).

Nama Umum : Walking Fish atau Climbing Perch.

PEMBENIHAN
Tahapan kegiatan pembenihan ikan Papuyu meliputi seleksi induk. pemijahan. penetasan telur dan pemeliharan larva.

1. Seleksi Induk

a. Ciri-ciri induk jantan dan betina

Betina :
Tubuh gemuk dan lebar kesamping,
Warna badan agak gelap,
Sirip punggung lebih pendek,
Bagian bawah perut agak melengkung,
Jika matang gonad pada bagian perut diurut akan keluar telur,
Alat kelamin berwarna kemerah-merahan.

Jantan :
Tubuh ramping dan panjang,
Warna badan agak cerah,
Sirip punggung lebih panjang,
Bagian bawah perut rata,
Jika perut diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih susu.

b. Beberapa persyaratan induk
Ukuran induk betina yang ideal diatas 90 gram dan jantan diatas 30 gram,
Badan terlihat segar (tidak cacat) dan gerakannva lincah,
Mampu menghasilkan telur dalam jumlah cukup banyak,
Umur induk lebih dari 10 bulan,
Pertumbuhannya cepat.

2. Pemijahan

a. Bahan dan alat
Induk ikan papuyu yang matang gonad
Ovaprim
Aquabidest
Akuarium ukuran 60 x 40 x 45 cm
Alat suntik
Alat aerasi (Hi-Blow/Aerator)
Baskom, serok senter dan timbangan

b. Perlakuan
Ikan Papuyu memijah sepanjang musim penghujan, pada saat musimnya mampu memijah 2 – 3 kali dengan jumlah telur (fekunditas) 5.000 – 15.000 butir. Pemijahan dilakukan dengan induced breeding (kawin suntik) menggunakan hormon ovaprim, dosis penyuntikan 0,5 cc/kg induk. Perbandingan 1: 1 (dalam berat). Pemijahan dapat dilakukan di akuarium atau fibre glass. Penyuntikan secara intramuscular pada otot punggung induk. Induk betina 2 kali penyuntikan dan induk jantan 1 kali penyuntikan. Interval waktu penyuntikan I ke penyuntikan II adalah 6 jam. Penyuntikan induk jantan bersamaan pada saat penyuntikan II induk betina. Proses terjadinya ovulasi tanpa dilakukan stripping (pemijahan secara alami).

3. Penetasan Telur

Setelah penyuntikan II induk betina, maka ovulasi akan terjadi 5 jam berikutnya. Telur akan menetas dalam waktu 20 – 24 jam pada suhu 260C atau akan menetas dalam waktu 12 jam pada suhu 300C.
Prosentase dari telur yang dibuahi sekitar 95% dengan daya tetas (HR) 95%. Penetasan telur bisa langsung di akuarium atau langsung ke tempat Pendederan I jika sudah siap.

4. Pemeliharaan Larva

Larva yang baru menetas tidak perlu diberi makanan tambahan sebab masih mempunyal cadangan makanan dari kantong kuning telur (yolk egg).Setelah larva berumur 4 hari diberi makanan tambahan berupa suspense kuning telur. Frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang dan sore) selama 10 hari. Setelah itu bisa diberikan makanan pellet yang dihaluskan. Masa kritis larva terjadi pada saat hari ke-7 sampai hari ke-14. Pendederan larva dilakukan di kolam semi permanen, dimana kolam tersebut terlebih dahulu dilakukan pengolahan lahan dengan diberi dosis pupuk dan kapur sesuai anjuran.

Pemeliharaan ini selama 45 hari dengan padat tebar 50 ekor/m . Selama masa pemeliharaan 45 hari benih ikan diberi pakan tambahan berupa pellet yang dihancurkan sebanyak 10 – 20% per hari dengan frekuensi pemberian 2 kali/hari. Umur 45 hari sudah mencapai benih ukuran 1 – 3 cm, dan benih bisa dipanen untuk di tebar ke kolam pendederan berikutnya.

Sumber :
http://canduraxsfish.webs.com/budidayaikanbetok.htm