Wednesday, January 8, 2014

Pedoman Beternak Sapi Perah

Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.

Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak. Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.

Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci-hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).

Pembibitan

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah:
a. produksi susu tinggi,
b. umur 3,5 - 4,5 tahun dan sudah pernah beranak,
c. berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi,
d. bentuk tubuhnya seperti baji,
e. matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat,
f. ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek,
g. tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan
h. tiap tahun beranak.

Sementara calon induk yang baik antara lain:
a. berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi,
b. kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar,
c. jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup lebar,
d. pertumbuhan ambing dan puting baik,
e. jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta
f. sehat dan tidak cacat.

Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. umur sekitar 4-5 tahun,
b. memiliki kesuburan tinggi,
c. daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya,
d. berasal dari induk dan pejantan yang baik,
e. besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik,
f. kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat,
g. muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar,
h. paha rata dan cukup terpisah,
i. dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar,
j. badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta
k. sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.

Prosedur:

1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan. Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit. Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.

2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan temperamennya.

3. Sistim Pemuliabiakan
Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.

Pemeliharaan

1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan. Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.

2. Perawatan Ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar). Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.

3. Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
sistem penggembalaan (pasture fattening)
kereman (dry lot fattening)
kombinasi cara pertama dan kedua.

Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).

Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.

Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara. Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.

4. Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar. Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.

Sumber :
http://budidaya-petani.blogspot.com/2013/10/pedoman-beternak-sapi-perah.html

Tuesday, January 7, 2014

Laba Besar dari Budidaya Ulat Hongkong

Kebutuhan ulat HongKong untuk pakan hewan cukup besar. Sayangnya, budidaya ulat hongkong yang juga dikenal dengan sebutan meal worm ini masih terbatas. Apakah Anda tertarik menjajalnya?

Saat ini, mayoritas peternak ulat HongKong berdomisili di daerah Jawa Timur. Hari Wibowo, peternak ulat HongKong di Wajak, Jawa Timur mengatakan, budidaya ulat HongKong masih terpusat di Jawa Timur saja. "Padahal peluang bisnis budidaya ulat HongKong sangat besar," katanya.

Menurut Hari, pemanfaatan ulat HongKong sebagai pakan hewan tertentu sudah dimulai sejak 2009. Pada saat itulah dia mulai membudidayakan ulat HongKong.

Hari menuturkan, ulat HongKong memiliki kandungan protein sekitar 62%. Dengan kandungan yang tinggi, ulat HongKong menjadi alternatif pakan yang disukai para peternak burung, udang windu, ikan koi, arowana, bahkan landak mini. "Hingga 70% produksi ulat HongKong kami dipakai untuk pakan burung, terutama burung kicau," katanya seperti dilansir Surabaya Post.

Awalnya, Hari ingin mengekspor ulat HongKong. Pasalnya, kebutuhan ulat HongKong di luar negeri sangat tinggi. Bahkan, beberapa restoran di Eropa dan Amerika menyajikan menu ulat HongKong goreng.

Akan tetapi, karena dana terbatas, walaupun permintaannya sangat tinggi, produksi ulat HongKong Hari hanya bisa memenuhi permintaan di Jawa Timur dan Bali.

Hari memiliki empat kandang berukuran masing-masing 10 meter (m) x 20 m. Setiap kandang menampung sekitar 400 kotak yang terbuat dari papan. Kotak tersebut diisi sekitar 3 kilogram (kg) ulat HongKong. Setiap kandang bisa menghasilkan hingga 100 kg ulat setiap panen.

Harga ulat ini dibanderol Rp 30.000 per kg. Dalam sebulan Hari bisa menjual sebanyak 8 ton dengan omzet mencapai Rp 240 juta. Adapun laba bersihnya bisa mencapai 70%.

Sumber :
http://www.ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/laba-besar-dari-budidaya-ulat-hong-kong

Monday, January 6, 2014

Langkah Tepat Budidaya Jeruk Organik

Ketika tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat semakin baik serta semakin banyaknya kasus yang ditimbulkan dari penggunaan bahan kimia, maka gaya hidup sehat bukan lagi sebagai keinginan tetapi menjadi kebutuhan. Gaya hidup sehat mensyaratkan semua bahan makanan (produk pertanian) harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Oleh karena itu, konsumsi produk-produk pertanian yang mengandalkan bahan kimia mulai dihindari dan beralih ke produk-produk organik.

Di Indonesia, jeruk merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang potensial untuk dibudidayakan secara organik. Beberapa alasan yang mendasari adalah:
a) tanaman ini memiliki daya adaptasi luas sehingga mudah dibudidayakan di lahan-lahan baru yang belum tercemar bahan kimia yang luasannya masih cukup besar di luar Pulau Jawa,
b) alam Indonesia sangat kaya sumberdaya hayati yang terbukti dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi tanaman (pupuk) dan pestisida ramah lingkungan untuk mengelola pertanian organik,
c) teknologi produksi pupuk dan pestisida alami sudah tersedia dan mudah didapat,
d) secara ekonomin, buah jeruk merupakan komoditas yang memiliki pasar global dan bernilai ekonomi tinggi sehingga pasar buah organik sangat terbuka. Meskipun jumlah konsumen produk pertanian organik di Indonesia masih minoritas, jumlahnya dari tahun ke tahun cenderung meningkat dan secara umum konsumsi produk pertanian organik dunia meningkat sekitar 20%/tahun.

Langkah – langkah Membangun Kebun Jeruk Organik

Membangun pertanian organik (kebun jeruk) menuntut perencanaan yang matang dan pengelolalaan yang disiplin dan berkesinambungan. Beberapa langkah yang harus dilakukan: pemilihan lahan, pemilihan benih, pengelolaan kesuburan tanah, pengelolaan hama penyakit dan gulma, integrasi peternakan, penyediaan sumber air, pemanfaatan sumber daya lokal, dan dokumentasi.

1. Pemilihan Lahan

Seperti halnya pertanain organik pada umumnya, lahan yang akan digunakan untuk kebun jeruk organik harus memenuhi persyaratan :
1) bebas dari bahan kimia sintetis baik yang berasal dari pupuk maupun pestisida,
2) Apabila sebelumnya digunakan untuk kegiatan pertanian non organik (konvensional),
3) lahan tersebut harus dikonversi (recovery) terlebih dahulu dengan ketentuan :
Waktu konversi minimal 2 tahun untuk lahan bekas tanaman semusim, 3 tahun untuk tanaman tahunan atau bergantung pada kondisi lahan tetapi tidak boleh kurang dari 1 tahun.
Dalam masa konversi, pengelolaan lahan tidak boleh bergantian antara organik dan konvensional.
Dalam satu hamparan lahan, jika konversinya tidak dilakukan secara bersamaan maka perlu dilakukan pemisahan yang tegas antara lahan organik dan non organik agar tidak terjadi kontaminasi ke lahan organik.

2. Pemilihan Benih

Benih jeruk dengan kualitas asalan merupakan salah satu sumber penyebar penyakit CVPD yang dapat menjadi bom waktu yang setiap saat dapat menghancurkan kebun jeruk organik. Oleh karena itu, benih yang akan ditanam harus dipilih varietas unggul, bebas dari penyakit CVPD dan penyakit sistemik lainnya serta sesuai dengan agroklimat lokasi kebun. Benih yang bermutu hanya diproduksi oleh penangkar resmi dibawah pengawasan UPT.

Sumber :
http://tipspetani.blogspot.com/2013/10/langkah-tepat-budidaya-jeruk-organik.html

Sunday, January 5, 2014

Mau Ternak Ulat Hongkong Cara Praktis?

Bagaimanapun, ulat hongkong atau mealworm sangat bermanfaat bagi burung kicauan dan juga hewan peliharaan lainnya. Pakan alami ini mengandung banyak protein dan kalori yang dibutuhkan burung. Cara penyajiannya juga bervariasi, ada yang diberikan ketika ulat masih berwarna putih, sedang ganti kulit, atau diberikan dalam bentuk ulat hongkong kering. Masih prospektifkah beternak ulat hongkong? Jawaban Om Kicau, sepanjang hobi burung kicauan masih lestari di Indonesia, beternak ulat hongkong tetap memiliki prospek cerah.

Anda bisa menentukan sendiri, apakah hasil dari beternak ulat hongkong (UH) hanya untuk memenuhi kebutuhan burung-burung piaraan di rumah dan / atau burung-burung dalam kandang penangkaran, atau ingin sebagian / semua hasil budidaya UH dijual ke konsumen.

Dalam artikel ini, diberikan materi budidaya untuk skala kecil. Kalau sudah menguasai skala kecil, pasti skala sedang maupun skala besar mudah dilakukan. Jadi, intinya menguasai dan mempraktikkan hal-hal yang mendasar dulu.

Sebelum memulai beternak, sebaiknya persiapkan beberapa bahan yang akan digunakan. Misalnya wadah tempat menyimpan ulat. Wadah ulat ini bisa menggunakan kontainer plastik, baik yang single maupun yang bersusun seperti laci.

Berikutnya, siapkan dedak atau bekatul yang menjadi media untuk berkembang biak dan bertelur bagi ulat hongkong tersebut. Dedak sekaligus berfungsi untuk mempertahankan kondisi kelembaban sehingga ulat hongkong tidak mudah mati.

Ulat hongkong yang akan diternakkan sebaiknya dipilih yang dewasa, dengan jumlah tergantung ukuran wadah atau kontainer plastik. Boleh juga menggunakan ulat hongkong yang sudah berubah menjadi kumbang (berwarna hitam).

Terakhir adalah mempersiapkan pakan untuk ulat-ulat ini. Ulat hongkong adalah larva yang memakan apa saja. Tetapi untuk tujuan ternak, dan menjaga agar ruangan tempat ia ditangkarkan tidak mudah berjamur, pakan yang diberikan dapat berupa sepotong roti, potongan kentang, atau potongan buah-buahan (terutama apel).

Setelah semua bahan sudah tersedia, sekarang kita berlanjut ke beberapa tahap berikut ini :

TAHAP PERTAMA

Masukkan dedak atau bekatul ke dalam wadah atau kontainer plastik, kemudian ratakan pada bagian dasarnya dengan tinggi / tebal lapisan sekitar 1/4 dari ketinggian wadah yang digunakan. Setelah itu, masukkan ulat-ulat yang akan dikembangbiakan. Jadi, dalam penjelasan ini, kita memulainya dari ulat hongkong dewasa, bukan langsung berupa kumbang.

Proses berkembang biak ulat menjadi kumbang membutuhkan waktu lama, dan butuh kesabaran untuk diperoleh hasil optimal. Karena itu, banyak juga yang memulai breeding dengan memasukkan UH yang telah berubah menjadi kumbang agar prosesnya lebih cepat.

Pakan yang diberikan bisa berupa potongan kentang atau potongan buah apel, meski UH bisa menyantap makanan apa saja. Pemberian apel dan kentang dimaksudkan untuk mencegah timbulnya jamur akibat bahan pakan terlalu banyak mengandung air (misalnya sayuran).

Selanjutnya, wadah / kontainer plastik bisa disimpan ditempat yang gelap dan hangat. Jangan lupa melakukan kontrol setiap hari, terutama untuk memeriksa ketersediaan pakan, sekaligus membersihkan sampah bekas makanan atau bekas kulit dari ulat hongkong.

TAHAP KEDUA

Setelah disimpan beberapa bulan (sekitar 90 hari), ulat-ulat akan berubah menjadi kepompong. Anda bisa tetap memelihara kepompong dalam wadah yang sama, bisa juga memindahkannya ke wadah / kontainer lain. Maksud pemindahan ini untuk menghindari ulat hongkong yang belum berubah jadi kepompong, karena UH terkadang akan memakan teman-temannya yang sudah jadi kepompong, terutama jika mereka kekurangan pakan. Jadi, jika tetap menggunakan wadah yang sama, pemberian pakan harus ditingkatkan jika.

Jika ingin memelihara kepompong dalam wadah / kontainer plastik yang baru, media yang digunakan tetap sama, yaitu dedak / bekatul, dengan ketebalan secukupnya (tipis saja). Dalam ke wadah / kontainer baru, tugas Anda cukup menunggu saja, karena kepompong tidak membutuhkan makanan apapun.

TAHAP KETIGA

Sekitar 10 hari kemudian, kepompong akan menunjukkan perubahan bentuk fisiknya menjadi serangga berwarna putih, yang sebenarnya merupakan calon kumbang. Dari hari ke hari, warna putih ini akan berubah menjadi cokelat. Silakan dikontrol terus sampai warna serangga menjadi hitam, dan itulah yang disebut kumbang (Tenebrio molitor).

Jika sudah menjadi kumbang, Anda bisa memberikan pakan berupa potongan buah-buahan atau potongan roti.

Pindahkan kumbang-kumbang ke wadah lain, yang sudah diisi dengan media dedak / bekatul. Perbandingannya, takaran 4 gelas berisi kumbang memerlukan dedak sebanyak 2 kg. Dalam wadah inilah, kumbang akan memulai proses reproduksinya, seperti kawin dan bertelur.

Jika sudah bertelur, tunggu sampai 10 hari, kemudian dilakukan pengayakan terhadap telur-telurnya. Saat mengayak, yang ikut terayak adalah telur dan dedak, namun kumbang tidak ikut terayak. Telur dan dedak dikembalikan ke wadah semula. Adapun kumbang dipindah ke wadah lain, dengan media dedak dan rasio yang sama seperti penjelasan sebelumnya (4 gelas kumbang membutuhkan 2 kg dedak).

Dalam wadah baru, kumbang akan bertelur kembali selama 10 hari. Silakan diayak kembali telur dan dedaknya, sedangkan para kumbang dipindah ke wadah baru. Demikian seterusnya, sampai kumbang sudah tidak bertelur lagi. Tanda kumbang sudah tak bertelur lagi adalah mati dengan sendirinya.

Bagaimana dengan telur-telur yang dipertahankan dalam wadah plastik? Mereka akan menetas menjadi larva, yang tidak lain adalah ulat hongkong. Sejak menetas, pakan yang diberikan kembali ke tahap pertama (potongan apel dan kentang). Biarkan sampai umur 50 hari. Saat itulah, ulat hongkong siap dipanen, untuk dipasarkan, atau digunakan sendiri, atau dijadikan lagi sebagai materi dalam beternak UH.


Sekarang kita lihat bagaimana siklus hidup ulat hongkong dalam berbagai bentuknya:

Dari penjelasan di atas, sebenarnya tenaga yang dicurahkan untuk beternak ulat hongkong relatif sedikit. Tugas kita hanya sekadar rajin memonitor perkembangannya, dan tentu saja harus sabar menunggu tahapan demi tahapan.

Semoga bermanfaat.

Sumber :
http://omkicau.com/2013/04/02/mau-ternak-ulat-hongkong-cara-praktis/

Saturday, January 4, 2014

Sukses Beternak Ulat Hongkong

Bagi pehobi atau penangkar burung kicauan, kehadiran ulat hongkong sebagai pakan alami sangat dibutuhkan meskipun sudah tersedia pelet pakan burung. Hal itu tidak lepas dari nutrisi yang dapat disediakan oleh ulat hongkong sebagai sumber energi untuk tumbuh dan berkembangbiak. Kadar protein ulat hongkong mencapai 48–56% dengan kandungan lemak berkisar 25–40%.

Saat ini kebutuhan ulat hongkong terus menanjak seiring meningkatnya jumlah pehobi burung kicauan. Survei bebeja.com di salah satu pasar burung terbesar di Jakarta Timur, Pasar Burung Pramuka, memperlihatkan volume penjualan ulat hongkong rata-rata mencapai 100–125 kg per hari. Jumlah itu meningkat 2–3% setiap tahun. Harga ulat hongkong saat ini berkisar Rp18.000–Rp21.000 per kg.

Kondisi itu menjadi peluang bagi peternak untuk membudidayakan ulat hongkong. Sayang sebagian besar peternak ulat hongkong masih berkutat pada urusan kandang dan ransum untuk ulat hongkong. Padahal ada hal penting lain yang menentukan besarnya produksi ulat hongkong yang patut diketahui lebih detil yakni mengetahui reproduksi kumbang Tenebrio molitor sebagai induk yang menghasilkan ulat hongkong.

Hal itu sering diabaikan lantaran banyak peternak masih kesulitan membedakan jenis kelamin sang kumbang. Sejatinya kumbang dapat dengan cepat diketahui perbedaannya meskipun menuntut kejelian. Perbedaan yang terlihat adalah di bagian ujung perutnya atau pada beberapa segmen terakhir dari perut. Kumbang betina memiliki sedikit pemisah di antara tiga bagian segmen perut paling ujung dan hampir tidak terlihat. Berbeda dibandingkan kumbang jantan yang memiliki membran intersegmental berwarna terang.

Nah kumbang Tenebrio molitor memiliki tiga tahapan perkawinan. Pada tahap pertama, kumbang jantan akan mengejar betina sampai sang betina kelelahan dan menyerah. Berikutnya kumbang jantan menaiki betina dan membengkokkan perut bagian belakangnya ke bawah untuk melakukan penetrasi. Pada tahap akhir kumbang jantan akan menyemprotkan sperma dalam perkawinan yang berlangsung pada kisaran waktu 50–120 detik itu. Kunci keberhasilan dari keturunan yang dihasilkan bermula dari perbandingan betina dan jantan. Betina yang kawin dengan lebih dari satu jantan memiliki dua keuntungan secara material dan genetik. Keuntungan material terlihat dari meningkatkan produktivitas betina seperti peningkatan jumlah atau ukuran telur. Secara genetik keragaman gen terjaga sehingga produktivitas berikutnya bisa stabil tanpa ada penyimpangan seperti cacat dan sebagainya.

Bila tidak mau repot peternak bisa membeli larva ulat hongkong di pasar burung. Biasanya pedagang menjual larva ulat berukuran 1–2 cm. Untuk menjadi kumbang ulat-ulat itu membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk menjadi kumbang. Yang perlu dicermati berdasarkan survei Burdett pada 1999, tidak disarankan untuk membeli ulat hongkong yang berukuran besar karena biasanya sudah mendapat perlakuan hormon untuk mencegah ulat-ulat itu berkembang menjadi kumbang. Ulat hongkong tersebut hanya akan mengalami pertambahan ukuran saja dan kalau pun berubah menjadi kumbang, akan sulit berbiak karena steril.

Kumbang ulat tepung biasanya ditempatkan pada wadah-wadah plastik atau pada kotak kayu berukuran 80 cm x 60 cm x 10 cm. Bagian atas kotak dibiarkan terbuka tetapi diberi lakban plastik agar larva maupun kumbang tidak keluar. Pakan yang diberikan adalah pakan ayam petelur sebanyak 1–3 cm dari dasar kotak. Pakan itu berfungsi pula sebagai media hidup sang ulat. Sebagai alternatif bisa dipakai campuran onggok, ampas tahu, dan tepung roti. Berikan pula sayuran seperti selada guna memenuhi kebutuhan air sang ulat.
Nah untuk media bertelur, biasanya diberi kapas setebal 1 cm atau potongan kayu yang berlubang. Bahan itu diletakkan di atas lapisan pakan. Di sanalah nantinya kumbang betina akan meletakkan telurnya. Pemindahan induk kumbang dilakukan setiap 10 hari sekali pada tempat yang berbeda sampai kumbang tersebut mati. Berikutnya setelah larva mulai terlihat, larva diayak dan dipisahkan dalam dua wadah untuk dipelihara. Pada saat pemeliharaan larva tersebut tidak lagi memerlukan kapas atau potongan kayu. Larva-larva yang dipelihara itu akan berubah menjadi pupa, selanjutnya kumbang. Setelah dewasa, kumbang-kumbang tersebut akan kawin dan menghasilkan telur.

Sumber :
http://www.bebeja.com/sukses-beternak-ulat-hongkong/

Thursday, January 2, 2014

Budidaya Ulat Hongkong

Bagi para pemilik burung berkicau, khususnya yang sering memberi pakan ulat sebagai Extra Fooding kepada burung berkicau piaraannya. Tentu anda tidak asing lagi dengan ulat Hongkong. Walaupun agak menjijikan, tapi peluang usaha budidaya ulat hongkong ini cukup menjanjikan. Pangsa pasar ulat hongkong sangat baik dan luas, mulai Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Mendengar nama ulat umumnya kita utamanya para wanita akan merasa takut, jijik dan berpandangan yang negatif lainnya. Tapi ternyata budidaya ulat hongkong dapat mendatangkan pendapatan tambahan yang lumayan besar.

Ulat hongkong atau dikenal juga dengan nama Meal Worm atau Yellow Meal Worm bisa dijumpai di toko toko pakan burung, reptil dan ikan, Pets Shop dan petcenter lainnya sebab ulat hongkong memang dipergunakan sebagai suplemen bagi pakan hewan hewan tersebut. Ulat hongkong dapat dipakai sebagai bahan makanan hewan baik dalam bentuk exstra fooding utuh maupun dalam bentuk pelet.

Usaha Rumahan budidaya ulat hongkong sebetulnya cukup mudah dan tidak membetulkan tenaga serta modal yang besar, disamping itu budidaya ulat hongkong juga dapat dilakukan sebagai usaha sampingan. Bisnis budidaya ulat Hongkong ini sudah banyak ditekuni oleh beberapa warga didaerah kota Besar di Pulau Jawa. Dengan memanfaatkan sebagian ruangan dalam rumah, mereka menekuni usaha rumahan budidaya ulat hongkong.

Hasil usaha rumahan budidaya ulat hongkong ini cukup menguntungkan, saat ini hampir setiap hari ulat hongkong di panen dan di pasok ke pedagang burung di pasar pasar burung maupun Pets shop. Harga ulat hongkong mencapai sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kg. Harga ulat hongkong pernah anjlok beberapa tahun yang silam sampai seharga 12 ribu per kg, ini di karenakan over produksi sebab banyaknya peternak ulat waktu itu. Tapi dalam beberapa tahun belakangan ini harga stabil di kisaran Rp20 - Rp30 ribu per kg.

Pedoman Budidaya Ulat Hongkong:

Bila ingin memulai usaha rumahan budidaya ulat hongkong, langkah langkahnya tidak sulit dan yang diperlu di butuhkan adalah ketelatenan, ketekunan, ingin berusaha sebab usaha rumahan dapat dilakukan di rumah. Berikut ini langkah langkah memulai usaha rumahan budidaya ulat hongkong.

1. Kita siapkan kandang untuk memelihara berupa papan triplek, atau dapat juga menggunakan nampan plastik. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Bila menggunakan triplek atau papan setiap sudut diberi lakban supaya ulat hongkong tidak kabur.

2. Kita siapkan media pemeliharaan dari campuran dedak halus atau Polard dengan ampas tahu kering, dapat kita beli di toko pakan.

3. Telur ulat hongkong yang dibeli dari peternak ulat hongkong lain, atau dapat juga membeli ulat hongkong di toko pakan hewan kemudian langsung dibudidayakan hingga menjadi serangga dan kemudian bertelur.

4. Pakan ulat hongkong dapat terdiri dari limbah sayuran, timun, pepaya,jipang dan bahan makanan lainnya yang mengandung banyak air.

5. Kunci usaha ulat hongkong ini adalah ketelatenan dan ketelitian dalam melakukan pemeliharaan. Bila kurang teliti terkadang ada hama sejenis ulat yang berukuran lebih kecil dari ulat hongkong menumpang hidup pada media, yang berbahaya ulat kecil ini bersifat kanibal dan memakan ulat-ulat hongkong yang lain sehingga produksi menurun. Umumnya ulat jenis ini datang dari media dedak halus dan dari lingkungan sekitar.

Tempat Budidaya Ulat Hongkong

Usahakan untuk tempat atau bangunan budidaya ini dibuat secara permanen atau terbuat dari tembok sekelilingnya. Tujuannya adalah supaya terhindar dari tikus atau hama semut. Atap terbuat dari enternit dan 95% bangunan tertutup. Lantai terbuat dari tembok atau ubin. Suhu sangat mempengaruhi pertumbuhan ulat. Usahakan suhu dalam ruangan tetap antara 29 – 30 derajat C dan selalu lembab, artinya tidak terlalu dingin juga tidak terlalu panas. Suhu ini adalah suhu terbaik untuk budidaya ulat hongkong.

Pemilihan Indukan Ulat Hongkong

Adapun langkah dalam pemilihan indukan ulat hongkong adalah sebagai berikut :
Serangga Tenebrio Molitor, Induk Ulat Hongkong

Ulat hongkong sesungguhnya merupakan fase larva dari serangga bernama latin Tenebrio Molitor. Serangga Tenebrio Molitor berwarna hitam dan merupakan serangga pemakan biji-bijian. Dalam Fase hidupnya serangga Tenebrio Molitor ini terdiri dari 4 siklus hidup , yaitu telur –> larva (ulat Hongkong) –> kepompong –> ulat dewasa atau Serangga. Siklus ini dapat berlangsung dalam waktu 3 sampai 4 bulan. Larva atau ulat hongkong ini akan mengalami pergantian kulit sebanyak 15 kali sebelum pada akhirnya berubah menjadi kepompong. Ketika berganti kulit inilah waktu yang tepat untuk diberikan kepada ikan hias, karena zat kitin yang terdapat pada kulit ulat hongkong tidak dapat dicerna oleh ikan.

1. Untuk memilih indukan ulat hongkong, usahakan tidak lebih dari 2 kg, supaya ulat yang jadi kepompong ukurannya dapat besar-besar (rata-rata panjang 15 mm dan lebar 4 mm). Sedangkan ulat hongkong dewasa dengan ukuran panjang rata-rata 15 mm, dan diameter rata-rata 3 mm akan mulai menjadi kepompong sekitar 7 hingga 10 hari lagi secara bergantian.

2. Pengambilan kepompong, pengambilan kepompong mesti dilakukan selama 3 (tiga) hari sekali, agar kepompong yang telah dipisah serta ditempatkan di dalam kotak tersendiri berubah menjadi kumbang secara serentak.

3. Pemilihan kepompong, pemilihan kepompong dilakukan tiga hari sekali, serta kepompong yang dipilih haruslah yang telah berwarna putih kecoklatan. Dan cara pengambilannya pun, mesti hati-hati jangan sampai lecet/cacat. Jika sampai lecet atau luka, maka kepompong akan mati busuk. Kepompong yang telah dipilih kita taruh di dalam kotak pemeliharan yang telah diberi alas koran. Kemudian, disebar sedemikian rupa. Jangan sampai bertumpuk, lalu ditutup kembali menggunakan kertas koran sampai rapat.

4. Kepompong akan menjadi kumbang, dalam usia mulai 10 hari. Dan jika sayap kumbang masih berwarna kecoklatan, jangan diambil dulu. Biarkan hingga berwarna hitam mengkilat, dan kumbang siap ditelurkan. Satu kotak peti, kita tebari kumbang sekitar 250 gram dan berikan kapas sebagai alas untuk bertelur yang sudah dibeberkan.

5. Pembibitan ini dibiarkan hingga 7 hari, dan diturunkan jika waktu tersebut datang. Kumbang yang telah terpisah dari kapas, diberi kapas baru lagi dan begitu seterusnya. Tingkat kematian pada kumbang ini, dapat mencapai 2 hingga 4 % sekali turun.

6. Kapas yang ada telurnya kita simpan dalam peti terpisah, telur akan mulai menetas sesudah 10 hari. Sesudah usia ulat mencapai 30 hari baru kita pisahkan dari kapasnya.

Pemberian Pakan

A. Pemberian Pakan untuk ulat bibit.
1. Untuk satu kotak beri makanan sekitar 500 gram, dengan interval waktu 4 hari sekali. Atau jika makanan sudah benar-benar bersih, dengan cara dikepal-kepal menjadi 3 bagian. Gunanya supaya kepompong yang ada, tidak tertimbun makanan karena apabila hal ini terjadi kepompong akan busuk.
2. Selain ampas tahu dan dedak, pakan sebaiknya dicampur dengan tepung tulang atau pur, tujuannya agar kepompong besar-besar.
3. Pemberian makanan untuk kumbang jangan terlalu banyak dan caranya disebar merata sekitar 100 gram sekali makan per 3 hari sekali.

B. Pemberian makan untuk ulat kecil.
1. Jika ulat masih ada dalam kapas, sebaiknya pemberian pakan dengan sayuran sesin, capcay atau selada cabut maksimal 4 lembar hingga habis, dan sayuran tersebut dijemur dulu agar setengah kering.
2. Jika pakan biasa, ukurannya 100 gram dan disebar tunggu hingga pakan itu habis, baru diberi lagi.
3. Jika ulat telah terpisah dari kapas, beri pakan sekitar 1 kg dengan cara dikepal dan sebagian disebar merata. Sedangkan untuk ulat kecil, satu kotak sekitar 2 kg dengan ukuran ulat panjang 6 mm dan diameternya 1,5 mm (umur 30 – 60 hari).
4. Untuk ulat dewasa (umur 60 – 90 hari), pemberian pakan 1,5 kg hingga dengan 2 kg per kotak, dengan cara dikepal dan disebar sedikit.

Penyakit Pada Ulat Hongkong

Ciri-ciri ulat hongkong yang terkena penyakit dan penanggulangannya:
1. Jika kulit ulat kuning kehitam-hitaman. Jangan terlalu banyak diberi makan dari daun-daunan, dan jangan terlalu banyak diberi dedak.
2. Ulat hongkong mati berwarna merah. Jika hal ini terjadi, maka pencegahannya adalah pemberian pakan tidak terlalu basah. Hal ini mesti segera diatasi karena penyakit ini selain menular menyerang dengan cepat.
3. Ulat hongkong mati berwarna hitam. Hal ini terjadi jika pemberian pakan disebar, biasanya terjadi pada ulat dewasa usia 1 sampai 3 bulan. Maka sebaiknya pemberian makanannya dilakukan secara dikepal-kepal.

Analisa Produksi

Kapasitas produksi dengan induk ulat dewasa 1 kg1. Dari pembibitan 1000 gram ulat dewasa usia 90 hari, maka keseluruhan kepompong yang akan dihasilkan adalah 900 gram secara bertahap dalam 10 kali pengambilan kepompong.
2. Dari 900 gram kepompong, maka akan dihasilkan 700 gram kumbang sehat dan siap bertelur, dengan tingkat kematian dari kepompong menjadi kumbang sekitar 2% setiap pengambilan kumbang.
3. Dari 1 kilogram ulat indukan, maka akan dihasilkan 33,1 kilogram ulat siap jual dengan rincian sebagai berikut: Target hasil tersebut, dapat dicapai apabila tingkat kematian kumbang hanya 1 % dan makanan terjamin, serta perkembangannya bagus.
4. Pakan untuk 1 kilogram induk sampai habis terjual: a. Ampas tahu 50 kg kering b. Dedak 5 kg
5. Penyusutan. Ampas tahu yang basah sesudah diperas akan menyusut, dari 25 kg basah menjadi 15 kilogram kering dengan kadar air 15%.

Sumber Refferensi
1. Ir Rohmad MMA; Jurusan Perternakan Fakultas Pertanian Universitas Islam Kidira - Kediri http://rohmatfapertanian.wordpress.com/2012/08/05/diktat-aneka-ternak-13-ulat-hongkong/
2. http://ukmkecil.com/budidaya-ternak/budidaya-ulat-hongkong

Wednesday, January 1, 2014

Bromelia, Daun Cantik Penuh Khasiat

HELAI daun pada tanaman kerap dianggap biasa. Tapi, coba lihat dedaunan yang menjuntai ini. Daunnya berpedar dari warna hijau pekat, hijau lumut, hingga ada yang berwarna merah menyolok atau merah jambu. Ya, itulah keunikan tanaman hias bernama Bromelia.

Bromelia berasal dari Amerika Latin, yakni Argentina dan Brasil. Tanaman hias ini tergolong keluarga bromeliaceae. Lalu, ada pula yang menyatakan beberapa spesiesnya mirip dengan nanas hias.

Ternyata, selain warna helai daun yang unik, bromelia ini oleh warga Amerika Latin ini dipercaya banyak mengandung kalsium, vitamin c, membasmi cacing, hingga membuat daging menjadi empuk.

"Bromelia ini bisa ditaruh di dalam ruangan atau diluar ruangan. Perawatannya juga mudah, misalnya ketika tanahnya sudah kering, segera siram. Usahakan tidak terkena matahari langsung," ujar Iwan, penjual Bromelia di Pameran Flora dan Fauna, Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (12/07).

Lanjutnya, masih ada jenis bromelia, mulai dari bromelia kuning, ungu, orange, merah, hingga merah jambu. "Nah, bromelia lilac pink ini spesies terbaru. Dan harganya masih tinggi karena perkembangbiakannya masih sedikit," terangnya sembari menunjuk bromelia berwarna pink menyala.

Secara umum, harga bromelia tergolong terjangkau. "Ukuran kecil (pot 15) berkisar Rp 25 ribu-Rp 75 ribu. Kalau ukuran medium (pot 20) berharga Rp 50 ribu-Rp 150 ribu. Sedangkan, ukuran besar (pot 24) harganya di atas Rp 150 ribu," sambung Iwan.

Agar bromelia lebih 'cantik', tidak hanya diletakkan di pot saja. "Bisa juga ditaruh di batok kelapa atau pipa yang diulir sabut kelapa," saran penjual bromelia yang sehari-hari berjualan di daerah Ciapus, Bogor ini.

Sumber :
http://indonesiarayanews.com/